Sinopsis Novel – Kelas Penyihir IX B
Rifky adalah seorang anak manusia biasa yang tiba-tiba terjebak di dunia sihir dan masuk ke sebuah sekolah misterius bernama Sekolah Sihir IX B. Di sana ia bertemu dengan Wida, seorang penyihir baik hati yang kemudian menjadi sahabatnya. Bersama Zahira, Oliv, Deni, Rais, Gofirr, dan teman-teman lainnya, Rifky mulai menjalani kehidupan baru penuh keajaiban, latihan sihir, dan petualangan yang tak terduga.
Namun kehidupan di sekolah itu tidak selalu aman. Tiga murid berbahaya, Mila, Diva, dan Eva, diam-diam merencanakan sesuatu yang gelap. Ketika Rifky tanpa sengaja menyentuh sebuah kristal sihir kuno, kekuatan misterius bangkit di dalam dirinya. Kekuatan itu membuat banyak orang terkejut, bahkan kepala sekolah sihir, Nenek Misel.
Kini Rifky harus belajar mengendalikan kekuatan yang tidak ia mengerti, sambil menghadapi ujian sihir, rahasia masa lalu, dan ancaman dari musuh yang ingin merebut kekuatannya. Petualangan, persahabatan, dan misteri besar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifky Hemuto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2-3 - Monster dari Hutan Terlarang&Bayangan di Balik Gerbang
# KELAS PENYIHIR - SEASON 2
## Bab 2 - Monster dari Hutan Terlarang
Malam itu, angin dingin berhembus lebih kencang dari biasanya.
Awan hitam menutupi bulan di atas Sekolah Sihir milik Nenek Misel. Cahaya dari menara-menara sekolah terlihat redup, seolah-olah sesuatu yang buruk sedang mendekat.
Di dalam asrama murid laki-laki, hampir semua siswa sudah tidur.
Namun **Rifky** masih terjaga.
Ia duduk di dekat jendela sambil memandang ke arah **hutan terlarang** yang berada di belakang sekolah.
Hutan itu selalu terlihat menyeramkan, bahkan di siang hari. Pepohonannya tinggi dan rapat, membuat cahaya sulit masuk ke dalamnya.
Tetapi malam itu... sesuatu terasa berbeda.
Rifky merasakan **energi aneh** dari arah hutan.
Energi yang mirip dengan kekuatan kegelapan yang pernah mereka lawan dulu.
"Apa aku cuma berhalusinasi?" gumamnya pelan.
Tiba-tiba-
GRRRRRRRRRR...
Suara gemuruh terdengar dari arah hutan.
Rifky langsung berdiri.
"Itu... suara apa?"
Suara itu semakin keras.
Tanah bahkan terasa sedikit bergetar.
Tak lama kemudian pintu kamar terbuka dengan keras.
**Candra** masuk dengan wajah panik.
"RIFKY! KAU DENGAR ITU?!"
Di belakangnya ada **Deni** yang terlihat ketakutan.
"Ada sesuatu di hutan!"
Rifky langsung berdiri.
"Aku juga merasakannya."
Tiba-tiba-
BOOOOOOM!
Suara ledakan besar mengguncang seluruh sekolah.
Lampu sihir di kamar langsung berkedip.
"APA LAGI ITU?!" teriak Candra.
Dari luar terdengar suara lonceng darurat sekolah.
DONG! DONG! DONG!
Rifky langsung tahu.
"Itu lonceng bahaya!"
Mereka bertiga berlari keluar kamar.
Di lorong asrama, banyak murid lain juga keluar dengan wajah bingung dan takut.
"Kenapa loncengnya berbunyi?!"
"Ada apa?!"
Di luar halaman sekolah, para penjaga sudah berkumpul.
**Riski**, penjaga sekolah, berdiri di depan gerbang sambil memegang tombak sihir.
Wajahnya sangat serius.
"Semua murid tetap di dalam gedung!" teriaknya.
Namun saat itu-
CRASH!!!
Gerbang besar sekolah tiba-tiba hancur.
Kayu dan batu beterbangan ke udara.
Semua murid berteriak kaget.
Dari balik debu muncul **sesuatu yang sangat besar**.
Makhluk itu tingginya hampir dua kali pohon besar.
Tubuhnya hitam seperti batu, dengan mata merah menyala.
Tangannya besar dengan cakar tajam.
"MONSTER!!!" teriak Candra.
Makhluk itu mengaum keras.
"GRAAAAAAAHHHH!!!"
Getaran suaranya membuat tanah bergetar.
