Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Dinding Kebisuan dan Teka-Teki di Balik Kacamata
Gema pecahan barang dan jeritan histeris Sinta yang merobek kesunyian mansion itu langsung memicu kepanikan di lantai bawah. Bi Inah, yang sedang menyetrika pakaian di ruang cuci, nyaris menjatuhkan setrikaannya. Di luar, Pak Yanto yang sedang mencuci mobil bergegas mematikan keran air dan berlari masuk melalui pintu samping.
Keduanya bertemu di anak tangga terbawah dengan wajah pias. Di rumah yang biasanya setenang makam ini, suara sekecil apa pun akan terdengar jelas, apalagi jeritan yang penuh dengan keputusasaan seperti tadi.
"Ada apa itu, Pak Yanto?! Suara Non Sinta dari kamar Non Nanda!" seru Bi Inah panik, setengah berlari menaiki tangga pualam yang melingkar itu. Napas wanitu paruh baya itu terengah-engah karena faktor usia dan kecemasan.
"Aduh, saya juga nggak tahu, Bi! Ayo cepat kita cek, Bapak kan lagi di luar kota. Kalau terjadi apa-apa sama Non Nanda, kita bisa dimarahi habis-habisan!" balas Pak Yanto yang mengekor rapat di belakangnya.
Mereka tiba di lantai dua dengan napas memburu. Pintu kamar Anandara tertutup rapat. Bi Inah baru saja mengangkat tangannya, hendak mengetuk pintu itu dengan gemetar, ketika kenop pintu tiba-tiba berputar dari dalam.
Pintu terbuka sedikit. Sinta melangkah keluar, langsung menutup kembali pintu berukir itu rapat-rapat di belakangnya, memastikan Bi Inah dan Pak Yanto tidak bisa mengintip ke dalam.
Bi Inah dan Pak Yanto terkesiap melihat penampilan gadis ceria itu. Wajah Sinta merah padam dan sembab oleh air mata. Rambutnya berantakan, dan kemejanya terlihat kusut. Namun, di balik penampilannya yang kacau, ada ketegasan yang luar biasa memancar dari sorot mata Sinta.
"Non Sinta... Ya Allah, ada apa, Non? Non Nanda kenapa? Kok tadi ada suara barang pecah sama teriak-teriak?" rentetan pertanyaan Bi Inah meluncur dengan nada cemas. Ia berusaha mengintip ke balik bahu Sinta, namun Sinta bergeser menutupi akses.
Sinta menarik napas panjang, berusaha menstabilkan suaranya yang masih bergetar. Ia menatap Bi Inah dan Pak Yanto bergantian dengan pandangan memohon namun tegas.
"Bi Inah, Pak Yanto, tolong tenang dulu," ucap Sinta pelan, setengah berbisik agar suaranya tidak terdengar oleh Anandara yang sedang menenangkan diri di dalam. "Nanda... Nanda tadi tiba-tiba kena serangan panik. Ada paket yang datang tadi, isinya barang dari masa lalu yang bikin trauma Nanda kumat. Dia nggak sengaja nyenggol barang sampai pecah."
"Astaghfirullahaladzim..." Bi Inah menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Paket yang tadi Bibi antar? Ya Allah, Bibi nggak tahu, Non. Kalau Bibi tahu isinya bikin Non Nanda sakit, nggak akan Bibi kasih!"
"Nggak apa-apa, Bi. Bukan salah Bibi, orang itu nggak ada nama pengirimnya kan," Sinta mengusap lengan Bi Inah untuk menenangkan wanita paruh baya yang kini merasa bersalah itu.
"Terus sekarang kondisi Non Nanda gimana, Non Sinta? Perlu saya panaskan mobil untuk ke rumah sakit? Atau saya telepon Bapak sekarang juga?" tanya Pak Yanto bersiap merogoh ponsel di saku celananya.
Mendengar kata 'telepon Bapak', mata Sinta langsung membulat. Ia dengan cepat menahan tangan Pak Yanto.
