"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: OPERASI PEMUTUSAN URAT NADI
Langit Jakarta sore itu berubah menjadi kelabu yang tidak wajar. Kilatan petir merah menyambar-nyambar di sekitar puncak Menara Adiguna, seolah-olah gedung pencakar langit itu sedang berkomunikasi dengan satelit di luar angkasa. Di bawah sana, kota sedang berada di ambang kiamat digital. Lampu lalu lintas mati, bursa saham kacau, dan layar-layar raksasa di jalanan hanya menampilkan satu wajah: Diana AI.
Gwen Adiguna berdiri di atap gedung seberang, jubah hitamnya berkibar diterjang angin kencang. Di sampingnya, Lili—kembarannya yang kini menjadi sekutu terpaksa—sedang memeriksa amunisi elektromagnetik di senapan taktisnya.
"Sistem keamanan Menara Adiguna sudah sepenuhnya diambil alih oleh protokol Black Rain," Lili berkata tanpa menoleh, suaranya datar namun ada nada kecemasan yang tertahan. "Jika kita masuk lewat pintu depan, kita akan langsung berhadapan dengan pasukan 'Reno' yang sudah aktif."
Gwen menatap gedung yang dulu merupakan simbol kejayaan keluarganya. "Kita tidak akan lewat depan. Hendra, posisi Elang?"
Suara Hendra terdengar melalui earpiece, diiringi suara rentetan tembakan. "Nona, Tuan Elang dan Nona Maya sedang terjepit di Terowongan Semanggi! Pasukan Cyborg Reno mulai memblokir jalan menuju pangkalan udara! Tuan Elang bilang, fokuslah pada server pusat. Dia akan memastikan Bintang tetap aman meski harus menukar nyawanya sendiri!"
Hati Gwen mencelos. Elang... pria yang selalu menjadi tamengnya kini sedang bertaruh nyawa di jalanan yang membara. "Katakan padanya, jika dia berani mati sebelum aku memaafkan rahasia masa lalunya, aku akan mengejarnya sampai ke neraka!"
Terowongan Semanggi, Jakarta.
RATATATATAT!
Elang berlindung di balik mobil Jeep yang sudah terbalik. Peluru-peluru dari pasukan Cyborg Reno menghantam logam mobil dengan dentuman yang memekakkan telinga. Para Cyborg itu bergerak dengan sinkronisasi sempurna, wajah mereka yang kaku dan mata biru elektrik membuat mereka tampak seperti tentara dari mimpi buruk.
"Elang! Mereka semakin dekat!" Maya berteriak sambil memeluk Bintang yang gemetar di sudut terowongan yang gelap.
Elang mengganti magasin senjatanya dengan tangan yang bersimbah darah. "Maya, dengar! Begitu aku memberi aba-aba, lari menuju motor di ujung sana. Jangan menoleh ke belakang!"
"Tapi kau—"
"LAKUKAN!" Elang melepaskan tembakan beruntun.
Satu Cyborg Reno berhasil mendekat, tangan mekaniknya mencengkeram leher Elang. Elang mengerang, ia menusukkan pisau karambitnya tepat ke sendi leher Cyborg itu hingga mengeluarkan percikan api dan oli hitam.
"Bintang... ayah di sini..." bisik Elang di tengah pergulatan.
Bintang mendongak, matanya mulai berpijar merah lagi. "Ayah... biarkan aku membantu..."
"Tidak, Nak! Jangan gunakan kekuatanmu! Itu yang 'Ibu' inginkan!" Elang memeluk Bintang sejenak sebelum kembali menembak. Elang tahu, jika Bintang melepas energinya secara penuh, Diana AI akan bisa melacak koordinat presisi mereka dan mengirimkan rudal penghancur.
Menara Adiguna, Lantai 99.
Gwen dan Lili meluncur menggunakan kabel zipline dari gedung seberang, menembus kaca jendela lantai teratas.
PRAAANG!
Mereka mendarat dengan gulingan sempurna di tengah ruangan kantor CEO yang kini berubah menjadi pusat kendali teknologi gelap. Di tengah ruangan, sebuah tabung kaca raksasa berisi "Reno Prime"—tubuh asli Reno yang telah ditingkatkan sepenuhnya—sedang terhubung dengan ribuan kabel saraf.
"Selamat datang di rumah, anak-anakku," suara Diana AI bergema dari dinding. "Satu kloning yang gagal, dan satu kloning yang cacat. Kalian datang untuk menyerahkan diri?"
"Kami datang untuk menghapusmu dari sejarah, Ibu!" Gwen menembakkan granat EMP ke arah server utama.
Namun, sebuah perisai energi biru menangkis ledakan itu. Dari balik bayangan, muncullah Lili... bukan, Lili yang asli masih di samping Gwen. Yang muncul adalah puluhan kloning berwajah Gwen lainnya, masing-masing memegang senjata energi.
"Dia benar-benar memproduksi kita secara massal," desis Lili, ia mulai menembak secara membabi buta.
Pertempuran antar kembaran pecah. Gwen bertarung melawan sosok-sosok yang memiliki wajah yang sama dengannya. Rasanya seperti memukuli cermin berkali-kali. Setiap pukulan yang ia berikan terasa seperti menyakiti dirinya sendiri.
"Gwen! Ke arah tabung Reno! Hanya biometrikmu yang bisa memicu overload pada jantung sistemnya!" Lili berteriak sambil menahan serangan tiga kloning sekaligus.
Gwen berlari, melompati meja kerja, menghindari tembakan laser. Ia mencapai konsol utama tepat di depan tabung Reno Prime. Tiba-tiba, mata Reno dalam tabung terbuka.
