NovelToon NovelToon
Arsitektur Pengkhianatan

Arsitektur Pengkhianatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bagus Effendik89

Bagi Adnan Mahendra, hidup adalah maha karya presisi. Sebagai arsitek ternama di Surabaya, ia percaya bahwa fondasi yang kuat akan membuat bangunan abadi.

Namun, dunianya yang simetris runtuh dalam perlahan ketika laporan demi laporan Jo Bima yang tidak lain asisten Adnan sendiri. Mengungkap sisi gelap Arini, istri yang sangat ia puja dengan ketulusan cinta sejatinya.

Namun di balik wajah cantik dan senyum lembutnya, Arini telah membangun istana kebohongan. Bersama pria lain di sudut-sudut kota Surabaya yang panas tanpa sepengetahuannya.

Akankah cinta mereka bertahan, akankah pondasi rumah tangga yang di bangun Adnan tetap berdiri kokoh? ketika Bagaskara masa lalu Arini kembali mengusik ketenangan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa yang Tertinggal

Restoran itu tidak terlalu ramai, hanya dipenuhi beberapa pasangan dan dua meja keluarga kecil di dekat jendela. Lampu gantung berwarna keemasan menebarkan cahaya lembut di atas meja-meja kayu gelap, sementara aroma mentega, lada hitam, dan kopi berpadu tipis di udara dingin ruangan.

Bagas menarik kursi untuk Arini tanpa banyak bicara. Gestur itu sederhana, nyaris otomatis, namun justru membuat dada Arini terasa sesak. Dahulu, lelaki ini memang selalu seperti itu—tidak berlebihan, tidak manis dengan cara yang dibuat-buat, tapi peka pada detail kecil yang sering tidak disadari orang lain.

Arini duduk perlahan. Tasnya ia letakkan di samping kursi. Bagas mengambil tempat di hadapannya. Menu dibuka, tapi tak satu pun dari mereka benar-benar terlihat fokus membaca.

“Aku pesan yang ringan saja,” kata Arini, lebih untuk memecah keheningan daripada karena lapar.

Bagas mengangguk. “Aku juga.”

Setelah pelayan pergi membawa catatan pesanan, diam turun lagi di antara mereka. Gelas air dingin yang baru dihidangkan berdiri di tengah meja, tak tersentuh. Arini menautkan jemarinya di pangkuan, lalu melepaskannya lagi. Bagas memutar pelan cincin logam di jari telunjuknya, kebiasaan lama yang langsung dikenali Arini.

“Aku masih enggak percaya bisa ketemu kamu di sini,” ujar Bagas akhirnya.

Arini tersenyum tipis. “Surabaya memang enggak sebesar yang kelihatannya.”

“Dulu kamu paling malas diajak ke mal,” kata Bagas, dan untuk pertama kalinya ada sedikit nada hangat di suaranya. “Katamu capek lihat orang belanja padahal uang di dompet tinggal sedikit.”

Tawa kecil lolos dari bibir Arini sebelum sempat ditahan. “Itu zaman kuliah.”

“Iya.” Mata Bagas melembut. “Zaman kita masih bisa makan mi ayam berdua, lalu sok bahagia cuma karena punya uang cukup buat beli es teh.”

Kalimat itu menggantung di udara beberapa detik. Bukan sekadar kenangan, melainkan pintu kecil yang terbuka ke masa lalu mereka.

Arini menunduk, mengusap ujung gelas dengan ibu jari. “Kita terlalu muda waktu itu.”

Bagas menatapnya. “Kita terlalu yakin juga.”

Ia tidak salah. Dulu mereka memang terlalu yakin. Yakin bahwa cinta saja cukup. Yakin bahwa masa depan bisa menunggu. Yakin bahwa tidak ada pilihan yang akan benar-benar memisahkan mereka.

Padahal hidup tak pernah sesederhana itu. Pelayan datang mengantar makanan. Sup hangat untuk Arini, stek untuk Bagas, dan dua gelas teh lemon. Setelah meja kembali sepi, Arini baru menyadari sesuatu. Ia menatap minumannya beberapa detik, lalu mengangkat wajah.

“Kamu masih ingat aku suka teh lemon?”

Bagas tersenyum kecil. “Aku ingat banyak hal tentang kamu.”

Nada suaranya datar, tapi justru di situlah letak bahayanya. Tidak dramatis. Tidak berlebihan. Hanya jujur.

Arini mengalihkan pandangan.

Bagas menyandarkan punggung. “Kamu masih marah sama aku?”

Pertanyaan itu datang tanpa aba-aba. Arini terdiam sesaat. “Untuk apa?”

