Sekuel dari kisah Ivanka ( Izinkan Aku Bahagia )
Saat manusia di hadapkan antara nyaman dan cinta mungkin tak akan sulit untuk memutuskan tapi saat harus memilih antara orang tua atau cinta siapa kah yang akan kalian pilih ?
Itu juga yang harus Widya hadapi dimana iya harus terjebak antara cinta dan baktinya pada seorang ayah terlebih cintanya ternyata terlarang untuk bisa iya gapai.
Cinta seperti apa yang sedang di hadapi Widya dan akankah seseorang yang Abah hadirkan mampu menghilangkan cinta yang salah itu menjadi sebuah cinta murni yang utuh ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R-kha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memberi Pilihan
" kenapa dia menghubungiku ?" tanya Widya tanpa sadar.
" sayang, siapa yang kamu bicarakan ?" tanya Wisnu yang tak sengaja mendengar gumaman Widya tadi.
" bukan siapa siapa mas " ucap Widya yang tak ingin membebani Wisnu dengan memberitahu Wisnu jika Panji kembali menghubunginya lagi.
" apa kamu yakin ?" tanya Wisnu yang merasa ada yang di sembunyikan Widya dari dirinya saat ini.
" iya mas, semuanya baik baik saja " ucap Widya meyakinkan Wisnu agar Wisnu bisa fokus pada ibu dan adiknya lebih dulu.
" Bram meninggal " ucap Wisnu yang baru bisa memberitahu Widya jika adik yang iya temui setelah sekian lama kini sudah tak ada lagi di dunia ini.
" meninggal ?"
" innalilahi wa innailaihi rojiun " ucap Widya yang tak bisa membayangkan bagaimana di posisi Wisnu saat ini.
" apa mas baik baik saja ?"
" apa Widya dan Abah perlu ke sana ?" tanya Widya yang ingin bisa bersama dengan Wisnu dalam keadaan seperti ini.
" tidak usah sayang "
" mas akan langsung membawa jenazah Bram langsung ke pemakaman setelah semua pengurusan di rumah sakit selesai, baru setelah itu mas pulang " ucap Wisnu yang sudah memutuskan hal itu tanpa bertanya pada Bu Vira ataupun meminta persetujuan Bu Vira terlebih dahulu.
" lalu ibu ?" tanya Widya yang langsung memikirkan kondisi Bu Vira setelah kepergian anaknya yang lain.
" entahlah, mungkin ibu akan pulang ke rumah atau mungkin ibu akan ikut bersama dengan mas "
" apa kamu tak akan keberatan jika mas mengajak ibu bersama kita ?" tanya Wisnu yang meminta izin lebih dulu pada Widya jika memang Bu Vira akan tinggal bersama dengannya.
" ibu akan tinggal di kamar kontrakan yang pernah mas tempati dan mas akan membayar kamar itu yang penting ibu ada di dekat mas dan ibu tak merasa kesepian setelah kepergian Bram " ucap Wisnu seperti sudah melupakan kebenciannya pada ibunya.
" selama ibu dan mas nyaman, Widya tak masalah " ucap Widya.
" terima kasih sayang "
" tidur lah ini sudah malam, masih ada yang harus mas urus sebelum semuanya selesai " ucap Wisnu yang tak ingin Widya kehilangan waktu istirahatnya karena menghubunginya terlalu lama.
" iya, mas juga jangan lupa istirahat "
" Widya merindukan mas " ucap Widya sebelum menutup sambungan teleponnya bahkan Widya tak menunggu Wisnu menjawab ungkapan yang iya berikan.
Widya langsung merebahkan tubuhnya setelah meletakkan handphone nya di meja kecil yang ada di sisi tempat tidur tapi panggilan dari nomor yang tak iya kenal kembali mengusik ketenangannya.
" sebenarnya apa yang orang ini inginkan ?" tanya Widya yang masih menduga jika yang menghubunginya itu tak lain adalah Panji.
Drrrtttt
Drrrtttt
Sebuah pesan kembali masuk dan itu benar benar membuat Widya semakin penasaran apakah nomor yang mengusiknya sejak tadi adalah nomor Panji atau bukan.
" aku tau kamu masih ingat padaku "
" kamu juga masih ingat setiap kenangan dan janji yang pernah kita ucapkan bersama "
" aku merindukanmu danaku yakin, kita pasti akan kembali bertemu dan saat itu terjadi kita tak akan bisa terpisahkan lagi "
Lagi dan lagi pesan itu membuat Widya yakin jika memang Panji yang mengirim pesan itu padanya meski di nomor itu tak ada Poto profil tapi dalam hati Widya entah kenapa begitu yakin memang Panji di balik semua itu.
