Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31. Reuni di butik Dago
Pagi itu, apartemen Unit 402 tidak lagi diawali dengan kesunyian kaku yang membosankan.
Sejak pukul enam pagi, suasana sudah dimulai dengan sebuah serangan aroma yang mematikan, yang mampu menembus filter udara paling mahal sekalipun.
"Nala! Kamu sedang memasak atau sedang melakukan simulasi gas air mata di dapur saya?!" teriakah Saga terdengar dari ruang kerjanya.
Suaranya sedikit bindeng, kemungkinan besar karena uap cabai rawit, kencur, dan terasi sudah menyusup lewat celah pintu yang biasanya tertutup rapat.
Nala, yang mengenakan daster beruang kutub kebanggaannya—yang kini sudah memiliki noda kuning baru di bagian perut akibat kecerobohannya saat memegang ulekan—sedang bergerak lincah di dapur.
"Ini namanya Seblak Diplomasi, Mas! Biar otak Mas yang kaku dan penuh angka itu lebih encer sedikit sebelum kita menghadapi 'pertarungan' di butik siang ini!"
Saga akhirnya menyerah. Ia keluar dari ruang kerjanya dengan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku, menampakkan urat-urat tangan yang entah mengapa terlihat sangat estetik di mata Nala.
Kacamata berbingkai tipisnya sedikit berembun karena uap panas dari panci. Ia menatap dapur yang sekarang lebih mirip tempat kejadian perkara ledakan bumbu.
"Nala, saya rasa sebelum otak saya encer, paru-paru saya yang akan menyerah duluan. Dan tolong jelaskan, kenapa ada kerupuk warna-warni yang mengambang di antara potongan sosis dan ceker itu?" tanya Saga dengan dahi berkerut, seolah sedang menganalisis draf konstruksi gedung yang gagal.
"Dih, lebay! Sini, cobain dulu. Sedikit aja," Nala menyodorkan sendok kayu berisi kuah merah membara tepat ke depan mulut Saga. "Ayo, buka mulutnya. Aaaa..."
Saga mundur dua langkah, ekspresinya seolah melihat granat aktif yang pinnya sudah dicabut.
"Nala, saya punya rapat penting dengan investor jam sepuluh. Saya tidak mau memberikan presentasi sambil menahan mulas yang bisa menghancurkan reputasi profesional saya dalam hitungan detik."
"Mas Saga sayang..." Nala mengeluarkan jurus pamungkas: mata bulat besar ala kucing di film Shrek dan bibir yang dimanyunkan dua senti.
"Cuma satu suap. Sebagai tanda kita sudah benar-benar 'satu tim' dan berhenti bersiasat. Masa calon istri masak nggak dihargain? Tega ya? Oke, aku buang aja semuanya ke tempat sampah, terus aku mogok makan sampai hari-H biar pas pakai gaun aku kelihatan kayak lidi."
Saga menghela napas panjang. Kekalahan pertamanya hari itu resmi terjadi. Ia mendekat, memejamkan mata sejenak seperti sedang berdoa memohon perlindungan lambung, lalu menerima suapan itu.
Hening tiga detik.
Wajah Saga yang tadinya seputih porselen mahal, perlahan berubah menjadi merah padam. Telinganya memerah, dan matanya melotot. Ia terbatuk-batuk kecil sambil mencari air minum dengan gerakan panik yang sangat tidak elegan—sebuah pemandangan langka yang sangat memuaskan bagi Nala.
"Nala! Ini... ini bukan makanan manusia! Ini lava cair yang diberi micin!" seru Saga setelah meneguk segelas besar air dingin.
Nala tertawa terbahak-bahak sampai harus memegangi perutnya.
"Hahahaha! Ekspresi Mas kayak habis liat hantu penunggu apartemen! Tapi enak kan? Ngaku aja, Mas pasti ketagihan!"
Saga mengelap bibirnya dengan tisu, mencoba mengembalikan martabatnya.
"Enak... dalam artian saya merasa semua indra perasa saya baru saja di-reset ke pengaturan pabrik. Tapi jujur, ini sedikit lebih baik daripada ide 'limbah artistik' kamu di Dago bulan lalu yang membuat saya malu tujuh turunan."