“Karena dulu aku yang memilih mengakhiri semuanya.”

Arini mengembuskan napas pelan. “Sudah terlalu lama, Bagas.”

“Bukan jawaban.” Tatapan lelaki itu tetap tenang, tapi tak bergeser.

Arini menggenggam sendoknya, lalu meletakkannya lagi. “Waktu itu aku harus lanjut kuliah ke luar kota. Kamu enggak mau LDR. Kita bertengkar terus. Kamu bilang hubungan yang dipelihara dari jarak cuma bikin orang saling curiga.”

“Itu memang yang aku percaya waktu itu.”

“Kamu juga bilang lebih baik putus sekalian daripada saling menyiksa.”

Bagas menunduk sejenak. Rahangnya mengeras tipis. “Aku bodoh.”

Arini tertawa kecil, hambar. “Kita berdua bodoh.”

Dulu mereka bukan sekadar pacaran biasa. Hubungan mereka sudah sejauh itu. Kedua keluarga saling tahu, bahkan pernah beberapa kali membicarakan masa depan seolah semuanya hanya tinggal menunggu waktu. Arini masih ingat bagaimana ibunya dulu pernah bercanda soal warna kebaya lamaran. Bagas juga pernah berkata sambil setengah serius bahwa setelah proyek fotonya stabil, ia akan datang baik-baik ke rumah. Mereka hampir sampai ke sana, hampir menikah.

Lalu sebuah kesempatan belajar di luar kota datang, membawa pilihan yang tidak mudah. Arini ingin pergi. Bukan karena tidak mencintai Bagas, melainkan karena ia juga punya mimpi. Sementara Bagas, dengan idealismenya yang keras kepala, menolak menjalani hubungan jarak jauh yang menurutnya hanya akan melahirkan luka lebih lama.

Akhirnya mereka putus. Bukan karena tak cinta, tapi justru karena cinta mereka sama-sama sombong dan tidak cukup dewasa.

“Aku tahu kamu menikah dari berita,” ucap Bagas kemudian.

Arini mengangkat mata.

“Nama Adnan Mahendra lumayan sering muncul di media bisnis,” lanjutnya. “Waktu itu aku lagi kerja di Bali. Temanku kirim artikel pernikahan kalian. Ada foto kamu pakai gaun putih. Senyummu cantik sekali.”

Arini tidak tahu harus menjawab apa.

“Aku lihat itu jam dua pagi,” kata Bagas dengan nada yang tetap rata. “Setelah itu aku enggak tidur sampai subuh.”

Dada Arini terasa sesak.

“Bagas...”

“Aku enggak datang buat bikin kamu merasa bersalah.” Ia menggeleng pelan. “Aku cuma bilang apa adanya.”

Arini menatap supnya yang mulai kehilangan uap. “Waktu itu aku pikir... mungkin memang sudah seharusnya begitu.”

“Menikah dengan dia?”

Arini tidak langsung menjawab. “Adnan baik.”

“Baik?” ulang Bagas pelan.

“Iya.”

Bagas memiringkan kepala sedikit. “Tapi kamu bahagia?”

Pertanyaan itu membuat Arini terdiam. Ia sudah beberapa kali mendengarnya dari orang lain dalam bentuk basa-basi. Bahagia, kan? Senang jadi istri Adnan? Pasti hidupmu enak sekarang. Namun ketika Bagas yang bertanya, kalimat sederhana itu terdengar seperti pisau yang masuk pelan ke tempat paling rapuh.

“Aku...” Arini berhenti.

Bagas tidak memotong. Ia hanya menunggu. Arini menatap meja, lalu jendela, lalu kembali ke gelasnya sendiri. “Pernikahan itu enggak selalu seperti yang terlihat dari luar.”

Bagas tetap diam.

Arini tertawa kecil, getir. “Lihat, kan? Bahkan jawabanku sudah seperti jawaban orang yang sedang bohong.”

“Jadi jangan bohong.” Suara Bagas rendah, tapi tegas.

Untuk beberapa detik Arini hanya menatap lelaki itu. Ada hal yang berbahaya dari tatapan Bagas—tatapan itu tidak memaksanya bicara, tapi membuatnya merasa aman kalau ingin jujur. Dan mungkin itu yang paling ia rindukan selama ini.

“Aku capek,” katanya akhirnya, sangat pelan.

Bagas tak bergerak.

“Aku capek hidup di rumah yang besar sekali tapi rasanya tetap sempit.” Arini tersenyum miris. “Aku capek menunggu seseorang yang selalu pulang tapi enggak pernah benar-benar hadir.”

