NovelToon NovelToon
SENTUHAN PAPA MERTUA

SENTUHAN PAPA MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumah Tangga / Balas Dendam
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

"Pa, Papa mau apa??" Adelia terkejut saat papa mertuanya tiba-tiba mendekat dan memeluknya dari belakang. la tak pernah membayangkan, kalau setelah menikah papa mertuanya itu justru berubah dan bersikap seolah ia adalah istrinya.

Apakah Adelia mampu mengendalikan diri dari papa mertuanya?

Atau ia justru ikut terjerumus juga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA PULUH

Adelia langsung menoleh cepat, jantungnya serasa melonjak keluar dari dada. "Pa! Astaga! Jangan masuk kamar orang sembarangan dong!"

Bastian berdiri di ambang pintu sambil memegang ponsel Adelia. Namun tatapannya langsung terpaku, bukan pada wajah Adelia, tapi secara keseluruhan. Ia terlihat sedikit tertegun, meski mencoba menyembunyikan ekspresi itu, tapi jelas Adelia melihatnya.

Bastian berkedip, lalu seolah buru-buru memperbaiki sikapnya. "Maaf... Papa nggak sengaja. Papa cuma mau kasih ini. Tadi ponsel kamu ketinggalan di meja, Lukas telepon makanya Papa buru-buru ke sini."

Adelia memegang erat bagian depan handuknya, wajahnya merah antara marah dan takut. "Tolong, Pa... lain kali kalau mau masuk kamar saya, ketuk dulu!" suaranya bergetar.

"Ya, ya, Papa minta maaf," jawab Bastian pelan, namun alih-alih mundur, ia malah melangkah masuk perlahan,mendekati meja rias tempat Adelia duduk.

"Ini, Del! Cepat kamu jawab telponnya, takutnya penting!" ujar Bastian.

Adelia berdiri cepat untuk menerima ponselnya, namun gerakan itu membuat jarak antara mereka semakin dekat. Bastian menyerahkan ponselnya sambil menatap Adelia dari dekat. Bukan tatapan biasa. Tatapan yang membuat tengkuk Adelia merinding dan membuatnya ingin mundur beberapa langkah.

"Pa... sudah kan? Saya mau angkat telepon dulu," ucap Adelia sambil menggenggam ponselnya erat.

Namun, Bastian tidak bergerak. Ia masih berdiri di sana, di depan Adelia, seolah menunggu sesuatu. Suasana kamar mendadak terasa terlalu sempit.

Adelia berdeham. "Pa... Papa bisa keluar dulu gak?"

Bastian baru tersadar dan mundur selangkah, tapi tidak keluar sepenuhnya. Justru ia berdiri di dekat pintu, masih menunggu. "Papa tunggu di sini aja, siapa tahu kamu butuh Papa."

Adelia tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak tega bersikap kasar, tetapi sikap Bastian sangat membuatnya tidak nyaman. Ia memalingkan wajah, menekan tombol hijau untuk menerima panggilan Lukas, mencoba terdengar senormal mungkin.

"H-halo, Mas..."

Suara Lukas terdengar cerah di seberang sana.

"Sayang, kamu lagi apa? Tadi aku telpon nggak bisa."

Adelia menelan ludah, berusaha menyembunyikan ketegangan dalam suaranya. "Maaf, Mas... tadi aku... lagi bersih-bersih kamar. Ponselku ketinggalan di bawah."

"Oh gitu, yaudah gapapa. Kamu baik-baik saja kan?"

tanya Lukas.

Adelia menutup mata sebentar, menahan napas. "Iya, Mas. Aku baik. Kamu gimana di pesawat?"

"Baru mau landing sebentar lagi. Kamu jaga diri baik-

baik, ya? Ada Papa juga kan di rumah?" ucap Lukas.

Adelia menoleh sekilas ke Bastian yang masih berdiri di dekat pintu, mengamati percakapan mereka tanpa berkedip. Ia memaksa tersenyum walau tubuhnya bergetar.

"Iya, Mas. Ada Papa di sini," ucap Adelia.

"Bagus, kalau ada apa-apa kamu tinggal bilang ke Papa!" ucap Lukas.

Adelia menelan pahit.

"Iya, Mas... tentu."

Lukas tertawa kecil. "Aku sayang sama kamu. Nanti kalau sudah sampai hotel, aku telpon lagi."

"Iya, Mas. Hati-hati!"

Begitu telepon ditutup, Adelia menghembuskan napas kuat-kuat. Ia bahkan belum sempat menoleh ketika

Bastian tiba-tiba berkata dengan nada tenang namun terasa menekan.

"Adelia... kamu sudah selesai?" tanya Bastian.

Adelia menggenggam handuknya lebih erat dan mengangguk tanpa menoleh. "Saya mau ganti baju dulu, Pa."

Bastian mengangguk pelan, lalu akhirnya menutup pintu kamar perlahan. Namun sebelum pintu tertutup, ia menatap Adelia sekali lagi-tatapan yang sulit ditebak, seolah memikirkan sesuatu jauh lebih dalam.

