Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3 - Beautiful
Jam pulang kerja sudah lewat, tapi pikiranku masih dipenuhi dengan kejadian pagi tadi. Tatapan Henry di dalam lift seakan masih menempel di kepalaku, membuat jantungku berdetak lebih cepat setiap kali aku mengingatnya.
Aku menyalakan motor, berusaha menghirup lega udara sore. Angin menerpa wajahku sepanjang jalan, sedikit membantu meredakan gundah yang mengganggu sejak tadi.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
“Krik… krik…”
Suara aneh terdengar dari belakang. Aku menoleh, lalu memperlambat laju motor.
“Mbak, ban-nya kempes!” seru seorang pria dari atas motornya ketika melewatiku.
Aku buru-buru menepi. Begitu kuturunkan standar dan kulihat ban belakang, benar saja—kempes. Napasku terhembus keras tanpa sadar.
“아 뭐야? 어떻게? (Ah, apa-apaan sih? Gimana ini?)” rutukku kesal.
Aku menatap sekeliling. Jalanan mulai sepi, dan bengkel sama sekali tidak terlihat.
“Bagaimana aku pulang sekarang?” gumamku panik.
Belum sempat aku berpikir lebih jauh, sebuah mobil berhenti tepat di depanku. Kaca jendela perlahan turun, menampilkan wajah yang begitu kukenal.
Henry.
“Lili?” panggilnya sambil mencondongkan tubuh ke arah jendela. “Ada apa?”
Hanya Henry yang memanggilku Lili. Entah kenapa, menurutnya nama itu lebih manis. Aku selalu membiarkannya begitu, meski kadang membuatku salah tingkah.
“Ban motorku kempes, Kak.” jawabku pelan.
Seperti biasa, di luar kantor aku memanggilnya Kakak. Begitulah kesepakatan kami.
Henry segera menepikan mobilnya di sampingku lalu turun. Ia jongkok, meneliti ban motorku dengan serius. “Kenapa bisa kempes?” tanyanya.
“Nggak tahu. Mungkin kena paku,” sahutku sambil mendesah. “Kenapa harus sekarang sih? Padahal aku belum sampai rumah.”
Henry menghela napas. “Aku panggil montir langgananku, ya. Nanti kamu pulang sama aku aja.”
“Eh, jangan!” aku refleks menolak.
Keningnya berkerut. “Kenapa?”
“Kalau Mama dan Papa tahu… bisa gawat. Kakak kan calon suaminya Kak Ana.” Suaraku melemah di akhir kalimat, tapi Henry jelas mendengarnya.
Dia terdiam sesaat sebelum tersenyum tipis. “Ah… jadi kamu udah tahu, ya?”
“Tahu lah. Mama bilang semalam waktu makan malam.” jawabku jujur.
Henry menatapku penuh selidik. “Respon Ana gimana? Dia terima?”
Aku balik menatapnya. “Kenapa? Kakak berharap Kak Ana terima?”
“Nggak.” Jawabannya tegas, membuatku membeku.
Aku tercekat. Semua orang tahu Ana selalu jadi pusat perhatian para pria, wanita yang terlihat sempurna di mata mereka. Tapi Henry? Dia tidak menyukainya?
“Ayo jawab, Ana terima nggak?” desak Henry.
“Nggaklah. Kak Ana kan sukanya sama Kak Julian.” ucapku begitu saja tanpa berpikir panjang.
Ups! Bibirku refleks mengucapkan sesuatu yang seharusnya tidak boleh keluar. Aku sudah berjanji kepada Ana untuk tidak membocorkan rahasianya. Kenapa justru sekarang, di depan Henry, aku melanggarnya?
“Ah… jadi gitu ya? Syukurlah.” Henry tersenyum lega.
Aku menatapnya heran. “Kenapa Kakak malah bersyukur?”
“Karena aku dan Ana nggak akan menikah.”
Aku terbelalak. “Masa? Tadi malam aja Mama bersikeras Kak Ana harus nikah sama Kakak.”
Henry menghela napas panjang. “Mamaku juga bilang begitu. Tapi kalau aku dan Ana nggak saling suka, kemungkinan kami menikah kecil, kan?”
“Entahlah. Mama aja keras kepala banget.” Aku mengangkat bahu, malas berdebat.
Henry mendadak menoleh padaku. “Kalau kamu gimana?”
“Hah? Maksudnya?” aku pura-pura tidak paham.
“Aku penasaran. Kamu setuju nggak kalau aku jadi suaminya Ana? Jadi kakak iparmu?”
Jantungku langsung berdegup kencang. Tentu saja tidak! Bagaimana aku bisa melihat orang yang aku sukai berdiri di pelaminan bersama kakakku sendiri? Menjadi suami Ana, lalu otomatis menjadi kakak iparku. Itu mimpi buruk.
“Nggak tahu.” jawabku singkat, bernada sinis.
“Kok nggak tahu sih?” Henry mengernyit.
“Emang pendapatku penting? Aku setuju atau nggak, Mama dan Papa nggak akan peduli. Kakak tahu sendiri kan gimana mereka ke aku.” Suaraku melemah, bercampur getir.
Henry terdiam. Wajahnya seolah menyesal sudah menyinggung hal itu.
Aku buru-buru mengalihkan topik. “Ah, kenapa malah bahas ini sih? Ban motorku gimana?”
Henry langsung menyalakan ponselnya. “Aku telepon montir sekarang.”
Aku mengangguk, lalu duduk termenung di pinggir jalan sambil menatap motor kesayanganku. Tak lama kemudian, Henry menutup telepon.
“Ayo tunggu di mobilku aja.” ajaknya.
Aku menggeleng cepat. “Nggak, aku di sini aja. Nanti motorku ilang lagi.”
Henry menatapku dalam-dalam. “Seberharga itu ya motor ini?”
“Tentu aja. Motor ini udah nemenin aku bertahun-tahun, ke mana pun aku pergi.”
Henry tersenyum tipis. “Aku iri sama motormu ini.”
Aku mengerutkan kening. “Apa?”
“Nggak apa-apa.” Ia buru-buru mengalihkan pandangan ke jalan.
Apa maksudnya Henry iri dengan motorku?
Tak lama, montir datang. Henry menjelaskan kerusakan ban, sementara aku menyerahkan kunci motor. Montir itu kemudian membawa motorku ke bengkel.
“Ayo.” ucap Henry sambil menunjuk mobilnya.
Aku terpaksa masuk. Duduk di kursi depan, tepat di sampingnya, sambil memeluk helmku erat-erat. Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Udara di dalam mobil terasa canggung, penuh kata-kata yang tidak terucap.
“Sampai gerbang aja, Kak.” ucapku saat mobil hampir memasuki kawasan kompleks rumahku.
“Kenapa?” Henry menoleh sebentar.
“Dibilang aku nggak mau Mama dan Papa tahu.”
“Sebenernya nggak apa-apa kan kalau calon kakak ipar nganterin adik ipar?”
Aku menoleh cepat. “Kamu bukan kakak iparku!” seruku refleks.
Henry menatapku bingung. “Apa?”
“Lupain aja.” jawabku cepat, menyesal sudah terlalu emosional.
Mobil Henry akhirnya berhenti di depan gerbang kompleks. Aku buru-buru keluar. “Makasih.”
Henry hanya mengangguk, dan aku segera menutup pintu mobilnya. Setelah menyapa satpam kompleks, aku berjalan masuk dengan langkah cepat, berusaha menenangkan hatiku yang kacau.
“Kamu udah pulang? Kok motornya nggak kedengeran?” tanya Mama begitu aku masuk rumah.
“Motorku bannya kempes. Aku tinggal di bengkel, terus pulang sama temenku. Motornya berhenti di gerbang depan.” jelasku, mencoba terdengar biasa saja.
“Temenmu yang mana?” Mama menatapku penuh selidik.
Deg! Dadaku langsung mencelos. Kalau sampai Mama tahu yang nganterin aku Henry…
“Temen kantorkulah. Udah ah, aku mau mandi.” Aku cepat-cepat berlari menaiki tangga ke lantai dua, meninggalkan Mama yang masih memandang curiga.
Di dalam kamar, aku menjatuhkan tubuhku ke atas ranjang, menatap langit-langit dengan perasaan campur aduk. Sungguh, hari ini terlalu melelahkan.
