NovelToon NovelToon
Tak Setara

Tak Setara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lasti Handayani

Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Masalah Datang Tanpa Permisi

Setelah mengantar Revan dan Helena berpamitan.

Pintu Aluna kembali di ketuk, ia berlari kecil setelah meletakkan kembali gelas kopi yang hendak ia bawa ke dapur.

"Ada yang ketinggalan?" ucapnya sambil membuka pintunya.

Bukannya mendapat jawaban, Aluna malah melihat kedua mertuanya sedang berdiri dibalik pintu bersama Revan di belakangnya.

Hal itu membuatnya terkejut, "Ibuk.. Bapak. Kenapa nggak bilang-bilang dulu mau kesini." tanyanya sopan.

"Memangnya harus minta izin kamu dulu?" jawab ibu mertuanya ketus.

"Bukan begitu, Bu," tangannya memberikan isyarat. "Maksud Aluna biar bisa siap-siap dirumah memasak sesuatu."

"Udah-udah. Biarin Ibu istirahat dulu didalam." Potong Gavin yang masuk lebih dulu.

Aluna melihat beberapa koper di terasnya, alisnya mengerut, kepalanya penuh tanda tanya.

"Aluna, tolong bawa masuk kopernya," perintah Gavin.

Dengan kemungkinan-kemungkinan yang ia pikirkan, koper diseret masuk. Ibu dan bapak mertuanya berada di kamar kosong yang tak terpakai. Aluna duduk di kursi dapur menunggu penjelasan dari Gavin.

Beberapa menit kemudian, Gavin menghampiri Aluna yang tengah melamun.

Ia duduk disebelah istrinya, meraih punggung tangannya dan mengelus lembut jemari lentik Aluna.

"Sayang," suaranya terdengar pelan.

Aluna menatap dengan serius wajah Gavin yang seolah menggambarkan sesuatu yang tidak ia ketahui.

"Ibu dan Bapak, baik-baik saja kan?" ucap Aluna.

Gavin menundukkan pandangannya, "sebenarnya ada hal yang ingin aku sampaikan."

Aluna mendengarkan.

"Bapak dan Ibuk sedang ada masalah. Rumahnya disita oleh Bank."

Aluna terkejut, ada rasa iba dengan musibah yang mertuanya alami namun di sisi lain perasaannya sedang berusaha menolak sesuatu.

"Jadi untuk sementara waktu, mereka akan tinggal dulu disini." Wajah Gavin terlihat memelas.

Aluna diam sesaat, tatapannya kosong.

Gavin tahu persis mimik wajah istrinya, sebuah perasaan yang tidak benar-benar baik-baik saja.

Gavin tahu bahwa Aluna tidak begitu akur dengan orang tuanya, sejak pertama kali mereka meminta restu, orang tua Gavin kurang menyetujui hubungannya dengan Aluna.

Karena sebenarnya Gavin telah dijodohkan oleh anak dari kepala desa yang status ekonomi maupun pendidikannya lebih baik dari Aluna.

Hingga sekarang, empat tahun pernikahan mereka berjalan. Ibunya tetap memasang ekspresi datar setiap kali berhadapan dengan menantunya.

Hal itu pula yang membuat Aluna tidak ingin tinggal dirumah orang tua Gavin dan lebih memilih tinggal mandiri di sebuah kontrakan.

"Bagaimana cara Ibu melunasi hutang-hutangnya?'

Suaranya Aluna terdengar serak.

"Entahlah. Mungkin aku harus turun tangan." Gavin terdengar putus asa. "Upah kamu kan lebih besar. Jadi mungkin bisa sedikit membantu."

Aluna membeku mendengar kalimat Gavin.

Ia belum sempat memberitahu Gavin bahwa ia telah resign dari pekerjaannya.

Pikirannya kini beradu, ia tidak pernah menyangka jika hal yang dia pikir akan berjalan mudah—Ternyata jauh lebih rumit.

Tidak pernah terpikir jika hal-hal buruk akan datang bersamaan di waktu yang tidak tepat.

"Aluna, kenapa kamu diam?" tanya Arka sambil menyentuh pundak Aluna.

"Aku gapapa," senyumnya yang tak pernah sampai ke mata. "Iya aku juga akan bantu mereka."

"Makasih atas pengertiannya, sayang."

Gavin memeluk Aluna.

Aluna menutup mata dalam dekapan Gavin, tangannya tidak membalas pelukannya.

Ia hanya pasrah dengan situasi yang sedang terjadi, sambil memikirkan cara untuk bekerja kembali.

Ia mengurungkan niatnya untuk memberitahu suaminya perihal pengunduran dirinya.

Karena tidak ingin membuat beban pikiran suaminya bertambah.

