Aluna adalah seorang gadis yang diangkat oleh keluarga kaya sebagai pengganti anak perempuan mereka yang hilang, Jesselyn. Meski hidupnya tampak bahagia, sebenarnya ia hanya diperlakukan sebagai bayangan dari Jesselyn.
Setelah dewasa Aluna dijodohkan dengan Davion Harold, yang lagi-lagi karena pria itu adalah pria yang dulu Jesselyn sukai. Apapun yang terjadi Aluna harus bertahan dalam pernikahan tersebut, itulah pesan kedua orang tua angkatnya.
Namun pernikahan itu membuat Aluna semakin tersiksa dan merasa tak diinginkan oleh siapapun. Pada akhirnya Aluna mengambil keputusan paling mengerikan di dalam hidupnya, coba keluar dari bayang-bayang Jesselyn dan hidup sebagai dirinya sendiri. Melanggar keinginan orang tua angkatnya untuk pertama kali.
"Dav, aku ingin kita cerai," ucap Aluna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PP Bab 8 - Frustasi
Aluna tersentak ketika pertanyaan itu dilontarkan begitu saja. Tangannya yang masih memegang tangkai bunga mawar merah sedikit mengeras, jemarinya menegang tanpa ia sadari.
Untuk beberapa detik Aluna hanya terdiam, menatap bunga ditangannya mencari jawaban di antara kelopak-kelopaknya yang merekah sempurna.
Jujur.
Satu kata yang justru terasa begitu asing baginya. Seumur hidupnya, Aluna tidak pernah benar-benar diberi ruang untuk jujur.
Apa yang ia sukai, apa yang ia inginkan, bahkan apa yang ia rasakan, semuanya telah diatur dan disesuaikan dengan bayangan seseorang yang bukan dirinya.
Dan sekarang untuk pertama kalinya, seseorang mempertanyakan itu.
Jantung Aluna berdetak lebih cepat. Ada rasa gugup yang merambat naik, membuat napasnya terasa sedikit sesak. Ia takut jika kejujuran yang keluar justru akan menjadi kesalahan baru. Takut jika dirinya tidak sesuai dengan harapan.
Akhirnya seperti kebiasaan yang sudah mendarah daging, Aluna memilih jalan yang paling aman.
Berbohong.
“Tidak, Mom. Aku menyukai keduanya, tapi aku lebih suka bunga Lily.” Senyumnya tetap terpasang.
Mommy Ivana menatapnya beberapa saat, tatapan penuh kehangatan yang tulus. Namun entah mengapa, justru itu yang membuat Aluna semakin tidak nyaman.
Karena untuk pertama kalinya ia merasa sedang dilihat, bukan dinilai.
Mom Ivana akhirnya tersenyum kecil, tidak memperdebatkan jawaban itu. Ia hanya mengangguk pelan menerima apa pun yang Aluna katakan tanpa perlu memaksanya lebih jauh.
“Baiklah,” ucap mom Ivana lembut. “Kalau begitu kita rangkai yang indah, ya.”
Nada suaranya begitu ringan, seolah tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Dan mungkin memang tidak ada setidaknya bagi Ivana.
Namun bagi Aluna kebohongan kecil itu terasa jauh lebih berat dari yang seharusnya.
Mereka pun melanjutkan merangkai bunga bersama. Tangan Ivana bergerak dengan luwes, memilih, memotong, lalu menyusun bunga-bunga itu menjadi rangkaian yang indah. Sementara Aluna mengikuti dengan hati-hati, meniru setiap gerakan, setiap detail, seolah takut melakukan kesalahan sekecil apa pun.
Waktu berlalu tanpa terasa hingga akhirnya rangkaian bunga itu selesai. Mom Ivana menyelesaikan tiga vas bunga dan Aluna satu. Vas milik Aluna berisi perpaduan warna merah bunga mawar dan putihnya Lily.
"Cantik sekali, sama seperti kamu," ucap mom Ivana saat melihat bunga milik Aluna.
Pujian itu membuat Aluna tersenyum lebar, namun kemudian senyumnya perlahan luntur jadi senyum kecil seperti biasanya.
Aluna tak boleh menunjukkan terang-terangan rasa sukanya, harus bisa membawa diri.
"Punya mommy juga cantik sekali, aku menyukainya," balas Aluna.
“Bawalah bunganya ke kamarmu dan Davion. Letakkan di sana, pasti akan membuat suasananya jadi lebih romantis.” Mom Ivana terkekeh kecil dan Aluna mengangguk pelan.
Kata romantis rasanya tak cocok untuk disematkan padanya dan Davion. “Baik, Mom.”
“Sekalian panggil Davion untuk makan siang, ya,” tambah Ivana lagi, nada suaranya tetap lembut penuh kasih sayang. “Sejak tadi Mommy tidak melihatnya keluar.”
“Iya, Mom,” jawab Aluna singkat.
Ia berdiri dan mengambil vas bunga itu dengan hati-hati, lalu melangkah pergi. Setiap langkahnya teratur seperti biasa. Mom Ivana yang melihatnya terus saja menatap kagum, meski sebenarnya dia akan lebih senang jika Aluna sedikit nakal.