"Jangan, Pak! Tolong, jangan telepon Om Dirga!" pinta Sinta dengan nada mendesak. "Om Dirga lagi di luar kota ngurus proyek besar kan? Kalau beliau dikabari sekarang, beliau pasti panik, ninggalin pekerjaannya, dan ngebut pulang. Berbahaya, Pak. Nanda juga tadi pesan ke saya sambil nangis, dia nggak mau ngerepotin ayahnya dan jadi beban lagi."
"Tapi, Non..." Pak Yanto ragu-ragu. "Bapak pesannya begitu. Kalau ada apa-apa, saya harus langsung lapor."
"Saya jaminannya, Pak Yanto," Sinta menatap lurus ke mata sopir setia itu. "Nanda udah aman sekarang. Saya udah tenangin dia. Dia cuma butuh istirahat. Tolong rahasiakan kejadian hari ini dari Om Dirga, ya? Kalau Om Dirga pulang nanti, biar Nanda sendiri yang cerita kalau dia udah siap. Jangan sampai kejadian ini bocor."
Bi Inah menatap Pak Yanto, lalu menatap wajah Sinta yang penuh permohonan. Asisten rumah tangga itu akhirnya mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca. Ia sangat menyayangi Anandara seperti anaknya sendiri.
"Baik, Non Sinta. Bibi dan Pak Yanto nggak akan bilang apa-apa ke Bapak. Yang penting Non Nanda selamat dan tenang," ucap Bi Inah.
"Makasih banyak, Bi, Pak," Sinta menghela napas lega yang luar biasa panjang. Beban di pundaknya sedikit terangkat. "Oh iya, Bi. Nanda sekarang lagi tiduran. Boleh tolong buatkan teh chamomile hangat kesukaan Nanda? Campur madu sedikit ya, Bi. Biar sarafnya agak rileks dan dia bisa tidur nyenyak."
"Tentu, Non. Bibi buatkan sekarang juga. Nanti Bibi bawakan ke atas pakai nampan."
"Nggak usah, Bi. Nanti saya yang turun ambil ke dapur. Nanda lagi nggak mau ketemu siapa-siapa dulu selain saya. Takutnya dia kaget lagi," jelas Sinta.
Bi Inah mengangguk paham dan segera bergegas menuruni tangga bersama Pak Yanto.
Suasana dapur yang luas dan mewah itu terasa muram. Bi Inah merebus air dengan pandangan kosong, sementara Pak Yanto duduk di kursi pantri, mengaduk-aduk kopi hitamnya tanpa minat.
Suara dentingan sendok Bi Inah yang mengaduk madu ke dalam cangkir teh porselen memecah keheningan.
"Kasian ya, Non Nanda," gumam Bi Inah tiba-tiba, suaranya parau menahan tangis. Ia meletakkan sendoknya. "Orang-orang di luar sana, teman-teman kampusnya, pasti ngiranya hidup Non Nanda itu sempurna. Kaya raya, cantik, pintar, diantar jemput pakai mobil mewah. Nggak ada yang tahu seberapa hancur hatinya."
Pak Yanto menghela napas berat. "Ya begitulah, Bi. Saya ini yang sering nyetir buat Bapak sama Non Nanda dari zaman susah sampai sekarang. Dulu waktu kita masih di kontrakan kecil, Non Nanda itu sering banget nahan lapar demi Bapaknya. Sekarang duitnya banyak, rumahnya segede istana, tapi ya... ibunya malah yang ngancurin mentalnya."
"Tadi paket itu isinya barang dari ibunya ya, Pak?" Bi Inah menatap Pak Yanto dengan ngeri. "Tega bener itu Nyonya Riri. Dulu ninggalin anak suami demi laki-laki lain, sekarang setelah Bapak kaya, dia mau caper (cari perhatian) lagi. Bikin anak sendiri nyaris celaka begini. Kalau sampai Bapak tahu, bisa perang dunia."
