"Di ruang sidang aku memenangkan keadilan, tapi di stasiun kereta, aku nyaris kalah oleh rindu."
Afisa Anjani bukanlah lagi gadis rapuh yang menangis karena diabaikan. Tahun 2021 menjadi saksi transformasinya menjadi associate hukum tangguh di Jakarta. Di sisinya, ada Bintang—dokter muda yang kehangatannya perlahan menyembuhkan trauma masa lalu Afisa.
Namun, saat janji suci diucapkan di tahun 2022, semesta justru memberi ujian baru. Afisa dipindahtugaskan ke Semarang untuk menangani kasus-kasus besar yang menguji integritasnya. Jakarta dan Semarang kini bukan sekadar nama kota, melainkan jarak yang menguji Ekuilibrium (keseimbangan) antara karier dan hati.
Di Semarang, Afisa berhadapan dengan dinginnya ruang sidang dan gedung Lawang Sewu, sementara di Jakarta, Bintang bergelut dengan detak jantung pasien di rumah sakit. Keraguan lama Afisa kembali muncul: Apakah Bintang akan bosan? Apakah cinta sanggup bertahan saat komunikasi hanya lewat layar ponsel ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Malam di Jakarta Selatan terasa lebih tenang setelah keriuhan akad nikah pagi tadi mereda. Di ruang makan rumah orang tua Afisa, aroma opor ayam buatan Bunda menyeruak, menciptakan suasana hangat yang begitu homey. Namun bagi Afisa, suasana malam ini terasa sangat berbeda.
Ada sosok pria dengan kemeja koko yang rapi duduk di kursi yang biasanya kosong di sampingnya. Pria yang tadi pagi menjabat tangan Ayahnya dengan mantap.
"Ayo dimakan, bekal tenaga buat yang besok mau mulai cicil pindahan," ucap Bunda sambil meletakkan piring berisi buah potong di tengah meja.
Afisa meraih piring kosong, lalu menoleh ke arah pria di sampingnya. Lidahnya terasa kelu, jantungnya berdebar hanya untuk mengucapkan satu kata yang sedari tadi ia latih di dalam hati.
"Nasi... nasinya mau seberapa, Mas Bintang?" tanya Afisa pelan. Suaranya hampir tenggelam oleh bunyi denting sendok Ayah.
Bintang—yang kini sudah resmi dipanggil Mas Bintang—langsung menghentikan kegiatannya menata sendok. Ia menoleh, menatap Afisa dengan binar mata yang begitu jenaka sekaligus penuh kasih.
"Apa, Fis? Boleh diulang? Aku tadi kurang dengar," goda Bintang, sengaja memasang telinga lebih dekat ke arah Afisa.
"Mas... Mas Bintang," ulang Afisa, kali ini dengan rona merah yang menjalar hingga ke telinga. Ia menunduk, sibuk menyendokkan nasi ke piring suaminya untuk menutupi rasa malu.
Ayah tertawa renyah melihat pemandangan itu. "Nah, gitu dong! Kan enak dengarnya. Masa sudah sah di mata Tuhan panggilnya masih kayak teman debat di kampus."
"Tuh, denger kata Ayah, Sayang. Panggilan itu punya kekuatan hukum tetap lho," timpal Bintang sambil menerima piring dari tangan Afisa. "Terima kasih ya, Istriku."
Kalimat terakhir Bintang sukses membuat tangan Afisa sedikit gemetar. Ia melayani Bintang dengan telaten—mengambilkan sayur, memilihkan potongan ayam yang paling empuk, hingga menuangkan air putih. Ini adalah momen pertama dalam empat tahun hubungan mereka di mana Afisa merasa peran "pelindung" itu mulai ia bagi.
"Gimana, Mas? Masakan Bunda enak, kan?" tanya Afisa setelah Bintang mencicipi suapan pertamanya.
"Enak banget. Tapi yang menyajikan rasanya bikin jadi berkali-kali lipat lebih enak," jawab Bintang tulus. Ia melirik jam di tangannya. "Ingat ya Fis, kita masih punya waktu satu minggu sampai tanggal 15 Januari nanti. Besok aku libur, aku mau kita mulai pindahin barang-barang penting kamu ke 'Safe House' kita di Jakarta."
Afisa tersenyum, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Bintang. "Iya, Mas. Besok kita beresin semuanya."