Para murid langsung panik.
"LARI!!!"
Namun sebelum mereka sempat bergerak-
Sebuah cahaya biru muncul di udara.
**Nenek Misel** muncul dari atas menara sekolah.
Ia melayang di udara dengan tongkat sihirnya.
"Semua murid tetap tenang!" katanya dengan suara kuat.
Ia mengangkat tongkatnya.
"MANTRA PELINDUNG!"
Perisai cahaya besar muncul di sekitar gedung utama sekolah.
Makhluk raksasa itu mencoba menghantamnya.
BOOOM!
Namun perisai itu menahan serangan tersebut.
Di halaman, **Rais** sudah berdiri dengan wajah serius.
"Akhirnya... sesuatu yang menarik."
Tubuhnya mulai berubah.
Ototnya membesar.
Dalam beberapa detik, Rais berubah menjadi **raksasa seperti Hulk**.
Candra langsung berteriak,
"RAIS MODE RAKSASA!"
Rais melompat tinggi.
BOOOM!
Ia mendarat tepat di depan monster itu.
"Ayo kita lihat siapa yang lebih kuat."
Monster itu menyerang dengan cakarnya.
Namun Rais menahan serangan itu dengan tangannya.
Dua kekuatan besar bertabrakan.
Tanah di sekitar mereka retak.
Di belakang Rais, **Wida, Zahira, dan Oliv** berlari keluar dari gedung.
"Kita harus membantu!" kata Wida.
Zahira langsung mengangkat tongkat sihirnya.
"LUMINA STRIKE!"
Cahaya terang mengenai tubuh monster.
Namun monster itu hanya mundur sedikit.
"Dia kuat sekali!" kata Oliv.
Sementara itu **Gofirr** berlari sambil membawa buku sihir.
"Aku pernah membaca tentang makhluk ini!"
"Apa itu?" tanya Deni panik.
Gofirr membuka halaman bukunya.
"Ini disebut Gorgon Hutan Gelap!"
"Makhluk penjaga yang biasanya muncul jika portal kegelapan mulai terbuka lagi."
Semua terdiam beberapa detik.
"Jadi..." kata Candra.
"Artinya masalah kita belum selesai?"
Rifky menatap monster itu dengan serius.
Ia bisa merasakan sesuatu.
Energi yang sama seperti sebelumnya.
Energi kegelapan.
Monster itu tiba-tiba mengaum lagi.
Lalu menghantam tanah.
BOOOOOOM!!!
Gelombang kekuatan besar menyapu halaman sekolah.
Beberapa murid terjatuh.
Rais bahkan terdorong beberapa langkah ke belakang.
"Wow..." kata Rais.
"Dia lebih kuat dari yang kukira."
Tiba-tiba-
Cahaya putih muncul dari tangan Rifky.
Semua murid menoleh.
"Rifky?" kata Wida.
Rifky melangkah maju.
"Aku bisa merasakan sesuatu."
"Apa?" tanya Zahira.
Rifky menatap monster itu.
"Makhluk ini... bukan datang sendiri."
Gofirr langsung kaget.
"Maksudmu?"
Rifky menunjuk ke arah **hutan terlarang**.
"Ada seseorang yang memanggilnya."
Semua langsung melihat ke arah hutan.
Di antara pepohonan gelap...
tiga bayangan berdiri diam.
**Mila. Diva. Eva.**
Mila tersenyum tipis.
"Pertunjukan yang bagus."
Eva tertawa kecil.
"Anak-anak sekolah sihir ini memang lucu."
Diva berkata dingin,
"Tapi kita tidak datang untuk bermain."
Ia mengangkat tangannya.
Energi hitam mengalir ke monster itu.
Tiba-tiba tubuh monster menjadi **dua kali lebih besar**.
"APA?!?!" teriak Candra.
Rais menatap monster itu.
"Baiklah... sekarang ini benar-benar menarik."
Rifky mengepalkan tangannya.
Cahaya dari tubuhnya mulai muncul lagi.
Wida berdiri di sampingnya.
"Kita lakukan seperti dulu."
Zahira dan Oliv juga ikut berdiri.
"Bersama-sama."
Di belakang mereka, semua murid mulai bersiap.
Deni mencoba mantra.
Candra membawa tongkat sihirnya.
Gofirr membaca mantra dari bukunya.
Bahkan Velop yang biasanya penakut ikut berdiri.
Di hutan, Mila tersenyum.
"Ya... berjuanglah."
"Karena ini baru permulaan."
Langit disambar petir.
Monster raksasa itu mengaum keras.
