NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.

Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 - Harga Diri Dihancurkan

Sore itu, rumah keluarga Wijaya terasa lebih sunyi dari biasanya, meski aktivitas di dalamnya tidak benar-benar berhenti. Para pelayan tetap lalu lalang menjalankan tugas mereka, suara langkah kaki terdengar menyusuri koridor panjang, sementara bunyi peralatan makan dari dapur sesekali beradu pelan, menciptakan ritme yang seharusnya terasa biasa. Namun di balik semua itu, ada suasana lain yang tidak kasat mata, sesuatu yang mengendap dan membuat udara terasa lebih berat dari sebelumnya.

Perubahan itu tidak terlihat secara langsung, tetapi Alyssa bisa merasakannya dengan jelas sejak ia melangkah keluar dari kamarnya. Cara orang-orang memandangnya tidak lagi sama, tidak lagi sekadar dingin atau acuh seperti sebelumnya. Kini ada sesuatu yang lebih tajam, lebih terang-terangan, seolah ia menjadi pusat dari bisikan yang selama ini hanya berani bersembunyi di balik punggungnya.

Ia berjalan menyusuri lorong dengan langkah pelan, membawa nampan berisi teh hangat yang diminta ibu Daren. Biasanya ia bisa berjalan tanpa terlalu memperhatikan sekitar, membiarkan dirinya larut dalam rutinitas agar tidak memikirkan banyak hal. Namun kali ini, setiap langkah terasa seperti diawasi, setiap gerakan seolah menarik perhatian yang tidak diinginkan.

Beberapa pelayan yang berdiri di sudut koridor berhenti berbicara saat melihatnya lewat, tetapi itu hanya berlangsung sesaat sebelum bisikan mereka kembali terdengar. Suara itu tidak terlalu keras, namun cukup jelas untuk sampai ke telinganya tanpa harus berusaha mendengar.

“Itu dia…”

“Yang tadi siang…”

“Berani juga ya, pura-pura tidak tahu…”

Alyssa menggenggam nampan itu sedikit lebih erat, berusaha menjaga tangannya tetap stabil meski dadanya mulai terasa tidak nyaman. Ia tidak mempercepat langkah, juga tidak memperlambat, seolah memilih untuk tetap berjalan di garis yang sama seperti biasa meski keadaan sudah jauh berbeda.

Ia sudah mencoba menjelaskan apa yang terjadi, bahkan lebih dari sekali, namun setiap penjelasan yang keluar dari mulutnya terasa seperti jatuh ke ruang kosong tanpa pernah benar-benar didengar. Tidak ada yang menanggapi dengan serius, tidak ada yang mencoba memahami, seolah keputusan sudah dibuat sejak awal dan ia hanya diberi kesempatan untuk menerimanya.

Begitu sampai di depan ruang keluarga, ia berhenti sejenak dan menarik napas perlahan, mencoba menenangkan dirinya sebelum masuk. Pintu itu terasa lebih berat dari biasanya, bukan karena ukurannya, tetapi karena apa yang menunggunya di dalam.

“Masuk,” suara ibu Daren terdengar dari dalam, tenang namun tanpa kehangatan.

Alyssa membuka pintu dengan hati-hati, memastikan tidak menimbulkan suara berlebih, lalu melangkah masuk dengan kepala sedikit tertunduk. Di dalam ruangan, suasana terasa lebih formal dari biasanya, seolah ada batas tak terlihat yang membuat jarak antara mereka semakin jelas.

Ibu Daren duduk dengan posisi tegak di sofa utama, ekspresinya dingin seperti biasa, sementara Cassandra berada di sampingnya dengan sikap santai yang terlihat kontras. Daren duduk agak terpisah, fokus pada ponselnya, seakan tidak benar-benar hadir dalam percakapan yang akan terjadi.

Alyssa berjalan mendekat dan meletakkan nampan di atas meja dengan hati-hati, memastikan tidak ada suara yang bisa mengganggu keheningan di ruangan itu.

“Tehnya, Bu,” katanya pelan.

Ibu Daren hanya melirik sekilas, tidak langsung menyentuh cangkir tersebut, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke Alyssa dengan tatapan yang sulit ditebak. Tatapan itu tidak sekadar dingin, tetapi juga mengandung sesuatu yang lebih dalam, seolah sedang menilai tanpa perlu banyak kata.

“Kamu tahu kenapa kamu dipanggil ke sini?” tanyanya.

Alyssa menunduk sedikit, berusaha menjaga suaranya tetap stabil meski perasaannya mulai tidak tenang. “Karena kejadian tadi siang…”

“Bagus kalau kamu sadar,” potong ibu Daren tanpa memberi ruang untuk penjelasan lebih lanjut.

Cassandra tersenyum tipis sambil mengangkat cangkir tehnya, menyesap perlahan seolah menikmati suasana yang terjadi. Gerakannya tenang, tetapi ada sesuatu di matanya yang sulit diabaikan, sesuatu yang membuat Alyssa merasa tidak nyaman.