"Untung ada Non Sinta, Bi," Pak Yanto meminum kopinya sedikit. "Teman-teman Non Nanda itu emang kelihatan pada pecicilan, suka bikin ribut di rumah ini. Tapi sumpah, saya bersyukur banget Non Nanda punya sahabat kayak mereka. Apalagi Non Sinta. Dia itu udah kayak pelindung buat Non Nanda. Kalau tadi Non Sinta nggak ada di sini... waduh, saya nggak berani bayangin apa yang terjadi di atas sana."
Bi Inah mengusap air mata yang jatuh ke pipinya dengan ujung celemeknya. Ia menatap cangkir teh chamomile yang uapnya mengepul pelan. "Iya, Pak. Nyonya Es itu sebenarnya cuma gadis kecil yang ketakutan. Cuma Non Sinta yang bisa cairin esnya. Semoga Tuhan selalu melindungi persahabatan mereka."
Tak lama kemudian, Sinta turun ke dapur dengan langkah yang diseret. Wajahnya terlihat sangat lelah, energinya terkuras habis. Ia tersenyum tipis pada Bi Inah saat menerima cangkir teh itu.
"Makasih, Bi Inah. Saya ke atas dulu ya nemenin Nanda." Sinta berbalik, membawa nampan kecil itu menaiki tangga. Di setiap langkahnya, Sinta memantapkan sebuah janji di dalam hatinya: ia tidak akan pernah membiarkan Anandara sendirian lagi. Ia akan melindungi Nanda dari apa pun, termasuk dari bayangan ibunya sendiri.
Di tempat yang berbeda, jauh dari drama yang mengoyak kewarasan di kediaman keluarga Dirga, gemerlap lampu kota menghiasi malam akhir pekan.
Di sebuah kafe bergaya vintage dengan penerangan temaram dan alunan musik jazz instrumental yang mellow, dua orang pemuda sedang duduk berhadapan di sudut ruangan dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke jalan raya.
Angga Raditya mengaduk kopi americano es miliknya dengan sedotan, tatapannya kosong melihat bongkahan es batu yang berputar di dalam gelas. Di seberangnya, Dimas sedang sibuk memotong sepotong cheesecake dengan garpu kecil, terlihat menikmati suasana dengan wajah datarnya yang khas.
Malam ini, Angga yang tiba-tiba menelepon Dimas untuk mengajaknya keluar. Sesuatu yang cukup langka, mengingat Angga biasanya lebih suka menghabiskan akhir pekannya di apartemen, membaca buku atau berolahraga.
Selama hampir satu jam pertama, obrolan mereka hanya berkisar pada tugas kuliah, sepak bola, dan hal-hal sepele lainnya. Namun, Dimas tahu betul ada hal lain yang mengganggu pikiran temannya itu. Ia hanya menunggu Angga yang membuka suara.
Benar saja, Angga menghentikan adukannya. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang empuk, melipat kedua tangannya di depan dada, dan menatap ke luar jendela. Hujan gerimis mulai turun, membasahi kaca dan mengaburkan pemandangan lampu-lampu kendaraan di luar sana.
Hening sejenak sebelum Angga akhirnya membuka suara. Nada baritonnya terdengar sedikit frustrasi dan bingung.
"Cewek itu aneh ya, Dim," gumam Angga, memecah keheningan di antara mereka.
Dimas menghentikan kunyahannya. Ia menelan kuenya perlahan, lalu membenarkan letak kacamatanya dengan telunjuk. "Cewek mana? Populasi cewek di dunia ini ada miliaran. Lo harus lebih spesifik."
Angga menoleh, menatap Dimas dengan raut wajah yang sedikit masam. "Lo tahu siapa yang gue maksud. Anandara."
Dimas tidak terkejut. Tentu saja. Nama itu adalah pusat rotasi dari semua keanehan yang terjadi di kelas mereka belakangan ini. Dimas mengambil serbet, membersihkan ujung bibirnya dengan elegan. "Ada apa dengan Nyonya Es kita?"
