"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."
Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.
Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
..
Lantai rumah sakit swasta milik Jionel Group itu disterilkan total. Tidak ada pasien lain, tidak ada perawat yang berani bicara keras, hanya ada derap langkah sepatu kulit Liam Jionel yang bergema di lorong marmer yang dingin. Wajahnya yang biasanya terpahat sempurna kini memiliki goresan luka bakar kecil di pipi, sisa dari ledakan di mansion semalam, namun hal itu justru membuatnya tampak sepuluh kali lebih berbahaya.
Di dalam kamar VVIP, Kalea terbaring dengan masker oksigen tipis. Kulitnya yang pucat kontras dengan seprai putih bersih. Ia belum bangun sejak helikopter mendarat, namun napasnya sudah mulai stabil.
Liam berdiri di samping tempat tidur, menatap tangan Kalea yang masih melingkar kaku—seolah bahkan dalam tidurnya pun, gadis itu sedang bersiap untuk mencekik siapa pun yang mendekat.
"Tuan Liam," Aris muncul di ambang pintu, suaranya nyaris berbisik. "Clarissa sudah diamankan di ruang interogasi bawah tanah gudang logistik. Dia mencoba melarikan diri ke Singapura pagi ini, tapi tim kita mencegatnya di jalur privat bandara."
Liam tidak mengalihkan pandangannya dari Kalea. "Bawa dia ke sini."
Aris tertegun. "Ke rumah sakit, Tuan? Ini tempat publik, risiko—"
"Aku tidak peduli," potong Liam, suaranya sedingin es yang merambat di dinding. "Aku ingin dia melihat apa yang hampir dia hancurkan. Aku ingin dia melihat 'nisan hidup' ini tetap bernapas, sementara dia sendiri akan kehilangan haknya untuk melihat cahaya matahari."
Satu jam kemudian, pintu kamar rawat itu terbuka dengan kasar. Dua pengawal menyeret Clarissa masuk. Penampilan sang model papan atas itu hancur lebur. Gaun sutranya robek, rambutnya berantakan, dan riasannya luntur oleh air mata ketakutan.
Begitu melihat Liam berdiri di kegelapan sudut ruangan, Clarissa jatuh tersungkur di lantai. "Liam... tolong... aku hanya... aku melakukannya karena aku mencintaimu! Gadis itu hanya parasit! Dia hanya bayangan Andini!"
Liam melangkah maju, perlahan, hingga ujung sepatu mengkilapnya menyentuh jemari Clarissa yang gemetar di lantai. Ia membungkuk, mencengkeram rambut Clarissa hingga wanita itu terpaksa mendongak dengan rintihan kesakitan.
"Cinta?" Liam tertawa pelan, sebuah tawa yang sanggup membuat bulu kuduk siapa pun meremang. "Kau tidak tahu arti kata itu, Clarissa. Kau membakar rumahku. Kau mencoba membunuh aset paling berhargaku. Dan yang paling parah... kau mencoba menggunakan masa laluku untuk bermain-main."
Liam menarik Clarissa mendekat ke arah tempat tidur Kalea. "Lihat dia, Clarissa. Lihat baik-baik."
Clarissa menggeleng kalap, air matanya tumpah. "Tidak... Liam, maafkan aku..."
"Kau bilang dia pengganti Andini, kan?" Liam berbisik tepat di telinga Clarissa, suaranya penuh racun. "Mungkin awalnya begitu. Tapi malam ini, aku menyadari satu hal. Andini sudah mati, dan dia tidak pernah seberani Kalea. Kalea adalah api yang membakar rasa bersalahku. Dan kau... kau baru saja mencoba memadamkan satu-satunya alasan aku merasa hidup kembali."
Liam melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat kepala Clarissa terbentur kaki tempat tidur. "Aris, hubungi agensi-agensi internasional. Cabut semua kontraknya. Bekukan semua aset atas namanya. Dan pastikan foto-foto dia saat memesan pembunuh bayaran itu sampai ke meja kepolisian dalam satu jam."
"Liam! Jangan! Aku akan hancur! Karierku!" Clarissa menjerit histeris, merangkak mencoba memeluk kaki Liam.
"Kau sudah hancur sejak kau menyentuh pemantik api itu," balas Liam tanpa belas kasihan. "Bawa dia pergi. Aku muak mencium aroma keputusasaannya."