Alyssa menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa dalam dirinya. Ia tahu kesempatan untuk berbicara tidak akan banyak, dan jika ia tidak menggunakannya sekarang, mungkin tidak akan ada lagi.

“Bu, saya ingin menjelaskan sekali lagi. Saya benar-benar tidak mengambil kalung itu. Saya tidak tahu bagaimana benda itu bisa ada di tas saya,” ucapnya dengan hati-hati, berusaha memilih kata yang tidak terdengar defensif.

“Kamu masih mau beralasan?” suara ibu Daren langsung berubah lebih tajam, memotong kalimatnya tanpa ragu.

Alyssa terdiam sejenak, mencoba menahan reaksi yang hampir muncul di wajahnya. Ia mengangkat pandangannya perlahan, berusaha tetap tenang meski situasi tidak berpihak padanya.

“Itu bukan alasan, Bu. Itu penjelasan,” katanya pelan, namun kali ini lebih tegas.

“Penjelasan yang tidak masuk akal,” balas ibu Daren tanpa ragu.

Ketegangan di ruangan itu terasa semakin jelas, seolah udara di antara mereka ikut menegang mengikuti percakapan yang berlangsung. Alyssa melirik ke arah Daren, berharap setidaknya ada sedikit respons darinya, tetapi pria itu hanya sesekali mengangkat pandangan sebelum kembali menatap layar ponselnya.

Hatinya terasa semakin berat, bukan hanya karena tuduhan yang diarahkan padanya, tetapi juga karena sikap diam yang ia terima dari seseorang yang seharusnya berdiri di sisinya.

“Daren,” panggil Alyssa pelan, suaranya hampir tidak terdengar. “Kamu tahu aku tidak seperti itu.”

Daren akhirnya mengangkat kepala, tetapi tidak ada perubahan berarti di ekspresinya. Tatapannya tetap datar, tanpa emosi yang bisa dibaca.

“Aku tahu apa yang kulihat,” jawabnya singkat.

Jawaban itu terasa seperti dinding yang menutup semua kemungkinan, membuat setiap kata yang ingin Alyssa ucapkan selanjutnya terasa tidak ada artinya. Ia menahan napas sejenak, mencoba mengendalikan perasaannya agar tidak terlihat terlalu jelas di hadapan mereka.

“Kalau begitu, tidak ada lagi yang perlu dibahas,” kata ibu Daren sambil meletakkan cangkir tehnya dengan gerakan tenang. “Kamu akan meminta maaf.”

Alyssa mengangkat wajahnya perlahan, seolah memastikan bahwa ia tidak salah dengar.

“Maaf?” ulangnya.

“Kepada Cassandra, dan kepada keluarga ini,” jawab wanita itu dengan nada yang tidak memberi ruang untuk penolakan.

Alyssa menoleh ke arah Cassandra, yang kini menatapnya dengan senyum tipis yang sulit diartikan. Tidak ada tanda-tanda keberatan di wajah wanita itu, justru sebaliknya, seolah ia sudah menunggu momen ini sejak awal.

“Saya tidak bersalah,” kata Alyssa pelan, mencoba mempertahankan sedikit harga diri yang tersisa.

“Buktinya sudah jelas,” balas ibu Daren.

“Bukti itu bisa dimanipulasi,” jawab Alyssa, kali ini dengan suara yang sedikit lebih tegas meski tetap terjaga.

Ruangan mendadak hening, seolah semua orang berhenti bernapas untuk sesaat. Cassandra mengangkat alisnya, lalu tersenyum kecil, reaksinya terlihat ringan tetapi cukup untuk mengubah arah suasana.

“Itu tuduhan yang serius,” katanya pelan, nada suaranya terdengar halus namun menyiratkan sesuatu yang lain.

“Saya tidak menuduh siapa pun, saya hanya mengatakan kemungkinan,” jawab Alyssa cepat, tidak ingin ucapannya dipelintir lebih jauh.

“Cukup,” suara ibu Daren kembali memotong, kali ini lebih dingin dari sebelumnya. “Kamu tidak dalam posisi untuk berargumen.”

Alyssa menggigit bibirnya pelan, menahan semua yang ingin ia katakan agar tidak keluar begitu saja. Ia menunduk, mencoba meredam emosi yang mulai bergejolak di dalam dirinya, meski ia tahu hal itu tidak akan mengubah apa pun.

“Kalau kamu masih ingin tinggal di rumah ini, kamu harus tahu batasmu,” lanjut ibu Daren, nadanya tetap tenang namun sarat tekanan.

Alyssa tidak menjawab, tetapi diamnya bukan berarti setuju. Ia hanya memahami bahwa tidak ada ruang baginya untuk menang dalam percakapan ini.

“Sekarang, minta maaf,” kata wanita itu lagi.

Keheningan kembali menggantung, lebih berat dari sebelumnya. Alyssa bisa merasakan tatapan yang tertuju padanya, menunggu keputusannya, menilai setiap gerakannya tanpa perlu kata-kata.