Membayangkannya saja membuat mom Ivana tersenyum kecil, sungguh dia sangat menginginkan memiliki anak perempuan dengan segala tingkahnya.
Namun Aluna yang seperti ini juga sangat membuatnya bersyukur.
Aluna mulai menaiki anak tangga dengan hati-hati. Setiap anak tangga yang ia pijak membawanya kembali pada ingatan akan ucapan Davion.
'Jangan kembali ke kamar sebelum ku perintah.'
Sontak saja langkah Aluna jadi melambat. Hingga akhirnya ia sampai di depan pintu kamar itu.
'Aku tidak boleh bicara dan tidak boleh masuk, apa yang harus aku lakukan sekarang?' batin Aluna.
Pada akhirnya dia hanya berdiri di sana diam mematung. Tangannya masih memegang vas bunga dengan hati-hati. Berharap pintu segera terbuka dan Davion memanggilnya.
Beberapa menit berlalu dan tidak ada yang berubah.
Aluna mulai gelisah sebab di bawah sana mommy Ivana sudah menunggu kedatangan mereka. 'Ya Tuhan, ku mohon buatlah Davion membuka pintu,' pinta Aluna.
Dan detik itu juga pintu benar-benar terbuka.
Deg! Aluna yang terkejut reflek mundur satu langkah Dia memegang vas bunga semakin erat takut vas bunga ini jatuh.
Yang merasa terkejut bukan hanya Aluna, tapi juga davion yang baru saja keluar karena tiba-tiba dia disambut wanita ini berdiri seperti patung.
'Astaga,' batin Davion, tak habis pikir pada wanita tersebut. Ada saja ulahnya yang membuat Davion geram. Hanya melihat gelagat yang Aluna tunjukkan sekarang, Davion sangat yakin jika sejak tadi Aluna sudah berada di sini tapi tidak berani mengetuk pintu ataupun masuk karena perintahnya. Karena larangannya kembali ke kamar sebelum dia panggil.
Sepatuh itukah Aluna? Davion sangat heran.
"Sejak tadi kamu sudah berada di sini?" tanya Davion, hanya ingin memastikan dugaannya.
Aluna sedikit ragu untuk menjawab pertanyaan tersebut karena sebelumnya dia pun mendapatkan larangan untuk bicara. "Maaf, Dav. Apa sekarang Aku sudah boleh bicara?"
"Astaga, Aluna," balas Davion, sampai ternganga mulutnya menghadapi wanita yang kini berstatus istrinya.
Dan reaksi Davion yang seperti itu membuat Aluna jadi merasa serba salah, Sebenarnya apa yang harus dia lakukan sekarang?
Sementara Davion rasanya ingin sekali menarik semua yang telah dia ucapkan dan lakukan. Tidak ingin meminta Aluna untuk patuh, juga tidak ingin mengikat pernikahan ini dengan kontrak. karena mungkin dengan begitu dia bisa melihat sisi Aluna yang sesungguhnya, bukan yang berlagak sempurna seperti ini.
"Ini baru satu hari kita menikah, tapi kamu sudah membuatku benar-benar stres," ucap Davion apa adanya.
Aluna terdiam, rasa bersalahnya makin menjadi di dalam hati. padahal dia hanya berusaha patuh tapi ternyata tetap saja salah dimata Davion.
"Sekarang masuk dan letakkan vas bunga itu," titah Davion.
Aluna mengangguk dan segera melangkahkan kakinya memasuki kamar, dia meletakkan bunga di atas meja meja. Sementara bunga yang lama ia singkirkan, nanti Aluna akan meminta pelayan untuk membereskannya.
Aluna melihat bagian yang masih menunggunya di depan pintu kamar jadi dia kembali mendatangi suaminya tersebut.
"Sekarang, Aku harus bagaimana lagi?" tanya Aluna.
Davion terdiam, tak pernah seumur hidupnya dia merasa kesulitan menghadapi seorang wanita. Justru Davion dikenal sebagai Casanova di luar sana.
Di masa lalu Davion bahkan membuat seorang wanita sampai bunuh diri karena ulahnya. Kasus itu tidak pernah mencuat ke publik karena kekuasaan daddy Aston. Namun sebab itulah mom Ivana dan Daddy Aston melarangnya lagi memiliki hubungan dengan wanita dan untuk calon istri mereka yang tentukan.
Tapi ternyata malah wanita seperti ini yang Davion dapatkan. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya.
Dan lagi-lagi pertanyaan Aluna membuat Davion frustasi, ini baru hari pertama mereka resmi menjadi pasangan suami dan istri. Tak mungkin rasanya Davion langsung menjilat ludahnya sendiri untuk meminta Aluna berhenti patuh padanya.
"Kita turun ke bawah dan bersandiwara seolah semuanya baik-baik saja," ucap Davion akhirnya.
"Baik," jawab Aluna patuh.
woooy Maesaroh kamu tuh udah ga ada hak atas Aluna
aluna bukan bagian dari Myles lagi
aluna sekarang bagian dari dari horas,,eh salah
kamu udah menjual Aluna ko enak banget masih pengen Aluna patuh sama kamu terus,,gemes daah aaah
ini si sabun DAV juga kenapa seh kamu ga selidiki Aluna