Tepat pukul satu siang, mereka tiba di butik pengantin legendaris di daerah Dago. Suasana mendadak canggung begitu mereka melangkah masuk. Pak Hendra, sang desainer, yang sedang mengukur kain, langsung menjatuhkan meterannya begitu melihat siluet Nala dan Saga di pintu.
"M-mas Saga... Mbak Nala..." Pak Hendra mundur selangkah, seolah-olah butiknya sedang didatangi perampok bersenjata.
"Mau pesan konsep apa lagi hari ini? Kain karung goni? Aksen kawat berduri? Atau gaun yang bisa menyala dalam gelap?"
Nala segera maju dan memberikan senyum paling manis (dan paling penuh penyesalan) yang ia miliki.
"Aduh, Pak Hendra... Maaf banget ya soal drama 'terpal' dan 'bulu ayam neon' yang kemarin. Saya kemarin itu cuma... ehem, ada gangguan saraf karena kurang asupan micin. Lupakan soal konsep gila itu, Pak. Saya janji kali ini saya mau jadi pengantin yang normal dan tidak membuat Pak Hendra jantungan lagi."
Saga melangkah maju, meletakkan tangannya di pinggang Nala—sebuah gestur protektif yang sangat natural namun sukses membuat jantung Nala berdisko tanpa lagu.
"Kami ingin memperbaiki draf yang kemarin, Pak. Tolong buatkan desain paling elegan untuk Nala. Saya ingin dia menjadi pengantin tercantik, tanpa ada unsur limbah di gaunnya."
Mama Saga yang baru datang langsung tertegun melihat pemandangan itu. Tidak ada lagi adu mulut, tidak ada lagi sindiran tajam. Yang ada hanyalah Saga yang terus memperhatikan Nala saat gadis itu masuk ke ruang ganti.
Sepuluh menit kemudian, tirai terbuka. Nala keluar dengan gaun satin putih klasik yang sangat anggun. Potongannya sederhana namun memeluk tubuhnya dengan sempurna, memberikan kesan mewah yang tak terbantahkan.
Tidak ada bulu ayam, tidak ada warna neon, hanya Nala yang tampak bersinar di bawah lampu butik.
Saga berdiri dari kursi tunggunya. Ia mengabaikan Mama dan Pak Hendra yang sedang sibuk berdiskusi.
Ia berjalan mendekati Nala, lalu memperbaiki letak poni Nala yang sedikit berantakan dengan gerakan yang sangat lembut, seolah Nala adalah porselen rapuh yang paling berharga.
"Gimana, Mas? Masih kayak iklan detergen?" tanya Nala lirih, menatap mata Saga lewat pantulan cermin besar di depan mereka.
Saga menggeleng pelan, matanya tidak lepas dari wajah Nala.
"Tidak. Kamu... luar biasa cantik, Nala. Sampai saya bingung, ini benar-benar Nala yang tadi pagi membuat dapur saya berantakan karena seblak atau bidadari yang salah alamat?"
Wajah Nala memerah seketika. "Mas Saga... gombalan kamu itu receh, tapi kenapa sukses bikin aku mau pingsan ya?"
"Mungkin karena saya mengatakannya dengan tulus, bukan bagian dari akting atau siasat lagi," bisik Saga di telinga Nala, membuat bulu kuduk gadis itu merinding indah.
Drama berlanjut ke bagian pemilihan menu. Jika dulu mereka mencoba menyabotase katering dengan meminta menu "ekstrem", kini mereka harus bernegosiasi soal menu internasional pilihan Mama.
"Mama mau ada escargot dan caviar sebagai menu pembuka untuk tamu VIP," tegas Mama sambil menunjuk katalog katering paling mahal.
Nala menarik napas dalam-dalam, ia melirik Saga yang tampak ingin protes tapi menahan diri. Nala akhirnya yang angkat bicara.
