NovelToon NovelToon
Saya Jokernya

Saya Jokernya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Bermain dengan Api

​Rasa sakit adalah guru yang paling jujur. Ia tidak pernah memanjakanmu dengan kebohongan, dan ia selalu memberitahumu kapan kau telah melampaui batas.

​Pagi ini, guruku adalah rasa berdenyut yang kejam di tulang rusuk kiriku dan rasa panas yang menyengat dari jahitan kasar di lengan kananku. Setiap kali aku menarik napas terlalu dalam, otot-otot dadaku menjerit, mengingatkanku pada hantaman popor senapan di pasar Glodok semalam.

​Aku duduk bersandar di kursi kerja berlapis kulit sintetis yang sudah mengelupas di beberapa bagian. Cangkir kaleng berisi kopi hitam tanpa gula mengepulkan uap tipis di atas meja kayuku, menyebarkan aroma pahit yang berusaha mengusir bau apak pabrik garmen tua ini.

​Di depanku, enam layar monitor berukuran besar menyala terang, mengusir bayang-bayang dari dinding beton yang berjamur.

​Semalam, setelah aku merawat lukaku dan membiarkan kenangan buruk tentang api di dasar jurang itu reda, aku tidak tidur. Otakku menolak untuk beristirahat. Ada tikus siber yang harus kuburu, dan ada kerajaan yang harus kurobohkan sepenuhnya.

​Jenderal Sudiro mungkin telah kehilangan truk-truk kargo berisi senjata ilegal dan emas batangannya di pelabuhan Tanjung Priok. Ia mungkin telah kehilangan delapan prajurit bayaran terbaiknya. Tapi pria tua itu memiliki insting bertahan hidup layaknya kecoak. Selama ia masih memiliki uang di rekening rahasianya, ia bisa membeli pasukan baru. Ia bisa menyogok pejabat imigrasi, menyewa pesawat jet pribadi, dan menghilang ke negara tak berekstradisi sebelum fajar menyingsing esok hari.

​Aku tidak akan membiarkannya pergi. Keadilan tidak mengenal tiket penerbangan kelas satu.

​Jari-jariku mulai menari di atas keyboard mekanis. Suara ketukannya terdengar seperti rentetan peluru kecil yang memecah kesunyian pabrik.

​Aku sedang melacak balik malware (perangkat lunak perusak) yang digunakan oleh tim siber Vanguard Group untuk menemukan pertemuanku di Glodok kemarin. Mereka mengira mereka pintar dengan menggunakan rute pantulan dari peladen di Singapura dan Rusia, menyembunyikan jejak mereka di balik lautan data kosong.

​Tapi kesombongan membuat mereka ceroboh. Mereka menggunakan tanda tangan digital yang sama untuk mengakses jaringan komunikasi internal Vanguard.

​Dalam waktu empat jam, aku berhasil membongkar cangkang pertahanan mereka. Layar monitorku kini menampilkan sebuah direktori berkas yang sangat rahasia. Bukan daftar nama prajurit atau jadwal piket penjaga, melainkan urat nadi sesungguhnya dari Jenderal Sudiro.

​Buku besar keuangan bawah tanahnya.

​Mata telanjang publik hanya melihat Sudiro sebagai pensiunan jenderal bintang tiga yang hidup sederhana dengan uang pensiun. Namun, layar di depanku menelanjangi kebenaran yang memuakkan. Ada lebih dari empat belas rekening bank lepas pantai di Kepulauan Cayman, Swiss, dan Panama. Uang haram dari hasil penjualan senjata gelap, pembebasan lahan paksa, dan tentu saja... bayaran atas darah keluargaku sepuluh tahun lalu.

​Total saldonya mencapai angka yang bisa digunakan untuk membeli sebuah pulau kecil.

​"Uang ini tidak akan bisa membeli nyawamu kembali, Jenderal," bisikku pelan.

​Aku membuka sebuah program skrip mandiri yang telah kutulis bertahun-tahun yang lalu. Sebuah program yang dinamai The Robin Hood Protocol. Program ini tidak dirancang untuk mencuri uang dan memindahkannya ke rekeningku. Jika aku memindahkan uang itu ke rekeningku, polisi siber akan dengan mudah melacakku.

​Program ini dirancang untuk membakar kekayaan. Secara digital.

