Arka adalah pria biasa yang hidupnya selalu penuh kegagalan. Dipecat dari pekerjaan, ditinggalkan pacar, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun setelah kecelakaan misterius, hidupnya berubah total ketika sebuah Sistem Harem Legendaris muncul di dalam pikirannya.
Sistem itu memberinya misi aneh: bertemu wanita-wanita luar biasa yang akan mengubah takdirnya.
Dari CEO cantik yang dingin, idol terkenal, hacker jenius, hingga pembunuh bayaran misterius—setiap wanita yang mendekatinya membuka kekuatan baru bagi Arka.
Namun semakin banyak wanita yang masuk dalam hidupnya, semakin berbahaya dunia yang harus ia hadapi.
Akankah Arka mampu mengendalikan kekuatan sistem itu… atau justru tenggelam dalam permainan takdir yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wedanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7 – Gadis di Hutan Terlarang
Berita tentang kejadian di arena duel menyebar ke seluruh Akademi Arclight dalam waktu kurang dari satu hari. Para siswa terus membicarakan energi misterius yang keluar dari tubuh Ren. Beberapa mengatakan itu sihir kuno, sebagian lain percaya itu adalah kekuatan terlarang yang sudah lama menghilang dari dunia. Namun bagi Ren sendiri, semua itu justru membuat kepalanya semakin penuh dengan pertanyaan.
Ren berjalan sendirian di koridor akademi yang panjang pada sore hari. Cahaya matahari senja masuk melalui jendela-jendela tinggi, menciptakan bayangan panjang di lantai marmer. Suasana akademi terasa lebih tenang dibanding biasanya, tetapi pikiran Ren sama sekali tidak tenang.
Kata-kata gadis bernama Selene masih terngiang jelas di kepalanya.
“Pewaris.”
Apa maksudnya? Pewaris dari apa?
Ren mengepalkan tangannya perlahan. Ia tidak pernah merasa memiliki kekuatan luar biasa sebelumnya. Selama ini ia hanya siswa biasa yang berusaha bertahan di akademi yang dipenuhi para jenius sihir. Namun energi yang muncul saat duel dengan Mira jelas bukan sesuatu yang normal.
“Kenapa semua ini terjadi sekarang…” gumamnya pelan.
Tiba-tiba suara langkah cepat terdengar dari belakang.
“Ren! Tunggu!”
Ren menoleh dan melihat Mira berlari menuju dirinya dengan napas sedikit terengah. Rambut merahnya yang panjang bergoyang mengikuti gerakannya.
“Kamu menghilang sejak latihan selesai,” kata Mira sambil menyilangkan tangan. “Semua orang mencarimu.”
Ren menghela napas kecil. “Aku hanya ingin berpikir sendirian.”
Mira menatapnya dengan serius. Biasanya gadis itu selalu terlihat penuh semangat dan sedikit ceroboh, tetapi kali ini ekspresinya berbeda.
“Kekuatan yang kamu keluarkan tadi… itu bukan sihir biasa, kan?”
Ren terdiam beberapa detik sebelum menjawab, “Aku juga tidak tahu.”
Mira mengerutkan kening. “Jangan bohong.”
“Aku tidak berbohong.”
Suasana menjadi hening sejenak. Mira menatap Ren seolah mencoba membaca pikirannya, namun akhirnya ia menghela napas.
“Baiklah,” katanya pelan. “Tapi kalau kamu tiba-tiba meledakkan akademi ini, aku akan menyalahkanmu.”
Ren tertawa kecil untuk pertama kalinya hari itu.
Namun sebelum percakapan mereka berlanjut, Lilia tiba-tiba muncul dari ujung koridor.
“Ren,” panggilnya dengan nada tenang.
Ren dan Mira menoleh bersamaan.
Lilia berjalan mendekat dengan ekspresi serius yang jarang terlihat di wajahnya. Rambut peraknya berkilau lembut terkena cahaya senja.
“Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan,” katanya.
“Apa?” tanya Ren.
Lilia menatap sekeliling koridor sebentar sebelum menjawab dengan suara lebih pelan.
“Bukan di sini.”
Beberapa menit kemudian, mereka bertiga berjalan keluar dari gerbang akademi menuju arah hutan yang terletak di belakang kompleks sekolah. Hutan itu dikenal oleh para siswa sebagai Hutan Terlarang. Tidak banyak yang berani masuk terlalu dalam karena banyak makhluk sihir liar tinggal di sana.
