Ditinggalkan ,dihina, dan dicap mandul, Azura kembali ke desa kerumah orang tuanya dengan hati hancur setelah 5 tahun pernikahan diceraikan suaminya . Namun saat hidupnya mulai bangkit, rahasia besar keluarga terungkap, ancaman, dan musuh berbahaya . Di tengah badai itu, Azura bertemu Rayyan ,duda kata dengan dua anak kembar dan luka masa lalu . Akankah Azura mempertahankan harga diri, keluarga, dan cintanya? Atau masa lalu kembali meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niskala NU Jiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Talak yang Dinanti
Satu Minggu telah berlalu. Lusa adalah hari dimana Dimas akan mengikrarkan janji suci dengan putri konglomerat. Selama dua hari terakhir, rumah ini selalu sepi hingga larut malam. Dimas dan ibunya sibuk menyiapkan pesta mewah Mereka berfikir Azura tidak mengetahui pernikahan Dimas. Dirumah besar dan megah itu tidak ada akses internet jadi tidak dapat mengetahui dunia luar. TV hanya bisa di tonton ketika ibu Ratih mertua Azura ada dirumah.
Mereka tak tahu bahwa dibalik kepatuhan palsunya, Azura sedang menyiapkan badai.
Tujuh hari terakhir, Azura kembali menjadi "istri sempurna". Ia memasak dengan telaten, menyetrika jas pengantin Dimas tanpa celana, dan selalu tersenyum lembut. Semua orang mengira Azura telah menyerah pada takdir. Padahal, setiap malam di kamar yang dingin, ia duduk di depan laptop jadulnya tanpa koneksi internet. Jemarinya lincah menyusun dua proposal terakhir.
Proposal itu adalah " hadiah perpisahan" yang sempurna. Dirancang secara jenius dengan analisis pasar yang tampak menyakinkan, namun di dalamnya terbenam bom waktu berupa risiko investasi tersembunyi. Proyek ini akan membuat Dimas merasa menjadi raja bisnis dalam sekejap, sebelum akhirnya terseret ke jurang kebangkrutan dalam dua tahun ke depan.
"Selamat menikmati kejutan jantung dariku, mas Dimas," bisik Azura dingin.
Sebenarnya Azura bisa membuat Dimas jatuh dalam sekejap tetapi Azura merasa itu terlalu mudah ,Dimas tidak akan merasakan sebuah rasa sakit, ketakutan, dan hinaan dan waktu dua tahun membuat Dimas jatuh tidak bisa bangun kembali.
Didalam tas kecil yang tipis yang bisa disembunyikan didalam baju gamisnya yang longgar, ia menyimpan semua dokumen penting ijazah asli, indentitas asli, rekening rahasia, ATM, dan buku nikah palsu yang selama ini memenjarakan ia didalam sangkar emas. Ijazah Azura tidak dilaminating nya jadi bisa dilipat menjadi kecil. Ia sudah memindai semua bukti . Kali ini , Ia tidak pulang sebagai korban.
Ia akan pergi sebagai pemenang.
Padahal, jauh di dalam dirinya, Azura tahu.. Ia sebenarnya mampu untuk melawan sejak dulu. Ia dari kecil sudah di ajarin oleh bapaknya ilmu bela diri begitu juga pada kakak dan adik adiknya. Tangannya cukup kuat untuk menjatuhkan Dimas dalam satu serangan walaupun tubuh Azura kecil. Namun cinta telah membuatnya lemah.
Malam itu, di sebuah ruang makan yang mewah, aroma sup panas memenuhi udara. Ibu Ratih menatap Azura dengan pandangan merendahkan.
Ruang makan dipenuhi aroma sup panas. Semua anggota keluarga duduk dengan angkuh, ibu Rini memandang Azura seperti melihat kotoran dilantai
"Aku tak habis pikir kenapa Dimas masih mempertahankanmu disini, wanita mandul. Kau hanya mengotori pemandangan saja," cibirnya tajam.
Azura hanya tersenyum.
"Maaf ,Ma. Saya hanya ingin melayani sampai mas Dimas bahagia."
Ucapan itu membuat ibu Ratih merasa telah benar - benar menginjak harga diri menantunya.
Dimas pun tak Sudi menatapnya, ia hanya meraih dua proposal yang diletakkan Azura di meja dengan angkuh. Matanya berbinar melihat isi proposal yang sempurna itu. Tak ada ucapan terima kasih, hanya senyum kemenangan yang tampak.
Inilah saatnya.
Azura berdiri, membawa mangkuk besar berisi sup yang masih mengepul. Tangannya sengaja ia buat sedikit gemetar. Saat melintasi Sarah, kakak perempuan Dimas yang tak kalah sombong...
Dan.. BRAK!
Sup panas itu tumpah ke tangan sarah
" AAAAAAARGH ! PANAS! SIALAN!' Sarah menjerit histeris saat kuah sup panas itu tumpah tepat di tangannya yang halus. Suasana meja makan langsung kacau. Ibu Ratih berteriak memanggil mbok ati untuk mengambil kotak P3K.
Azura menunduk, memasang wajah panik yang dibuat - buat. " Maaf, Kak.. Maaf, tangan saya licin ..m saya tidak sengaja..."