Setelah mandi, aku duduk di tepi tempat tidur. Rambutku masih sedikit basah, dan udara sore yang masuk lewat jendela membuatku merinding. Tapi bukan itu yang membuatku gelisah. Pikiranku kembali melayang ke kejadian hari ini—tatapanku dan tatapan Henry di dalam lift, senyumnya yang jarang sekali muncul, juga kemunculannya yang tiba-tiba saat ban motorku kempes.
Henry.
Entah sejak kapan, sosok itu selalu ada untukku. Dulu, ketika Papa hanya mengutamakan Ana, aku yang selalu berada di sisi bayangan merasa begitu kekurangan. Tapi ada Henry. Dia yang kerap menolongku, yang tak pernah membiarkanku sendirian. Mungkin di situlah awal mula aku mulai menyukainya.
Saat ia pergi kuliah ke luar negeri, aku merasa kehilangan. Seolah sebagian dunia ikut kosong. Untungnya, saat itu aku mulai menyukai Korea, jadi perasaan itu sedikit teralihkan. Namun nyatanya, sampai sekarang pun, bayang-bayang Henry masih menempati ruang di hatiku.
Kring… kring…
Lamunanku terhenti. Ponselku berdering. Nama di layar membuat mataku melebar.
Henry.
Jantungku berdegup tak karuan. Kenapa dia menelponku? Ada apa?
Dengan ragu, kugeser tombol hijau. “Halo.”
\- Halo, Lili.
Suara itu membuatku refleks menelan ludah. “Ada apa, Kak?”
\- Ban motormu udah ditambal. Motornya udah bisa diambil.
“Oh… iya. Besok aku ambil setelah pulang kerja. Kakak share aja lokasi bengkelnya.”
\- Iya, nanti aku kirim.
“Udah gitu aja, Kak?” tanyaku, mencoba terdengar biasa.
\- Iya… eh, kamu lagi apa?
Aku terdiam sejenak. Aneh. Kenapa Henry tiba-tiba menanyakan itu?
“Nggak ngapa-ngapain. Cuma lagi lihat sosmed.” jawabku cepat, meski sebenarnya aku sedang memikirkannya.
\- Kamu udah buat proposal marketing ide produk barumu?
“Udah, Kak.”
Sejenak hening. Hanya suara napasnya yang samar terdengar. Lalu, suaranya kembali terdengar, kali ini lebih serius.
\- Lili, aku akan berusaha agar aku nggak jadi kakak iparmu.
Aku terperanjat. “Apa? Kenapa Kakak tiba-tiba ngomong kayak gitu?”
\- Karena aku nggak mau jadi kakak iparmu. Aku maunya…
Hatiku berdegup keras. “Kakak maunya apa?” tanyaku hati-hati.
\- Ehm… aku nggak mau dikira nepotisme karena adik iparku kerja di perusahaanku.
Aku mendengus kecil. “Hah? Ya jangan bilang aku adik iparmu dong.”
Henry tertawa singkat di seberang sana, tapi tawanya terdengar getir.
\- Lili, apa kamu berharap aku jadi kakak iparmu?
Aku terdiam. Pertanyaan itu seperti pisau bermata dua. Kalau kujawab iya, maka aku menyakiti diriku sendiri. Kalau kujawab tidak, maka aku harus mengakui alasan yang kusimpan rapat-rapat.
\- Lili…
“Aku nggak tahu, Kak.” suaraku terdengar pelan. “Udah ya, Kak. Aku mau istirahat.”
Tanpa menunggu balasannya, aku menutup telepon.
Hening kembali menguasai kamar. Kuletakkan ponsel di meja kecil di samping tempat tidur, lalu rebahkan tubuhku di atas kasur. Tapi mataku tak kunjung terpejam.
Kata-kata Henry terus terngiang di kepalaku. “Aku akan berusaha agar aku nggak jadi kakak iparmu.”
Apa maksudnya? Benarkah hanya soal nepotisme… atau ada arti lain di balik ucapannya?
Aku memejamkan mata, berusaha menenangkan diri. Tapi jantungku masih saja berdetak tak karuan.
Dan sore itu, untuk kesekian kalinya, aku sadar—perasaanku pada Henry tidak pernah benar-benar hilang.