NovelToon NovelToon
Bayang Rembulan

Bayang Rembulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:792
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di tengah kekacauan lima klan bela diri yang saling berebut pengaruh dan rahasia kuno, lahirlah sebuah organisasi bernama bayangan kegelapan. Mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang dilatih untuk menjadi mesin kematian tanpa emosi, sering kali ditugaskan untuk menghabisi para petinggi klan yang dianggap mengganggu keseimbangan atau menyimpan kekuatan terlarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 - DEBU JALANAN DAN ANGIN SELATAN

Lembah Kabut Abadi kini hanyalah sebuah luka menganga di lereng gunung. Api yang membakar paviliun utama mulai padam, menyisakan kerangka kayu hitam dan aroma kematian yang perlahan tertutup salju. Kaelan berdiri di gerbang batu yang retak, menatap ke arah jalan setapak yang menurun menuju peradaban.

Di sampingnya, Rian tampak gemetar. Bukan karena dingin, tapi karena rasa tidak percaya. Selama tujuh tahun, dunianya hanya sebatas dinding batu dan cambukan penjaga. Kini, langit biru yang membentang luas di hadapannya terasa menakutkan sekaligus memabukkan.

"Kita benar-benar pergi, Kaelan?" tanya Rian, suaranya hampir tertutup desau angin.

Kaelan tidak menoleh. Matanya yang merah menatap cakrawala. "Tidak ada lagi tempat untuk kembali. Mulai sekarang, kau bukan lagi budak, dan aku bukan lagi subjek eksperimen."

Kaelan merobek sepotong kain hitam dari jubahnya, lalu melilitkannya ke kepala untuk menutupi rambut putihnya yang terlalu mencolok. Di dunia luar, rambut itu adalah tanda kematian; di kota-kota besar, itu adalah undangan bagi para pemburu hadiah.

Mereka mulai berjalan. Kaelan bergerak dengan langkah yang ringan, hampir tanpa beban meski bahunya masih dibalut es tipis untuk menahan pendarahan dari luka duel sebelumnya. Rian mengikuti dengan tertatih-tatih, membawa tas kecil berisi sisa-sisa catatan medis dari perpustakaan sekte yang sempat ia selamatkan—satu-satunya petunjuk tentang asal-usul racun di tubuh Kaelan.

Setelah menempuh perjalanan selama dua hari, mereka mencapai Kota Perbatasan, "Gerbang Merah". Kota ini adalah titik temu para pedagang kain, tentara bayaran, dan pelarian. Bau pasar yang riuh, aroma rempah, dan suara bising manusia menghantam indra Kaelan seperti badai.

Domain Kesunyian miliknya bekerja terlalu keras. Di tempat seramai ini, ia bisa merasakan ratusan detak jantung, ribuan langkah kaki, dan bisikan-bisikan jahat di setiap gang gelap. Kaelan meringis, mencoba meredam input sensorik yang membanjiri otaknya.

"Kita butuh pakaian baru, obat-obatan, dan informasi," ucap Kaelan pelan.

Mereka memasuki sebuah kedai teh kumuh di pinggiran kota. Di sana, para petualang kelas rendah berkumpul untuk bertukar rumor. Kaelan duduk di sudut paling gelap, sementara Rian mencoba memesan makanan dengan tangan yang masih gemetar.

"Kalian dengar?" bisik seorang pria bersenjata pedang tumpul di meja sebelah. "Sekte Gerhana Biru musnah dalam satu malam. Kabarnya, setan es keluar dari neraka dan memakan semua orang di sana."

"Jangan konyol," sahut temannya. "Itu pasti ulah faksi besar. Aliansi Langit Merah sudah mengirim orang untuk memeriksa reruntuhan itu. Mereka marah besar karena jalur logistik mereka terputus."

Kaelan mendengarkan dengan seksama. Ia menyadari bahwa meskipun ia telah menghancurkan sektenya, ia kini menjadi target utama dari kekuatan yang jauh lebih besar. Aliansi Langit Merah bukan sekadar kumpulan pembunuh; mereka adalah bayangan yang mengendalikan ekonomi kekaisaran.

Tiba-tiba, pintu kedai terbuka keras. Sekelompok pria berpakaian seragam penjaga kota masuk. Namun, Kaelan melihat tato bulan sabit merah di pergelangan tangan mereka—tanda rahasia anggota Aliansi.

"Kami mencari dua orang pemuda. Satu cacat, satu lagi berambut putih," teriak pemimpin mereka sambil membanting selembar kertas pengumuman ke meja.

Rian membeku. Tangannya yang memegang cangkir teh bergetar hebat hingga airnya tumpah. Salah satu penjaga melihat reaksi itu dan mulai mendekati meja mereka.

"Hei, kau yang menunduk... angkat wajahmu," perintah penjaga itu sambil menarik pedangnya sedikit dari sarungnya.

Kaelan tetap tenang. Di bawah meja, jemarinya sudah memegang Sutra Rembulan. Ia tidak ingin membuat keributan di tempat seramai ini, tapi jika darah harus tumpah, ia akan memastikan tidak ada yang tersisa untuk melapor.

"Aku bicara padamu, Bocah!" penjaga itu menendang kursi Rian.

Kaelan mengangkat wajahnya sedikit. Di balik kain penutup kepalanya, mata merahnya berkilat tajam. "Temanku hanya takut pada anjing yang menggonggong terlalu keras. Jika kau ingin hidup, berbaliklah sekarang."

Suasana kedai seketika menjadi dingin. Uap air di udara mulai membeku di ujung-ujung meja kayu. Penjaga itu ragu sejenak, merasakan hawa kematian yang tidak wajar memancar dari pemuda di depannya.

Ini adalah awal dari kehidupan baru Kaelan sebagai pengelana—hidup di mana setiap langkah adalah pertaruhan dan setiap pertemuan bisa menjadi akhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!