Kaniya, seorang wanita muda yang berani, menolak perjodohan yang diatur oleh orang tuanya. Dia kabur dari rumah dan mencari perlindungan di perusahaan tempatnya bekerja. Di sana, dia bertemu dengan atasannya, Agashtya, yang juga kabur dari perjodohan orang tua. Mereka berdua bekerjasama untuk menjaga rahasia masing-masing, tapi suatu malam, mereka tak sengaja tidur bersama.
Beberapa bulan kemudian, mereka berdua terkejut ketika mengetahui bahwa orang yang dijodohkan oleh orang tua mereka tak lain adalah mereka sendiri. Kaniya dan Agashtya harus menghadapi kenyataan bahwa mereka telah jatuh cinta, tapi adakah kesempatan bagi mereka untuk bersama? Dan apa yang terjadi ketika adik mereka, Bintang dan Shanaya, juga saling jatuh cinta satu sama lain?
Kaniya dan Agashtya duduk di ruang kantor, mencoba memahami situasi mereka.
"Apa bapak percaya ini?" tanya Kaniya, suaranya hampir tidak terdengar
Agashtya menggelakkan kepalanya. "Saya tidak tahu apa yang harus dikatakan. Aku tidak pernah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Wilis , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meeting Berujung Jebakan
Meeting akan segera dimulai. Orang-orang penting yang berkolega bisnis dengan Wijaya's New Era Group sudah berdatangan di aula Green Hyatt hotel's.
Ada yang tengah berbincang ringan, ada yang tengah menikmati hidangan yang telah disediakan, dan ada pula yang hanya memandang kagum Kaniya.
"Wah...gak disangka selain cantik dia juga punya IQ yang bagus, pantas saja pak Agashtya menjadikannya sekretaris..." Cicit salah satu bos dari perusahaan lainnya
"Iya bener banget. Gadis semuda itu sudah bisa menguasai ilmu perbisnisan sejauh ini..." Imbuh salah satu kolega bisnis Agashtya lainnya
"Tapi saya jadi penasaran sama gadis itu. Kayak gak mungkin dia berasal dari keluarga biasa. Mana mungkin bisa punya pengalaman yang mencakup luas seperti itu bahkan gayanya pun elegan..." Timpal kolega bisnis Agashtya lainnya
Sementara itu Agashtya dengan bangga memperkenalkan Kaniya kepada seluruh kolega bisnisnya yang hadir malam ini pada meeting penting kali ini.
"Hello Mr. Glen Hamilton. Nice to meet you again in a big meeting like this..." Ujar Agashtya sembari berjabat tangan dengan kolega penting dalam meetingnya kali ini
"Oh hello Mr. Agashtya Wira Wijaya. Yes, nice to meet you too again. Can we start the meeting? Oh yes, who is this beautiful girl? Is she your wife?" Sahut Glen sembari membalas jabatan tangan Agashtya
"Oh yes, this is my secretary, Kaniya Sari Dewi Permana. Ok just start the sooner the better..." Jawab Agashtya yang memperkenalkan Kaniya pada Mr. Glen Hamilton
"Oh sorry, I thought she was your wife because your's look so good together..." Sahut Glen Hamilton
Agashtya tampak salah tingkah dengan ungkapan Mr. Glen Hamilton yang terlontar barusan. Begitu pula Kaniya yang pipinya memerah kembali.
Agashtya dan Kaniya berinteraksi dengan Mr. Glen Hamilton, seorang kolega asal Australia, dengan lancar dan profesional.
"Hello sir, nice to meet you. Let me introduce myself, Kaniya Sari Dewi Permana. I am Mr. Agashtya's new secretary, maybe only about 4 months now..." Ucap Kaniya dengan senyum manis.
Mr. Glen Hamilton tersenyum, "Ah, nice to meet you too, Kaniya. You're doing a great job, I can see..."