Ia mengangkat wajahnya perlahan, pandangannya kembali mencari Daren untuk terakhir kalinya. Namun pria itu sudah kembali menunduk, seolah memilih untuk tidak terlibat lebih jauh, dan di saat itu Alyssa tahu bahwa ia benar-benar sendirian.

Ia menarik napas panjang, mencoba menguatkan dirinya sebelum melangkah mendekat ke arah Cassandra. Setiap langkah terasa lebih berat, bukan karena jarak yang jauh, tetapi karena apa yang harus ia lakukan setelahnya.

Alyssa menunduk.

“Maaf,” katanya pelan.

“Lebih jelas,” suara ibu Daren terdengar lagi, menuntut tanpa ragu.

Alyssa menutup matanya sejenak, lalu membukanya kembali dengan perlahan. Ia tahu apa yang diharapkan dari dirinya, dan meskipun setiap bagian dari dirinya menolak, ia tidak punya banyak pilihan.

“Saya minta maaf atas kejadian tadi siang,” ucapnya dengan suara yang lebih jelas, meski terasa berat untuk diucapkan.

Cassandra tersenyum, kali ini lebih nyata, seolah mendapatkan sesuatu yang ia inginkan sejak awal.

“Maafmu diterima,” katanya ringan, namun kalimat itu terasa seperti penegasan kemenangan yang tidak perlu diumumkan.

Alyssa tidak menjawab, tetapi ia bisa merasakan sesuatu di dalam dirinya retak, perlahan namun pasti. Ia sudah mencoba mempertahankan kebenaran, sudah berusaha berdiri di atas apa yang ia yakini, tetapi pada akhirnya ia tetap dipaksa untuk mengalah di hadapan sesuatu yang tidak bisa ia lawan.

“Semoga kamu belajar dari kesalahan ini,” tambah Cassandra, suaranya terdengar lembut tetapi tidak membawa kehangatan.

Alyssa tetap diam, menahan semua yang berkecamuk di dalam hatinya agar tidak terlihat di permukaan. Ia tidak ingin memberi mereka lebih dari yang sudah mereka ambil darinya hari ini.

“Sudah selesai, kamu boleh pergi,” kata ibu Daren akhirnya.

Alyssa mengangguk pelan, lalu berbalik menuju pintu tanpa menambah kata. Langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya, seolah setiap pijakan membawa beban yang tidak terlihat namun semakin nyata.

Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia berhenti sejenak di koridor yang terasa lebih dingin. Ia berdiri di sana beberapa detik, mencoba mengatur napasnya yang tidak lagi teratur, sementara tangannya yang sempat mengepal perlahan mengendur.

Namun perasaan yang mengendap di dalam dirinya tidak ikut mereda, justru sesuatu yang lain mulai tumbuh di tempat yang sebelumnya dipenuhi kesabaran. Selama ini ia selalu mencoba bertahan, menerima apa yang diberikan padanya tanpa banyak perlawanan, berharap bahwa semuanya akan berubah jika ia cukup kuat menahan diri.

Hari ini mengajarinya sesuatu yang berbeda, sesuatu yang tidak bisa ia abaikan begitu saja. Ia dipaksa meminta maaf atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan, dipermalukan di hadapan orang-orang yang bahkan tidak mencoba memahami, dan ditinggalkan sendirian tanpa satu pun yang membelanya.

Alyssa mengangkat wajahnya perlahan, menatap lurus ke depan dengan ekspresi yang tidak lagi sama. Ada perubahan kecil yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain, tetapi cukup jelas baginya sendiri.

Ia tidak akan melupakan hari ini, tidak akan melupakan bagaimana rasanya berdiri sendirian di tengah orang-orang yang seharusnya menjadi keluarganya. Ia juga tidak akan melupakan bagaimana kebenaran bisa begitu mudah diabaikan ketika tidak didukung oleh kekuasaan.

Langkahnya kembali bergerak, kali ini lebih tenang dan lebih pasti, seolah setiap pijakan membawa keputusan yang perlahan terbentuk di dalam dirinya.

1
sutiasih kasih
km sll merendhkn Alyssa tentang mnempatkn diri....
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
sutiasih kasih
ketika km sadar n haluanmu brubah....
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
sutiasih kasih
daren.... smpe kpan km pura"... & lelet dlm mngambil sikap...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
sutiasih kasih
org lain boleh bebas berkeliaran bhkn bebas mngatur layaknya menantu...
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
sutiasih kasih
mnunggu saat allysa mundur & prgi dri daren...
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
sutiasih kasih
msa iya rmh horang kaya raya... g ada cctv di setiap sudut rumah....
🤔🤔
@RearthaZ
kak aku sudah baca dan like, semua chapternya, boleh tolong bantuannya juga ya kak untuk like dan baca cerita baru ku (aku baru pemula hehehe) boleh 'CEK PROFIL KU' ya kak... nama judul ceritanya "MENIKAHI DUKE MISTERIUS"
@RearthaZ
lanjutin kak
@RearthaZ
aku mampir kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!