Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.
Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.
Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.
Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 Keputusan Untuk Kabur
Malam turun perlahan di balik jendela kamar rawat, membawa suasana yang berbeda dari siang yang hangat sebelumnya. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, memantul di kaca jendela dan menciptakan bayangan samar di lantai. Biasanya pemandangan itu terasa menenangkan, namun bagi Elvara, malam ini justru seperti garis batas yang tidak bisa ia abaikan.
Rheon sudah tertidur lebih pulas dibandingkan sebelumnya, napasnya teratur dan tidak lagi terburu-buru seperti semalam. Panas di tubuhnya turun cukup banyak, membuat wajah kecil itu kembali tampak lebih damai. Selang infus masih terpasang, namun kehadirannya tidak lagi membuat Elvara diliputi kepanikan yang sama.
Dokter telah mengatakan kondisinya stabil, bahwa masa kritis sudah terlewati, dan hanya perlu waktu untuk pemulihan. Seharusnya itu menjadi kabar yang membuatnya lega, memberi ruang untuk bernapas lebih tenang. Namun justru di saat itulah, pikiran yang selama ini ia tekan muncul kembali dengan lebih jelas.
Elvara berdiri di dekat ranjang, menatap wajah anaknya tanpa berkedip. Jari-jarinya bergerak pelan menyusuri rambut Rheon, menyentuh dengan hati-hati seolah takut mengganggu tidurnya. Ada rasa hangat yang muncul, tetapi juga sesuatu yang menekan dari dalam.
"Maaf..."
Bisikan itu keluar begitu saja, pelan dan hampir tenggelam dalam keheningan ruangan. Tidak ada yang menjawab, namun kalimat itu terasa berat seolah membawa seluruh keputusan yang ia tahan selama ini.
Ia tidak ingin pergi, karena bagian dari dirinya sudah lelah untuk terus menghindar. Ia juga tidak ingin mengulang masa lalu, di mana ia meninggalkan segalanya tanpa memberi penjelasan. Namun kali ini, situasinya tidak memberi banyak pilihan.
Jika ia tetap tinggal, maka semua akan terbuka. Zayden tidak lagi berada di tahap curiga, ia sudah hampir sampai pada jawaban. Dan begitu kebenaran itu keluar, hidup mereka tidak akan kembali seperti sebelumnya.
Elvara menunduk, mencium kening Rheon dengan lembut. Ia menahan napas sejenak, merasakan hangat kecil itu sebelum perlahan melepaskannya.
Ia tidak membenci Zayden, dan itu justru membuat semuanya lebih sulit. Karena ia tahu, pria itu bukan tipe yang akan diam setelah mengetahui kebenaran. Ia akan mengambil peran, mengambil kendali, dan tidak akan membiarkan semuanya berjalan seperti sebelumnya.
Elvara belum siap menghadapi perubahan sebesar itu. Ia belum siap berbagi sesuatu yang selama ini ia jaga sendirian, sesuatu yang menjadi satu-satunya pegangan dalam hidupnya.
Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Keputusan itu terasa dingin, tetapi juga tegas.
Ia akan pergi malam ini.
Tanpa memberi tahu siapa pun.
---
Zayden tidak ada di dalam kamar saat itu, dan Elvara sadar akan hal itu sejak beberapa menit lalu. Ia tahu pria itu keluar untuk menerima telepon, dan untuk sekali ini, ia merasa bersyukur dengan jarak itu.
Ia berjalan pelan menuju meja kecil di sudut ruangan, mengambil tasnya dengan gerakan yang terkontrol. Tangannya membuka resleting, memastikan semua yang ia butuhkan ada di dalam.
Dompet berada di tempatnya, ponsel masih menyala dengan baterai cukup, dan dokumen penting tidak tertinggal. Ia menutup tas itu kembali dengan hati-hati, berusaha tidak menimbulkan suara.
Namun setelah itu, ia berhenti.
Pandangannya beralih ke pintu, seolah ada bagian dari dirinya yang menunggu sesuatu. Mungkin langkah kaki yang kembali, mungkin suara yang memanggil, atau mungkin alasan kecil yang bisa membuatnya berubah pikiran.
Tidak ada.
Lorong di luar tetap sunyi, hanya suara samar aktivitas rumah sakit di kejauhan. Kesempatan itu ada di depannya, terbuka tanpa gangguan.
Elvara kembali ke sisi ranjang, menatap Rheon sekali lagi. Ia mencoba mengingat setiap detail kecil wajah itu, seolah ingin membawanya lebih lama di dalam ingatan.
Anak itu tidur tanpa menyadari apa yang akan terjadi. Tidak tahu bahwa hidup mereka akan kembali berubah dalam waktu singkat.
Hati Elvara terasa tertarik ke dua arah, antara keinginan untuk tetap tinggal dan kebutuhan untuk pergi. Namun ia tahu, ia tidak bisa membiarkan dirinya ragu terlalu lama.