Mira langsung berhenti di pinggir hutan.
“Tunggu sebentar,” katanya sambil menatap pepohonan yang gelap. “Kenapa kita ke sini?”
Lilia menjawab singkat, “Karena aku menemukan sesuatu tadi pagi.”
Ren menatapnya penasaran. “Sesuatu?”
Lilia mengangguk. “Energi sihir yang sangat aneh.”
Mira mengerutkan kening. “Aneh bagaimana?”
Lilia menatap Ren sejenak sebelum berkata, “Mirip dengan energi yang keluar dari tubuh Ren.”
Ren langsung terdiam.
Tanpa menunggu jawaban lagi, Lilia berjalan masuk ke dalam hutan. Ren dan Mira akhirnya mengikuti.
Hutan itu jauh lebih gelap dibanding yang mereka bayangkan. Cabang-cabang pohon besar menutupi sebagian besar cahaya matahari. Udara terasa lembap dan sunyi, hanya terdengar suara serangga dan dedaunan yang bergerak tertiup angin.
Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, Lilia tiba-tiba berhenti.
“Di sini,” katanya pelan.
Ren melihat ke depan dan menyadari ada sebuah area kecil yang terbuka di tengah pepohonan. Tanah di sana dipenuhi bunga-bunga liar yang bercahaya lembut seperti bintang kecil.
Namun yang membuat Ren terkejut bukanlah bunga-bunga itu.
Di tengah area tersebut, seseorang sedang berlutut.
Seorang gadis.
Rambutnya panjang berwarna emas pucat, dan telinganya runcing seperti elf dalam legenda. Ia mengenakan pakaian putih sederhana yang tampak seperti jubah penyembuh.
Mira langsung berbisik, “Siapa dia…?”
Gadis itu perlahan menoleh ketika mendengar langkah mereka.
Matanya berwarna hijau lembut seperti hutan itu sendiri.
Ia terlihat sama terkejutnya melihat mereka.
“Oh… maaf,” katanya dengan suara sangat lembut. “Aku tidak tahu ada orang lain di sini.”
Ren merasa ada sesuatu yang aneh. Aura sihir yang keluar dari gadis itu terasa hangat dan menenangkan.
“Siapa kamu?” tanya Ren.
Gadis itu berdiri perlahan.
“Namaku Aria,” jawabnya. “Aku murid baru di akademi.”
Mira menyilangkan tangan. “Murid baru lagi?”
Aria tersenyum kecil.
“Aku datang dari desa elf di utara.”
Ren memperhatikan sekeliling dan baru menyadari sesuatu. Di tanah dekat Aria terdapat seekor makhluk kecil yang terluka, semacam rubah sihir dengan bulu perak.
Aria berlutut kembali dan mengangkat tangannya.
Cahaya hijau lembut muncul dari telapak tangannya.
Luka pada rubah itu perlahan sembuh.
Ren terkejut.
“Ini sihir penyembuhan tingkat tinggi…”
Aria tersenyum malu.
“Aku hanya membantu makhluk yang terluka.”
Namun tiba-tiba ekspresi Aria berubah saat ia menatap Ren.
Matanya membesar sedikit.
“Kamu…”
Ren bingung. “Apa?”
Aria menatapnya dengan penuh rasa penasaran.
“Energi di dalam dirimu… sangat kuat.”
Mira langsung mendesah kesal. “Jangan bilang kamu juga datang karena dia.”
Aria terlihat bingung. “Karena dia?”
Lilia menjawab dengan tenang, “Beberapa orang tampaknya tertarik pada kekuatan Ren.”
Aria menatap Ren lagi, lalu tersenyum lembut.
“Kalau begitu… mungkin kita akan sering bertemu.”
Ren tidak tahu kenapa, tetapi jantungnya berdetak sedikit lebih cepat saat Aria mengatakan itu.
Namun pada saat yang sama, jauh di dalam hutan yang lebih gelap, sepasang mata merah sedang mengamati mereka dari kejauhan.
Selene.
Gadis misterius itu berdiri di atas cabang pohon tinggi sambil tersenyum tipis.
“Menarik sekali,” bisiknya pelan. “Sekarang bahkan elf pun tertarik padamu, Ren.”
Angin malam mulai berhembus melalui hutan.
Dan tanpa Ren sadari, semakin banyak orang mulai tertarik pada kekuatan yang tersembunyi di dalam dirinya.