" apa aku harus menelponnya dan menghentikan kegilaan Panji sebelum mas Wisnu tau yang sebenarnya ?" tanya Widya yang masih bingung dengan keputusan yang harus iya ambil.
" ya, aku rasa itu jalan terbaik untuk semuanya " ucap Widya yang kembali duduk bersandar di tepi tempat tidur dan mulai menghubungi nomor yang sudah dua kali mengirim pesan pada dirinya.
" maafkan Widya mas karena Widya menghubungi laki laki lain di malam malam seperti ini " ucap Widya yang merasa hangat menghubungi laki laki lain saja sudah membuat Widya berpikir jika Widya sudah mengkhianati suaminya.
" tapi Widya janji jika ini yang pertama dan terakhir " ucap Widya yang sejenak berpikir jika dengan menghubungi nomor yang terus mengirim pesan semuanya akan selesai tapi Widya sadar jika itu mungkin akan menjadi awal kehancuran rumah tangganya karena dirinya sudah masuk dalam jebakan Panji.
" tidak, menghubunginya sama saja meladeninya "
" lebih baik aku blokir nomornya saja agar dia tidak bisa menghubungi ku lagi " ucap Widya yang langsung memblokir nomor itu dan berharap dengan memblokir nomor itu bisa memutuskan akses Panji untuk terus mengusiknya.
Setelah mengirim pesan pada Widya dan saat tau Widya sudah membaca pesannya, Panji pun berniat menghubungi Widya tapi ternyata sambungan teleponnya memanggil yang artinya nomornya sudah di blokir oleh Widya.
" apa kamu pikir dengan memblokir nomor ku bisa menghentikan ku untuk bisa mendapatkan mu lagi ?"
" aku begitu sangat mencintai mu "
" bahkan aku rela menceraikan istri ku hanya demi bersama dengan mu " ucap laki laki itu yang ternyata memang benar jika Panji lah yang kembali mengusik Widya.
" tunggu saja, aku akan datang di pintu rumah mu besok pagi " ucap Panji yang memang sudah berjanji pada dirinya sendiri jika dirinya tak akan menyerah begitu saja demi untuk bisa bersama dengan Widya bahkan jika perlu dirinya akan merebut kembali Widya dari suaminya.
Berbeda dengan Wisnu yang masih mencoba menghibur Bu Vira yang masih begitu terpukul dengan kepergian Bram yang menurutnya begitu tiba tiba.
" andai kamu membiarkan ibu ikut bersama mu saat kamu menemui Bram, mungkin ibu masih bisa melihat Bram " ucap Bu Vira yang menyesali keputusannya yang mengalah saat Wisnu melarangnya ikut.
" istighfar Bu "
" apa ibu pikir jika Wisnu mengizinkan ibu ikut bersama dengan Wisnu, kejadian ini tak akan pernah terjadi ?" tanya Wisnu yang mencoba memaklumi jika saat ini Bu vita masih begitu terpukul dengan kepergian Bram yang menurutnya begitu tiba tiba.
" semua yang terjadi adalah bagian dari takdir yang harus kita terima, hadapi dan jalani tanpa harus banyak mengeluh " ucap Wisnu menasehati.
" dan kepergian Bram pun merupakan bagian dari takdir yang sudah tertulis di jalan hidup Bram dan kita tak bisa menawar apapun seperti keinginan kita " jelas Wisnu lagi menasehati.
" kamu benar "
" dan hidup sendiri di masa tua pun mungkin jalan hidup yang harus ibu terima " ucap Bu Vira sedih karena di hari tuanya tak ada anak yang menemaninya.
" kata siapa ibu akan hidup sendiri di hari tua ibu ?"
" ibu masih punya Wisnu dan jika ibu mau ibu bisa tinggal bersama dengan Wisnu dan Widya " ucap Wisnu sambil menatap wajah ibunya yang terlihat jelas kerutan di wajah tuanya.
" ibu akan tinggal di kamar kontrakan dimana Wisnu tinggal dulu sebelum Wisnu menikah dengan Widya "
" ibu pikirkan saja dulu baik baik dan Wisnu akan setuju apapun itu selama ibu merasa nyaman dengan keputusan yang ibu ambil "
✍🏻✍🏻✍🏻 apa Bu Vira akan ikut bersama Wisnu setelah kepergian Bram ? Atau ada keinginan lain yang ingin Bu Vira sampaikan pada Wisnu?
Pantengin terus ya ceritanya biar R-kha lebih semangat lagi update nya
Jangan lupa like dan tinggalkan jejak biar R-kha lebih semangat lagi update nya
Love you moreee 😘 😘 😘