Sequel Pelabuhan Hati
Bagi orang lain Karin adalah si antagonis untuk kehidupan kakaknya, namun siapa sangka di balik sikap yang dia tunjukkan selama ini dia menyimpan banyak luk. Di tambah dengan malam kelam yang terjadi adanya akibat ulah sahabat-sahabatnya, hidup Karin sejak hari itu berubah total.
Sementara itu Aiden sengaja datang ke Indonesia untuk mencari perempuan yang membuatnya selalu dalam rasa bersalah sejak malam itu. Namun siapa yang menyangka jika dirinya tak perlu bersusah payah untuk menemukan perempuan tersebut. Lalu apakah ada ruang untuk Karin di hati Aiden? Atau dia melakukannya hanya karena sebuah rasa bersalah?
“Selalu ada ruang untukmu di hatiku,” Aiden
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28# Ancaman Ayu pada Aiden
Selama makan siang Karin seolah tidak menganggap Aiden maupun Nala di sana, dia hanya fokus menyuapi Alvian.
“Kamu harus coba ini, yank. Ini enak sekali,” Aiden memotong daging steak menjadi kecil, dia menusukkan potongan daging dengan garpu dan mengarahkan pada mulut sang istri.
Hap
Aiden dan Karin terkejut.
“Karin sepertinya tidak mau. Jadi aku saja yang makan,” dengan percaya dirinya Nala memajukan mulutnya dan langsung memakan steak dari garpu yang di gunakan Aiden.
Karin melirik tajam pada sang suami,
Kreek...
Aiden hanya bisa meringis saat kakinya mendapatkan injakan cinta dari heals sang istri yang entah berapa senti tingginya. Dia tidak berani protes, jangankan protes pada sang istri karena kakinya cenat cenut, melihat Karin diam saja Aiden sudah takut.
“Cumala lampil ndak copan. Cudah punya cendili macih lebut punya olang,” celetuk Alvian yang menatap tajam Nala, dia bisa merasakan perempuan yang duduk di hadapan papanya tersebut menganggu.
“Kamu!” tunjuk Nala pada Alvian yang langsung mendapat tatapan tajam dari Karin, Nala sebenarnya kesal pada bocah itu. Kalau saja tidak ada Aiden di sana, sudah pasti Nala akan memarahi Alvian.
Suasana hati Karin makin memburuk setelah kejadian itu, dia sudah tidak mood untuk menghabiskan makan siangnya. “Adek mau mama suapi?” Karin mengalihkan fokus pada putranya.
Alvian menggeleng. “Pian cudah ndak celela makan.” bocah tampan tersebut mendorong piringnya yang ke tengah meja. “Cemua gala-gala Cumala. Pian macih lapal tapi ndak celela,” bibir mungilnya sudah manyun-manyun karena kesal, Karin mengusap-usap kepala putranya tersebut.
“Adik tidak boleh bicara seperti itu sama orang yang lebih tua,” lembut Karin menasehati putranya, Alvian memang belum tahu apa-apa. Tapi hati dan pikiran anak kecil itu masih tulus dan murni, dia bisa merasakan mana yang benar-benar tulus atau pura-pura. Begitu juga sikap Alvian yang terang-terangan pada Nala, karena dia merasakan sinyal bahaya yang datang dari perempuan tersebut.
“Kamu lihat kan, Aiden! Bagaimana hasil didikan istrimu? Alvian bersikap tidak sopan padaku,” Nala mengambil kesempatan untuk menjatuhkan Karin memalui Alvian.
Aiden sudah hampir bicara, namun Karin sudah menyahut lebih dulu. Dia tidak akan bisa jika orang lain menyenggol putranya, Karin adalah orang pertama yang akan memberi pelajaran pada siapa saja yang melukai fisik maupun mental Alvian.
“Tidak ada yang salah dengan caraku mendidik putraku, Nala. Kamu tidak berhak men judge bagaimana aku mengurus putraku,” Karin sedikit meninggikan suaranya, namun sebelum itu dia menutup kedua telinga Alvian dengan tangannya. Karin tidak mau putranya mendengar kata-kata umpatan atau semacamnya.
Nala tersenyum penuh seringai, dia berhasil membuat Karin mengeluarkan taringnya. Dia merasa itu adalah kesempatan yang bagus untuk kembali mendapatkan hati mantan tunangannya.
“Cukup Nala!”
“Mas! Ada Vian di sini,” tegur Karin saat suaminya meninggikan suara pada Nala. “Sorry, sayang. Aku kelepasan,” ucap Aiden.
Nala terperanjat saat Aiden membentaknya, dia tidak menyangka pria yang duduk di hadapannya tersebut meninggikan suara padanya. “Ka-kamu membentakku, Aiden?” dia berkaca-kaca, belum pernah Aiden membentaknya selama keduanya saling kenal.
“Kamu membentakku hanya karena wanita ini?” tunjuk Nala pada Karin.
Karin menghela napas saat mendengar Nala menyebutnya dengan kata wanita ini, dia masih bisa menahan diri. Berbeda ika dia adalah Karin yang dulu dan belum menjadi ibu dari putra tampannya tersebut, maka bisa di pastikan Nala saat ini sudah menangis minta ampun karena mendapat jambakan dari Karin.
“Dia yang kamu tunjuk itu istriku, Nala! Ibu dari putraku,” kalau bukan karena mama Ayu, tidak mungkin Aiden membawa Nala bersamanya tadi.
Sebelumnya mereka memang meeting bersama, namun keduanya berpisah jalan setelah selesai meeting. Siang itu Aiden sengaja mengosongkan jadwalnya sejak makan siang, dia ingin mengajak anak dan istrinya makan siang bersama.
