Nabila Asofi telah dijodohkan orangtuanya, Tapi sebuah kecelakaan merenggut nyawa suaminya disaat pernikahan mereka belum genap satu tahun ,dan Sofi sedang hamil tua. Disaat itu mantan kekasih yang ditinggalkannya mencoba mendekatinya lagi, akankah Sofi berpaling dan kembali pada kekasihnya setelah menyandang status janda dengan dua anak kembar?
SELAMAT MEMBACA SEMOGA TERHIBUR...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binti Ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Oh Anakku Sakit
🌹Happy Reading🌹
Waktu terus bergulir, siang berganti malam silih berganti, hari hari terus berlalu hingga berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun, hingga tak terasa si kembar telah berusia 3 tahun, mereka sudah bisa berjalan bahkan berlarian kesana kemari, sudah bisa bicara walaupun belum jelas, dia akan bilang 'mamam' bila lapar.
Selama ini Farhan juga masih setia menemui anak anak Sofi, walau kadang Sofi merasa jengah dan membiarkan anak anaknya bermain dengan Farhan, sedang dia sendiri bergegas pergi ke kamar dan berlama lama didalam kamar. Atau dia mencari kesibukan yang lainnya. Pokoknya tidak bersama Farhan. Sofi menyuruh mbak Rumi atau mbak Santi untuk menemani Farhan bermain dengan si kembar.
Hari itu mbak Santi pamit untuk pulang karena dia akan menikah. Dia berkata jikalau suaminya mengizinkan, ia hanya pamit seminggu, dan kembali bekerja. Namun kalau suaminya tak mengizinkan, maka hari itu adalah hari terakhirnya bekerja di rumah Mama Sarah. Tapi ia memperkirakan suaminya tak mengizinkan sebab calon suaminya mempunyai usaha yang cukup baik dan berkembang, sehingga membutuhkan tenaga mbak Santi untuk membantu pekerjaannya. Dengan berat hati Sofi dan mama Sarah mengizinkannya.
****
Di rumah yang cukup besar dan asri ada tiga orang laki laki dan seorang wanita yang sedang makan malam, dengan berbagai lauk yang menggugah selera. Mereka makan dengan lahap, hingga saat selesai makan mereka masih bertahan ditempat duduknya. Hanya sang wanita paruh baya yang mondar mandir membawa piring kotor ke wastafel yang tak jauh dari ruang makan dan mencucinya.
Pak Ali :" Nak Farhan, maaf kalau bapak lancang. Di usiamu sekarang, bapak yakin kau sudah sangat siap untuk berumah tangga, sampai kapan kau akan menunggu wanita itu untuk siap kau nikahi?"
"Ini sudah 3 tahun loh. Dan belum ada tanda tanda dia menerima lamaran kamu. Nak Farhan ini dari dulu sudah terlalu sering datang padanya dan ditolak olehnya. Mengapa tak berusaha cari wanita lain saja yang lebih siap?" Serentetan pertanyaan diajukan pada Farhan.
Hening.
"Bahkan kalau nak Farhan mau, bapak bisa mengenalkanmu pada putri teman bapak. Anaknya cantik, sholehah, ilmu agama pun lumayan baik. Bapak sudah pernah melihat anaknya langsung. Dan yang terpenting dia juga sudah siap untuk berumah tangga." Abi Ali menyeruput tehnya. Sang adik Marwan pun hanya diam saja, bermain dengan hapenya, entah apa yang ia pikirkan.
Farhan :" Terima kasih Abi sudah mau memikirkan keadaan dan masa depan saya. Tapi mohon maaf Abi, saya tahu saya sangat banyak berhutang budi pada Abi, tapi saya mohon Abi beri waktu untuk saya untuk memperjuangkan cinta saya. Kalau nanti saya sudah benar benar lelah dan menyerah, terserah pada Abi jika Abi ingin menjodohkan saya dengan putri teman Abi."
"Tapi untuk saat ini belum, Abi. Saya belum menyerah."
" Wanita yang Farhan sayang memang bukan wanita sempurna, apalagi dengan keadaanya yang sudah mempunyai dua orang anak. Tapi saya cinta dia Abi, saya bukan hanya cinta dia, tapi saya juga cinta dengan anak anaknya. Dari awal, saya sudah berniat untuk menjaga dan mencintai mereka seperti anak saya sendiri." kata kata Farhan terdengar tegas dan lugas.
Pak Ali pun mengangguk mengerti.
"Lalu, seperti apa respon dia sendiri pada nak Farhan?"
Farhan :" Dia wanita yang sangat menjaga kehormatannya Abi, dia selalu menjaga jarak dengan Farhan yang memang bukan muhrimnya. Tapi dia membiarkan anak anak dekat dengan saya, walaupun kadang masih membuat jarak dan membatasi kedekatan kami."
Pak Ali :" Begitu istimewanya ya, wanita itu bagimu nak, Abi dan Umi sudah tak sabar ingin kenal dengannya. Abi harap nak Farhan segera membawanya pada kami untuk saling mengenal. Abi dan Umi selalu berdoa untuk kebaikan kalian berdua, dan juga untuk nak Marwan tentunya."