Agashtya menambahkan, "Yes, Kaniya is one of our best assets. She's been doing a great job handling my schedule and meetings..."
Kaniya merasa pipinya memerah, "Terima kasih, pak Agashtya. Saya hanya melakukan tugas saya..."
Mr. Glen Hamilton tertawa, "Ah, modesty is a virtue, Kaniya. I'm sure you're doing a great job..."
Sherly yang berdiri di dekatnya, tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya.
'Gak bisa dipercaya, Kaniya bisa menarik perhatian Mr. Glen Hamilton,' gumamnya dalam hati.
Agashtya dan Kaniya melanjutkan perbincangan dengan Mr. Glen Hamilton, membahas tentang kontrak kerjasama antar perusahaan mereka.
Sementara itu, Sherly terus memikirkan rencana untuk menjatuhkan Kaniya dan mendapatkan Agashtya.
Tak hanya perusahaan yang mengadakan meeting kontrak kerjasama saja yang hadir dalam meeting besar malam ini. Bahkan perusahaan lainnya yang berada di bawah naungan Wijaya's New Era Group juga turut hadir.
Sherly pun juga hadir dalam acara ini sebagai putri dari pak Arlan Pratama tentunya. Ia tampil agak sedikit berbeda malam ini saat mendampingi sang ayah.
Tadinya papa Sherly tak mengizinkan Sherly ikut dalam acara meeting besar ini. Namun Sherly terus mendesak papanya itu agar diajak dalam acara tersebut.
Tentu ada tujuan khusus yang Sherly inginkan dalam hal ini. Untuk apa dia harus membujuk rayu papanya agar diizinkan ikut dalam acara besar seperti ini.
'Ok Kaniya...sebelum-sebelumnya loe boleh aja menang, tapi kali ini gue yang bakalan menang. Puas-puasin aja sekarang loe ketawa haha...hihi...karena sebentar lagi gue bakalan ngedapetin Agashtya seutuhnya dan disaat gue jadi nyonya Agashtya loe bakal gue tendang dari PT. Wijaya's New Era Group selamanya...' Ucap Sherly dalam hati dengan senyuman licik terukir dibibirnya
Agashtya dan Kaniya berhasil menyelesaikan perbincangan dengan Mr. Glen Hamilton, dan kontrak kerjasama antar perusahaan mereka pun berhasil ditandatangani.
Sherly yang semakin cemburu, mulai mencari kesempatan untuk menjatuhkan Kaniya.
Saat Agashtya dan Kaniya sedang berjalan meninggalkan ruang pertemuan. Sherly mendekati Devan, seorang mitra bisnis Agashtya, dan membisikkan sesuatu di telinganya.
Devan tersenyum licik, "Aku bantu kamu, Sherly. Agashtya akan menjadi milikmu seutuhnya malam ini..."
Kaniya yang tidak menyadari apa yang sedang terjadi, ia terus berjalan di samping Agashtya.
"Pak Agashtya, saya rasa kita harus segera menuju ke acara selanjutnya."
Agashtya tersenyum, "Baik, Kaniya. Saya siap."
Agashtya dan Kaniya berjalan menuju ke acara selanjutnya, sementara Sherly dan Devan mulai menjalankan rencana mereka.
Devan mendekati Agashtya dan mengajaknya bersulang segelas anggur merah.
"Pak Agashtya, mari kita bersulang untuk kontrak kerjasama yang berhasil kita tandatangani."
Agashtya yang tidak menyadari bahaya, menerima tawaran Devan dan menengguk anggur merah itu.
Sherly tersenyum licik, "Sekarang, Agashtya akan menjadi milikku..."
Tiba-tiba saja kepalanya menjadi berdenyut tak karuan bahkan pandangannya pun menjadi buram.
Disaat yang bersamaan pula Devan mulai melanjutkan rencana berikutnya yaitu berusaha mengalihkan perhatian Kaniya dan Alex.