Rahang Bagas menegang.

“Adnan enggak jahat,” lanjut Arini cepat, seolah perlu membela suaminya lebih dulu. “Dia enggak kasar. Enggak pernah bentak aku. Enggak pernah main perempuan. Dia kerja, tanggung jawab, semua kebutuhan dipenuhi.”

“Tapi?”

Arini menatapnya. Tenggorokannya terasa penuh. “Tapi aku kesepian.”

Kalimat itu keluar seperti sesuatu yang sudah terlalu lama tertahan.

“Aku kesepian, Bagas.” Jemarinya mengerat di sekitar serbet. “Tiga tahun menikah, dan aku masih sering merasa seperti tamu di hidup suamiku sendiri.”

Bagas memalingkan wajah sesaat, mengembuskan napas pelan, lalu kembali menatapnya. Ada kemarahan tipis di matanya sekarang. Kemarahan yang bukan ditujukan padanya, melainkan pada keadaan yang ia dengar.

“Kalau begitu, pergi,” katanya.

Arini tercekat. “Apa?”

“Berpisah.” Nada Bagas tetap rendah, tetapi tak goyah sedikit pun. “Kalau kamu enggak bahagia, kenapa bertahan?”

Arini menggeleng cepat. “Enggak semudah itu.”

“Kenapa enggak?”

“Karena ini bukan cuma soal aku.” Suaranya sedikit bergetar. “Ada keluarga. Ada relasi bisnis. Ada nama baik. Semua orang terlalu banyak berharap pada pernikahan ini.”

“Jadi kamu mau terus hidup seperti itu?”

“Aku enggak tahu.”

“Arini.” Bagas mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Kamu berhak punya hidup yang bikin kamu bernapas.”

Arini menggigit bibir bagian dalam. “Aku enggak bisa hancurin semuanya cuma karena aku capek.”

“Ini bukan cuma capek. Kamu sedang hancur pelan-pelan.”

Kalimat itu menampar lebih keras daripada suara tinggi mana pun.

Arini memalingkan wajah. Di balik kaca restoran, orang-orang masih lalu-lalang dengan kantong belanja, anak kecil menarik tangan ibunya, sepasang remaja tertawa di depan toko aksesoris. Dunia luar tetap bergerak biasa, sementara di dalam dirinya sesuatu seperti retak.

“Aku enggak seberani itu,” bisiknya.

Bagas terdiam beberapa saat. Ketika bicara lagi, suaranya berubah lebih pelan.

“Kalau kamu enggak bisa keluar sekarang, setidaknya jangan hadapi semuanya sendirian.”

Arini menatapnya.

“Aku serius.” Bagas menautkan kedua tangannya di atas meja. “Aku tahu aku mungkin enggak berhak bilang ini. Tapi aku juga enggak bisa pura-pura lihat kamu seperti ini lalu diam saja.”

Jantung Arini berdetak lebih cepat.

“Aku masih mencintai kamu.”

Dunia seolah mengecil hanya menjadi meja mereka berdua. Arini membeku. Jemarinya kehilangan tenaga sampai serbet di tangannya hampir jatuh.

“Bagas...”

“Aku masih mencintai kamu,” ulang lelaki itu, kali ini lebih pelan, lebih berat.

“Mungkin perasaan ini bodoh. Mungkin juga salah. Tapi enggak pernah benar-benar hilang.”

Arini menatapnya tak percaya. Segala sesuatu yang tadi terasa rapuh kini berubah menjadi berbahaya.

“Kamu jangan ngomong begitu.”

“Kenapa?” Bagas tersenyum tipis, pahit. “Karena kamu istri orang?”

Arini tidak menjawab.

Bagas mengangguk kecil, seolah sudah tahu. “Aku tahu itu salah. Tapi aku lebih enggak tahan lihat kamu hidup tanpa bahagia.”

“Bagas...”

“Aku akan selalu ada kalau kamu butuh.” Mata lelaki itu tak bergeser sedikit pun dari wajahnya. “Aku enggak peduli bentuknya seperti apa.”

Arini menggeleng pelan, panik kecil mulai merambat di dadanya. “Jangan.”

Namun Bagas tetap melanjutkan, suaranya rendah dan mantap.

“Kalau menjadi orang yang kamu datangi diam-diam adalah satu-satunya cara supaya aku bisa tetap ada di dekatmu, aku rela.”

Napas Arini tercekat.

“Bahkan kalau aku harus jadi selingkuhanmu,” kata Bagas lirih, “aku tetap rela. Asal kamu enggak terus-terusan menderita sendirian.”

