Ren cuma pegawai kantoran biasa.
Setiap hari, ia mengurus dokumen para Awakened sambil berharap bisa pulang tepat waktu. Tapi setelah sebuah insiden, hidupnya berubah total.
Ia mengalami Awakening … dan mendapatkan kemampuan paling aneh yang pernah ada:
"Tidak Melakukan Apapun."
Kekuatan yang terdengar payah. Tidak berguna. Bahkan memalukan.
Masalahnya, kemampuan itu mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Langkahnya stabil. Tidak ada beban ragu barang satu gram pun. Ia melompat santai masuk menempatkan diri tepat ke jantung pusaran badai. Ke titik tengah kerumunan jubah merah porselen.
Beberapa kloningan humanoid itu menyadari kehadirannya. Mereka memutar engsel leher secara tidak wajar. Menerjang ke arah Chen dari empat penjuru arah. Cakar-cakar memanjang siap menguliti.
Chen mematung. Diam sepenuhnya. Ia menghisap ujung rokoknya sedalam mungkin. Bara apinya menyala semakin terang melawan cahaya matahari.
Tepat saat ujung kuku kotor itu hampir menyentuh serat kemejanya, sebuah ledakan getaran masif meletus memecah titik pijakannya.
Pusaran udara merapat kasar. Hukum gravitasi ditekuk paksa di sekitar tubuhnya.
Gelombang dorongan kinetik kasat mata menyapu melingkar dalam satu kedipan. Sangat brutal. Terlalu telak.
Ratusan tubuh jubah merah itu terangkat serentak ke udara. Terhempas deras bertabrakan bagai tumpukan sekrup logam rongsokan yang menghantam kerasnya tegangan permukaan air kolam.
Dampak visualnya gila. Momentum mereka hancur lebur diremukkan udara kosong.
Bunyi tulang rusuk patah bergema tumpang tindih. Tubuh-tubuh kloningan itu terbanting kasar mencium aspal kasar, menabrak tiang listrik, dan meremukkan sisa kap mesin mobil polisi lapis baja.
Semua pergerakan kloningan mendadak berbalik arah. Sisa gerombolan yang baru merangkak keluar mulai memutar balik tubuh pucat mereka. Bingung merespons anomali gravitasi.
Jauh di batas belakang garis parameter tempur, Ren mengobservasi pertunjukan itu dari balik perlindungan bagasi mobil.
Ia berdiri malas sambil memegang kaleng kopinya yang sudah mendingin separuh. Benda aluminium ini benar-benar penahan jangkar realitasnya.
Mata lesunya merekam sisa-sisa efek sapuan badai Chen tanpa emosi berlebih.
Aku tidak tahu kenapa ia begitu sinis kepadaku, batin Ren perlahan, memproses memori beberapa menit lalu. Seolah aku pelakunya.
Ujung jarinya mengetuk pola tak beraturan di dinding kaleng.
Namun setidaknya aku membantunya?
Ekor matanya tiba-tiba menangkap distorsi cahaya liar dari arah titik mati.
Bukan dari arah pabrik. Namun dari atas tumpukan kontainer usang di sayap kanan barikade.
Tiga sosok jubah merah berhasil merayap lolos dari sapuan gelombang Chen. Mereka memanjat susunan besi berkarat itu layaknya serangga mutan. Merangkak secepat kilat.
Salah satu makhluk melepaskan cengkeramannya dari dinding baja. Terjun bebas melesat membelah udara panas.
Aroma amis darah hitam campur cairan pengawet kamar mayat langsung menyengat ganas indera penciuman Ren. Bau ini merobek bau ozon dari pedang energi.
Topeng porselen penuh retakan halus itu hanya berjarak hitungan sentimeter dari rongga matanya.
Ren sama sekali tidak bergeser panik. Ia hanya memiringkan lehernya menakar sudut pandang.
Bola matanya memindai santai detail menjijikkan di balik kain jubah merah yang terkoyak. Permukaan kulit pucat penuh pola jahitan kawat kasar. Otot sintetis keabu-abuan yang membesar menembus jaringan kulit luarnya. Semuanya terekspos terang di bawah sinar matahari.
"Ternyata begini sosokmu kalau di siang bolong, huh." Ren bergumam. Suaranya datar nyaris tanpa intonasi peduli.
Ia menatap langsung ke dalam sepasang lubang kegelapan di balik topeng porselen retak tersebut.
"Kalau dilihat dari fitur fisik kalian, mungkin kalian kloningan?" tebaknya kasual. Menyimpulkan data di otaknya tanpa beban ancaman.
Salah seorang personel bersenapan laras panjang yang telat menutup barisan mendadak menoleh horor.
Wajah petugas itu kehilangan sirkulasi darah. Urat di sekitar rahangnya menegang kencang.
"Awas!"
Jeritan petugas itu melengking tinggi. Membawa keputusasaan murni.
Cakar tiga jari berlapis paduan logam karatan merobek angin. Mengayun cepat berniat menebas habis sisi dada dan leher Ren.
Momentum benturan tercipta nyaring. Suaranya menyakitkan telinga.
Namun bukan bunyi daging segar yang dikoyak paksa. Bukan pula bunyi tulang rusuk ganda yang diremukkan tekanan. Melainkan dengungan aneh tabrakan benda padat.
Postur Ren tidak terdorong seinci pun dari aspal. Sepatunya mengakar kokoh.
Tangan cakar mengerikan itu terhenti kaku di ruang hampa. Membeku seakan menabrak tembok benteng kasat mata tepat di luar serat pakaian milik Ren.
Cairan kopi di dalam genggaman tangan kanannya bahkan tidak berkurang ritme riaknya sedikit pun. Sepenuhnya tenang.
Tangan kiri Ren dengan malas masuk menyelinap ke dalam saku celana bahan hitamnya. Menyembunyikan telapak tangannya dari sengatan matahari.
Personel kompi di sekitar titik itu terpaku beku. Jantung mereka berhenti berdetak sesaat. Bola mata mereka membesar memproses informasi kontradiktif.
Gerombolan monster biologi yang tadi sukses mengobrak-abrik barisan elite mereka dengan mudah, kini gagal menggores lengan seorang pegawai administrasi AFC. Usaha cakar itu tampak sangat menyedihkan.
Ren menoleh santai ke arah petugas pucat yang meneriakinya sedetik lalu.
Sebuah senyum profesional terekam jelas di bibirnya. Kaku. Sekadar memenuhi standar layanan antarsesama divisi keamanan tanpa harus menunjukkan emosi nyata.
"Aku baik-baik saja."
Ren menyesap sedikit ampas kopi terakhirnya dengan tenang. Matanya kembali melirik sesaat pada monster yang tersangkut di area pertahanannya.
"Kalian urusi saja para gerombolan kloningan itu."