Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.
Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.
*
Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Oceanus villa disulap menjadi tempat pernikahan megah. Beberapa kerabat keluarga Altarex terbang ke pulau X-P yang menjadi lokasi villa tersebut berdiri.
Hari ini akan dilangsungkan pernikahan Lucio Morgan Altarex dengan Nayamika Namihara.
Di atas panggung pernikahan Naya duduk bersanding dengan Lucio. Meskipun ada pria tampan duduk tepat di sebelahnya, Naya tidak memusatkan perhatian padanya. Netra Naya sejak tadi menatap ayahnya yang duduk agak ke belakang, wajahnya menyiratkan kegelisahan yang terlalu kentara.
Maaf, papa. Aku harus menikah dengannya untuk menyelamatkanmu. Batin Naya. Ada begitu banyak rasa bersalah setiap kali tatapannya bertemu dengan netra ayahnya. Netra yang selama ini menatapnya penuh ketenangan, kali ini memberinya tatapan gelisah dan cemas.
Kejadian tiga hari lalu masih sangat membekas di kepalanya. Tentang Lucio yang melompat keluar dari mobil sambil memeluknya erat, dan tentang rencana ayahnya untuk mengelabui Lucio yang ternyata tidak berhasil.
Tapi Naya masih bersyukur ayahnya baik-baik saja. Ayahnya duduk dengan wajah pucat yang terlalu kentara. Naya sedikit lega akan hal itu.
“Apa kamu sedang memikirkan nyawa tidak berharganya?”
Naya menoleh ke samping, Lucio berbisik sinis ke telinganya. Masih ada beberapa bekas luka di pipi Lucio, namun hal itu tidak menutupi ketampanannya sama sekali.
“Jangan! Aku mohon jangan sakiti papaku,” pinta Naya, tangannya menarik-narik cemas gaun pengantinnya.
Lucio mendengus pelan, kemudian mengalihkan pandangannya ke depan. Ibunya menghampiri mereka untuk memberi ucapan selamat.
“Selamat atas pernikahan kalian ya,” kata Shinta, ibu Lucio, dia memberi ucapan selamat seraya menyunggingkan seulas senyum ramah.
“Terima kasih, Tante.” Ucap Naya, hanya tersenyum tipis.
“Panggil mama aja, kan sekarang kita udah jadi keluarga.”
Naya mengangguk.
Setelah itu satu-persatu orang yang hadir di pernikahan itu mengucapkan selamat. Pernikahan yang hanya digelar secara privat ini hanya mengundang kerabat dekat.
Saat tiba giliran Tuan Tuqman, Naya memeluk ayahnya erat tapi untuk pertama kalinya ayahnya tidak membalasnya pelukannya.
“Papa,” panggil Naya pelan.
“Selamat,” ucap ayahnya.
Pelukan mereka terlepas, Naya mendongakkan kepalanya. Ia tersentak, karena untuk pertama kalinya ia tidak melihat kehangatan di mata ayahnya. Hanya…gelisah, mungkin.
“Selamat untuk pernikahan Tuan Lucio dan Nona Naya, sekarang waktunya dinner bersama.”
Mendengar instruksi MC, Tuan Tuqman segera turun dan kembali ke mejanya.
“Tersenyumlah lebih lebar, jangan memasang wajah muram.” Kata Lucio menarik tangan Naya dan menggenggamnya.
“Yaa,” Naya mengikuti Lucio turun. Mereka kemudian berjalan beriringan menuju meja yang sudah disiapkan di tengah-tengah ruangan. Meja yang akan digunakan untuk makan malam, di sekelilingnya ada meja-meja lain untuk para tamu.
Lucio melepaskan genggaman tangannya, lantas menarik kursi sedikit ke belakang. “Silahkan duduk, nyonya Altarex.” Katanya menekankan setiap kata-katanya.
Semua mata tertuju pada mereka, Naya terpaksa berpura-pura tersenyum senang.
“Terima kasih,” Ucap Naya duduk dengan gerakan kaku.
Setelah memastikan Naya duduk dengan sempurna, Lucio mengambil posisi duduk di depannya. Mata tajam pria itu menatap wajah Naya terlalu intens.
“M-mari makan,” Naya menggigit bibir bawahnya sedikit, ia gugup sangat gugup sekarang.
Makan malam berjalan lancar, dan setelah makan malam semuanya masuk ke kamar masing-masing, ada juga yang memilih pulang ke rumah.
*
Siang itu, Naya kembali menginjakkan kaki di rumah besar yang tempo hari ia datangi secara tidak sengaja. Tapi kali ini dengan status yang berbeda, bukan sebagai gadis yang mabuk di klub dan menjadi tamu satu malam, melainkan sebagai nyonya di dalam rumah itu.
Sedari kecil Naya sudah hidup bergelimang harta, tapi saat melangkah masuk ke dalam rumah itu dan selusin pelayan berdiri berjejer untuk menyambutnya tetap membuat Naya merasa sedikit takjub.
“Selamat datang di rumah, nona Naya,” ucapan selamat datang itu diucapkan bersamaan dengan gerakan mereka kompak mereka saat menunduk hormat.
“Terima kasih, kalian bisa bubar.” Kata Naya tersenyum canggung, ia melirik wajah tenang Lucio yang berjalan disampingnya. “Mengapa kamu meminta mereka melakukan hal ini?”
Sambil terus berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai atas, Lucio menjawab. “Mereka harus tahu siapa nyonya rumah ini. Tunduk dan hormat adalah tugas mereka jika masih ingin bekerja disini.”
