NovelToon NovelToon
Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cinta setelah menikah / Pernikahan Kilat
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: RaeathaZ

Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.

Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.

Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3

Pagi itu langit masih terlihat sedikit mendung setelah hujan deras yang mengguyur kota sepanjang malam sebelumnya. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, sementara embun tipis masih menempel di dedaunan taman yang berada di halaman depan rumah besar keluarga Callisto.

Rumah itu berdiri megah di kawasan perumahan elit yang cukup terkenal di kota. Bangunannya besar dengan desain modern yang elegan, dikelilingi pagar tinggi serta taman yang selalu terawat rapi. Dari luar, rumah itu terlihat seperti rumah sempurna milik keluarga yang bahagia.

Namun kenyataannya tidak selalu seperti itu.

Di dalam rumah tersebut, suasana pagi sudah mulai terasa sibuk.

Beberapa asisten rumah tangga terlihat berlalu-lalang menyiapkan sarapan di ruang makan, sementara suara televisi dari ruang keluarga menyiarkan berita hiburan pagi hari yang membahas berbagai kabar dari dunia entertainment.

Di salah satu kamar di lantai dua, Yusallia baru saja selesai bersiap-siap untuk berangkat kerja.

Ia mengenakan pakaian kerja yang sederhana namun rapi. Rambut coklat mudanya yang panjang dibiarkan tergerai rapi di belakang punggungnya, hanya sebagian kecil yang diselipkan ke belakang telinga.

Yusallia berdiri di depan cermin sebentar, memastikan semuanya sudah terlihat cukup baik sebelum ia mengambil tas kerjanya.

Ia sebenarnya tidak terlalu tidur nyenyak malam tadi.

Pikirannya masih sedikit teringat pada kejadian semalam.

Mobilnya yang tiba-tiba mogok di tengah hujan, pertemuannya dengan pria bernama Rionegro, dan perjalanan pulang yang terasa sedikit aneh namun juga menenangkan.

Yusallia bahkan masih bisa mengingat dengan jelas jaket yang pria itu berikan padanya agar ia tidak merasa terlalu kedinginan.

Memikirkan itu membuat Yusallia tersenyum kecil tanpa sadar.

Namun senyum itu perlahan memudar ketika ia mengingat sesuatu.

Jaket itu.

Ia baru menyadari bahwa tadi malam ia terlalu lelah sampai lupa membawa jaket itu ke kamarnya.

Yusallia sedikit mengernyit.

Sepertinya jaket itu masih berada di ruang tamu.

Ia menghela napas pelan sebelum akhirnya memutuskan untuk turun ke bawah.

Pintu kamarnya terbuka, dan Yusallia berjalan menyusuri tangga menuju lantai bawah rumah tersebut.

Namun baru beberapa langkah ia memasuki ruang keluarga, langkahnya langsung terhenti.

Di ruang keluarga itu sudah ada dua orang yang duduk di sofa.

Ayah dan ibunya.

Ayahnya sedang duduk sambil membaca koran pagi, sementara ibunya memegang tablet yang menampilkan beberapa berita industri hiburan.

Di meja ruang tamu, tepat di depan mereka, tergeletak sebuah jaket pria yang masih terlihat sedikit lembap.

Jaket milik Rionegro.

Yusallia langsung tahu bahwa masalah akan muncul.

Ibunya mengangkat pandangan ketika melihat Yusallia berdiri di sana.

Tatapan wanita itu langsung berpindah dari wajah Yusallia menuju jaket yang ada di meja.

“Yusallia.”

Suara ibunya terdengar datar, namun cukup tajam.

“Ini jaket siapa?”

Pertanyaan itu langsung membuat suasana ruangan terasa lebih tegang.

Yusallia berdiri diam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab.

“Teman.”

Jawaban singkat itu justru membuat ayahnya yang sejak tadi membaca koran menurunkannya perlahan.

“Teman?”

Nada suaranya terdengar sedikit tidak percaya.

“Kamu pulang hampir tengah malam tadi, lalu ada jaket pria basah di ruang tamu pagi ini, dan kamu hanya mengatakan itu milik teman?”

Yusallia menghela napas pelan.

Ia sebenarnya sudah terbiasa dengan cara bicara seperti itu.

“Tadi malam mobilku mogok,” jawabnya dengan jujur.

“Kemudian ada seseorang yang menolongku dan mengantarku pulang.”

Ibunya langsung menyilangkan tangan di dada.

“Seseorang?”

“Kamu bahkan tidak menyebut namanya.”

“Apa kamu benar-benar tidak berpikir bagaimana kelihatannya kalau orang melihatmu pulang tengah malam dengan pria yang tidak jelas?”

Yusallia sedikit mengernyit.

“Dia bukan orang yang tidak jelas.”

“Oh ya?” sahut ibunya cepat.

“Kalau begitu siapa dia?”

Yusallia terdiam beberapa detik.

“Namanya Rionegro.”

Ayahnya mengangkat alis sedikit.

“Rionegro?”

Ia terdengar seperti sedang mencoba mengingat sesuatu, tetapi tidak melanjutkan pikirannya.

Ibunya justru menghela napas panjang.

“Yusallia…”

Nada suaranya kini terdengar seperti seseorang yang sedang mencoba menahan kesabaran.