Farhan " Insha Alloh Abi, saya akan berusaha secepat mungkin untuk mengenalkan pada Abi dan juga Umi, nanti Abi bisa menilainya sendiri bagaimana dia."
Pak Ali :" Ya niat baik itu harus disegerakan, Nak,"
Begitulah obrolan mereka malam itu, sebentar kemudian sudah ganti topik yang lain lagi. Bahkan tak jarang mereka tertawa karena bercerita hal yang lucu lucu.
Tiba tiba datang Marwan yang tadi beranjak pamit untuk menelfon kekasihnya Izzah, dan membisikkan sesuatu yang tadi diberitahukan Izzah.
Marwan :" Mas, tadi aku baru telpon Izzah, katanya ia lagi menemani mbak Sofi di rumah sakit, Meera demam dan sempat kejang. Karena panasnya terlalu tinggi. Sekarang dirumah sakit pun Meera terus menangis dan gak ada yang bisa bikin dia berhenti menangis."
"Benarkah?"
"Kata dokter, Meera di sarankan untuk rawat inap agar panasnya cepat turun dan khawatir jika kejang lagi dokter jaga bisa langsung menangani." Farhan tersentak mendengar apa yang dikatakan Marwan.
Farhan, " Lalu di rumah sakit mana Meera dirawat sekarang?" tanya Farhan dengan tak sabar.
Marwan " Meera dibawa ke rumah sakit Ibu dan Anak ''Kasih Bunda''.
Farhan :" Temani aku ke sana sekarang, yuk? " Marwan mengangguk dan mereka segera menuju rumah sakit tersebut malam itu juga, sebelumnya tak lupa mereka berpamitan pada Abi dan Umi.
Abi:" Hati hati ya kalian? Semoga Meera segera sembuh dan salam buat Nak Sofi dan adiknya." mereka mengangguk bareng.
"Iya, Bi!"
Mereka segera ke rumah sakit malam itu juga. Rasa khawatir terlihat di raut wajah Farhan, hingga Marwan berinisiatif untuk menyetir.
"Kata Izzah, Meera terus nangis dan sempat muntah juga. Ia khawatir pada ponakannya, tapi tadi mbak Sofi melarang ngasih tahu Abang sebetulnya."
"Izzah ngasih tahu atas inisiatifnya sendiri."
"Kalian berdua memang sama sama keras kepala, yang satu keras kepala walau ditolak masih selalu mendekat. Yang satunya lagi keras kepala dan selalu menjauh."
"Serah, deh Wan. Nanti kalau kau udah cinta mati sama seseorang, kamu baru akan bisa merasakannya."
"Cinta aku bukan hanya sekedar kata kata indah, cinta aku seperti lorong waktu yang tiada ujungnya, yang hanya di musnahkan oleh maut."
Marwan diam tak menyahut. Mereka telah tiba di halaman parkir rumah sakit.
Setelah memarkirkan kuda besinya, mereka mencari ruangan yang ditunjukkan Izzah dengan menanyakan ke petugas resepsionis. Sesampainya di ruangan yang dituju dari kejauhan terdengar suara beberapa anak menangis, salah satunya suara tangusan Meera yang menangis parau. Sepertinya tangisannnya sudah cukup lama, hingga dia kehabisan suara.
"Assalamu'alaikum." ucap Farhan sambil membuka pintu ruangan. Tatapannya tertuju pada gadis kecil yang tertancap jarum infus dipunggung tangannya. Dengan tangis yang berderai ia digendong oleh Mamanya yang berusaha menenangkan agar tak menangis lagi.
Farhan tersenyum, "Hai girl!" mengulurkan tangan padamya. Meera menyambutnya dengan merentangkan tangan ingin di gendong Farhan. Dan langsung nemplok dengan disertai isak tangis yang memilukan.
"Om Han!" Dengan sayang Farhan memeluk Meera, dan mengelus punggung itu. Sofi terlihat meringis menahan pegal dibahunya, karena sedari tadi Meera tak mau turun dari gendongannya.
"Cepat sembuh, ya sayang!" Meera mengangguk, menyandarkan kepala ke bahu Farhan dan masih terisak lirih.
Perlahan tangis Meera pun berhenti, tapi masih sesenggukan karena saking lamanya menangis. Kemeja Farhan menjadi basah oleh air mata dan ingus gadis kecil itu. Semua orang yang ada di ruangan itu merasa lega. Farhan memandang wajah Sofi yang memalingkan wajah terlihat letih, dan matanya sembab. Ibu mana yang tak sedih jika anaknya sakit?
Setelah agak lama dan Meera telah terlelap tidur, dengan perlahan Farhan menidurkannya di atas ranjang rumah sakit. Mama Sarah, Izzah dan Marwan telah keluar ruangan untuk memberi ruang pada Sofi dan Farhan bersama Meera.