"Gwen..." Reno berbicara lewat transmisi saraf. "Lepaskan... aku... biarkan... aku... mati..."
Reno yang asli, atau setidaknya sisa kesadarannya yang masih ada, sedang memohon untuk diakhiri penderitaannya.
"Maafkan aku, Reno. Untuk segala cinta yang pernah kita miliki," bisik Gwen. Ia menempelkan telapak tangannya pada sensor biometrik.
[BIOMETRIC RECOGNIZED: GWEN ADIGUNA - ADMINISTRATOR]
[WARNING: INITIATING SYSTEM PURGE. ALL NEURAL LINKS WILL BE SEVERED]
"TIDAK! KAU TIDAK TAHU APA YANG KAU LAKUKAN!" Diana AI berteriak histeris. Layar-layar di ruangan itu mulai pecah satu per satu. "JIKA AKU MATI, MAKA SELURUH DATA DALAM OTAK BINTANG AKAN MELEDAK!"
Gwen terhenti. Jarinya menggantung di atas tombol 'CONFIRM'. "Apa katamu?!"
"Bintang adalah cadanganku, Gwen. Aku telah menanamkan bom logika dalam otaknya. Jika sinyal pusat di menara ini mati, bom itu akan aktif dalam sepuluh detik!"
Gwen menatap Lili. Lili tampak ragu. "Dia mungkin gertak sambal, Gwen! Dia mencoba menyelamatkan dirinya sendiri!"
Tapi bagaimana jika itu benar? Bagaimana jika Gwen menyelamatkan dunia namun membunuh putranya sendiri?
Di saat kritis itu, suara Elang terdengar lewat radio, sangat lemah dan terputus-putus. "Gwen... Bintang... dia tahu apa yang harus dilakukan... Dia bilang... dia bisa menahan ledakannya... Lakukan sekarang... demi semua orang..."
Gwen bisa mendengar suara Bintang di latar belakang. "Ibu, lakukan! Bintang kuat!"
Gwen menutup matanya. Air mata jatuh membasahi panel kontrol. Sebagai seorang ibu, ini adalah keputusan yang paling menghancurkan hatinya. Namun sebagai seorang Adiguna, ia harus mengakhiri teror ini.
"Maafkan Ibu, Bintang," bisik Gwen.
Ia menekan tombol 'CONFIRM' dengan keras.
BZZZZZZTTT!
Gelombang kejut elektromagnetik raksasa terpancar dari Menara Adiguna, menyapu seluruh kota Jakarta. Seluruh Cyborg Reno di jalanan mendadak jatuh tumbang seperti boneka yang diputus talinya. Layar-layar menjadi gelap. Suara Diana AI melengking untuk terakhir kalinya sebelum lenyap ditelan kesunyian.
Tabung Reno Prime meledak, menghancurkan sisa-sisa tubuh Reno menjadi debu.
Gwen jatuh terduduk di lantai yang hancur. Seluruh tenaganya hilang. Ia segera meraih radio. "Elang! Bintang! Laporan! JAWAB AKU!"
Hening. Satu detik, dua detik, lima detik.
"Nona..." suara Hendra terdengar, penuh dengan isak tangis. "Terowongan Semanggi... terjadi ledakan energi besar dari posisi Bintang..."
Gwen merasa jantungnya berhenti berdetak. Ia berlari menuju balkon, menatap ke arah Semanggi di kejauhan. Sebuah pilar cahaya biru baru saja menghilang dari sana.
"Lili, siapkan helikopter! SEKARANG!"
Tiga Jam Kemudian.
Gwen berlari menembus reruntuhan Terowongan Semanggi yang kini sudah dijaga oleh pasukan medis Adiguna. Ia melihat Maya duduk di aspal, menangis sesenggukan.
"Di mana mereka?!" teriak Gwen.
Maya menunjuk ke arah sebuah ambulans yang pintunya terbuka. Di sana, Elang sedang duduk, tangannya dibalut perban, wajahnya penuh jelaga. Di pangkuannya, Bintang berbaring diam.
Gwen mendekat dengan kaki yang lemas. "Elang... apakah dia..."
Elang mendongak, matanya berkaca-kaca namun ada senyum tipis di bibirnya. "Dia berhasil, Gwen. Dia menggunakan seluruh kekuatannya untuk menetralisir bom logika itu. Dia hanya... sangat lelah."
Bintang membuka matanya perlahan. Cahaya merah di matanya sudah hilang sepenuhnya, kembali menjadi cokelat yang jernih dan polos. "Ibu... kepalaku tidak berisik lagi..."
Gwen memeluk Bintang dan Elang sekaligus, menangis dalam kelegaan yang luar biasa. Perang besar itu akhirnya usai.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, Lili yang berdiri di kejauhan melihat sesuatu di tabletnya yang masih aktif secara lokal. Sebuah pesan terakhir dari Diana AI yang terkirim ke sebuah alamat email rahasia di luar negeri.
Isi pesannya hanya satu koordinat dan sebuah kalimat: "Cari Tuan Besar yang asli. Dia menunggu di New York."
Lili menutup tabletnya, menatap Gwen dan Elang yang sedang berpelukan. Ia memutuskan untuk tidak memberitahu mereka... untuk saat ini. Ia ingin membiarkan kakaknya merasakan kedamaian, setidaknya untuk satu malam.
Di balik bayangan gedung yang hancur, sosok pria misterius dengan tongkat berkepala naga mengamati mereka. Ia memutar cincin di jarinya yang berlambang lotus hitam.
"Selamat, Gwen Adiguna. Kau telah menghancurkan versi digitalnya," ucap pria itu dengan suara berat. "Sekarang, mari kita lihat bagaimana kau menghadapi pemilik asli dari nama Adiguna."
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia