NovelToon NovelToon
Legenda Dari Masa Depan

Legenda Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Ahli Bela Diri Kuno / Time Travel / Mata Batin / Fantasi Wanita / Peramal / Konflik etika
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: R. Seftia

Dua saudari terjatuh ke sumur tua—terbangun di hutan belantara, menjadi buruan para pemburu; berusaha bertahan hidup ditengah intrik istana dan konflik asmara.

(Jika berkenan, follow Author di ig&tiktok untuk dapat melihat ilustrasi karakter dan berbagai cerita Author yang lain)
ig = @refinawriters
tiktok = @refinawriters

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. Seftia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Baru Tiba Langsung Diburu!

Li Hua dan Shu Hua sedang menikmati liburan musim dingin di kediaman Kakek dan Nenek mereka yang berada di pengunungan. Liburan itu sudah direncanakan jauh-jauh hari, tetapi dua saudari itu baru bisa berangkat pada liburan musim dingin.

Salju turun sangat lebat. Li Hua yang kebetulan sangat suka dengan salju, berencana ingin menyentuh salju dengan tangannya sendiri. Dan di samping Li Hua, adiknya, Shu Hua selalu mendampingi; mengingat kondisi Li Hua yang tidak bisa melihat, Shu Hua harus selalu ada didekatnya, melindungi sang Kakak dari bahaya. Itulah yang selalu ditekankan oleh kedua orangtua mereka.

Walaupun selalu memikul beban besar di pundaknya untuk memastikan Li Hua baik-baik saja, Shu Hua tak pernah sekalipun merasa jika sang Kakak merepotkan. Sebaliknya, Shu Hua justru sangat senang bisa membantu Li Hua.

"Kakak tidak merasa dingin?" Shu Hua tampak mencemaskan Li Hua yang saat itu hanya menggunakan pakaian yang tipis di tengah salju.

"Tidak. Kalau kamu? Kamu kedinginan?" tanya Li Hua.

"Sedikit," jawab Shu Hua.

"Kalau memang kamu kedinginan, ayo kita kembali saja." Li Hua tidak ingin hanya karena dirinya ingin bermain salju, Shu Hua nanti sakit karena kedinginan di tengah salju lebat itu.

"Tapi tadi 'kan Kakak mau main salju? Aku baik-baik saja, Kak. Aku bisa tahan dinginnya." Jika Li Hua tidak ingin bermain salju karena memikirkan Shu Hua, begitu juga dengan Shu Hua yang tidak ingin pulang karena memikirkan keinginan Li Hua.

"Tidak usah. Lebih baik Kakak tahan keinginan Kakak buat main salju daripada nanti kamu sakit. Ayolah, kita pulang saja." Li Hua berjalan duluan dengan bantuan tongkatnya.

Shu Hua hanya patuh apa yang diinginkan Li Hua. Shu Hua mengikuti Li Hua dari belakang, memastikan sang Kakak tidak tersandung sesuatu.

Sesampainya di rumah Kakek dan Nenek, Shu Hua tidak bisa menemukan keduanya. Sepertinya mereka sedang pergi ke suatu tempat.

"Kak, rumah kosong. Mungkin Kakek dan Nenek sedang pergi," ucap Shu Hua.

"Iya. Kita tunggu saja. Sekarang, Kakak mau ke kamar mandi dulu ya," kata Li Hua.

"Kakak mau aku temani?" tanya Shu Hua.

"Tidak perlu. Kakak ingat jalannya. Lagipula di luar dingin, dan kamu tidak tahan dingin. Kamu di sini saja, hangatkan tubuhmu dekat api. Jika butuh bantuan, Kakak akan panggil kamu," jawab Li Hua dengan jelas.

"Baiklah kalau begitu."

Sesuai dengan apa yang Li Hua inginkan, Shu Hua tidak membantu Li Hua untuk ke kamar mandi. Shu Hua yakin Kakaknya tidak akan tersasar karena Shu Hua tahu Li Hua tahu benar rute untuk pergi ke kamar mandi.

Shu Hua menunggu dengan tenang tak takut jika Li Hua sampai celaka; namun semua itu salah! Suara teriakan Li Hua terdengar nyaring. Mendengar teriakan itu Shu Hua langsung berlari menyusul Li Hua.

"Kakak!" Shu Hua berteriak mencari Kakaknya, tapi mata Shu Hua tak menangkap sosok sang Kakak.

"Shu Hua... Kakak di sini! Tolong Kakak!" teriak Li Hua. Teriakan itu terdengar sangat dekat, bergema, dan terdengar sangat putus asa.

Shu Hua yang mendengar teriakan itu langsung melihat ke satu tempat. Sumur tua yang dekat dengan kamar mandi. Biasa sumur itu selalu ditutup oleh Kakek karena takut Li Hua jatuh ke sana, dan entah kenapa hari ini sumur itu tidak tertutup!

"Kakak!?" Shu Hua terkejut ketika melihat Li Hua bergantung di sumur tua itu. Sedikit lagi dia akan benar-benar jatuh.

Tidak bisa membiarkan sang Kakak jatuh, Shu Hua dengan sekuat tenaga berusaha menarik Li Hua untuk naik kembali ke atas. Dengan tenaga seadanya, Shu Hua benar-benar berusaha, tapi usaha itu tidak menghasilkan apa-apa!

Bukannya menolong Li Hua untuk naik ke atas, Shu Hua justru adalah orang yang ikut tertarik jatuh ke dalam sumur itu juga.

Saat jatuh, Shu Hua memeluk erat Li Hua; tidak melepas sang Kakak, karena bagi Shu Hua, bahkan jika harus berpindah ke alam lain, Shu Hua ingin tetap menjadi adik Li Hua dan ingin selalu ada bersama dengannya.

Keinginan Shu Hua dikabulkan: Saat Shu Hua membuka matanya, tiba-tiba saja dia terbangun di tepi danau yang sebelumnya tidak diketahuinya keberadaan danau ini. Dan di samping Shu Hua, Kakaknya, Li Hua sudah lebih dulu terbangun, hanya saja pakaian Li Hua saat itu terlihat aneh bagi Shu Hua.

"Kakak, ada apa dengan pakaianmu?" tanya Shu Hua; kini dia berbalik melihat pakaian sendiri. Pakaiannya pun juga tidak kalah aneh.

"Perasaan tadi kita jatuh ke sumur cincin, tapi kenapa tiba-tiba kita terdampar di tepi danau yang ada di tengah hutan begini? Dan... kenapa Kakak diam saja? Bicara sesuatu. Aku takut," ucap Shu Hua.

Wajah Li Hua tampak sedikit pucat. Dengan baju putih dan penutup mata, gaya pakaiannya seperti orang-orang di drama kolosal. Dan bahkan stylenya juga; benar-benar mirip!

"Su-a, jangan berisik. Kakak merasakan ada beberapa orang lain di dekat sini. Energi mereka tidak terlihat baik. Dan sepertinya mereka juga bukan orang baik yang bisa menolong kita. Kita harus pergi!" seru Li Hua, tampak sangat serius dengan apa yang dia katakan.

"Kakak bicara apa sih? Tidak mungkin apa yang Kakak bilang itu benar. Kakak bisa merasakan kehadiran seseorang? Sejak kapan Kakak bisa melakukan hal seperti itu? Dan energi... apa maksud Kakak sebe---..." Belum sempat Shu Hua selesai bicara, Li Hua langsung menutup mulut sang Adik, menariknya menjauh dari tempat itu.

"Kita harus bersembunyi! Cepat!" Li Hua terus menggesak Shu Hua; dia benar-benar sangat panik.

Melihat kepanikan di wajah sang Kakak, Shu Hua mulai merasa jika Li Hua tidak sedang bercanda. Terlebih lagi, Shu Hua sendiri pun beberapa kali mendengar suara orang-orang yang berteriak.

"Temukan mereka! Cari sampai dapat, dan tangkap!"

Suara itu jelas terdengar. Dan kali ini, bukan Li Hua lagi yang menarik Shu Hua untuk lari, tetapi Shu Hua yang menarik Li Hua, lari sejauh mungkin, meninggalkan hutan yang gelap dan sampai di lapangan salju yang tebal.

Tempat itu sangat terbuka, dan tak ada tempat tertutup untuk bersembunyi. Satu-satunya tempat untuk bersembunyi adalah dengan sampai ke hutan yang ada di seberang lapangan besar itu.

Dengan tubuh dan pakaian yang basah, Shu Hua sudah tidak peduli lagi dengan suhu dingin. Dia langsung berlari, menerobos tumpukan salju bersama dengan sang Kakak.

Tinggal sedikit lagi sampai mereka akhirnya sampai, tiba-tiba sebuah panah melesat dengan kecepatan tinggi kearah mereka.

Shu Hua tidak sadar akan bahaya itu, tetapi Li Hua sadar: Dengan kesadaran penuh, Li Hua menggunakan tubuhnya sendiri sebagai tameng bagi Shu Hua. Melindungi Shu Hua dari panah itu.

"Kakak!!!"

-Bersambung-

1
Chen Nadari
mampir Thor
SecretS
Up lagi kak, besok aja langsung double 5 eps 😄😄😄 sekarang istirahat yang cukup aja kak, tapi cerita kakak Sungguh seru loh, oh ya Aku penasaran apa Li Hua sama Shu Hua itu anak dari orang penting kok sampek diburu terus 🙏😄😄
SecretS
Lanjut kak 😆😆😆, shu hua bakal tau ngak kalau kakak Li Hua nya pingsan, Tolong up lagi kak 🙏🙏🙏
Sungguh penasaran pasti shu hua bakal ngecincang Hao Lin dan Xiao Yan bakal kena nih 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!