"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."
Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.
Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
...
..
Pintu mobil Rolls-Royce tertutup dengan dentuman berat yang kedap suara, seketika memutus kebisingan kilatan kamera dan bisik-bisik berbisa di lobi hotel. Di dalam kabin yang remang-remang dan dingin, oksigen seolah mendadak hilang. Kalea menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang gelap, membiarkan rasa dingin material itu meresap ke kulitnya yang masih terasa panas karena amarah.
Liam tidak segera menyuruh sopir untuk jalan. Ia duduk mematung di samping Kalea, aroma sandalwood dan sisa whisky dari tubuhnya memenuhi ruang sempit itu.
"Kau baru saja menari di atas api, Kalea," suara Liam rendah, berat, dan berbahaya.
Kalea tidak menoleh. Ia menatap lampu-lampu jalanan yang mulai kabur karena kecepatan mobil yang akhirnya melaju. "Aku tidak menari, Liam. Aku sedang bertahan hidup. Bukankah itu yang kau inginkan? Menjadi tamengmu yang paling tajam?"
Tiba-tiba, sebuah tangan besar mencengkeram rahang Kalea, memaksanya untuk berbalik dan menatap langsung ke mata elang Liam yang berkilat di kegelapan. Cengkeramannya tidak menyakitkan, tapi penuh tuntutan kepemilikan yang mutlak.
"Kau menghina Clarissa di depan semua kolega bisnisku. Kau menyebut dirimu 'proyek amal' di depan ibuku. Kau tahu apa konsekuensinya?" Liam mendekatkan wajahnya, napasnya yang hangat menerpa bibir Kalea. "Keluargaku tidak akan tinggal diam. Clarissa tidak akan tinggal diam. Kau baru saja menarik seluruh monster di Jakarta untuk memburumu."
Kalea tidak gentar. Ia justru mencengkeram pergelangan tangan Liam, mencoba melepaskan diri namun pria itu tidak bergeming sedikit pun. "Biarkan mereka datang, Liam. Aku sudah kehilangan segalanya. Nyawa ibuku, harga diriku, kebebasanku... apa lagi yang bisa mereka ambil dariku? Tidak ada. Justru kau yang seharusnya takut, karena 'peliharaan' yang kau beli ini ternyata punya taring yang bisa merusak reputasimu."
Liam terdiam sejenak. Ia menatap mata cokelat Kalea yang basah oleh sisa air mata namun berkilat menantang. Ada sesuatu yang berdesir di dada Liam—sesuatu yang lebih dari sekadar rasa bangga. Itu adalah obsesi. Ia melihat seorang pejuang di dalam diri gadis yang ia anggap lemah.
"Kau pikir kau sudah menang malam ini?" Liam berbisik, jemarinya kini mengusap bibir merah Kalea dengan kasar. "Kau baru saja memberikan mereka alasan untuk menghancurkanmu sampai ke akar-akarnya. Dan saat itu terjadi, hanya aku yang bisa melindungimu. Kau paham artinya itu?"
Kalea tersenyum getir. "Artinya aku harus menjadi budakmu selamanya agar tidak dimakan oleh ular-ular itu? Kau sama saja dengan mereka, Liam. Bedanya, kau membeli akses ke tubuhku, sementara mereka ingin membeli kehancuran jiwaku."
Liam melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kecil, lalu bersandar ke kursi kulitnya dengan angkuh. "Mungkin. Tapi setidaknya di bawah perlindunganku, kau tetap bisa memakai gaun beludru ini daripada kembali ke halte bus dengan perut lapar."
Mobil sampai di mansion. Suasana rumah mewah itu terasa lebih mencekam dari biasanya. Para pelayan menunduk lebih dalam saat melihat Kalea berjalan dengan langkah gontai di belakang Liam.
Begitu sampai di lantai atas, tepat di depan pintu kamar mereka yang kini bersebelahan, Liam menghentikan langkahnya. Ia berbalik, menatap Kalea yang terlihat sangat rapuh di bawah lampu lorong yang temaram.
"Aris baru saja melapor," ucap Liam dingin. "Clarissa sudah mulai bergerak. Besok pagi, foto-fotomu di rumah sakit dan masa lalu ayahmu yang melarikan diri akan jadi konsumsi publik. Dia ingin membuktikan bahwa kau adalah 'darah kotor' yang tidak pantas bersamaku."
