Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.
Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka dan Dendam
Di koridor rumah sakit yang dingin, Bapak mendengarkan isak tangis istri Seno yang perlahan mereda. Tak butuh waktu lama bagi Bapak dan Ibu untuk segera meluncur ke kantor polisi tempat Seno ditahan. Suasana di sana pengap dan kaku, sangat kontras dengan pembawaan Seno yang biasanya jujur dan rajin saat merawat mobil-mobil keluarga Widjaya.
Seno tertunduk lesu di balik jeruji besi, wajahnya dipenuhi rasa bersalah sekaligus ketakutan yang mendalam. Namun, kedatangan Bapak dan Ibu Laras bukan untuk meluapkan amarah.
"Kami ke sini bukan untuk memperpanjang masalah, Pak," buka Bapak, membuat Seno mendongak kaget.
"Kasus ini akan kami tutup."
Begitu lega dan bahagianya Seno dan istrinya mendengar keputusan itu.
Namun, takdir yang lebih kejam sedang menunggu di balik pintu rumah sakit.
Keesokan harinya, saat fajar baru saja menyingsing, monitor jantung di ruang perawatan mengeluarkan bunyi panjang yang melengking—sebuah nada tunggal yang menandakan perpisahan. Eyang Kakung mengembuskan napas terakhirnya tepat sebelum matahari benar-benar terbit. Kematian mendadak itu menghancurkan seluruh dinding ketenangan di keluarga Widjaya. Eyang Putri, yang selama puluhan tahun berdiri tegak di samping suaminya, seketika kehilangan arah. Rasa sedih yang teramat dalam berubah menjadi bara amarah yang gelap dan tak terkendali.
"Tidak mungkin! Ini bukan sekadar kecelakaan!" jerit Eyang Putri di koridor rumah sakit, suaranya parau karena duka yang berubah menjadi dendam.
Bagi Eyang Putri, Seno bukan lagi sekadar mekanik yang lalai. Dalam benaknya yang sedang kalut, Seno adalah pengkhianat yang berkomplot dengan musuh-musuh lama keluarga mereka untuk melenyapkan pilar utama keluarga Widjaya. Ia menolak wasiat terakhir suaminya untuk mengampuni Seno. Baginya, ampunan adalah penghinaan bagi nyawa yang telah hilang.
"Buka kembali kasusnya!" perintah Eyang Putri kepada pengacara keluarga, suaranya dingin sedingin es.
"Aku tidak mau dia hanya mendekam di penjara. Penjara itu terlalu nyaman untuk seorang pembunuh!"
Eyang Putri tidak lagi mengejar jalur pidana semata. Beliau memutar arah kasus tersebut ke jalur perdata dengan tuntutan ganti rugi miliaran rupiah. Sebuah angka yang mustahil bisa dibayar orang biasa.
"Aku mau dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya," desis Eyang Putri saat Bapak mencoba menenangkannya.
"Aku mau dia mati pelan-pelan di bawah tumpukan hutang yang tidak akan pernah lunas. Biar dia tahu, nyawa suamiku tidak bisa dibayar hanya dengan permintaan maaf."
Sejak saat itu, wajah Eyang Putri tak pernah sama lagi. Senyumnya terkubur bersama Eyang Kakung, digantikan oleh kewaspadaan yang berlebihan dan rasa curiga kepada siapa pun yang mendekati keluarganya.
⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️
(Kembali ke masa kini)
Udara di rooftop sekolah siang itu terasa berbeda. Bara Aksara sudah berdiri di sana, menyandar pada pagar pembatas,. Rambutnya yang biasa berantakan kini tertata rapi, dan aroma parfum woodsy yang kuat dari biasanya. Bara langsung menyambut Laras begitu ia menapakkan kaki di lantai teratas. Laras berjalan mendekat, menyunggingkan senyum yang biasanya dibalas dengan cengiran lebar atau acakan di kepala. Namun, kali ini Bara hanya memberikan senyum tipis yang tampak kaku, seolah otot wajahnya sedang dipaksa bekerja di luar kendali.
"Aku bawa bekal dua" sapa Laras sembari mengambil tempat di samping Bara.
Ia meletakkan dua kotak bekal plastik di antara mereka.