Namun belum sempat Aiden masuk ke dalam mobil, mama Ayu menghubunginya. Dia minta pada putranya untuk menjemput Nala yang ban mobilnya bocor. Awalnya Aiden menolak, namun lagi-lagi dia kalah dengan sang mama.
“Mama tidak mau tahu, Aiden. Kamu harus menjemput Nala sekarang! Mama tidak mau suntikan dana yang Robert berikan pada perusahaan di minta kembali hanya karena mama tidak memperlakukan dengan baik Nala, kecuali kamu punya dana yang sama untuk perusahaan.”
“Itu urusan mama, kenapa jadi urusan Aiden? Aku tidak ada urusan dengan suami mama itu,”
“Jemput Nala sekarang! Atau mama akan buat semua tahu bagaimana Alvian bisa ada di dunia ini,” ancam mama Ayu dan Aiden tahu benar siapa mamanya.
Akhirnya Aiden terpaksa menjemput Nala lebih dulu, dia tidak mau Alvian menerima imbas keegoisannya. Meskipun itu berarti akan membuat Karin marah padanya, tapi setidaknya Aiden tahu bagaimana meluluhkan istrinya jika sedang marah.
“Mama ayo pulang! Pian mau batagol caja,” rengek Alvian.
Karin langsung menggendong putranya. “Yuk! Nanti kita beli jajan yang Vian mau,” ucap Karin yang langsung mengambil tasnya dan berlalu pergi dari sana.
Aiden tidak tinggal diam, dia langsung menyusul istrinya. Beruntung makanan mereka sudah di bayar diawal, jadi dia bisa langsung pergi.
“Aiden! Aku pulang sama siapa?” Nala makin kesal.
“Kamu bisa pulang sendiri, Nala. Pesan taksi saja,” Aiden lari mengejar istrinya yang sudah keluar dari restoran. Dia berjalan di samping sang istri, pria itu langsung mengambil alih Alvian dari gendongan Karin.
“Ekhee…telkejutnya dili ini. Pian kila bica telbang,” ocehnya saat Aiden berganti menggendong sang putra. “Bantu papa bujuk mama,” bisiknya pada Alvian, sementara itu Karin terus melangkahkan kakinya lurus ke depan.
“Pian pikil-pikil dulu. Coalnya papa itu cuka kacih halapan palcu, cepelti om Layen. Kacih halapan palcu onty Alya,” jawabnya.
Aiden terkekeh mendengar ucapan putranya, makin hari ada saja kosa kata ajaib yang Aiden dengar dari bibir mungil sang putra.
“Mobilnya di sana, sayang! bukan di situ,” Aiden memberitahu Karin saat mama Alvian tersebut menuju parkiran sebelah kiri, sedangkan mobil Aiden ada di parkiran sebelah kanan.
Karin tersipu malu, dia langsung berbalik arah. Hal tersebut membuat Aiden menahan tawanya, dia lantas bergegas mengekori sang istri menuju mobil.
***
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Karin tetap mendiamkan Aiden. Suaminya tersebut hanya bicara dengan putranya, sedang Karin hanya menjadi pendengar saja.
Kruuk…Kruuk
Alvian langsung menunduk melihat kearah perut gemoynya. “Pelut cedang plotec. Macih lapal ini lupanya,” celetuknya membuat Aiden dan Karin memperhatikan putranya yang memegangi perut.
Karin mengusap perut gemoy Alvian. “Perutnya adek sabar dulu, ya! Kita cari camilan setelah ini,”
“Pelut bilang macih bica cabal cebental. Tapi nanti mau banyak-banyak jajannya,”
Aiden dan Karin terkekeh, Alvian memang menjadi pelipur lara untuk keduanya.
“Berhenti dulu di mini market, mas! Vian masih lapar,” akhirnya Karin mengeluarkan suaranya, Aiden harus berterimakasih pada putranya yang masih lapar hingga perutnya berbunyi.
“Siap sayang,”
Aiden menghentikan mobilnya setelah bertemu mini market.
“Biar aku dan Vian saja yang turun, sayang. Kamu tunggu di mobil saja!” pinta Aiden diangguki Karin.
Aiden turun dari mobil sambil menggendong putranya, mereka berdua masuk ke dalam mini market. Setelah beberapa saat ayah dan anak tersebut keluar dari mini market sambil membawa dua kantong plastik berisi jajanan. Karin melihat kearah suami dan putranya yang berjalan menuju mobil, dia melihat tawa bahagia Alvian. Hatinya menghangat, namun di sisi lain dia juga khawatir setelah mama Ayu muncul membawa Nala yang tidak lain masa lalu Aiden.
Mama tidak akan pernah menyerah agar rumahmu tetap menyala dengan lampu-lampu indah dan tetap hangat, sayang. Mama tidak akan membiarkan siapapun mengambil tawa bahagiamu.
Keduanya lantas masuk ke dalam mobil.
“Bahagia sekali anak mama ini, habis dapat apa sih?” Karin meng3cup kening Alvian yang duduk di pangkuan menghadapnya.
“Papa kacih Pian telul coklat cama ec klim. Mama ndak boleh malah cama Pian, ya!” ucapnya karena biasanya Karin tidak akan mengijinkan Alvian memakan dua jenis jajanan tersebut bersamaan.
Karin tersenyum “Khusus kali ini boleh. Tapi tidak untuk lain kali,” ucap Karin diangguki Alvian.
“Es krim untuk istriku tercinta,” Aiden mengarahkan sendok berisi es krim ke depan mulutnya, Karin berdecak. Dia tahu suaminya sedang merayunya. “Meleleh ini yank nanti. Seperti cintaku padamu,” lanjutnya.
“Gombal,” namun Karin langung melahap es krim tersebut.