"Ma... sebenarnya saya punya ide yang lebih berkesan. Bagaimana kalau kita buat konsep Modern Heritage? Tetap ada menu lokal yang dikemas sangat mewah, seperti Rendang Wagyu dengan presentasi ala Prancis, atau Sate Lilit Salmon dengan bumbu khas Bali yang elegan. Jadi tamu tetap merasa makan makanan mewah, tapi lidahnya tidak tersiksa karena harus makan siput Prancis."
Saga masuk menimpali, mendukung ide Nala sepenuhnya. "Nala benar, Ma. Pernikahan ini harus punya karakter. Dan saya ingin ada satu tambahan yang wajib ada: sebuah Premium Spicy Snacks Bar. Keripik jagung pedas kualitas terbaik dengan berbagai saus cocolan buatan koki bintang lima. Itu syarat dari saya agar saya mau memakai jas warna emas pilihan Mama di hari resepsi nanti tanpa banyak protes."
Mama terdiam, lalu akhirnya tertawa melihat betapa kompaknya mereka sekarang.
"Kalian ini benar-benar pasangan yang ajaib. Dulu mau menghancurkan, sekarang malah membangun dengan cara yang unik. Baiklah! Keripik jagung pedas di pesta pernikahan paling bergengsi tahun ini... Mama setuju!"
Malam harinya, kembali di apartemen, mereka duduk lesehan di balkon. Angin malam Jakarta yang biasanya terasa gerah, kini terasa sejuk. Di antara mereka ada satu mangkuk besar keripik jagung pedas sisa perayaan kecil mereka.
"Mas," panggil Nala sambil menatap lampu-lampu kota dari ketinggian lantai 40.
"Ya?"
"Makasih ya. Untuk hari ini. Untuk 'kalah bersama-sama' di depan Mama dan Pak Hendra. Aku beneran ngerasa kita kayak tim solid sekarang. Bukan lagi musuh yang terpaksa satu atap."
Saga meletakkan ponselnya, lalu menatap Nala dengan intensitas yang dalam. Ia mengulurkan tangannya untuk menghapus sedikit remah keripik yang tertinggal di sudut bibir Nala—sebuah gerakan yang sangat drakor Full House sekali.
"Saya tidak merasa kalah, Nala. Malah, saya merasa baru saja memenangkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada ego saya. Ternyata, melihat kamu tersenyum tulus di butik tadi jauh lebih memuaskan daripada memenangkan tender proyek triliunan."
Nala tersenyum lebar, menyandarkan kepalanya di bahu tegap Saga. Ia bisa mencium aroma sabun mandi Saga yang kini menjadi aroma favoritnya.
"Tinggal tujuh hari lagi, Mas. Siap-siap ya, daster beruang kutub aku bakal resmi jadi penghuni tetap lemari baju mahal Mas. Dan Mas harus janji, jangan berubah jadi robot kaku lagi kalau kita sudah sah nanti."
Saga tertawa rendah, sebuah suara maskulin yang kini menjadi musik favorit Nala. Ia merangkul bahu Nala, menariknya lebih dekat hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka.
"Hanya jika kamu janji tidak akan menaruh kaos kaki bau di dalam tas kerja saya lagi sebagai bentuk sabotase."
"Janji!" sahut Nala sambil menyambar keripik terakhir dari mangkuk.
H-7 berakhir dengan sebuah keheningan yang nyaman. Siasat mereka untuk gagal memang sudah hancur lebur tanpa sisa, tapi ternyata, jatuh cinta adalah siasat paling indah yang pernah dirancang semesta untuk mereka berdua.
Di bawah langit malam, mereka bukan lagi dua orang yang dipaksa bersatu, melainkan dua jiwa yang akhirnya menemukan rumah satu sama lain.
*Catatan Author*
Uhuuuy! Akhirnya Saga dan Nala kembali! Setelah 5 hari 'dikurung' kerjaan, sekarang saatnya saya balik lagi buat bikin kalian baper (dan laper) bareng Nala dan Saga. Anggap aja ini jeda buat Nala masak seblak lava-nya dulu. Thank you for staying with me! Bab 31 sudah meluncur!
kok kalimatnya seolah2 baru ketemu sih, apalagi sampai bandingin dengan di foto.