"Satu buat kamu, satu buat aku." Laras meringis, menunjukkan deretan giginya, mencoba mencairkan suasana yang mendadak beku.
Namun, Bara hanya diam. Tatapannya kosong, lurus menatap gedung-gedung di kejauhan. Laras duduk di sudut rooftop, ia membuka tutup kedua kotak bekal itu dengan gerakan ceria. Aroma roti panggang dan selada segar menguar.
"Wow... yummy! Aku buat sendiri loh sandwich-nya," seru Laras sembari menoleh, matanya berbinar penuh harap menunggu apresiasi atau setidaknya satu candaan khas Bara.
Bara hanya melirik sekilas, lalu kembali membuang muka. Tak ada pujian, tak ada rebutan potongan pertama. Keheningan itu terasa seperti tamparan bagi Laras. Rasa bangganya menguap, berganti dengan rasa sesak yang merayap di dada. Ia menutup kembali kotak bekalnya dengan bunyi klik yang tajam.
"Aku makan di kantin aja sama Sekar."
Laras beranjak, namun baru satu langkah ia menjauh, sebuah tangan yang hangat dan sedikit lembap karena keringat dingin mencengkeram pergelangan tangannya. Tenaga yang digunakan cukup kuat untuk menahan, tapi cukup lembut untuk memohon. Laras menoleh, menatap tangan itu, lalu beralih ke wajah Bara yang kini tampak pucat.
"Tunggu, Ras... jangan pergi," bisik Bara pelan.
"Duduk dulu," kata Bara, suaranya terdengar sedikit parau.
Laras tertegun. Ia perlahan duduk kembali, matanya mencari jawaban di balik kegugupan yang belum pernah ia lihat sebelumnya dari seorang Bara. Pandangan Laras kemudian turun dan ia menangkap sesuatu yang ganjil. Lutut Bara yang tertutup celana abu-abu itu tampak bergetar halus—seperti mesin yang sedang korslet. Refleks, Laras menepuk lutut itu, mencoba menghentikan getarannya.
"Kamu kenapa sih? Sakit?" tanya Laras cemas.
Baru saat ia condong mendekat itulah, indra penciumannya diserang aroma parfum yang sangat kuat. Laras memundurkan kepalanya sedikit, menyadari ada upaya ekstra di balik penampilan Bara siang ini.
"Tumben, wangi banget?" selidik Laras.
Bara berdeham kaku, mencoba menguasai diri. "Emang biasanya aku nggak wangi?"
"Ya wangi... tapi kali ini kayaknya kamu mandi parfum, deh," ledek Laras sambil terkekeh kecil, berharap suasana kaku ini segera cair.
Namun, reaksi Bara di luar dugaan. Bukannya membalas dengan candaan atau menjitak pelan dahi Laras seperti biasa, Bara malah menoleh dan menunjukkan wajah cemberut—tipe wajah yang menunjukkan bahwa ia sedang tersinggung sekaligus bingung.
"Eh..." Laras terdiam. Tawa kecilnya mendadak mati.
Melihat Bara yang tidak biasanya seperti ini, Laras pun mengubah posisinya. Ia menaruh kotak bekalnya di samping, lalu menatap Bara dengan tatapan serius. Tak ada lagi ledekan di matanya, hanya ada tanya yang tulus.
"Bar, beneran deh. Ada apa? Kamu kalau mau cerita, cerita aja. Jangan bikin aku bingung begini," bisik Laras pelan, mengunci pandangan mata Bara yang tampak sedang berperang dengan pikirannya sendiri.
"Ehm... anu... aku... aku suka sama kamu." kalimat itu meluncur patah-patah dari bibir Bara.
Laras seketika mematung, seolah seluruh pasokan oksigen di atas rooftop itu mendadak hilang. Matanya membelalak lebar, menatap Bara yang kini tidak berani membalas tatapannya. Dunia seolah berhenti berputar, menyisakan Laras yang bingung harus memberikan reaksi seperti apa.
Bara menunduk dalam, sesekali melirik Laras lewat sudut matanya dengan raut wajah penuh harap sekaligus cemas.
"Kamu mau kan... jadi pacarku?"
Ijin mampir🙏