“Kamu sudah dua puluh delapan tahun.”

“Kamu adalah anak dari keluarga Callisto.”

“Kamu tahu betul bagaimana nama keluarga ini dipandang oleh orang lain.”

Ibunya berhenti sebentar sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih tajam.

“Tapi lihat dirimu.”

“Kamu pulang hampir tengah malam, membawa jaket pria yang bahkan kami tidak kenal.”

“Apakah kamu tidak bisa menjaga sikapmu sedikit saja?”

Yusallia menatap ibunya dengan ekspresi yang mulai berubah.

“Aku hanya ditolong.”

“Tidak ada yang salah dengan itu.”

Ayahnya kini ikut berbicara.

“Masalahnya bukan hanya itu.”

Ia meletakkan koran di meja sebelum menatap Yusallia dengan serius.

“Kamu selalu membuat keputusan yang berbeda dari keluarga ini.”

“Kamu menolak masuk ke dunia entertainment.”

“Kamu memilih menjadi dokter.”

“Kami sudah menerima itu.”

“Tapi sekarang kamu bahkan mulai membawa orang asing ke dalam kehidupanmu tanpa berpikir panjang.”

Yusallia merasa sesuatu di dalam dadanya mulai terasa sesak.

“Aku tidak membawa siapa pun ke dalam rumah ini,” jawabnya pelan.

“Aku hanya ditolong.”

Ibunya tertawa kecil tanpa humor.

“Kamu selalu punya alasan.”

Ia kemudian melanjutkan dengan nada yang lebih tajam.

“Coba lihat Damian.”

“Dia bekerja keras di dunia musik dan film.”

“Lihat Yasvera.”

“Dia bahkan sudah menjadi model internasional di usianya yang baru dua puluh satu.”

“Keduanya membawa nama keluarga ini semakin dikenal.”

Ibunya menatap Yusallia dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

“Sedangkan kamu?”

“Kamu justru memilih jalan hidup yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan keluarga ini.”

Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang menusuk.

Yusallia menggenggam tali tas di tangannya sedikit lebih erat.

“Aku tidak pernah meminta kalian untuk memahami pilihanku,” katanya pelan.

“Aku hanya ingin kalian menghormatinya.”

Namun ayahnya justru menggeleng pelan.

“Kami menghormati pilihanmu.”

“Tapi bukan berarti kami tidak bisa kecewa.”

Kalimat itu membuat suasana ruangan menjadi sunyi beberapa detik.

Yusallia menundukkan pandangan sebentar.

Ia sudah sering mendengar hal-hal seperti ini selama bertahun-tahun.

Namun entah kenapa pagi ini terasa sedikit lebih menyakitkan.

Akhirnya ia mengangkat wajahnya kembali.

“Aku harus berangkat kerja.”

Ibunya langsung menjawab dengan nada dingin.

“Tentu saja.”

“Kamu selalu lebih memilih rumah sakit itu daripada keluarga ini.”

Yusallia tidak menjawab.

Ia hanya mengambil jaket Rionegro dari meja.

Jaket itu kini sudah hampir kering.

Yusallia menggenggamnya sebentar sebelum berkata pelan,

“Aku akan mengembalikannya nanti.”

Ayahnya tidak mengatakan apa pun.

Ibunya juga tidak menjawab lagi.

Tanpa menunggu lebih lama, Yusallia berbalik dan berjalan menuju pintu depan rumah.

Begitu pintu terbuka, udara pagi yang dingin langsung menyambutnya.

Ia melangkah keluar rumah tanpa menoleh kembali.

Langkahnya cepat menuruni tangga menuju halaman depan.

Mobilnya masih berada di bengkel, jadi pagi ini ia harus menggunakan mobil lain yang ada di rumah.

Namun sebelum masuk ke mobil, Yusallia berhenti sebentar.

Ia menarik napas panjang.

Matanya menatap langit yang masih tertutup awan tipis.

Entah kenapa, perasaan di dalam dadanya terasa sangat berat.

Namun setelah beberapa detik, ia menghembuskan napas pelan dan membuka pintu mobil.

Hari ini ia harus tetap pergi bekerja.

Karena setidaknya di rumah sakit itu, tidak ada orang yang menilai dirinya hanya dari nama keluarga yang ia miliki.

1
Reilient
ditunggu lanjutannya
Rei_983
lanjutin
Ocean Blue
lanjutin ceritanya
Rose Ocean
lanjutin ceritanya kak
Reha Hambali
lanjutin ceritanya thorr
Riha Zaria
lanjutin ceritanya thor
Reezahra
lanjutin thorr
Zariava
lanjutin thor
Reatha
lanjut thorr
Reazara
lanjutin kak
Zahira
lanjutin thor
Zahra
lanjutin kak
Ria08
lanjut kak
Reza03
lanjut thor
Riza09
lanjut
Rei_Mizuki98
lanjut thor
Rose Mizuki
lanjut💪
Rieza05
lanjut kak
Reva456: lanjut
total 1 replies
@RearthaZ
boleh kok, kak
Unparalleled: haii aku mampir nih..
btw semangat okee buat The continuation of the story nyaaa🤩
total 1 replies
sayang kamu
gw nyicil bacanya ya min bagus gw baca setiap hari 1 bab krn sibuk sendiri di realita gk bisa maraton semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!