Kalea memejamkan mata. Rasa sakit itu kembali menghujam. Ternyata Clarissa benar-benar tidak punya belas kasihan.
"Lalu apa yang akan kau lakukan, Liam? Membuangku?" tanya Kalea lirih.
Liam melangkah maju, memangkas jarak hingga tubuh mereka bersentuhan. Ia merunduk, membisikkan kalimat yang membuat jantung Kalea berdegup kencang karena ketakutan sekaligus sesuatu yang lain.
"Tidak. Aku akan membuat mereka semua bungkam. Tapi harga untuk perlindungan itu tidak lagi satu miliar, Kalea." Liam menyentuh helai rambut Kalea yang jatuh di bahu. "Mulai besok, kau bukan lagi sekadar sandiwara. Kau akan ikut bersamaku ke setiap pertemuan, ke setiap acara, dan kau akan tidur di kamarku. Tidak ada lagi pintu penghubung yang terkunci."
Kalea tersentak. "Kau gila! Aku tidak akan melakukannya!"
"Kau punya pilihan, Gadis Kecil," Liam menyeringai predator. "Hancur di tangan Clarissa dan melihat nama ibumu diseret ke lumpur gosip murahan, atau tetap aman di dalam sangkar emasku dengan harga... dirimu yang seutuhnya."
Liam meninggalkan Kalea yang terpaku di depan pintunya sendiri. Kalea merosot ke lantai, menatap cincin di jarinya yang kini terasa seperti borgol yang berat. Di tengah kemewahan ini, ia menyadari bahwa malam pembuktian di hotel tadi hanyalah awal dari neraka yang jauh lebih dalam.
"Ibu..." bisik Kalea pelan ke arah kegelapan. "Maafkan aku, karena aku harus menjadi iblis untuk melawan iblis."
Di dalam kamarnya, Liam berdiri di balik jendela besar, menyesap wiskinya sambil menatap pantulan dirinya sendiri. Ia tahu dia egois. Ia tahu dia manipulatif. Tapi melihat Kalea melawan malam ini telah menyalakan api yang tidak bisa ia padamkan. Ia menginginkan Kalea—bukan hanya tubuhnya, tapi setiap inci dari nyali dan kebencian gadis itu.
...----------------...
Sementara itu, di sebuah apartemen penthouse yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip Jakarta, suasana terasa mencekam. Bunyi pecahan kaca kristal terdengar nyaring saat Clarissa membanting gelas sampanyenya ke lantai marmer. Napasnya memburu, kontras dengan wajahnya yang biasanya tenang dan terjaga.
"Gadis sampah itu..." desis Clarissa, matanya merah karena amarah yang tertahan. "Dia pikir dia siapa bisa menguliahi aku tentang nurani di depan semua orang?"
Asisten pribadinya berdiri mematung di sudut ruangan, tidak berani bersuara. Clarissa meraih ponselnya, menekan sebuah nomor dengan kasar. "Halo? Pastikan foto-foto Kalea di rumah susun itu naik di halaman utama besok pagi. Jangan lewatkan detail tentang ayahnya yang pengecut itu. Aku ingin semua orang tahu bahwa Liam Jionel tidak sedang membawa tunangan, tapi sedang memelihara parasit dari selokan."
Clarissa menyeringai pahit, menatap pantulan dirinya di cermin besar. "Kau ingin menjadi api, Kalea? Mari kita lihat apakah kau tetap bisa menyala saat aku menenggelamkanmu dalam lumpur masa lalumu sendiri. Di dunia ini, kecantikan bisa dipoles, tapi kasta... kasta adalah sesuatu yang akan mengejarmu sampai mati."
Ia melempar ponselnya ke sofa kulit, lalu berjalan menuju balkon. Angin malam menerpa gaun emasnya yang kini tampak redup. Clarissa tahu, menghancurkan Kalea bukan lagi soal Liam, tapi soal ego yang telah diinjak-injak. Jika Liam menginginkan mainan baru, maka Clarissa akan memastikan mainan itu hancur berkeping-keping hingga tidak ada lagi bagian yang bisa dinikmati oleh siapa pun.
Di kegelapan malam, rencana keji itu mulai merayap. Clarissa bukan sekadar ular; dia adalah pemangsa yang tahu cara menunggu saat korbannya sedang merasa di atas angin, tepat sebelum dia menariknya jatuh ke neraka yang paling dalam.