NovelToon NovelToon
Seragam Biru Di Balik Rahasia

Seragam Biru Di Balik Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Pelakor jahat / Hamil di luar nikah
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Auvy

"Aku memegang jadwal harian istri sahnya, tapi aku jugalah yang mengisi waktu malam suaminya."

Bagi publik, Mayor Pnb Raka Aditya adalah perwira tanpa celah. Pilot kebanggaan Angkatan Udara, tangan kanan Kolonel Surya, dan suami dari Melani yakni sosok socialite sekaligus pengusaha FnB sukses pemilik jaringan restoran mewah. Namun, di balik seragam dan kemewahan itu, ada rahasia yang tak boleh terdeteksi radar.

Bela, sang Asisten Pribadi kepercayaan Melani, terjebak dalam pengkhianatan paling berbahaya.

Setiap hari, Bela menemani pertemuan bisnis Melani bahkan menjadi saksi diam saat bosnya itu menjalin cinta terlarang di sela-sela kesibukan mengelola gurita bisnisnya. Bela bungkam bukan karena setia, melainkan karena ia menyimpan dosa yang sama besarnya: Bela adalah kekasih gelap Raka, suami bosnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auvy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 : "Bela kemana?"

Pagi itu, rumah mewah milik Raka terasa seperti museum yang dingin. Raka terbangun dengan rutinitas yang sama seperti hari-hari sebelumnya, dengan suasana di dalam bangunan megah yang seolah membeku, tak pernah berubah sedikit pun. Begitu kakinya melangkah keluar dari kamar, ia sudah bisa melihat Melani sibuk dengan aktivitasnya.

Melani tidak sedang sibuk membersihkan sudut rumah, bukan pula sedang berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan hangat. Ia sedang berada di balkon, duduk bersila dengan tenang. Matanya terpejam rapat, menghirup dalam-dalam udara pagi pukul enam yang masih murni, sementara sepasang earphone menyumbat telinganya.

Melani selalu meditasi di pagi hari sembari tenggelam dalam alunan lagu yang hanya ia sendiri yang tahu, menciptakan benteng yang tak kasat mata di antara dirinya dan Raka.

Raka berdiri terpaku di balik kaca jendela, menatap punggung istrinya dengan pikiran yang berkecamuk.

"Apakah ini dunia pernikahan?"

Dalam benak Raka, pernikahan seharusnya melibatkan tuntutan kasih sayang, hiruk-pikuk mengurus anak, atau setidaknya perselisihan emosional soal keuangan yang menunjukkan bahwa mereka saling membutuhkan. Namun, apa yang ia jalani saat ini terlampau stabil. Saking stabilnya, rasanya tidak ada arti dalam kata rumah tangga. Hubungan mereka terasa hambar, sebuah kepura-puraan yang berjalan otomatis tanpa ada getaran emosional yang nyata.

Jujur saja, Raka merasa kurang belaian bukan secara fisik, melainkan secara jiwa. Ironisnya, mereka justru sungguh romantis saat berada di ranjang. Di sana, mereka tampak seperti pasangan yang saling mencintai, namun begitu kaki mereka menyentuh lantai setelahnya, semua kehangatan itu menguap. Melani kembali menjadi wanita asing baginya.

Raka tidak tahu apakah ia sudah memiliki perasaan cinta pada Melani atau tidak. Kenyataan pahitnya, Melani tidak pernah menunjukkan perhatian atau kasih sayang sedikit pun, kecuali jika mereka sedang bercumbu.

Namun, ada satu hal yang Raka sadari. Ia mulai memiliki keterikatan emosional yang aneh. Setiap kali Melani bepergian sendirian ke luar kota, amarahnya selalu meledak dalam diam. Entah itu rasa cemburu, atau rasa tidak dihargai sebagai suami yang aturannya dilanggar, Raka benci perasaan itu.

Pagi ini, ia mencoba meredam egonya. Ia berusaha percaya pada laporan Bela kemarin bahwa semuanya aman di Bandung. Ia ingin mencoba menjalani pernikahan ini dengan benar, memberikan kesempatan bagi Melani dan dirinya sendiri untuk membangun rumah tangga yang sesungguhnya. Mungkin, ia hanya perlu sedikit lebih sabar.

Setelah mandi dan menyantap sarapan sedikit yang lebih terasa seperti kewajiban daripada kenikmatan, Raka melangkah menuju garasi. Pintu garasi yang lebar sudah dibuka sepenuhnya oleh pak satpam. Sebelum masuk ke dalam mobil, Raka menyempatkan diri memanaskan mesin. Dari posisinya di dalam garasi, ia bisa melihat pemandangan rutin setiap pagi. Pak satpam dan sopir pribadi Melani sedang duduk santai sambil ngobrol dan menikmati kopi pagi mereka.

Namun, ada sesuatu yang ganjil. Mata Raka secara alamiah menyapu area tersebut, mencari sosok yang biasanya selalu ada di sana. Wanita itu, Bela, tidak nampak. Biasanya Bela akan berdiri atau duduk tak jauh dari sana, menunggu dengan sabar sampai Melani menyelesaikan rutinitas tidak bergunanya menurut Raka. Pagi ini, kehadirannya absen.

"Kemana gerangan si Bela?" Raka membatin. Sebuah pikiran melintas di kepalanya.

"apakah wanita itu kena mental setelah gue interogasi di atas balkon kemarin?"