Angga menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan satu tangan. "Padahal jelas-jelas gue lihat di matanya seperti sebuah pengharapan. Waktu pertama kali gue tabrakan sama dia di koridor, gue bisa ngerasain itu, Dim. Detak jantungnya, cara dia natap gue sebelum dia buang muka. Gue yakin gue nggak salah lihat."
Angga mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan sikunya di atas meja. Matanya yang tajam memancarkan kebingungan yang absolut. "Tapi di saat gue mau jalan, saat gue beranikan diri buat deketin dia di kelas dengan alasan minjam catatan... kaya diputus begitu aja jalannya. Dia nolak gue mentah-mentah. Dia natap gue seolah gue ini sampah, ngusir gue, dan malah dorong gue ke arah Sinta. Gue bener-bener nggak habis pikir. Kalau dia emang nggak suka, kenapa matanya bilang hal yang sebaliknya?"
Mendengar rentetan keluh kesah itu, Dimas menatap lurus ke arah Angga. Di balik lensa kacamata frame hitamnya, otak Dimas memproses keluhan sahabatnya itu dengan sangat tajam.
Dimas tahu persis jawabannya. Ia tahu mengapa jalan Angga diputus begitu saja. Ia tahu bahwa Anandara memutus jalan itu bukan karena ia membenci Angga, melainkan karena ia sedang membangun jalan tol bebas hambatan untuk Sinta. Dimas melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Anandara kembali ke kelas dengan mata sembab sehabis menangis di toilet setelah kejadian itu.
Fakta itu sebenarnya sangat sederhana, namun terhalang oleh selubung persahabatan yang rumit.
Sejenak, Dimas merasa dorongan yang kuat untuk mengatakan kebenarannya. Ia ingin berkata, 'Jalan lo diputus karena sahabatnya suka sama lo, dan Anandara terlalu setia pada persahabatannya hingga rela mengorbankan perasaannya sendiri.'
Namun, jika ia mengatakan hal itu, apa yang akan terjadi? Angga mungkin akan kembali mengejar Anandara dengan agresif. Sinta akan patah hati. Dan jika Sinta patah hati, Dimas tidak sanggup melihatnya. Dan lebih dari itu, jika Angga tahu kebenarannya dan tetap memilih Anandara, di mana posisi Dimas? Ia akan selamanya menjadi figuran yang menyedihkan dalam drama ini.
Dimas kembali menggelengkan kepalanya pelan, sebuah kebiasaan yang sering ia lakukan saat dihadapkan pada absurditas takdir mereka berempat. Sebuah senyum sinis yang sangat tipis dan tak terdeteksi muncul sejenak di bibirnya. Mereka semua berputar dalam lingkaran kebodohan yang sama.
Melihat Dimas menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi yang sulit diartikan, Angga mengerutkan dahinya. Ia merasa respons temannya itu tidak menjawab pertanyaannya sama sekali.
"Kenapa lo?" tanya Angga dengan nada menuntut, sedikit kesal karena merasa Dimas sedang menertawakan kebingungannya. "Lo ngerasa gue kegeeran? Lo ngerasa gue salah baca ekspresi matanya?"
Dimas memandang mata Angga yang menatapnya dengan tajam. Sangat mudah untuk menghancurkan segalanya malam ini. Namun Dimas adalah pemain catur yang sabar. Ia tidak akan memindahkan pionnya sebelum ia melihat seluruh papan permainan.
Dimas memutus kontak mata itu dengan tenang. Ia mengambil garpunya kembali dan memotong sisa cheesecake di piringnya. Wajahnya disetel dalam mode paling datar dan tak peduli.
"Gue laper lagi!" jawab Dimas singkat, mengulang kalimat sakti yang sama seperti yang ia gunakan di dalam kelas waktu itu. Ia menyuapkan potongan kue itu ke dalam mulutnya, mengunyahnya dengan ekspresi yang sangat santai.
Angga ternganga sejenak. Ia menatap Dimas dengan ketidakpercayaan yang luar biasa. "Gila lo. Gue lagi curhat serius soal harga diri gue yang diinjak-injak, lo malah bahas makanan? Tadi lo udah makan pasta, sekarang cheesecake, dan lo bilang laper lagi?! Lo punya cacing pita atau gimana sih?!"