Agashtya berjalan menuju ke toilet, kepalanya berdenyut-denyut, tubuhnya terasa panas. Dia langsung mengguyur wajahnya dengan air keran, mencoba menghilangkan efek obat yang mulai merasuk.
Tiba-tiba, Sherly muncul di depannya, senyum licik terukir di wajahnya.
"Sherly? Ngapain loe disini?" Tanya Agashtya, suaranya mulai tidak stabil.
Sherly mendekati Agashtya, gaunnya yang terbuka membuat Agashtya merasa tidak nyaman.
"Aku kesini cuma mau bantu kamu aja kok pak Agashtya yang terhormat. Maaf kalau aku terpaksa gunain cara kotor seperti ini buat dapetin kamu, soalnya kamu susah banget digapai..." Bisik Sherly, mencoba menggoda Agashtya.
Agashtya langsung mendorong Sherly, "Gila kamu! Enyah dari hadapanku sekarang juga! Arggh..."
Sherly terjatuh ke lantai, tapi Agashtya tidak peduli. Agashtya langsung menelepon Kaniya.
"Halo...Kaniya tolong saya, sekarang juga ditoilet ajak Alex ya, cepat!"
Sherly yang sudah kembali berdiri, kembali menggerayangi tubuh Agashtya.
"Kamu mau minta bantuan si curut itu? Gak akan berhasil sayang...mending kamu sama aku aja aku bakal bikin kamu bertekuk lutut dihadapanku malam ini sayang..."
Agashtya semakin keras menolak, "Minggir! Kaniya! Tolong..."
Tiba-tiba, Alex dan Kaniya muncul di depan pintu toilet, wajah mereka tergopoh-gopoh.
"Kaniya...Kaniya...tolong saya Kaniya, saya dijebak..." Ucap Agashtya, suaranya mulai lemah.
Kaniya dan Alex langsung bergerak walaupun sempat dihadang oleh Devan. Kaniya menopang Agashtya, sementara Alex menghadapi Sherly dan Devan.
Alex menghajar Devan dengan keras, pukulan demi pukulan menghantam tubuh dan wajahnya.
"Bugh! Bugh! Bugh!" Suara pukulan yang keras membuat Devan terjatuh ke lantai, wajahnya babak belur, darah mengalir dari hidungnya.
"Akh...ampun pak Alex, saya janji gak bakalan lagi ganggu pak Agashtya dan orang-orangnya. Tolong ampuni saya pak. I...ni semua dia dalangnya pak Alex, hukum saja dia pak..." Devan memohon, dengan suaranya yang sudah melemah.
Alex berhenti menghajar Devan, wajahnya merah karena kemarahan.
"Argh...ok kali ini loe gue ampuni. Tapi inget lain kali gue gak bakalan kasih loe pengampunan!" katanya dengan nada yang tegas.
Alex menatap Sherly dengan mata yang menyala, "Satu lagi loe jangan kira loe aman ya. Tunggu tanggal mainnya besok dikantor..."
Sherly yang berdiri di sebelah Devan, wajahnya memucat, dia tahu bahwa dia telah membuat kesalahan besar.
Alex kemudian berjalan menyusul Kaniya dan Agashtya menuju mobilnya.
"Bu Kaniya, sebaiknya anda bawa mobilnya menuju apartemen pak Agashtya biar saya yang dibelakang bersama bapak..." katanya dengan nada yang tegas.
Kaniya menyanggupi perintah Alex, "Baik Pak..."
Dia keluar dari dalam mobil dan beralih pada kursi kemudi, sementara Alex duduk di belakang bersama Agashtya yang masih terpengaruh efek obat yang diberikan oleh Sherly.
Kaniya mengendarai mobil dengan laju kecepatan yang tinggi, menuju apartemen Agashtya di kawasan elite. Alex memantau keadaan Agashtya, memastikan bahwa dia aman.
Bersamboo dulu ya...