Ia membetulkan selimut Rheon, memastikan tubuh kecil itu tetap hangat. Lalu ia membungkuk, mencium keningnya sekali lagi dengan lebih lama.
"Mommy janji... semua ini demi kamu."
Suara itu pelan, namun mengandung keyakinan yang ia paksakan.
Ia berdiri tegak, menggenggam tas lebih erat, lalu melangkah menuju pintu. Setiap langkah terasa berat, seperti ada sesuatu yang menahan di belakang.
Tangannya menyentuh gagang pintu yang dingin, dan ia berhenti sejenak. Ia menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa.
Kemudian ia membuka pintu itu.
Lorong di luar tampak lebih luas dan sepi, dengan cahaya terang yang tidak hangat. Beberapa perawat berjalan di kejauhan, namun tidak ada yang memperhatikan ke arahnya.
Elvara melangkah keluar dan menutup pintu perlahan di belakangnya. Ia berdiri sejenak, tubuhnya diam meski pikirannya berlari.
Namun ia tahu, jika ia menunda satu detik lagi, ia mungkin tidak akan bisa pergi.
Ia mulai berjalan.
Langkahnya cepat, tidak memberi ruang untuk menoleh. Setiap detik yang ia habiskan di sana terasa seperti risiko yang semakin besar.
Dan ia tidak bisa mengambil risiko itu.
---
Di sisi lain lantai, Zayden masih berdiri di dekat jendela lorong dengan ponsel di tangannya. Layar sudah lama mati, tetapi ia belum bergerak dari tempatnya.
Percakapan tadi sebenarnya sudah selesai, namun pikirannya masih tertinggal. Ia mengingat kembali momen siang tadi, bagaimana tangan kecil itu menggenggamnya tanpa ragu.
Perasaan itu belum hilang.
Justru semakin jelas.
Ia menghembuskan napas perlahan, mencoba merapikan pikirannya sendiri. Ia tahu apa yang harus ia lakukan, dan ia tidak ingin menunda lebih lama.
Ia akan bicara dengan Elvara.
Malam ini.
Ia berbalik dan mulai berjalan menuju kamar. Namun beberapa langkah kemudian, sesuatu terasa tidak tepat.
Lorong terasa terlalu sunyi.
Pintu kamar tidak tertutup rapat.
Zayden berhenti.
Alisnya sedikit berkerut, dan langkahnya otomatis menjadi lebih cepat. Ia mendorong pintu itu tanpa ragu.
Ruangan di dalam tampak tenang, namun ada sesuatu yang berbeda.
Rheon masih tidur di ranjang, posisi tubuhnya tidak berubah. Namun kursi di sampingnya kosong, dan tas yang tadi ada sudah tidak terlihat.
Zayden tidak perlu waktu lama untuk memahami.
Ekspresinya berubah dalam satu tarikan napas.
Bukan kemarahan yang meledak, melainkan sesuatu yang jauh lebih dingin. Sesuatu yang terkontrol, namun membawa tekanan yang lebih besar.
Ia melangkah masuk, matanya menyapu ruangan sekali lagi. Tidak ada catatan, tidak ada pesan, tidak ada penjelasan yang ditinggalkan.
Hanya kepergian yang sama seperti dulu.
Zayden berhenti di tengah ruangan, lalu perlahan menoleh ke arah ranjang. Ia mendekat, menarik kursi, dan duduk di samping Rheon.
Anak itu masih tertidur, tidak menyadari apa pun yang terjadi di sekitarnya. Wajahnya tenang, seolah dunia tidak berubah.
Zayden menatapnya dalam diam.
Beberapa saat ia tidak bergerak, hanya membiarkan pikirannya menyusun kembali semuanya.
Namun satu hal sudah jelas.
Ia tidak akan membiarkan ini terjadi lagi.
Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya, menekan nomor dengan gerakan cepat namun tetap tenang.
"Arsen."
"Ya, Pak."
"Tutup semua akses keluar kota."
Nada suaranya rendah, tetapi tidak memberi ruang untuk pertanyaan.
"Cari Elvara."
"Baik, Pak."
Panggilan berakhir.
Zayden menurunkan ponsel perlahan, lalu kembali menatap Rheon. Tangannya terangkat, mengusap rambut kecil itu dengan gerakan yang jauh lebih lembut dari biasanya.
"Dia tidak akan bisa pergi jauh."
Kalimat itu diucapkan pelan, lebih seperti keputusan daripada sekadar ucapan.
Di luar sana, malam semakin dalam. Jalanan kota dipenuhi lampu dan bayangan, menyembunyikan banyak hal di balik kesibukan yang tampak biasa.
Dan di suatu tempat, Elvara terus berjalan menjauh, membawa satu keputusan yang ia yakini sebagai perlindungan.
Namun kali ini, ia tidak lagi berada di jalur yang sepi.
Karena seseorang sudah memilih untuk mengikuti, dan tidak berniat berhenti sampai menemukan jawabannya.