​Aku menautkan skrip tersebut ke dalam empat belas rekening lepas pantai milik Sudiro yang kata sandinya baru saja kupecahkan. Aku mengatur agar uang tersebut dipecah menjadi puluhan ribu transaksi kecil, lalu ditransfer secara serentak dan anonim ke ratusan panti asuhan, yayasan kanker, dan lembaga bantuan hukum gratis di seluruh negeri.

​Mengambil uang kotor dari tangan seorang pembunuh dan memberikannya kepada mereka yang selama ini diinjak-injak oleh orang-orang sepertinya. Sebuah ironi yang indah.

​Namun, sebelum aku menekan tombol Enter untuk memulai proses transfer itu, aku menyadari bahwa menghancurkan Sudiro secara finansial dalam diam tidaklah cukup memuaskan.

​Sudiro harus tahu siapa yang memiskinkannya. Ia harus merasakan keputusasaan yang merayap naik ke tenggorokannya, persis seperti yang dirasakan ayahku saat mobilnya dirusak.

​Memprovokasi seorang jenderal yang sedang tersudut sama halnya dengan bermain dengan api. Ia bisa meledak, bertindak tidak rasional, dan menyerang ke segala arah secara membabi buta. Tapi malam ini, aku membutuhkan kepanikannya. Kepanikan akan membuatnya keluar dari lubang persembunyiannya.

​Aku membuka aplikasi pengacak sinyal suara di komputerku, lalu menyambungkannya ke nomor ponsel satelit pribadi milik Jenderal Sudiro. Nomor yang seharusnya tidak diketahui oleh siapa pun selain Darmawan Salim dan istri sang Jenderal.

​Panggilan tersambung.

​Nada sambung berbunyi tiga kali, terdengar nyaring di pelantang telinga (headphone) yang kukenakan.

​"Siapa ini? Bagaimana kau bisa mendapatkan nomor ini?!" Suara berat dan kasar terdengar dari seberang sana. Nada bicaranya bergetar oleh amarah dan sisa-sisa kepanikan dari kejadian di pelabuhan semalam.

​Aku membiarkan keheningan mengambil alih selama lima detik. Aku bisa mendengar suara napasnya yang memburu.

​"Kau terdengar lelah, Jenderal," balasku, membiarkan perangkat lunak mengubah suaraku menjadi bariton rendah yang menggema—suara sang Joker. "Apakah kau tidak bisa tidur karena terlalu sibuk menghitung berapa banyak emasmu yang meleleh menjadi abu di pelabuhan?"

​Terdengar suara benda keras dibanting, mungkin asbak kaca atau gelas, di seberang telepon.

​"Brengsek kau! Keparat! Aku akan mengerahkan seluruh pasukanku untuk mencarimu! Aku akan menguliti dagingmu hidup-hidup dan menggantung tubuhmu di tengah kota!" raung Sudiro. Umpatan kotor mengalir deras dari mulutnya.

​Aku tersenyum miring, sebuah senyuman sedingin es yang tidak memancarkan kebahagiaan sama sekali.

​"Pasukanmu?" tanyaku santai, mengambil cangkir kopi kalengku dan menyesapnya pelan. "Pasukanmu yang terdiri dari preman-preman bayaran itu? Mereka tidak bekerja karena kesetiaan pada negaramu, Sudiro. Mereka bekerja karena kau membayar mereka dengan lembaran dolar. Kesetiaan mereka hanya setebal dompetmu."

​"Aku punya lebih dari cukup uang untuk memburu sepuluh orang sepertimu!"

​"Benarkah?"

​Jariku melayang di atas keyboard.

​"Mari kita uji teori itu, Jenderal."

​Aku menekan tombol Enter.

​Di layar monitorku, barisan kode hijau meluncur turun bagaikan air terjun digital. Skrip Robin Hood mulai bekerja.

​"Buka komputermu, Sudiro. Cek rekening Cayman-mu. Sekarang," perintahku dengan nada yang memerintah, tidak membiarkannya memotong ucapanku.

​Aku bisa mendengar suara ketukan keyboard yang terburu-buru dari seberang telepon. Diikuti oleh keheningan yang sangat pekat, seolah waktu di rumah mewah sang Jenderal baru saja berhenti berdetak.

​Proses transfer sedang berjalan real-time. Di layarku, angka ratusan juta dolar di rekening Sudiro berkurang dengan kecepatan yang mengerikan. Menguap menjadi puluhan ribu transaksi kecil yang tersebar seperti debu yang ditiup angin badai.