Dimas menelan kuenya, lalu menyeruput minumannya. Ia menatap Angga dengan pandangan yang sarat akan filosofi tersembunyi.
"Cewek itu emang rumit, Ngga," ucap Dimas akhirnya, suaranya tenang mengalun di tengah iringan musik jazz. "Kadang, mata mereka mengatakan apa yang hati mereka rasakan, tapi mulut mereka mengucapkan apa yang logika mereka perintahkan. Mungkin jalan lo bukannya diputus. Mungkin aja, jalannya emang sengaja diblokir dari dalam, karena di balik jalan itu ada sesuatu yang mati-matian lagi dia lindungi."
Angga terdiam. Kata-kata Dimas terdengar seperti sebuah teka-teki yang memaksa otaknya bekerja lebih keras.
Sesuatu yang mati-matian lagi dia lindungi. Angga mengingat kembali adegan di kelas. Saat Anandara mengusirnya, gadis itu tidak hanya menolaknya, tetapi juga mendorong buku Sinta kepadanya. Sinta.
Mata elang Angga sedikit menyipit saat menyadari sebuah kemungkinan, namun ia masih belum bisa menarik kesimpulan yang utuh. Ia tidak tahu seberapa dalam ikatan antara Anandara dan Sinta, dan ia tidak tahu seberapa besar trauma yang bersarang di kepala Nyonya Es itu.
"Jadi menurut lo, gue harus gimana?" tanya Angga akhirnya, membuang gengsinya demi sebuah saran.
Dimas mengangkat bahunya santai. "Tergantung lo. Kalau lo ngerasa penolakan kemarin cukup buat bikin ego lo terluka, ya udah, mundur. Anggap aja tatapan yang lo lihat itu ilusi. Tapi..." Dimas meletakkan garpunya, matanya menajam di balik kacamatanya. "...kalau lo emang yakin sama apa yang lo lihat di matanya waktu itu, lo harus siap nabrak tembok es yang paling tebal. Nggak ada ceritanya Nyonya Es luluh cuma karena lo datang minjam buku catatan."
Angga menatap ke luar jendela. Gerimis mulai reda. Di dalam dadanya, rasa penasaran, harga diri yang terluka, dan percikan ketertarikan pada gadis berambut panjang itu berbaur menjadi sebuah tekad yang baru.
Kata-kata Dimas memicu adrenalinnya. Angga bukanlah laki-laki pengecut yang lari hanya karena dinding pertahanan di depannya terlihat tebal. Justru penolakan misterius itulah yang membuatnya sadar bahwa Anandara Arunika bukanlah gadis biasa yang bisa ditaklukkan dengan pesona murahan. Ada teka-teki besar di sana, dan Angga bertekad untuk memecahkannya.
Di seberangnya, Dimas diam-diam menghela napas panjang. Ia telah melemparkan kailnya. Ia memberikan Angga dorongan, bukan untuk membongkar rahasia Anandara secara langsung, melainkan membiarkan Angga yang menemukannya sendiri.
Permainan ini baru saja dimulai, Anandara, batin Dimas sambil menyesap sisa minumannya. Lo pikir lo bisa mengubur perasaan lo selamanya dengan berlindung di balik Sinta? Lo salah. Angga bukan tipe orang yang berhenti mencari kebenaran. Dan gue... gue hanya akan menonton dari bangku belakang, sampai lo sendiri yang kehabisan oksigen di dalam kebohongan lo.
Malam itu, di kafe yang temaram, dua pemuda dengan pemikiran yang jauh melampaui usianya sedang merajut takdir baru. Sementara di sebuah mansion yang megah, seorang gadis jenius baru saja tertidur lelap setelah menangis di pelukan sahabatnya, tidak tahu bahwa dinding kebisuan yang ia bangun sedang diincar oleh mata elang yang tak kenal menyerah.
pengamat Senja_