Ini merupakan Novel Sekuel dari Melepas para Benalu,
Wina tak pernah menyangka kisah hidupnya yang tragis membuatnya akhirnya bisa bertemu dengan lelaki yang sangat kejam tapi sangat mencintai dan menyayangi dirinya yaitu Alexander
Alexander adalah seorang Mafia kelas kakap yang bahkan polisi juga sangat segan kepadanya.
Pertemuan tidak sengaja itu pun menjadikan Tuan Mafia yang terkenal kejam dan tidak berperasaan itu akhirnya memiliki tempat pulang dan orang yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Nissa mengikuti langkah sang anak kelaur dari rumah keluarga Taici, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap anaknya yang tak ada ramah sama sekali pada orang lain.
"Jangan seperti itu pada keluarga sahabat ibu nak, mereka selalu menolong ibu saat kesusahan begitupun sebaliknya, kami sudah seperti saudara kandung". Ucap Nissa dengan pelan.
Alex menghentikan langkahnya kemudian berbalik melihat ibunya yang masih berada di belakangnya.
"Aku paham soal itu bunda, dan aku sangat menghargai itu tapi bukan berarti bunda akan kembali mengorbankan aku seperti dulu, apa mereka lebih berarti daripada anak bunda sendiri? ". Tanya Alex menatap serius sang bunda.
Nissa menatap anaknya dengan sendu.
"Bukan seperti itu nak, Gadis ini berbeda dari sebelumnya karena bunda sudah mengenalnya sejak kecil, bunda baru wbrtemu dengan mereka kembali setelah beberapa tahun lost kontak dan bunda kembali mengenal gadis ini makanya bunda ingin dia menjadi menantu bunda mendampingi kamu nak". Jawabnya dengan tatapan memelas.
Dia berharap putranya mau mempertimbangkan keinginannya kali ini karena mereka memang sudah dijodohkan sejak kecil.
"Maaf bunda, aku sudah mengatakan pada bunda sejak kecil jika bunda lupa, aku hanya ingin menikah dengan Wina Aditama, kecuali dia sendiri tak menginginkan pernikahan itu maka aku akan mundur dengan sendirinya maka dari itu aku kini berjuang".
Alex tetap kekeh pada pendirian nya, dia tidak mau menikah dengan perempuan pilihan bundanya selama dirinya belum berusaha mendapatkan Wina dan nantinya Wina menolaknya, sudah cukup perempuan gila sebelumnya.
"Tapi nak". Protesnya dengan memelas.
"Jangan buat aku menghilangkan rasa hormat ku pada bunda, sejujurnya aku sangat trauma dengan gadis-gadis pilihan bunda itu, jika nanti Wina menolak ku maka aku akan mundur dan mencari sendiri wanita yang akan aku nikahi, aku sudah bilang jangan ikut campur dengan siapa aku berpasangan nantinya". Ucap Alex dengan dingin kemudian berbalik memunggungi sang ibu
Dia tidak mau melihat wajah sendu dan tatapan memelas ibunya lebih lama, dia bukan ingin menjadi anak tidak berbakti tetapi jika masalah pasangan hidup, sejak dulu dia sudah punya calonnya.
Nissa hanya bisa menghela nafasnya, anaknya benar, dia sudah melihat dengan jelas bagaimana anaknya pusing menghadapi gadis-gadis yang dia tawarkan kepada anaknya sebelum ini.
Mereka tetap berjalan menuju mobil mereka dan menaikinya karena mereka akan langsung pulang kembali ke Indonesia setelah ini.
Wina yang masih asyik berkeliling ditemani oleh bibi Mirna pun kini memandang takjub sebuah bangunan atau lebih tepatnya kebun bunga milik keluarga Alex, dia tidak tahu jika kelaurga mereka begitu menyukai bunga.
"Bi, apa semua ini ditanam oleh bundanya Alex? ". Tanya Wina dengan takjub.
Dia mengedarkan pandangannya kesemua arah didalam bangunan ini.
"Benar nyonya, nyonya besar sangat menyukai bunga, katanya bunga itu begitu menenangkan dan juga sangat wangi makanya beliau menanamnya sebanyak ini, tempat ini adalah tempat favorit nyonya jika berada dirumah".
Wina mengangguk, dirinya saja yang baru datang kesini langsung dibuat jatuh cinta dengan taman bunga yang indah begitu juga dengan rumah Alex secara keseluruhan saat dia berkeliling tadi.
"Bagaimana keadaan diluar sana bi?, apa bibi tahu bagaimana kabar terbaru orang-orang yang telah mencelakai kami? ". Kini dia bertanya dengan serius.
