NovelToon NovelToon
Pengganti Yang Dipilih

Pengganti Yang Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ayyun

Olivia Nugraha, gadis 18 tahun yang baru lulus SMA, terpaksa menggantikan kakaknya, Olin, untuk menikah dengan Juna demi menjaga nama besar keluarga mereka. Ia mencoba melawan, namun Oma selalu selangkah lebih maju. Pernikahan tetap terjadi.

Sementara itu, keberadaan Olin masih menjadi tanda tanya. Benarkah ia kabur? Atau ada alasan lain di balik menghilangnya? Dan mengapa namanya kembali disebut saat ia resmi menjadi bagian dari dinasti?

Karena mungkin… Olivia tidak pernah benar-benar dipilih untuk menggantikan Olin, tapi ia dipilih karena seseorang sudah mengincarnya sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Ketika pandangan Olivia beralih dari map itu, matanya langsung bertemu dengan mata pria tersebut. Detik itu juga jantungnya seperti berhenti sejenak.

Pria itu tidak tampak terkejut. Justru sebaliknya—ia menatap Olivia dengan tenang, lalu tersenyum tipis. Senyum yang sulit diartikan. Bukan ramah, bukan pula mengejek. Lebih seperti seseorang yang memang sudah menunggu momen itu.

Olivia langsung merasa panik. Namun pria itu tidak mengatakan apa-apa. Ia berdiri perlahan dari kursinya, lalu dengan sengaja mengangkat map tipis di tangannya sedikit lebih tinggi.

Cukup lama. Cukup jelas. Seolah ingin memastikan Olivia benar-benar melihat tulisan di sudut map itu.

Oliana Nugraha.

Napas Olivia tercekat. Jadi ia tidak salah lihat. Semua yang ia pikirkan… benar.

Pria itu menurunkan mapnya kembali, lalu berjalan santai menuju pintu keluar restoran kampus itu. Seolah tidak ada yang terjadi. Seolah ia baru saja meninggalkan petunjuk… dan menunggu Olivia mengejarnya.

Dan Olivia benar-benar melakukannya. Tanpa berpikir panjang, ia berdiri begitu cepat hingga kursinya hampir terjatuh.

“Liv—?” Jesica yang masih sibuk memeriksa ponselnya menoleh kaget.

Namun Olivia sudah berlari keluar. Jesica hanya bisa menatap bingung. Kepalanya masih dipenuhi pertanyaan tentang screenshot yang hilang, email kosong, dan sekarang Olivia yang tiba-tiba kabur begitu saja.

Ia berdiri setengah bangkit. “Liv! Tunggu—”

Namun langkah Olivia sudah terlalu jauh. Jesica menatap pintu keluar dengan wajah kosong beberapa detik. Otaknya seperti membeku. Apa sebenarnya yang sedang terjadi?

Di luar restoran kampus, Olivia berlari menyusuri koridor. Matanya mencari sosok pria itu di antara mahasiswa yang lalu lalang. Ia melihatnya, di ujung lorong. Pria itu berjalan santai, tidak terburu-buru sedikit pun.

“Hey!” panggil Olivia.

Pria itu tidak berhenti. Olivia mempercepat langkahnya. Lorong itu semakin sepi semakin jauh ia berlari. Suara keramaian kampus perlahan menghilang, tergantikan oleh gema langkah kaki di lantai marmer.

“Hey! Tunggu!”

Akhirnya pria itu berbelok ke lorong samping yang lebih sunyi. Olivia mengikuti tanpa ragu. Namun begitu ia hampir sampai—tiba-tiba sebuah tangan menarik lengannya. Gerakannya cepat. Olivia tersentak kaget. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan refleks jatuh ke depan—namun ia tidak jatuh ke lantai. Ia jatuh… ke dalam dekapan seseorang.

Map itu terjatuh ke lantai dengan suara pelan. Olivia mendongak. Wajah pria itu sangat dekat sekarang, terlalu dekat. Mata mereka saling bertatapan. Mata tajam itu kembali menatapnya, lebih dalam dari sebelumnya.

Napas Olivia sempat tercekat. Aneh, sangat aneh karena di situasi seperti ini—di lorong sepi, ditarik paksa oleh pria yang nyaris tidak ia kenal—Olivia seharusnya merasa takut. Namun yang ia rasakan justru bukan itu. Tidak ada rasa terancam, tidak ada dorongan untuk menjauh.

Sebaliknya, ada sesuatu yang anehnya terasa… familiar. Pria itu masih memegang lengannya, menahan tubuh Olivia agar tidak jatuh. Ia menatap Olivia beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan,

“Kalau lu terusan ngejar kayak gini… lu bisa masuk masalah.”

Suara itu rendah, tenang. Olivia masih menatapnya, jantungnya berdetak tidak wajar.

“Map itu,” bisiknya. “Kenapa ada nama kakak gue?”

Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Olivia lebih lama. Lalu perlahan berkata,

“Karena kakak lu… tidak pernah benar-benar kabur.”

Tubuh Olivia mendadak terasa lemas. Kata-kata pria itu seperti menghantamnya tanpa peringatan. Kakaknya tidak pernah benar-benar kabur.

Untuk kesekian kalinya hari itu, lututnya hampir kehilangan tenaga. Tubuhnya condong ke depan, nyaris jatuh. Namun sebelum itu terjadi, tangan pria itu kembali menangkapnya. Ia menarik Olivia lebih dekat, menahan tubuhnya agar tetap berdiri.

Dekat sekali.Olivia bahkan bisa merasakan napas pria itu yang tenang, berbanding terbalik dengan napasnya sendiri yang kacau. Beberapa detik berlalu tanpa kata.

Olivia merasa seluruh tenaganya seperti menguap begitu saja. Kepalanya penuh pertanyaan, namun tidak ada satu pun yang tersusun rapi. Dengan suara pelan, hampir seperti bisikan, ia akhirnya bertanya,

“Lu… siapa?”

Pria itu tidak langsung menjawab. Ia justru mengubah posisi mereka. Dengan satu gerakan halus namun tegas, ia memutar tubuh Olivia hingga punggungnya bersandar pada dinding marmer lorong yang dingin.

Dingin itu merambat ke kulit Olivia. Sama dinginnya dengan tatapan pria itu. Pria itu berdiri tepat di depannya, cukup dekat hingga Olivia harus sedikit mendongak untuk menatap wajahnya.

Map yang tadi jatuh kini masih tergeletak di lantai di samping mereka.

“Gue?” katanya pelan.

Tatapan matanya tajam, seolah sedang mengukur reaksi Olivia. Lalu ia menjawab dengan nada yang tenang, namun sarat makna.

“Orang yang bakal bantu lu keluar dari masalah.”

Hening menggantung di lorong sepi itu. Namun sebelum Olivia sempat mengatakan apa pun lagi—langkah kaki seseorang tiba-tiba terdengar dari ujung lorong.

1
Paradina
semangat kakak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!