NovelToon NovelToon
Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Pernikahan Kilat / Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Puteri Bulan

Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.

"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.

Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Suasana di dalam mobil menuju Grand Ballroom Ritz-Carlton terasa lebih dingin daripada suhu AC yang disetel pada 18°C. Aeryn menatap lurus ke jendela, membiarkan pantulan gaun maroon gelapnya yang berkilau menjadi satu-satunya pemandangan. Di sampingnya, Xavier duduk dengan ketegasan yang nyaris mencekik. Sejak insiden di ruang kerja semalam, kata-kata di antara mereka telah mati, digantikan oleh kecurigaan yang merayap seperti kabut hitam.

"Kau terlihat sangat tidak fokus," suara Xavier memecah kesunyian. Rendah dan tajam.

Aeryn tidak menoleh. "Sulit untuk fokus saat aku tahu pasanganku menyimpan wajah ibuku di laci rahasianya seperti sebuah piala."

Xavier mendengus, sebuah suara kering yang penuh penghinaan. "Jangan mencampuradukkan emosi kekanak-kanakanmu dengan bisnis malam ini. Peluncuran Valerine’s Secret adalah penentuan. Jika kau gagal karena pikiranmu melantur ke mana-mana, aset yang kuberikan akan kutarik kembali dalam hitungan jam."

"Kau selalu bicara soal aset," Aeryn akhirnya menoleh, matanya berkilat menantang. "Apakah ibuku juga hanya sebuah aset bagimu? Atau dia adalah utang yang sedang kau coba bayar melalui diriku?"

Xavier mencengkeram rahangnya sendiri, otot di pelipisnya berdenyut. Ia menoleh perlahan, menatap Aeryn dengan intensitas yang sanggup meruntuhkan nyali siapa pun. "Malam ini, kau adalah Nyonya Arkananta. Tersenyumlah di depan kamera, biarkan mereka melihat betapa bahagianya kita, lalu kita bisa melanjutkan perang ini di rumah. Paham?"

Aeryn menarik napas panjang, merapikan sarung tangan sutranya. "Aku paham peranku, Xavier. Aku sudah berlatih menjadi sandiwara sejak aku lahir di keluarga Valerine."

Begitu pintu mobil dibuka oleh petugas, kilatan lampu flash langsung menyambut mereka. Xavier keluar lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya dengan gerakan yang sangat sopan dan mesra. Aeryn menyambutnya, memberikan senyum paling mempesona yang ia miliki. Di depan publik, mereka adalah pasangan paling berkuasa di Jakarta. Namun, hanya Aeryn yang bisa merasakan betapa kerasnya cengkeraman tangan Xavier pada pinggangnya—sebuah peringatan agar ia tidak melangkah keluar dari naskah.

Di dalam ballroom, suasana sudah sangat riuh. Para kolektor perhiasan kelas dunia, selebritas, dan tentu saja, keluarga Valerine hadir. Baskara Valerine tampak mencoba bersikap acuh tak acuh, sementara Bianca berdiri di pojok ruangan dengan mata yang merah karena amarah.

Koleksi perdana Aeryn, "The Phoenix," dipajang di dalam kotak-kotak kaca anti-peluru. Perhiasan itu unik; menggabungkan berlian Arkananta dengan desain organik yang menyerupai sayap yang bangkit dari abu. Pesanan sudah mulai membeludak lewat aplikasi eksklusif bahkan sebelum acara dimulai.

"Selamat, Nyonya Arkananta. Koleksi ini... luar biasa," puji seorang editor mode ternama.

"Terima kasih. Ini adalah tentang kebangkitan," jawab Aeryn tenang, melirik ke arah Bianca yang tampak sedang membisikkan sesuatu kepada seorang pria berpakaian teknisi di dekat panel listrik gedung.

Aeryn tersenyum tipis. Ia sudah menduga ini. Bianca tidak akan membiarkannya menang begitu saja.

Sepuluh menit sebelum pidato utama dimulai, Aeryn mendekati Hugo yang berdiri waspada di dekat panggung. "Hugo, apakah tim keamanan sudah siap di posisi?"

"Sesuai perintah Anda, Nyonya. Sensor inframerah sudah aktif," jawab Hugo tanpa ekspresi.

Tiba-tiba, JESS!

Seluruh lampu di dalam ballroom padam total. Kegelapan pekat menyergap. Suara teriakan panik para tamu mulai terdengar. Musik berhenti mendadak. Di tengah kegelapan itu, Aeryn bisa mendengar suara Bianca yang tertawa kecil dari kejauhan, mengira rencananya berhasil menghancurkan momen puncak sang kakak tiri.