Dia sungguh penasaran bagaimana Alex mengurus mereka semua, dia ingin ikut turun langsung mengurus mereka, mereka harus diberi pelajaran karena berusaha menghilangkan nyawa ornag seenaknya apalagi dia merasa bahwa dirinya tidak pernah berurusan dengan mereka kecuali mereka dendam karena permasalahan keluarga Wicaksana dan Pratama dengan keluarganya.
"Menurut para bodyguard Tuan Alex sedang menemui Mafia yang bekerjasama dengan mereka nyonya, Mafia dari Jepang itulah yang menyabotase pesawat nyonya sekeluarga karena mendapatkan bayaran dari mereka nyonya".
"Mafia Jepang? ". Cicitnya pelan.
Dia pernah mendengarnya, Mafia Jepang yang terkenal dengan kelicikan dan kepandaiannya menyabotase segala sesuatu ternyata dalang dibalik kecelakaan itu.
"Sepertinya aku harus memberi mereka pelajaran juga, aku harus mencari tahu apa kelemahan mereka setelah ini, aku akan menghubunginya sekarang". ucapnya dalam hati.
Dia akan kembali ke kamarnya nanti untuk menghubungi seseorang untuk mencari tahu tentang Mafia Jepang itu.
"Ayo kita kembali ke kamar bi". Ucap Wina sambil mendorong kursi rodanya pelan.
Mirna mengangguk kemudian membantu sang nyonya mendorong kursi roda itu sampai kekamar.
Sesampainya di kamar Wina mengambil handphonenya dan menghubungi seorang kenalannya untuk mencari jati diri seseorang.
"Bu saya pamit keluar dulu, silahkan lanjutkan". Ucap Mirna mengundurkan diri dengan sopan.
"Iya bi, makasih yah".
Mirna mengangguk kemudian keluar dari kamar itu sedangkan Wina kembali melanjutkan aktivitasnya.
"Hallo nyonya". Sapa seorang pria diseberang telpon.
"Hallo, bisakah kamu mencari informasi tentang Mafia Jepang yang sedang di datangi oleh Alexander Abraham? ". Tanyanya dengan langsung tanpa basa basi.
"Baiklah nona, saya akan menginformasikan secepatnya". Ucapnya dengan pelan.
"Baiklah, Terima kasih, aku tunggu".
Wina langsung mematikan sambungan telponnya kemudian mencari kontak orang suruhannya yang menjaga Reno dan juga Erlangga
" Hallo bagaimana keadaan keduanya? ". Tanyanya to do point.
" Hallo nyonya, tuan Reno sudah mendapatkan donor dari kakak tuan Revan dan dia sudah sadar, keluarganya telah menjaganya dirumah sakit".
"Terus bagaimana dengan Erlangga? ". Tanyanya dengan penasaran.
Dia sangat senang karena Reno sudah selamat dan sudah sadar sekarang hanya tinggal Erlangga yang belum dia ketahui keadaannya.
Tuan Erlangga masih koma nyonya, beliau belum sadar, dia sempat kritis tapi dokter berhasil menyelamatkannya ". Jawabnya dengan ragu.
Dia tahu jika kedua orang yang dia awasi ini adalah orang penting dalam kehidupan bosnya ini.
Mata Wina langsung berembun mendengar keadaan Erlangga, dia bahkan kesulitan bernafas, dia sudah lelah berurusan dengan orang-orang yang membenci keluarganya padahal setahunya ayah dan ibunya bukan ornag yang suka mencari musuh tapi mengapa mereka malah ingin menyingkirkan mereka dan keturunannya.
"Tidak apa-apa, tolong pantau perkembangannya dan kabari aku nanti, aku mengandalkan mu". Ucapnya dengan suara serak menahan tangis.
"Iya nyonya, akan saya kabarin secepatnya jika ada perkembangan, nyonya baik-baik saja, jangan terlalu dipikirkan". Ucapnya penuh perhatian.
"Iya, Terima kasih, aku tutup dulu".
Wina mematikan sambungan telponnya dan memasang dadanya yang berdebar ketakutan.
Dia sangat khawatir dan takut jika terjadi sesuatu pada Erlangga karena menolongnya,
" Ya Tuhan kapan semua ini berakhir, aku sudah sangat lelah".
Semua ornag yang dia sayangi terluka karena dendam dan juga harta entah bagaimana dirinya kini bersikap, bahkan setelah mereka selesai dengan keluarga Pratama dan juga Wicaksana, ada lagi yang lainnya sedang memburu dirinya dan juga para sahabatnya dan itu dengan kasus yang sama.
"Aku akan bertindak setelah sembuh, aku tidak akan lemah".