"GRAAAAAAAHHHH!!!"
Dan pertempuran besar untuk kelas penyihir kembali dimulai.
KELAS PENYIHIR IX B – SEASON 2
Bab 3: Bayangan di Balik Gerbang
Langit pagi di Akademi Sihir Misel terlihat aneh. Biasanya langit selalu cerah dengan sedikit kabut sihir yang melayang-layang di atas menara sekolah. Namun pagi itu langit tampak lebih gelap, seperti ada bayangan besar yang perlahan menutupi cahaya matahari.
Rifky berdiri di depan jendela asrama sambil menatap langit itu.
Ia masih memikirkan kejadian malam sebelumnya ketika mereka menemukan simbol aneh di gerbang rahasia sekolah. Simbol itu bukan simbol sihir biasa. Bahkan Wida pun tidak pernah melihatnya sebelumnya.
Langkah kaki terdengar dari belakang.
“Rifky, kamu belum siap?” tanya Wida.
Rifky menoleh. Wida berdiri di pintu dengan wajah sedikit khawatir.
“Aku cuma merasa ada sesuatu yang aneh hari ini,” kata Rifky pelan.
Wida berjalan mendekat dan ikut melihat ke luar jendela.
“Aku juga merasakannya.”
Beberapa detik mereka hanya diam.
Tiba-tiba terdengar suara keras dari halaman sekolah.
BOOM!
Suara itu membuat seluruh siswa di asrama terkejut.
“Apa itu?” tanya Zahira dari luar kamar.
Rifky dan Wida langsung berlari keluar.
Di lorong mereka bertemu Oliv yang juga terlihat panik.
“Ada ledakan di halaman sekolah!” kata Oliv.
Tanpa menunggu lagi mereka semua berlari menuju halaman.
Saat mereka sampai di sana, sudah banyak siswa berkumpul.
Amira, Elsi, Nirmala, Finel, Erina, Aldi, Brayen, Girel, dan Naufal berdiri berkelompok sambil membicarakan sesuatu dengan suara panik.
Candra malah terlihat berlari kesana kemari sambil berteriak.
“AKU TAHU! INI PASTI ULAR NAGA TAK TERLIHAT!”
Beberapa siswa langsung menatapnya dengan wajah aneh.
“Candra, diamlah,” kata Gofirr sambil menghela napas.
Di tengah halaman terlihat sebuah lingkaran hitam besar di tanah, seperti bekas ledakan sihir.
Riski, penjaga sekolah, berdiri di dekat lingkaran itu dengan wajah serius.
“Tidak ada yang boleh mendekat!” teriaknya.
Rifky mencoba melihat lebih jelas.
Lingkaran itu bukan bekas ledakan biasa. Tanah di sekitarnya terlihat seperti terbakar oleh energi gelap.
Deni datang berlari.
“Aku mendengar ledakan dari asrama!”
“Semua juga mendengarnya,” kata Zahira.
Velop berdiri agak jauh dari kerumunan. Seperti biasa ia terlihat takut dan hampir menangis.
Namun kali ini Wida mendekatinya.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Wida.
Velop menggeleng pelan.
“Aku... aku hanya takut.”
Wida menepuk bahunya dengan lembut.
Sementara itu di tengah halaman, Riski masih mengawasi lingkaran hitam itu.
Tiba-tiba terdengar suara tongkat menyentuh tanah.
Tok.
Semua siswa langsung menoleh.
Nenek Misel datang berjalan pelan menuju lingkaran itu.
Aura sihirnya terasa sangat kuat.
Semua siswa langsung diam.
Misel melihat lingkaran hitam itu dengan wajah serius.
“Aku harap ini bukan yang kupikirkan,” katanya pelan.
Rifky mendengar kata-kata itu dan merasa jantungnya berdetak lebih cepat.
“Apa maksudnya?” bisik Oliv.
Misel mengangkat tongkatnya dan menyentuh tanah di dekat lingkaran.
Cahaya biru muncul dari tongkat itu.
Namun ketika cahaya menyentuh lingkaran hitam, tiba-tiba cahaya itu langsung padam.
Semua siswa terkejut.
Gofirr sampai membuka matanya lebar-lebar.
“Itu tidak mungkin…”
Rifky juga merasa merinding.
Jika sihir Misel saja tidak bisa menembus lingkaran itu, berarti sesuatu yang sangat kuat telah muncul.
Misel berdiri perlahan.
Wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya.
“Semua siswa kembali ke kelas,” katanya tegas.
“Sekarang.”
Para siswa mulai saling melihat dengan bingung.