Raka mengingat kembali tatapan tajam dan tekanan yang ia berikan pada Bela sore itu. Meski rasa ingin tahu mulai mengusik ketenangannya, Raka enggan bertanya pada orang-orang di sana. Gengsinya berkata bahwa keberadaan Bela tidaklah sepenting itu untuk dicari secara terang-terangan.

Ia akhirnya memutuskan untuk tak ambil pusing. Raka masuk ke kabin mobil, menarik napas panjang, lalu melepas rem tangan. Ia menginjak kopling dengan mantap, mengurutnya perlahan hingga tenaga mesin terasa, lalu menancapkan gas untuk membawa mobilnya keluar dari rumah. Seperti biasa, ia menekan klakson singkat sebagai tanda pamit sebelum mobilnya meluncur mulus ke jalan raya yang mulai ramai.

Untuk memecah kesunyian, Raka memutar salah satu playlist favoritnya. Suara serak dan emosional dari James Arthur memenuhi kabin mobil, menemani perjalanannya membelah kemacetan kota. Raka menyetir dengan pikiran yang masih melayang, sampai akhirnya ia tiba di sebuah persimpangan lampu merah. Di ujung sana, sorot matanya tiba-tiba menyipit. Ada sesuatu yang tidak beres.

Ia melihat sebuah kerumunan kecil di pinggir jalan, tepat di trotoar penyeberangan. Mobilnya terus berjalan pelan karena arus lalu lintas, namun saat ia melintas tepat di samping kerumunan itu, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Melalui kaca jendela, ia melihat dengan sangat jelas wajah wanita yang terbaring tak berdaya di atas aspal.

Bela!

Tanpa pikir panjang, Raka menginjak rem mendadak.

'CIIIITTTT!'

Suara ban yang bergesekan dengan aspal terdengar nyaring, disusul oleh bunyi klakson lantang dari mobil-mobil di belakangnya. Para pengendara lain seolah memaki tindakannya yang berhenti tiba-tiba di tengah jalan, namun Raka benar-benar masa bodoh. Fokusnya telah terkunci sepenuhnya pada wanita yang tergeletak pingsan itu.

Ia segera mematikan mesin, keluar dari mobil, dan berlari membelah kerumunan kecil warga.

"Permisi, permisi! Saya kenal dia," ucap Raka dengan nada tegas namun penuh kecemasan.

Ia berlutut di atas aspal, tepat di depan Bela. Wanita itu tampak sangat pucat, matanya tertutup rapat seolah sedang tertidur dalam kelelahan yang luar biasa.

"Namanya Bela, dia asisten saya," ucap Raka lagi, mencoba memberikan identitas pada tubuh yang tak bergerak itu.

"Oh, iya bener, Mas! Namanya Bela. Ini, tadi kami temukan di tasnya," ucap salah seorang warga sambil menyerahkan dompet dan kartu identitas milik Bela kepada Raka.

"Dia kenapa, Bu? Apa dia tertabrak?" tanya Raka cepat. Ia harus tahu kronologinya agar tidak melakukan kesalahan saat memberikan pertolongan pertama.

Seorang ibu dengan wajah panik menyahut, ia bahkan sampai menepuk-nepuk dadanya berulang kali karena syok. "Pingsan, Mas! Tadi saya lihat dia jalan dari sana sudah sempoyongan sekali, wajahnya pucat. Terus karena saya khawatir, saya sengaja jalan di belakangnya. Eh, pas dia mau menyeberang jalan, loh... dia malah langsung ambruk begini, pingsan!"

Mendengar penjelasan itu, Raka merasakan denyut kekhawatiran yang asing di dadanya. Tanpa menunggu bantuan lebih lanjut, Raka segera menyusupkan lengannya di bawah tubuh Bela dan membopongnya.

Beberapa orang di kerumunan membantu membukakan pintu mobil Raka.nDengan hati-hati, Raka membaringkan Bela di kursi penumpang. Tangannya sempat gemetar saat memastikan posisi kepala Bela tetap aman. Setelah menutup pintu, ia segera kembali ke kursi kemudi. Ia tidak lagi memikirkan kantor, tidak lagi memikirkan kondisi rumah tangganya, fokusnya kini hanya satu. Menembus jalan raya menuju rumah sakit terdekat secepat mungkin.

Di dalam mobil yang melaju kencang itu, Raka sesekali melirik ke arah Bela, bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya terjadi pada asistennya ini hingga ia ambruk di tengah jalanan kota yang keras.

1
Siti Amalia
mending bela sama putra
Suciyay
bela terlalu naif
Suciyay
anehhh...
Margareth Anastasia
hahahahahaha😭
Margareth Anastasia
merinding 🥶😵🤣
Fiola
saya suka cerita nya semangat Yaa author,☺
Fiola
sempat2nyaa 😭
Fiola
lbh suka putra plissss lbh sopnnnn
Fiola
ganteng😍
Fhahira
nexttt👍
Fhahira
novel terrr🥵🥵🥵
Nayla Atika
semangat thorr....🤗
Nayla Atika
the real badjingan 😤🙄
Nayla Atika
itu lu tau
Nayla Atika
cegillll😭
Lusiana Dewi
siapa yg GK luluh liat visual raka... saya suka visualnya 😁
Lusiana Dewi
visual Raka gntng abiezzz
Rini Antariksa
Kasian banget bela
Bintang
waduh melani selingkuh,,, raka selingkuh,, anaknya bela ternyata anaknya rakaa 😂🤭
Ruqayyah
Raka jadinya pilih siapa ya?? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!