Arogan sekali! Naya hampir mencibir mendengarnya. Ternyata selain jalan pikirannya yang aneh, Lucio juga orang yang gila hormat.
Mereka naik ke lantai dua menggunakan lift, tidak lama kemudian mereka sampai di lantai dua. Lucio memberi isyarat pada Naya supaya mengikutinya.
“Ini kamar kita,” kata Lucio membuka lebar pintu kamar berwarna cokelat tua. Saat pintu itu terbuka, Naya melihat sebuah kamar luas yang di dominasi warna biru laut. Ada ranjang besar di tengahnya serta furniture mewah di sekelilingnya.
Indah.
“Wahh…ini warna kesukaanku,” gumam Naya takjub, ia melangkah masuk tanpa sadar. Di belakang, Lucio mengangkat sedikit sudut bibirnya, tersenyum geli melihat tingkah Naya yang seperti anak kecil yang baru menemukan mainan baru.
“Siapa yang mendesain kamar ini?” Tanya Naya menoleh ke Lucio.
“Mama,” jawab Lucio singkat, wajahnya kembali tenang. Ia menghampiri Naya yang sedang mencoba berbaring di ranjang.
“Kami punya selera yang hampir sama,” gumam Naya.
Lucio tidak menjawab. Dia menatap Naya lagi, kemudian saat gadis itu menoleh, dia beranjak ke kamar mandi.
Tok…tok…tok…
Pintu diketuk dari luar. Naya menoleh lalu menyahut. “Iya, sebentar.”
Naya melangkah malas ke pintu dan membukakannya. Namun, bahu Naya yang semula lesu seketika menjadi tegap saat melihat siapa yang datang.
“Mama,”
Ya, Shinta, ibu Lucio yang datang. Wanita paruh baya itu tersenyum ramah padanya, namun tetap saja Naya tidak berani bersikap acuh.
“Mama nggak ganggu kalian kan?” Tanyanya sembari tersenyum menggoda, maksudnya jelas dan Naya paham.
“Nggak sama sekali, ma. Lucio lagi mandi, ma.” Naya tersenyum kikuk.
“Kalau begitu kamu bisa tolong mama buat ambilin dokumen diatas meja kerja Lucio?”
Naya mengangguk. “I-iya, ma. Aku ambil kuncinya dulu ke Lucio.”
“Bawa aja semuanya, ya. Mama tunggu di ruang tamu lantai satu. Terimakasih.” Kata Shinta lalu segera turun kembali ke lantai dasar.
Naya menatap ragu ke pintu kamar mandi yang tertutup, masih terdengar suara air dari dalamnya. Itu berarti Lucio masih mandi.
Karena tidak mau membuat Shinta menunggu terlalu lama, Naya pun membaranikan diri mendekati pintu itu.
Huft! Naya menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan sebelum mengetuk pintu.
“Permisi,” Naya berdehem sejenak, lalu melanjutkan. “Mama nyuruh aku buat ngambil dokumen di ruang kerjamu, di mana kuncinya?”
Suara air berhenti.
“Dalam laci, di meja nakas.” Suara Lucio terdengar bersamaan dengan pintu yang terbuka.
Seketika Naya langsung melotot dan refleks menutupi matanya dengan telapak tangan saat Lucio keluar hanya mengenakan handuk. Tubuh bagian atasnya terpampang jelas memperlihatkan dada bidangnya yang berotot, dan ada juga bekas luka cukup panjang dibawah dadanya.
“Untuk apa kamu menutupi wajahmu kalau matamu masih mengintip dan menatapku dengan tatapan lapar.” Kata Lucio santai sambil berjalan melewati Naya.
Sial! Ia ketahuan. Tapi, sesuatu yang bagus tidak boleh dilewatkan kesempatan untuk melihatnya kan.
Lucio membuka salah satu laci, mengeluarkan sebuah kunci dan melemparkannya ke Naya.
Dengan sigap Naya menangkapnya. Setelah beberapa hari ini mengenal Lucio, sebenarnya dia tidak terlalu mengerikan. Dia hanya tidak tertebak dan sering bersikap seenaknya.
Setelah mendapatkan kunci, Naya segera pergi ke ruang kerja Lucio yang terletak di ujung lantai dua.
Ruang kerja Lucio hampir sama luasnya dengan kamar mereka, dindingnya berwarna gelap dan ada lemari penyimpanan di sepanjang dinding.
Naya dengan cepat mengambil dokumen diatas meja, namun tangannya terhenti di udara saat melihat satu map yang menarik perhatiannya. Ia melirik sebentar ke pintu yang tertutup. Setelah memastikan tidak ada orang diluar yang akan masuk, Naya pun mengambil map tersebut.
Map itu sangat menarik perhatian Naya karena ada foto ibunya di bagian depan.
Morana Silvia Orvada. Nama ibunya ditulis menggunakan huruf kapital dan di bold.
“Kenapa ini ada disini?”
Saat Naya hendak membuka map tersebut untuk mengetahui isinya, pintu terbuka dan Lucio berjalan masuk.
“Ada apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu?” Tanya Lucio heran karena Naya hanya menatapnya tanpa berkedip.
“Ng-nggak,” Naya menggeleng lantas meletakkan kembali map tersebut ke tempatnya dan mengambil dokumen yang diminta oleh Shinta.
...***...
...Like, komen dan vote ...