Namun tidak ada yang berani membantah.
Satu per satu mereka mulai berjalan menuju gedung sekolah.
Rifky dan teman-temannya berjalan bersama menuju kelas IX B.
Di sepanjang jalan semua orang terus membicarakan kejadian tadi.
“Apa itu portal?” tanya Zahira.
“Mungkin,” jawab Gofirr.
“Kalau itu portal… berarti seseorang mencoba membuka gerbang dari luar dunia sihir.”
Rifky langsung teringat sesuatu.
“Gerbang yang kita temukan kemarin…”
Wida juga terlihat menyadarinya.
“Kamu pikir ini berhubungan?”
“Bisa jadi.”
Mereka akhirnya sampai di kelas IX B.
Semua siswa duduk di kursi masing-masing.
Namun tidak ada yang benar-benar tenang.
Candra bahkan masih melihat ke jendela dengan wajah curiga.
“Aku yakin ada naga tak terlihat di luar.”
“Candra,” kata Oliv.
“Kalau kamu bicara naga lagi aku akan mengubahmu jadi katak.”
Candra langsung diam.
Beberapa menit kemudian pintu kelas terbuka.
Fauzan, penjaga perpustakaan sihir, masuk ke kelas.
Semua siswa langsung terkejut.
Fauzan jarang sekali datang ke kelas.
“Selamat pagi,” katanya tenang.
“Mulai hari ini ada perubahan aturan di sekolah.”
Semua siswa langsung memperhatikan.
“Mulai sekarang tidak ada siswa yang boleh keluar dari area sekolah setelah matahari terbenam.”
“Kenapa?” tanya Brayen.
Fauzan tidak langsung menjawab.
“Karena kita tidak tahu apa yang sedang mencoba masuk ke dunia ini.”
Kata-kata itu membuat suasana kelas langsung menjadi sunyi.
Rifky merasa merinding.
Fauzan melanjutkan.
“Beberapa energi gelap telah terdeteksi di sekitar sekolah.”
“Dan kemungkinan besar itu bukan kebetulan.”
Wida mengangkat tangan.
“Apakah ini berhubungan dengan simbol aneh yang muncul di gerbang lama?”
Fauzan menatapnya.
“Kamu melihat simbol itu?”
Wida mengangguk.
Fauzan terlihat semakin serius.
“Itu berarti kalian sudah lebih jauh terlibat dari yang seharusnya.”
Rifky langsung merasa tidak nyaman mendengar kalimat itu.
“Terlibat dalam apa?” tanya Zahira.
Fauzan menarik napas pelan.
“Sebuah kekuatan lama sedang mencoba bangkit.”
“Dan jika kita tidak menghentikannya…”
Ia berhenti sebentar.
“Dunia sihir dan dunia manusia bisa runtuh bersamaan.”
Semua siswa langsung terdiam.
Bahkan Candra pun tidak bercanda lagi.
Rifky merasa pikirannya berputar.
Dunia manusia.
Itu adalah dunia asalnya.
Jika dunia itu runtuh…
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi.
Tiba-tiba pintu kelas terbuka lagi.
Semua orang menoleh.
Tiga orang berdiri di sana.
Mila.
Diva.
Eva.
Ketiganya berjalan masuk dengan senyum tipis.
“Wah… kelasnya serius sekali,” kata Mila.
Diva menyilangkan tangan.
“Kami hanya ingin melihat apakah kalian sudah tahu.”
“Bahwa permainan baru saja dimulai.”
Rifky berdiri dari kursinya.
“Apa maksudmu?”
Mila menatapnya dengan senyum misterius.
“Gerbang itu baru awal.”
“Segera… sesuatu akan keluar dari sana.”
Eva menambahkan dengan suara pelan.
“Dan saat itu terjadi…”
“Tidak ada yang bisa menghentikannya.”
Suasana kelas terasa semakin menegangkan.
Rifky merasa ada sesuatu yang sangat besar sedang mendekat.
Sesuatu yang bahkan lebih berbahaya dari yang pernah mereka hadapi sebelumnya.
Dan jauh di luar sekolah…
Di dalam hutan gelap…
Gerbang batu yang mereka temukan mulai bersinar lagi.
Retakan kecil muncul di permukaannya.
Cahaya hitam perlahan keluar dari celah itu.
Seperti ada sesuatu yang mencoba membuka pintu dari sisi lain.
Sesuatu yang sudah lama menunggu.
Dan sekarang…
Ia hampir bebas.
Cerita bersambung ke Bab 4: Makhluk Dari Celah Dunia.