​Satu menit. Dua menit.

​Terdengar suara tarikan napas yang tersedak dari seberang telepon. Bukan lagi geraman marah seorang jenderal. Itu adalah suara rengekan seekor anjing yang baru saja dipukul kepalanya dengan pipa besi.

​"Tidak... tidak mungkin. Bagaimana... bagaimana kau bisa menembus enkripsi bank Swiss? Uangku... kembalikan uangku!"

​Suaranya pecah. Kekuasaan yang ia bangun puluhan tahun, darah yang ia tumpahkan, nyawa yang ia korbankan... semuanya lenyap dalam hitungan detik. Tanpa uang itu, ia tidak bisa menyuap penegak hukum. Ia tidak bisa melarikan diri ke luar negeri. Ia tidak bisa membayar prajurit bayarannya. Ia menjadi orang tua biasa yang terjebak di tengah kota yang penuh dengan musuh.

​"Uang itu sedang dibagikan kepada anak-anak panti asuhan yang tidak pernah memiliki kesempatan hidup yang layak," jawabku dingin. "Anak-anak yang nasibnya hampir sama sepertiku, yang kau renggut masa depannya sepuluh tahun yang lalu."

​"Kau anak Adrianus," desis Sudiro, suaranya kini dipenuhi oleh kengerian yang nyata. Ia akhirnya memahami siapa monster yang sedang meneror hidupnya. "Aku... aku hanya menjalankan perintah! Darmawan Salim yang menginginkan kematian ayahmu! Dia yang merencanakan semuanya! Aku hanya—"

​"Kau hanya menarik pelatuknya. Kau hanya orang yang memastikan pintunya terkunci saat api menyala," potongku, nada suaraku mulai meninggi, gagal menyembunyikan getaran amarah yang merayap naik ke tenggorokanku. "Jangan pernah berpikir kau lebih suci dari Darmawan, Sudiro."

​"Tolong... biarkan aku hidup. Aku akan bersaksi melawan Darmawan! Aku akan memberimu semua bukti yang kau butuhkan untuk memenjarakan bajingan itu! Aku memiliki salinan rekaman percakapan kami!" Pria tua itu kini memohon. Seseorang yang dulunya mengenakan seragam kebesaran militer, kini menangis memohon belas kasihan pada bayangan di ujung telepon.

​"Aku tidak membutuhkan kesaksianmu di ruang sidang yang kotor, Jenderal."

​Aku mematikan mikrofonku sejenak, mengambil napas panjang untuk menenangkan gejolak di dadaku, lalu menyalakannya kembali.

​"Darmawan Salim pasti sudah tahu bahwa kau lumpuh sekarang. Emasmu hancur, uangmu lenyap. Kau pikir pria sepertinya akan membiarkanmu hidup untuk bersaksi melawannya?" ujarku, menanamkan benih paranoia yang paling mematikan ke dalam kepalanya. "Saat ini, Darmawan pasti sedang mengirimkan tim pembersihnya ke rumahmu. Bukan untuk menyelamatkanmu, tapi untuk memastikan mulutmu tertutup selamanya."

​"Tidak... Darmawan tidak akan berani..." "Kau lebih tahu bagaimana cara kerja temanmu itu, Sudiro." Aku menekan beberapa tombol, meretas kamera CCTV lalu lintas di sekitar kawasan perumahan elit Sudiro di Pondok Indah.

​Di layar monitorku yang lain, aku melihat tiga buah mobil van berwarna hitam tanpa pelat nomor melaju kencang memasuki gerbang kompleks perumahan Sudiro. Pasukan pembersih Vanguard. Darmawan benar-benar bertindak cepat untuk memotong rantai yang membusuk.

​"Mereka sudah berada di depan gerbang kompleksmu, Jenderal. Mereka berjarak kurang dari tiga menit dari pintu depanmu."

​Terdengar suara kursi yang jatuh dibanting, diikuti oleh langkah kaki yang berlari panik, dan teriakan Sudiro memanggil sisa ajudannya yang mungkin masih setia.

​Aku tidak mematikan sambungan telepon. Aku membiarkannya terbuka, mendengarkan kepanikan yang lezat itu.

​Bermain dengan api selalu memiliki risiko membakar diri sendiri. Dengan memprovokasi Sudiro dan menguras hartanya, aku telah memicu reaksi berantai yang tidak bisa dihentikan. Darmawan Salim mulai saling bunuh dengan pionnya sendiri.