Makan malam itu berlangsung penuh tawa dan kehangatan. Di meja makan kayu tua itu, Afisa menyadari bahwa status baru ini memberinya kekuatan yang tak terduga. Jarak Semarang memang nyata di depan mata, tapi "Mas Bintang" yang kini duduk di sampingnya adalah jangkar yang akan selalu menahannya agar tidak hanyut oleh ketakutan masa lalu.
"Mas..." bisik Afisa saat mereka sedang merapikan meja berdua, sementara Ayah dan Bunda sudah pindah ke ruang tengah.
"Ya, Sayang?"
"Terima kasih sudah nggak pernah menyerah buat jadi 'Mas'-nya aku."
Bintang meletakkan piring yang ia pegang, lalu mengecup kening Afisa lama sekali. "Terima kasih sudah mau jadi rumah tempat aku pulang, Afisa."
" love you sayang "
" love you too mas "
Bintang terdiam sesaat, seolah-olah kata-kata "Love you too, Mas" dari bibir Afisa adalah melodi terindah yang pernah ia dengar dalam enam tahun ini. Ia meletakkan piring yang baru saja ia bilas, mengeringkan tangannya dengan cepat, lalu memutar tubuhnya untuk menghadapi istrinya sepenuhnya.
Suasana dapur yang hanya diterangi lampu kuning temaram terasa semakin sempit, namun meneduhkan. Bintang menatap Afisa lurus ke dalam matanya, tatapan yang begitu intens hingga Afisa bisa merasakan degup jantungnya sendiri yang menggila.
"Enam tahun, Fis," gumam Bintang dengan suara rendah yang sedikit serak. "Enam tahun aku belajar sabar, belajar nunggu di pinggir jalan hidup kamu, cuma buat mastiin kamu nggak sendirian saat duniamu lagi runtuh."
Ia meraih kedua tangan Afisa, menggenggamnya erat di depan dada. "Aku pernah lihat kamu nangis karena laki-laki lain. Aku pernah lihat kamu hampir menyerah sama skripsi kamu. Dan sekarang, ngelihat kamu berdiri di sini, manggil aku 'Mas' dan bilang 'Love you', rasanya semua penantian itu... lunas. Bahkan lebih dari lunas."
Afisa menunduk, matanya mulai berkaca-kaca. Ia ingat betul bagaimana Bintang selalu ada di masa-masa tergelapnya, menjadi sosok yang tak pernah menuntut, namun selalu menyediakan bahu.
"Maaf ya, Mas, kalau aku butuh waktu selama itu buat sadar kalau rumah aku beneran ada di kamu," bisik Afisa pelan.
Bintang menarik Afisa ke dalam pelukannya, melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu dengan penuh proteksi. Afisa menyandarkan kepalanya di dada bidang Bintang, menghirup aroma maskulin yang menenangkan dari kemeja koko suaminya.
"Kamu nggak telat, Fis. Kamu datang tepat waktu, saat hatimu sudah benar-benar selesai sama masa lalumu. Dan itu yang paling penting buat aku," Bintang mengecup puncak kepala Afisa dengan khidmat.
Ia melepaskan pelukannya sedikit, lalu mengangkat dagu Afisa agar mereka kembali bertatapan. "Januari 2022 ini... Semarang mungkin bakal ambil raga kamu buat sementara. Tapi setelah janji tadi pagi di depan Ayah, aku nggak takut lagi. Jarak ratusan kilometer itu cuma ujian kecil buat ekuilibrium kita."
Bintang tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan kepastian. "Sekarang, Nyonya Bintang, mending kita istirahat. Besok kita punya misi besar buat angkut barang-barang kamu ke 'Safe House' kita. Aku nggak mau kamu kurang tidur di hari pertama kita jadi tim pindahan."
Afisa tertawa kecil, rasa sesak tentang keberangkatan tanggal 15 nanti seolah menguap begitu saja. Benar kata Bintang, status baru ini adalah jangkar yang kuat.
"Siap, Kapten. Eh, maksud aku... siap, Mas Bintang," ralat Afisa sambil mengerlingkan mata jenaka.
Malam itu, di bawah atap rumah Jakarta Selatan yang menjadi saksi bisu transformasinya, Afisa tidur dengan hati yang tenang. Ia tidak lagi merasa seperti sampah yang dibuang; ia adalah berlian yang akhirnya ditemukan dan dijaga oleh pemilik yang tepat.