Cukup lama ruangan terasa lengang, karena baik Sofi maupun Farhan hanya diam." Makasih ya mas, mau datang kemari. Sa-saya tak tahu harus berbuat apa tadi untuk menenangkannya, untungnya mas Farhan datang." Sofi menunduk mengatakannya, ada rasa tak enak hati karena selama ini selalu bersikap jutek kepada Farhan. Namun saat dirinya kesulitan Farhan dengan senang hati selalu mau membantunya.
Farhan mengalihkan topik " Memang sebenarnya apa yang terjadi, Sof? Gimana kata dokter tentang keadaan Meera?"
Sofi menatap Farhan sebentar, lalu memalingkan wajahnya lagi. "Tidak apa apa mas, Dokter hanya mengatakan kalau demamnya terlalu tinggi, jadi disarankan untuk rawat inap. Penyebabnya masih dalam tahap observasi, kemungkinan karena infeksi virus, agar dokter bisa langsung memantau keadaannya." Sofi menjawab dengan tanpa memandang pada Farhan.
" Sejak kapan dia demamnya?"
Sofi:" Sejak tadi pagi, dia rewel terus tapi belum demam. Sore habis Ashar tadi baru mulai demam, udah dikasih parasetamol juga, tapi demamnya tidak turun. Lalu habis maghrib tiba tiba dia kejang, kami semua panik. Sedangkan Papa belum pulang kerja, jadi aku bawa dia kesini sama Mama dan Izzah. A-aku takut mas, baru kali ini dia panas separah ini." Sofi menjelaskan dan air matanya lolos seketika. Sesekali dia menyeka air matanya yang keluar dan berusaha menahan agar tak sesenggukan.
Farhan :"Ya udah, yang penting sekarang Meera sudah ditangani dokter dan udah tenang. Panasnya insyaalloh segera turun karena sudah mendapat obat." Farhan mendekati Sofi dan duduk di sebelahnya, mengelus bahu Sofi untuk menenangkan dan memberi kekuatan. Tapi malah membuat makin deras air mata Sofi yang keluar. Bahkan ia menggumam lirih yang hampir tidak terdengar.
"Mas Faiz." Berkeping keping hati Farhan mendengar gumaman Sofi.
Dalam keadaan seperti ini yang diingatnya adalah ayah dari anaknya membuat sendu hati Farhan, dia tahu Sofi butuh kekuatan dan dukungan, ingin rasanya dia memeluk Sofi untuk memberikan ketenangan, tapi ia tak bisa melakukannya.
Farhan :"Sof, aku tahu saat ini kau butuh bahu untuk bersandar, tapi aku yakin kau takkan mau. Jadi bersandarlah pada punggungku, menangislah! sampai kau merasa lega."
Farhan menekan kepala Sofi dengan tangan ke punggungnya. Tak ada penolakan. Dan tangis Sofi pecah dan semakin menjadi. Jika tadi dia hanya terisak, sekarang malah tambah keras suara tangisnya. Hingga orang orang yang diluar terkejut lalu segera masuk kedalam ruangan.
Mama Sarah menatap nanar menantunya yang merebahkan kepala sambil menangis keras dipunggung Farhan, lalu didekati nya mereka, mengelus pundak Sofi.
Sofi :" Mamaaaaa....hiks hiks..!" segera menghambur kearah mertua dan memeluknya erat sambil tak berhenti menangis.
Mama Sarah :" Mama tahu kau pura pura kuat selama 3 tahun ini, maafkan Mama.... " mata mama Sarah pun ikut basah karena air mata, tak sanggup membayangkan andai dia berada di posisi Sofi. Belum tentu dirinya sekuat itu. Dielus elus nya kepala Sofi yang tertutup hijab. Ia lega cucunya sudah diam dan tertidur lelap, tapi malah sekarang ibunya yang menangis.
Farhan mendekati Meera yang terlelap, dahinya terlihat berkeringat dan diusap nya dengan lembut memakai tisu yang tersedia.
Sedangkan diluar ruangan...
Marwan duduk bersebelahan dengan Izzah, menatap aktifitas yang terlihat dalam ruangan Meera.
"Seandainya aku ada diposisi mbak Sofi, aku tak yakin aku kuat," Izzah bergumam.
"Semoga tidak akan pernah terjadi padaku." Izzah bergumam lagi dan Marwan mendengar.
Marwan :"Tapi semua manusia itu akan menghadap Ilahi, Izzah sayang. Hanya kita tak tahu giliran kita kapan. Karena itu adalah rahasia Tuhan."
Izzah:" Iya mas, aku tahu. Semua makhluk hidup pasti akan mengalami yang namanya mati. Tapi maksud aku, semoga nanti aku dan suami aku matinya nanti kalau sudah jadi kakek dan nenek, kalau bisa sampe jadi uyut" sewot Izzah.
Marwan :" Semoga ya. Aamiin."
"Memang udah ada hilalnya ya Zah?" Izzah menatap heran pada Marwan yang juga tengah menatapnya dengan sorot mata yang... entahlah. Izzah tak kuat menatapnya.
"Maksudnya gimana mas?"
" Udah ada calonnya kah?"
\=\=\=\=\=\=\=