Namun, kegelapan itu hanya bertahan lima detik.

Aeryn menjentikkan jarinya. Seketika, lampu-lampu kecil bertenaga baterai yang tersembunyi di dalam manekin dan kotak pajangan menyala. Namun, itu bukan lampu biasa. Itu adalah sinar ultraviolet yang diarahkan tepat ke perhiasan "The Phoenix".

Efeknya luar biasa. Perhiasan itu ternyata telah dilapisi dengan pigmen fosfor khusus yang hanya bereaksi pada cahaya tertentu. Di tengah kegelapan gedung, kalung, anting, dan cincin itu berpendar dengan warna biru dan jingga yang menyala, menciptakan ilusi burung Phoenix yang benar-benar terbang di tengah ruangan.

"Luar biasa..." bisik para tamu. Alih-alih kekacauan, sabotase Bianca justru menciptakan panggung paling menakjubkan yang pernah dilihat di industri perhiasan. Aeryn melangkah ke tengah panggung yang remang-remang, di mana satu-satunya cahaya berasal dari perhiasan yang ia kenakan.

"Seringkali, keindahan yang paling murni hanya bisa terlihat saat cahaya di sekitar kita dipadamkan secara paksa," suara Aeryn bergema jernih lewat mikrofon nirkabel. "Kebangkitan tidak butuh panggung yang terang benderang. Ia hanya butuh api dari dalam."

Tepuk tangan bergemuruh memecah kesunyian. Bianca tampak pucat di sudut ruangan, menyadari bahwa ia baru saja memberikan Aeryn kemenangan mutlak.

Xavier mendekati Aeryn saat lampu gedung kembali menyala. Ia menatap istrinya dengan tatapan yang sedikit berubah—ada jejak kekaguman yang berusaha ia sembunyikan.

"Kau sudah merencanakannya?" tanya Xavier.

"Aku tahu Bianca akan mencoba mematikan lampu. Aku hanya memastikan kegelapan itu bekerja untukku, bukan melawanku," jawab Aeryn sambil menerima segelas champagne dari pelayan.

"Kau mulai belajar berpikir seperti seorang Arkananta," bisik Xavier, bibirnya hampir menyentuh telinga Aeryn. "Licik, efektif, dan mematikan."

"Aku belajar dari yang terbaik, bukan?" sahut Aeryn dingin.

Di akhir acara, Hugo mendekati mereka dengan ekspresi yang sangat serius. Ia membawa sebuah tablet yang menunjukkan data penjualan terakhir.

"Tuan, Nyonya, ada laporan yang tidak lazim," ucap Hugo. "Seluruh sisa stok koleksi The Phoenix baru saja dibeli dalam satu transaksi tunggal. Nilainya mencapai empat ratus miliar rupiah."

Aeryn tertegun. "Siapa pembelinya? Kaelan tidak mungkin punya uang sebanyak itu."

"Identitasnya dirahasiakan melalui firma hukum di Swiss. Namun," Hugo ragu-ragu sejenak, "pembelinya meninggalkan sebuah pesan untuk Nyonya Aeryn."

Hugo menyerahkan sebuah kartu nama tua yang pinggirannya sudah menguning. Di sana tertulis sebuah alamat: Hotel Old Batavia, Kamar 404. Dan di bawahnya tertulis sebuah kalimat yang membuat jantung Aeryn seolah berhenti berdetak:

"Aku tahu di mana lili terakhir ibu kandungmu dikuburkan. Datanglah sendiri jika kau ingin tahu mengapa Arkananta membenci nama Valerine."

Aeryn meremas kartu itu. Ia melirik Xavier yang sedang bicara dengan beberapa investor di seberang ruangan. Xavier tampak tidak tahu soal pesan ini. Pesan itu ditujukan khusus untuknya, sebuah umpan yang terlalu berbahaya untuk diabaikan, namun terlalu menggoda untuk tidak didatangi.

"Hugo, siapa lagi yang tahu soal pesan ini?" tanya Aeryn pelan.

"Hanya saya, Nyonya. Apakah saya harus memberitahu Tuan Xavier?"

Aeryn diam sejenak. Ia teringat tatapan Xavier saat ia memegang foto ibunya. Ia tidak bisa percaya pada Xavier sepenuhnya sekarang. Pria itu adalah bagian dari teka-teki, bukan solusinya.

"Tidak. Jangan katakan sepatah kata pun padanya," bisik Aeryn. "Siapkan mobil pribadi untukku besok pagi. Jangan gunakan sopir mansion."

1
Sinta Devi
bikin ketagihan bacanya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!