Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.
Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.
Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.
Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.
Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auvy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 : "Bela kemana?"
Pagi itu, rumah mewah milik Raka terasa seperti museum yang dingin. Raka terbangun dengan rutinitas yang sama seperti hari-hari sebelumnya, dengan suasana di dalam bangunan megah yang seolah membeku, tak pernah berubah sedikit pun. Begitu kakinya melangkah keluar dari kamar, ia sudah bisa melihat Melani sibuk dengan aktivitasnya.
Melani tidak sedang sibuk membersihkan sudut rumah, bukan pula sedang berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan hangat. Ia sedang berada di balkon, duduk bersila dengan tenang. Matanya terpejam rapat, menghirup dalam-dalam udara pagi pukul enam yang masih murni, sementara sepasang earphone menyumbat telinganya.
Melani selalu meditasi di pagi hari sembari tenggelam dalam alunan lagu yang hanya ia sendiri yang tahu, menciptakan benteng yang tak kasat mata di antara dirinya dan Raka.
Raka berdiri terpaku di balik kaca jendela, menatap punggung istrinya dengan pikiran yang berkecamuk.
"Apakah ini dunia pernikahan?"
Dalam benak Raka, pernikahan seharusnya melibatkan tuntutan kasih sayang, hiruk-pikuk mengurus anak, atau setidaknya perselisihan emosional soal keuangan yang menunjukkan bahwa mereka saling membutuhkan. Namun, apa yang ia jalani saat ini terlampau stabil. Saking stabilnya, rasanya tidak ada arti dalam kata rumah tangga. Hubungan mereka terasa hambar, sebuah kepura-puraan yang berjalan otomatis tanpa ada getaran emosional yang nyata.
Jujur saja, Raka merasa kurang belaian bukan secara fisik, melainkan secara jiwa. Ironisnya, mereka justru sungguh romantis saat berada di ranjang. Di sana, mereka tampak seperti pasangan yang saling mencintai, namun begitu kaki mereka menyentuh lantai setelahnya, semua kehangatan itu menguap. Melani kembali menjadi wanita asing baginya.
Raka tidak tahu apakah ia sudah memiliki perasaan cinta pada Melani atau tidak. Kenyataan pahitnya, Melani tidak pernah menunjukkan perhatian atau kasih sayang sedikit pun, kecuali jika mereka sedang bercumbu.
Namun, ada satu hal yang Raka sadari. Ia mulai memiliki keterikatan emosional yang aneh. Setiap kali Melani bepergian sendirian ke luar kota, amarahnya selalu meledak dalam diam. Entah itu rasa cemburu, atau rasa tidak dihargai sebagai suami yang aturannya dilanggar, Raka benci perasaan itu.
Pagi ini, ia mencoba meredam egonya. Ia berusaha percaya pada laporan Bela kemarin bahwa semuanya aman di Bandung. Ia ingin mencoba menjalani pernikahan ini dengan benar, memberikan kesempatan bagi Melani dan dirinya sendiri untuk membangun rumah tangga yang sesungguhnya. Mungkin, ia hanya perlu sedikit lebih sabar.
Setelah mandi dan menyantap sarapan sedikit yang lebih terasa seperti kewajiban daripada kenikmatan, Raka melangkah menuju garasi. Pintu garasi yang lebar sudah dibuka sepenuhnya oleh pak satpam. Sebelum masuk ke dalam mobil, Raka menyempatkan diri memanaskan mesin. Dari posisinya di dalam garasi, ia bisa melihat pemandangan rutin setiap pagi. Pak satpam dan sopir pribadi Melani sedang duduk santai sambil ngobrol dan menikmati kopi pagi mereka.
Namun, ada sesuatu yang ganjil. Mata Raka secara alamiah menyapu area tersebut, mencari sosok yang biasanya selalu ada di sana. Wanita itu, Bela, tidak nampak. Biasanya Bela akan berdiri atau duduk tak jauh dari sana, menunggu dengan sabar sampai Melani menyelesaikan rutinitas tidak bergunanya menurut Raka. Pagi ini, kehadirannya absen.
"Kemana gerangan si Bela?" Raka membatin. Sebuah pikiran melintas di kepalanya.
"apakah wanita itu kena mental setelah gue interogasi di atas balkon kemarin?"