​Ini adalah panggung kekacauan yang kuinginkan.

​Aku menyandarkan tubuhku ke kursi, mengusap bekas luka bakar di bahuku yang tertutup perban. Rasa sakitnya masih ada, tapi jeritan ketakutan Sudiro dari pelantang telingaku berfungsi sebagai pereda nyeri yang sangat ampuh.

​Di layar CCTV, mobil-mobil van hitam itu telah berhenti tepat di depan gerbang tinggi rumah mewah sang Jenderal. Puluhan pria berpakaian hitam melompat keluar, membawa senjata api dengan peredam suara. Mereka bergerak dengan efisiensi yang mematikan, melumpuhkan dua satpam di pos depan dalam hitungan detik.

​Darmawan Salim benar-benar kejam. Ia tidak ragu untuk menghabisi sahabatnya sendiri demi menyelamatkan kulitnya.

​Di ujung telepon, aku mendengar suara kaca pecah yang sangat keras, disusul rentetan tembakan yang teredam.

​"Tahan mereka! Tembak kepala mereka, bajingan!" teriak Sudiro di kejauhan. Suaranya menjauh dari ponsel yang sepertinya ia jatuhkan ke lantai saat ia berlari menyelamatkan diri.

​Aku tersenyum tipis. Jenderal Sudiro tidak akan membiarkan dirinya dibunuh di ruang tamunya sendiri. Ia adalah tikus yang memiliki banyak lubang pelarian. Ia pasti memiliki jalan rahasia, sebuah bunker, atau pintu keluar darurat yang membawanya ke kendaraan pelarian.

​Pilar kedua Vanguard Group kini bukan lagi seorang penegak kekuasaan. Ia hanyalah seorang buronan yang lari ketakutan dari bayangannya sendiri, tanpa sepeser pun uang di sakunya.

​Ia tidak bisa lari ke kantor polisi, karena polisi akan memenjarakannya atas korupsi dan pembunuhan. Ia tidak bisa lari ke teman-temannya, karena teman-temannya kini sedang mengirim peluru untuk menembus tengkoraknya.

​Satu-satunya tempat yang bisa ia tuju adalah kegelapan. Dan di dalam kegelapan itulah, sang Joker telah menunggunya.

​Aku mematikan sambungan telepon.

​Ruang pabrik kembali hening, hanya diisi oleh dengung kipas server.

​Aku mencondongkan tubuhku ke arah layar, memfokuskan pandanganku pada kamera CCTV jalanan di pintu keluar belakang kompleks perumahan tersebut.

​Benar saja. Tiga menit setelah penyerbuan itu dimulai, sebuah mobil sedan berwarna perak tanpa menyalakan lampu utama melesat keluar dari gang sempit di bagian belakang rumah Sudiro, menggilas genangan air hujan dengan kecepatan gila-gilaan. Mobil itu membelah jalanan malam Jakarta, melarikan diri dari kejaran kematian.

​Mata cokelatku mengikuti pergerakan mobil itu dari satu kamera ke kamera lainnya. Menghitung rutenya. Memprediksi lubang persembunyian yang akan ia tuju.

​Sudiro mengira ia sedang lari dari maut yang dikirimkan Darmawan Salim. Ia tidak menyadari bahwa ia baru saja berlari lurus masuk ke dalam jaring laba-laba yang telah kurajut dengan sangat hati-hati.

​Aku meraih jaket hitamku yang baru, berdiri perlahan sambil menahan ringisan nyeri di rusukku, dan berjalan menuju pintu keluar pabrik garmen ini. Tidak ada rasa lelah. Dendam adalah bahan bakar yang tidak pernah habis.

​Aku melirik sekilas ke arah layar yang menampilkan mobil sedan perak itu terus melaju dengan panik.

​"Mari kita lihat seberapa cepat kau lari."

1
Emi Widyawati
bagus bangeeetttt. cerita beda dengan yang lainnya. baca novel tapi serasa liat film. bagus banget Thor. lup u sak kebon 😘
Misterios_Man: banyakin likesnya dong biar popularitasnya naik, gratis kok hehehe.
total 2 replies
Ainun masruroh
semangat 💪
Misterios_Man: Ok kak nice dream ya,, jangan lupa ikuti novelnya heheh.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!