***

Pukul tujuh pagi.

Setelah Gavin berpamitan untuk bekerja, Aluna pun segera bergegas pergi, setelah ia selesai memasak dan melayani mertuanya.

Hari ini Aluna berniat ingin memasukkan beberapa lamaran kerja, berharap ada tempat untuknya kembali mendapatkan kesempatan.

Namun kegigihannya tidak dibalas dengan hasil yang sepadan.

Setelan memasuki beberapa tempat, ia kembali dengan raut wajah kecewa.

Penampilan menarik.

Tinggi badan yang sesuai.

Segudang pengalaman.

Gelar pendidikan tertentu.

Upah dibawah minimum.

Semua syarat yang ditentukan oleh kebanyakan perusahaan.

Namun tetap saja, itu belum cukup untuk membuka satu pintu kesempatan.

Seolah dunia kerja menuntut segalanya dari seseorang, tetapi enggan memberikan sesuatu yang layak sebagai balasan.

Aluna terduduk di kursi yang berada dipinggir trotoar. Wajahnya pucat, tubuhnya lelah, pikirannya kosong.

Pandangannya tertunduk, tiba-tiba sebuah tangan mengulurkan susu kotak rasa coklat.

Aluna menoleh pelan dari ujung tangan itu hingga matanya menemukan sosok Arka.

Matanya melotot tak percaya, degupnya tidak beraturan, wajah itu membuatnya takut tetapi ada rasa lain yang tidak bisa ia pahami—Sebuah harapan kecil diambang keputusasaan.

"Kalau kamu tidak mau, saya akan lempar ke tempat sampah."

Arka menatap serius perempuan itu.

Tatapan Aluna beralih pada susu kotak di tangan Arka, dengan ragu ia meraih susu itu. "Makasih."

Suaranya terdengar lirih.

Arka duduk disamping Aluna, "gimana? Sudah dapat pekerjaan yang lebih baik?"

Tangannya terbentang di sandaran kursi, tubuhnya menyender, kakinya bersilang.

Aluna menunduk malu.

"Belum." Kalimat singkat yang akhirnya keluar.

Arka terkekeh.

Melihatnya, Aluna merasa kesal.

"Kalau begitu, kembali lagi."

Kepalanya yang semula tertunduk perlahan terangkat.

Kalimat itu membuatnya mendongak, matanya menatap lurus ke depan dengan ekspresi terkejut.

"Pintu perusahaan saya masih terbuka untukmu," lanjut Arka.

Aluna terdiam membeku. Ia memegangi erat susu kotak ditangannya.

"Mungkin kamu lupa jika saya adalah CEO yang berbeda dari yang lain. Yang hanya melihat kemampuan seseorang, bukan penampilan seseorang."

Angin berhembus di udara, rambut panjang Aluna berkibar lembut tertiup angin sore, beberapa helainya mengibas wajah Arka.

"Jadi seharusnya kamu tidak menyia-nyiakannya," lanjut Arka.

Aluna masih diam membisu, mendengarkan setiap kalimat dari Arka.

Beberapa saat kemudian, Arka berdiri dari duduknya. "Semua keputusan ada padamu." Kakinya hendak melangkah namun...

"Apakah Bapak melakukan itu pada semua karyawan?"

Langkahnya terhenti setelah mendengar kalimat itu. "Saya sudah tekankan. Saya berbeda."

Suaranya terdengar tegas. "Dan saya hanya memilih siapa yang pantas."

Arka melanjutkan langkahnya meninggalkan Aluna dengan penuh tanda tanya.

Aluna menatap punggung pria itu berlalu hingga tubuhnya menghilang dibalik pintu mobil.

"Cih.. berbeda apanya?" Celetuknya kesal.

"Bahkan kalimat 'maaf' pun tidak pernah keluar dari mulutnya."

"Jelas saja berbeda, dia kan CEO gila."

Perempuan itu mengomel sendiri.

Susu kotak yang sedari tadi ia pegang akhirnya di buka, ia menyedot habis hingga kotaknya terlihat penyok.

Lalu membuangnya dengan kasar kedalam tempat sampah.

Sebelum memutuskan untuk kembali ke rumah, ia mampir ke sebuah ATM yang berada di samping swalayan.

Aluna ingin mengecek tabungannya yang selama ini ia kumpulkan dari hasil selama bekerja.

Ting.

Nominal muncul dilayar.

"Hah? Tinggal segini?" matanya menangkap nominal yang tidak cukup banyak untuk bertahan beberapa bulan.

Apalagi sekarang mertuanya sedang menumpang di rumahnya sampai waktu yang belum ditentukan.

Aluna menghela nafas, tiba-tiba dia teringat kalimat Arka. "Tidak.. tidak. Pokoknya apapun yang terjadi aku tidak boleh kembali."