Arini benar-benar tak bisa bicara. Seharusnya ia marah, seharusnya ia berdiri dan pergi. Seharusnya ia melemparkan penolakan tegas ke wajah lelaki di depannya. Namun di saat yang sama, di titik hidupnya yang paling dingin, kalimat itu justru terdengar seperti sesuatu yang hangat—dan itu membuatnya takut.

Bagas merogoh saku kemejanya, lalu mengeluarkan sebuah kartu nama tipis. Ia meletakkannya pelan di dekat tangan Arini.

“Aku enggak minta jawaban sekarang,” katanya. “Tapi kalau suatu hari kamu butuh seseorang, hubungi aku.”

Arini menatap kartu itu tanpa berani menyentuhnya.

Di atas kertas putih itu tertulis nama yang tidak pernah benar-benar hilang dari hidupnya.

Bagaskara Pradipta.

Beberapa detik berlalu dalam diam. Lalu Arini menarik napas panjang, pelan-pelan, seolah sedang menahan sesuatu agar tidak tumpah tepat di depan lelaki yang dulu nyaris menjadi masa depannya.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia sadar yang paling berbahaya dari masa lalu bukanlah kenangan. Melainkan perasaan yang ternyata belum benar-benar mati.

1
Apem Crispy
Asik nih. Konfliknya pelik tapi realistis. Gak kartunal ataupun templated. 👍
Bagus Effendik: hehe ia kak terima kasih ya
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
lanjut dong seru nih
Bagus Effendik: siap pasti up tiap hari
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
semangat ya thor aku mendukungmu🤭
Bagus Effendik: terima kasih ya sudah berkunjung
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
lanjut thor up yang banyak
Bagus Effendik: pasti kak pasti up banyak🤭
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
aduh, aduh mana tidur sendiri lagi aku baca ini🤣 mantap thor
Bagus Effendik: hayo jangan kebawa baper ya
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
waduh berani sekali Arini
Bagus Effendik: ia bilangin dong itu nggak boleh🤭
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
loh jadi boleh ya rekues nama kita masuk novel ini hehe mau dong
Bagus Effendik: boleh kak asal gif hehe
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
kan kan di jebak Adnan kan hehe
Bagus Effendik: memang Arini tuh🤭
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
Arini ya hem jadi pingin cubit aku wkwkwk keren keren
Bagus Effendik: cubit aja dia kak😄
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
lanjut thor suka aku
Bagus Effendik: terima kasih atas sukanya👍
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
Arini mulai main-main ini
Bagus Effendik: lah ia ya kak
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
hem mulai kelihatan nih ya ketemu mantan 🤭
Bagus Effendik: hehe mantan apa ketan
total 1 replies
Dian Rini Mau Rini
Oh jadi tokoh utama cowoknya, Adnan ya semangat thor bagus
Bagus Effendik: benar kak
total 1 replies
Rohad™
Triple up thor 👍
Bagus Effendik: diusahakan sabar ya hehe🙏👍
total 4 replies
Rohad™
Tidak sabar untuk menunggu kehancuran Arini dan dukungannya 🤣👍
Bagus Effendik: hehe sabar ya
total 1 replies
Rohad™
Ngeri lah Adnan ini 👏
Bagus Effendik: harus ngeri dong hehe😄👍
total 1 replies
Agus Tina
Jangan bilang kalau Laras nanti jadi pengganti Arini, cerita spt itu sudah terlaku banyak thor. Orang kaya, berkuasa, matang jatuh cinta dgn gadia biasa dari kalangan biasa, polos, muda. Apa memang karakter lelaki seperti itu, harus merasa lebih berkuasa dan dominan. Jarang sekali saya menemukan cerita dgn tokoh laki2 yg kuat berkuasa bertemu dengan perempuan cerdas, sama2 punya kuasa walaupun tidak sebesar sg lelaki. Selalu kebalikannya ... agak bosan juga ....
Sori thor itu pendapat saya ... tapi tetap samangag bikin ceritanya ...
Bagus Effendik: oh ya terima kasih loh sudah membaca saya menghargai itu👍👍👍
total 2 replies
Larasz Ati
nah kan mulai retak Arini sih🤣 thor seru nih
Bagus Effendik: ia nih Arini dasar emang😄
total 1 replies
Larasz Ati
nah loh CLBK ets suami gimana tuh Adnan nih Arini selingkuh😄🤣 cakep dah Author nih nulis
Bagus Effendik: ia bilangin tuh Arini sudah punya suami juga🤣🤭👍
total 1 replies
Larasz Ati
nah loh nah loh ketemu mantan
Bagus Effendik: waduh ia hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!