Setelah Clarissa diseret keluar dengan jeritan yang perlahan menghilang di lorong, ruangan kembali sunyi. Hanya ada bunyi bip teratur dari mesin pemantau jantung.
Kalea mulai mengerang pelan. Kelopak matanya yang lentik bergerak-gerak sebelum akhirnya terbuka perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit putih dan wajah Liam yang menunduk menatapnya.
Kalea mencoba bicara, tapi tenggorokannya terasa terbakar. Ia teringat asap, api, dan pelukan Liam di atap.
"Jangan bicara dulu," ucap Liam, tangannya yang besar dan hangat mengusap dahi Kalea. "Kau aman. Semuanya sudah berakhir."
Kalea menarik napas panjang, menyingkirkan masker oksigennya dengan susah payah. Suaranya serak, nyaris hilang. "Clarissa...?"
"Dia sudah diurus," jawab Liam singkat.
Kalea menatap mata Liam lama. Ada sesuatu yang berbeda di sana. Bukan lagi tatapan predator yang lapar, tapi sesuatu yang lebih dalam, lebih gelap, dan lebih mengikat. "Kau menyelamatkanku semalam. Kenapa?"
Liam duduk di tepi tempat tidur, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. "Karena aku belum bosan menyiksamu, Gadis Kecil."
Kalea tersenyum getir, sebuah senyuman yang menyakitkan. "Bohong. Kau menyelamatkanku karena kau takut kehilangan bayangan Andini lagi, kan? Kau takut gagal menyelamatkan 'dia' untuk kedua kalinya."
Rahang Liam mengeras. Ia mencengkeram jemari Kalea yang terpasang infus. "Pikirkan sesukamu. Tapi mulai hari ini, kau tidak akan kembali ke mansion lama itu. Aku sudah membeli unit penthouse baru dengan sistem keamanan paling mutakhir. Kau tidak akan pernah keluar dari sana tanpa seizinku."
"Satu sangkar hancur, kau bangun sangkar lain," gumam Kalea, matanya mulai berkaca-kaca karena kelelahan emosional. "Sampai kapan, Liam? Sampai aku benar-benar berubah jadi dia?"
Liam terdiam. Ia merunduk, mencium kening Kalea dengan penuh intensitas yang membuat jantung Kalea berdetak liar. "Sampai aku merasa cukup. Dan aku... tidak pernah merasa cukup jika itu menyangkut dirimu."
Kalea memalingkan wajah, menatap ke arah jendela rumah sakit yang menampilkan langit Jakarta yang kini cerah seolah tidak pernah ada tragedi semalam. Ia merasa jiwanya makin tenggelam dalam pusaran kegilaan Liam Jionel. Di satu sisi, ia benci karena diperlakukan seperti properti. Di sisi lain, ia tidak bisa memungkiri bahwa di dalam pelukan iblis inilah, ia merasa paling terlindungi dari dunia yang jahat.
Tiba-tiba, Aris masuk kembali dengan wajah yang lebih tegang dari sebelumnya. "Tuan Liam... ada masalah di lobby. Tuan Adipati Adiwinata datang bersama pengacaranya. Dia membawa dokumen yang mengklaim bahwa Kalea tidak stabil secara mental dan dia menuntut hak asuh atas putrinya."
Kalea tersentak, mencoba duduk tegak namun tubuhnya masih terlalu lemah. "Ayah... dia ingin apa lagi?"
Liam menyeringai, sebuah senyuman yang menjanjikan pertumpahan darah. Ia berdiri, merapikan jasnya yang sedikit kusut. "Dia ingin bermain-main dengan hukum? Bagus. Aku baru saja ingin menghancurkan sesuatu hari ini."
Liam menoleh pada Kalea, memberikan tatapan yang seolah berkata 'tunggu di sini'. "Istirahatlah, Kalea. Biar aku ajarkan ayahmu bagaimana cara bicara dengan pria yang sudah memiliki putrinya—secara lahir dan batin."
Liam keluar dari kamar dengan langkah predator, meninggalkan Kalea yang kembali terjebak dalam kecemasan. Ternyata, api semalam hanyalah pembuka. Sekarang, perang perebutan "aset" antara Liam Jionel dan Adipati Adiwinata baru saja dimulai. Dan Kalea tahu, di tengah pertarungan dua raksasa ini, dia hanyalah hadiah yang akan ditarik ke sana kemari hingga mungkin... hancur berkeping-keping.