***

Setelah memastikan Aluna kesulitan mencari pekerjaan. Arka tersenyum puas.

Bahkan ia memastikannya sendiri dengan mengikuti Aluna menyusuri setiap lowongan.

Sampai dimana perempuan itu lelah setelah seharian berjalan, lalu dengan susu kotak yang baru ia beli di minimarket, Arka mendekati Aluna di sudut kota.

Arka sudah bekerja sama dengan beberapa perusahaan yang ia suap dengan beberapa lembar uang.

Perusahaan yang kemungkinan akan menerima Aluna tanpa syarat yang ditentukan.

Ia hanya ingin Aluna kembali padanya, selain karena hasil kerjanya yang bagus—Ada setitik rasa yang masih bersembunyi dibalik dinginnya hati.

Dan Arka hanya ingin memastikan itu.

***

Malam setelah keduanya kembali dari kesibukan dunia luar.

Saat semuanya berkumpul dimeja makan, ada keheningan yang menyusup kedalam rumah yang biasanya selalu ramai oleh celotehan Aluna. Sejak keadaan berubah tanpa pemberitahuan, ia menjadi lebih banyak diam bahkan didalam rumahnya sendiri, bahkan bersama suaminya sendiri.

"Memangnya kalian tidak merasa kesepian?" ucap ibu mertua Aluna.

"Kenapa harus kesepian, Bu?" jawab Gavin.

"Kalian kan menikah sudah empat tahun. Memangnya tidak ingin punya anak?"

Spontan Aluna tersedak mendengar kalimat itu.

"Kamu kenapa?" tanya Gavin basa-basi, padahal ia tahu reaksi istrinya.

Aluna menyeka mulutnya, menatap Gavin dalam.

Melihat tatapan itu, Gavin mengerti.

"Masih belum pengen, Bu. Masih nyaman berdua." Jelas Gavin.

"Ibu dan Bapak kamu ini sudah tua. Tidak bisa terlalu lama menunggu." Bapak Gavin ikut berkomentar.

Aluna hanya diam tanpa ingin menjawab semua pertanyaan mertuanya.

Baginya memiliki momongan disaat seperti ini, adalah keputusan yang salah.

Ia hanya tidak ingin terburu-buru, karena jika saatnya sudah tepat. Aluna ingin melihat anaknya tumbuh lebih baik, dan tumbuh disebuah rumah yang lebih baik juga.

Aluna duduk diteras rumah, menatap bulan yang setengah tertutup oleh awan.

Udara malam menyibakkan rambutnya yang tergerai.

Lagi-lagi ia teringat oleh ucapan Arka tadi siang.

Aluna merasa ragu dengan niatnya untuk kembali ke Aethera Creative Lab.

Bukan karena sudah memutuskan pergi—tapi karena takut hal buruk malam itu terulang kembali.

Apalagi hubungan kerjanya dengan Arka sangat begitu dekat.

Aluna memikirkan bagaimana ia bisa kembali menatap bosnya setelah kejadian itu?

Bagaimana caranya bersikap ketika keadaan memaksanya untuk bekerja sama dengan bosnya?

Semua kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi ketika Aluna kembali, membuatnya semakin ragu.

Namun disisi lain keadaan terus mendesaknya.

Saat Aluna hendak masuk kedalam rumah, dari balik pintu kamar mertuanya, ia tidak sengaja mendengar percakapan Gavin dengan ibunya.

"Coba kalau waktu itu kamu menuruti ibu. Pasti kehidupan mu tidak seperti ini."

"Sudah Bu. Semuanya sudah terjadi." Suara Gavin terdengar samar.

"Cinta tidak selamanya berbunga, Gavin. Akan ada saatnya dimana cinta sudah tidak terlihat indah ketika kehidupan tidak berjalan dengan baik."

"Memangnya apa yang akan terjadi seandainya Gavin bersama dengan Dea?"

"Setidaknya kehidupan kita jauh lebih baik. Ibuk bisa menimang cucu tanpa harus pusing memikirkan bagaimana caranya menghidupi anak dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan."

Aluna melangkah menjauh dari balik pintu.

"Dasar. Tidak tahu malu."

Kalimat itu keluar dari mulutnya begitu saja.

1
Gira Hurary
sukaaaa alurnya... author ini berani beda, tetep semangat ya thor
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Gira Hurary
semangaaaat
Rini
Lanjut thor🤭
Rini
Baru diawal bagus bgt, setiap kata-katanya tersusun rapi mudah dipahami😍 semangat thor💪
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Annida Annida
lanjut tor
Dian
lumayan bagus
Lass96: Terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Senang sekali kalau ceritanya bisa kamu nikmati.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!