Raka mengingat kembali tatapan tajam dan tekanan yang ia berikan pada Bela sore itu. Meski rasa ingin tahu mulai mengusik ketenangannya, Raka enggan bertanya pada orang-orang di sana. Gengsinya berkata bahwa keberadaan Bela tidaklah sepenting itu untuk dicari secara terang-terangan.
Ia akhirnya memutuskan untuk tak ambil pusing. Raka masuk ke kabin mobil, menarik napas panjang, lalu melepas rem tangan. Ia menginjak kopling dengan mantap, mengurutnya perlahan hingga tenaga mesin terasa, lalu menancapkan gas untuk membawa mobilnya keluar dari rumah. Seperti biasa, ia menekan klakson singkat sebagai tanda pamit sebelum mobilnya meluncur mulus ke jalan raya yang mulai ramai.
Untuk memecah kesunyian, Raka memutar salah satu playlist favoritnya. Suara serak dan emosional dari James Arthur memenuhi kabin mobil, menemani perjalanannya membelah kemacetan kota. Raka menyetir dengan pikiran yang masih melayang, sampai akhirnya ia tiba di sebuah persimpangan lampu merah. Di ujung sana, sorot matanya tiba-tiba menyipit. Ada sesuatu yang tidak beres.
Ia melihat sebuah kerumunan kecil di pinggir jalan, tepat di trotoar penyeberangan. Mobilnya terus berjalan pelan karena arus lalu lintas, namun saat ia melintas tepat di samping kerumunan itu, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Melalui kaca jendela, ia melihat dengan sangat jelas wajah wanita yang terbaring tak berdaya di atas aspal.
Bela!
Tanpa pikir panjang, Raka menginjak rem mendadak.
'CIIIITTTT!'
Suara ban yang bergesekan dengan aspal terdengar nyaring, disusul oleh bunyi klakson lantang dari mobil-mobil di belakangnya. Para pengendara lain seolah memaki tindakannya yang berhenti tiba-tiba di tengah jalan, namun Raka benar-benar masa bodoh. Fokusnya telah terkunci sepenuhnya pada wanita yang tergeletak pingsan itu.
Ia segera mematikan mesin, keluar dari mobil, dan berlari membelah kerumunan kecil warga.
"Permisi, permisi! Saya kenal dia," ucap Raka dengan nada tegas namun penuh kecemasan.
Ia berlutut di atas aspal, tepat di depan Bela. Wanita itu tampak sangat pucat, matanya tertutup rapat seolah sedang tertidur dalam kelelahan yang luar biasa.
"Namanya Bela, dia asisten saya," ucap Raka lagi, mencoba memberikan identitas pada tubuh yang tak bergerak itu.
"Oh, iya bener, Mas! Namanya Bela. Ini, tadi kami temukan di tasnya," ucap salah seorang warga sambil menyerahkan dompet dan kartu identitas milik Bela kepada Raka.
"Dia kenapa, Bu? Apa dia tertabrak?" tanya Raka cepat. Ia harus tahu kronologinya agar tidak melakukan kesalahan saat memberikan pertolongan pertama.
Seorang ibu dengan wajah panik menyahut, ia bahkan sampai menepuk-nepuk dadanya berulang kali karena syok. "Pingsan, Mas! Tadi saya lihat dia jalan dari sana sudah sempoyongan sekali, wajahnya pucat. Terus karena saya khawatir, saya sengaja jalan di belakangnya. Eh, pas dia mau menyeberang jalan, loh... dia malah langsung ambruk begini, pingsan!"
Mendengar penjelasan itu, Raka merasakan denyut kekhawatiran yang asing di dadanya. Tanpa menunggu bantuan lebih lanjut, Raka segera menyusupkan lengannya di bawah tubuh Bela dan membopongnya.
Beberapa orang di kerumunan membantu membukakan pintu mobil Raka.nDengan hati-hati, Raka membaringkan Bela di kursi penumpang. Tangannya sempat gemetar saat memastikan posisi kepala Bela tetap aman. Setelah menutup pintu, ia segera kembali ke kursi kemudi. Ia tidak lagi memikirkan kantor, tidak lagi memikirkan kondisi rumah tangganya, fokusnya kini hanya satu. Menembus jalan raya menuju rumah sakit terdekat secepat mungkin.
Di dalam mobil yang melaju kencang itu, Raka sesekali melirik ke arah Bela, bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya terjadi pada asistennya ini hingga ia ambruk di tengah jalanan kota yang keras.