"TIDAK SENGAJA?! KAU MAU MEMBUNUH KAKAKKU?!" Dimas bangkit dan
PLAK!
Tamparan keras mendarat di wajah Azura. Namun Azura tidak menangis. Ia justru mengangkat wajahnya dan menatap Dimas dengan tatapan begitu dingin Dimas sempat tersentak mundur setengah langkah.
" Apa?! Kau berani menantangku dengan mata itu?!" Dimas yang gelap mata kembali melayangkan tinjunya.
BUK!
Tinju itu menghantam pipi Azura. Disusul tendangan di perut yang membuatnya tersungkur dilantai marmer. Satu kali, dua kali, tiga kali... Dimas meluapkan amarahnya. ibu Ratih pun ikut mencaci, menyebutnya pembawa sial.
Tetapi, disela rasa sakit itu, Azura tertawa kecil. Tawa yang terdengar mengerikan di tengah kekacauan itu.
"kalian sudah selesai?" suara Azura terdengar tenang, hampir seperti bisikan malaikat mautm
Dimas tertegun
"kau sudah gila,hah?!"
Azura bangkit perlahan. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya,tapi matanya menyala tajam.
"Mas Dimas... Bukankah lusa kau akan menikah lagi? Menjadi menantu Raja batu bara?"
Wajah Dimas memucat. " bagaimana kau tau.."
" kalau begitu ... talak aku sekarang juga."
Ruangan itu mendadak hening mencekam Dimas tertawa sinis. " Kau pikir aku bodoh? Kau ingin pergi setelah melukai kakakku ?" tidak akan!'
Azura menyipitkan mata, senyumnya berubah menjadi ejekkan. ' Oh, jadi kau takut? Kau takut aku akan datang ke pesta pernikahanmu lusa bersama wartawan dan membongkar bahwa pengantin pria yang agung masih lajang memiliki istri yang ia sekap di rumah?"
" Perempuan kurang ajar!"
Dimas kembali melayangkan tangan untuk memukul
Tetapi kali ini, gerakkan itu terhenti di udara, dengan kecepatan yang tak terbayangkan tangan kecil Azura menangkap pergelangan tangan Dimas dan memuntirnya sedikit. Dimas mengerang kesakitan, terkejut dengan kekuatan yang tak pernah ia sangka dimiliki istrinya.
Azura mendorong Dimas hingga pria itu terhuyung. " ceraikan aku, atau akan aku hancurkan pernikahanmu!"
Dimas gemetar marah.
"kau ingin menghancurkan hidupku!" kata Dimas. Azura menatap tajam Dimas. "kau yang sudah menghancurkan hidupku terlebih dulu."balas azura
"dan untuk mu Bu Ratih, selama ini kau menghinaku mandul? Apa selama ini kalian pernah membawa aku ke dokter untuk memastikan aku benar benar mandul? Atau anak kalian Dimas yang mandul sesungguhnya? Suara Azura
"lancang sekali kau Azura berkata seperti itu kepala ibuku," hardik Sarah
" ooh kau juga Sarah, usiamu sudah 30 tahun belum menikah, semoga kau juga mandul seperti hinaan yang kau ucapkan kepada ku,"
"hentikan , berani sekali kau mengutuk Kakaku mandul!" teriak Dimas
Emosi Dimas meledak hingga ke ubun- ubun. Ke angkuhannya sebagai pria terusik hebat.
" Dimas, jangan! Jangan terpancing! " ibu Ratih mencoba melerai, menyadari ada yang salah. Namun amarah Dimas sudah tidak bisa dibendung
" BAIK KAU INGIN BEBAS? AKU TALAK KAU! TALAK TIGA! PERGI DARI RUMAH INI SEKARANG JUGA! KAU BUKAN SIAPA- SIAPA LAGI!"
Hening
Azura memejamkan mata sejenak. Beban yang selama lima tahun ini menghimpit pundaknya mendadak hilang. Ia membungkuk dengan sangat sopan, seolah sedang melakukan penghormatan terakhir di atas panggung.
" terimakasih."
Tanpa membawa satu pun koper, Azura melangkah keluar hanya dengan pakaian lusuh yang melekat di tubuhnya.
Azura berhenti di gerbang besar rumah mewah itu. Tiba tiba mbok ati mendekati Azura dan memeluk Azura seperti anaknya. Mbok ati mendoakan Azura semoga bisa lebih baik lagi dan ingin memberikan uang untuk ongkos pulang, tapi Azura menolak karena Azura punya uang pegangan sendiri. Dan Azura berjanji kepada mbok ati bila Azura sukses Azura akan menjemput mbok ati.
mbok ati pun bahagia mendengarnya.
pintu gerbang besi itu tertutup di belakangnya dengan dentang yang keras. Azura berdiri di pinggir jalan, menatap langit malam yang luas, air matanya jatuh, namun kali ini bukan air mata penderitaan. Itu adalah air mata kemenangan.
Azura tersenyum.
"Permainan baru saja dimulai, mas Dimas."
ia menghapus sisa darah di bibirnya, memutar tubuh, dan melangkah mantap menuju kegelapan malam. Ia tidak lagi memiliki tempat untuk cinta, hanya ada satu tujuan : pembalasan yang elegan.