Ketika pintu tertutup, Adelia langsung terduduk di kursi rias, berusaha menahan gemetar yang kembali muncul.

Rumah itu rasanya makin tidak aman.

÷÷÷

Siang itu rumah terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah setiap dinding memantulkan kembali rasa sepi yang Adelia rasakan. Ia sudah berusaha mengulur waktu di kamar selama mungkin, berharap Bastian sibuk dengan sesuatu di lantai bawah.

Namun perutnya sudah lapar, dan ia tidak bisa menunda makan lebih lama. Dengan langkah berat, Adelia akhirnya membuka pintu kamar dan memutuskan turun untuk makan siang seperti rutinitas biasanya.

Tangga tampak biasa, lorong tampak biasa, tapi jantung Adelia berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia baru turun tiga anak tangga ketika suara langkah muncul dari bawah.

Dan begitu Adelia menuruni belokan tangga, Bastian muncul dari arah ruang tengah, seolah sudah menunggu dirinya tepat di waktu yang sama.

"Del..." panggilnya pelan namun jelas.

Adelia langsung berhenti dan meremas pegangan tangga. "Ya Pa..."

Senyum Bastian merekah. Senyum yang bagi orang lain mungkin terlihat hangat, tapi bagi Adelia terasa menusuk.

"Kamu sudah bangun? Papa tadi mau naik jemput kamu buat makan siang bareng," ucap Bastian sambil naik dua langkah mendekatinya.

"A-ah... nggak perlu, Pa. Saya memang mau turun,"

jawab Adelia pelan, mencoba terdengar wajar.

Tanpa peringatan apa pun, tangan Bastian melingkar pelan di bahu Adelia. Sentuhan itu membuat Adelia gemetar spontan.

"Ayo turun bareng!" ucapnya santai. "Papa mau nemenin kamu."

Adelia ingin langsung menyingkirkan tangan itu, tapi ia menahan diri. Ini ayah tirinya Lukas, laki-laki yang dihormati suaminya. Menolak mentah-mentah hanya akan membuat situasi jadi lebih aneh... dan mungkin lebih buruk.

"Iya..." jawabnya sangat pelan.

Mereka berjalan berdua menuruni tangga, dengan tangan Bastian tetap bertengger di bahunya seolah mereka pasangan yang sudah terbiasa berjalan seperti itu. Adelia menunduk, pura-pura fokus pada langkahnya agar tidak terlihat betapa gelisahnya ia.

Sesampainya di meja makan, Bastian tidak mengajak Adelia duduk berhadapan seperti biasanya. Ia justru menarik kursi di sebelahnya dan menepuknya.

"Sini, duduk di sini!" seru Bastian.

Adelia terdiam sepersekian detik, lalu mengangguk terpaksa. "Baik, Pa."

Ia duduk di kursi tersebut, dan Bastian duduk sangat dekat terlalu dekat-hingga Adelia bisa merasakan kehadiran pria itu secara fisik meski ia tidak menyentuhnya lagi.

Tak lama kemudian, Bik Vivi dan Mbak Sisil muncul dari dapur sambil membawa makanan. Mereka meletakkan piring-piring itu dengan sedikit kebingungan ketika melihat posisi duduk Adelia dan Bastian yang seperti pasangan suami-istri.

"Bu Adel mau minum apa?" tanya Bik Vivi, suaranya sedikit ragu.

Adelia berpikir cepat. Ia tidak ingin berduaan dengan Bastian. "Bik Vivi, Mbak Sisil... makan bareng kami, ya?"

Kedua pelayan itu langsung saling pandang. "Hah?

Makan bareng, Bu?"

"Iya," potong Adelia cepat. "Hari ini kita makan bareng aja, biar rame."

Mata Bik Vivi melebar, sementara Bastian hanya mengangkat alis dengan wajah datar namun jelas tidak senang.

Adelia segera menambahkan, "Sekalian panggil Pak Sukir juga, bilang saya yang minta!"

Mbak Sisil refleks menoleh ke Bastian, tapi pria itu hanya menatapnya singkat sebelum memalingkan wajah.

Tidak memberi izin. Tidak melarang. Tapi, jelas ia tidak menyukai suasana ini.

"B-baik, Bu Adel," sahut Mbak Sisil dan cepat-cepat bergegas keluar rumah memanggil Pak Sukir.

Tak lama kemudian, meja makan berubah menjadi suasana ramai yang janggal. Pak Sukir duduk canggung di ujung meja, Bik Vivi dan Mbak Sisil duduk berdampingan, sementara Adelia duduk di samping Bastian yang tetap diam dengan ekspresi sulit terbaca.

Perbincangan kecil terjadi antara para pelayan, membuat meja makan terasa lebih hidup daripada biasanya. Namun sepanjang waktu, Bastian hanya menggerakkan sendok dan garpunya tanpa bicara banyak.

Matanya beberapa kali melirik Adelia dengan tatapan yang membuat tangan wanita itu terasa dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!