NovelToon NovelToon
Pemilik Kuasa Absolut : Penguasa Alam Roh Surgawi

Pemilik Kuasa Absolut : Penguasa Alam Roh Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Fantasi Isekai / Reinkarnasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ali Rayyan

Di kehidupan sebelumnya, ia adalah Penguasa Langit Surgawi—pemilik kuasa absolut yang bahkan para dewa segani. Namun ia memilih bereinkarnasi sebagai manusia biasa, hidup tenang dengan nama Douma Amatsuki, demi merasakan kehidupan normal yang tak pernah ia miliki.

Semua berubah ketika ia tanpa sengaja memasuki dimensi terlarang, memicu perhatian para iblis yang diam-diam menguasai dunia. Tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya, mereka menetapkannya sebagai target untuk dilenyapkan sebelum menjadi ancaman.

Douma hanya ingin hidup sebagai manusia biasa.
Namun ketika seluruh dunia mulai memburunya…
berapa lama ia bisa terus berpura-pura lemah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ali Rayyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amatsuki Douma : Lelah

Pukul jam menunjukkan 16:00 sore.

Cahaya matahari senja menembus jendela ruang keluarga rumah Amatsuki dengan warna keemasan lembut. Sinar itu jatuh tepat di wajah Douma yang sedang terbaring memanjang di sofa. Seragam sekolahnya masih rapi menempel di tubuh — blazer sedikit terbuka, dasi longgar, kerah kemeja bergeser tipis karena napas lelahnya.

Butiran keringat kecil menghiasi kulit wajahnya yang bersih dan terang, berkilau seperti serpihan cahaya. Rambut perak lembutnya sedikit berantakan, beberapa helai jatuh di dahi. Mata terpejam karena silau matahari, satu lengannya menutup sebagian wajahnya.

Tas sekolahnya terlempar sembarangan ke sisi sofa. Sepatu masih terpasang — tanda ia benar-benar terlalu lelah untuk peduli.

Hening beberapa detik.

Lalu ia menghela napas panjang.

“…Hari ini cukup kompleks,” gumamnya pelan.

Suara seraknya rendah dan santai.

“Tidak terlalu membosankan… tapi energi ku terkuras.”

Ia menggeser kepala sedikit, sofa berderit halus.

“Dan dua bocah aneh itu… entah sejak kapan mereka menempel seperti cicak…”

Sudut bibirnya naik tipis.

“Untungnya aku tidak terlalu risih. Semoga mereka tidak mengganggu napasku ke depannya…”

Langkah kaki ringan terdengar dari arah dapur.

“Douma?”

Suara lembut itu diikuti kemunculan ibunya di ambang ruang keluarga. Wanita itu berhenti sejenak, melihat anaknya yang tergeletak seperti korban pertempuran sosial hari pertama sekolah.

“Kamu sudah pulang, sayang?”

Douma membuka satu mata perlahan.

“Iya, Bu…”

Ibunya berjalan mendekat dengan senyum hangat.

“Bagaimana hari pertama sekolah? Sudah banyak teman? Guru-gurunya baik? Ada berapa yang jatuh cinta padamu? Ayo ceritakan!”

Pertanyaan itu datang tanpa jeda. Ia duduk di sisi kepala Douma, membelai rambutnya sebentar — lalu cup.

Ciuman ringan mendarat di pipinya.

Douma refleks memalingkan wajah, terlambat setengah detik.

“Ibu…”

“Eh? Kenapa menghindar?”

“Tidak… aku berkeringat.”

Ibunya menyipitkan mata dramatis.

“Ya ampun. Anak tampanku ini sudah dewasa rupanya. Sudah banyak alasan.”

Tangannya mencubit lengan Douma dengan gemas.

“ARGH—! Ibu, sakit!”

Douma bangun duduk, memegangi lengannya dengan ekspresi protes yang justru membuat wajahnya terlihat seperti anak kecil.

“Aku cuma ingin tidur…”

“Ganti bajumu, lalu mandi. Setelah itu turun untuk makan malam.”

Douma berdiri perlahan. Posturnya tegap alami — bahu lurus, langkah santai tapi terasa berat.

“Hari pertama saja sudah begini…” gumamnya.

Ia menaiki tangga.

“Mungkin aku butuh olahraga…”

Beberapa menit kemudian…

Suara gemericik air hangat memenuhi kamar mandi. Uap tipis mengembun di kaca. Douma bersandar di bawah pancuran, membiarkan air mengalir melewati rambut dan bahunya.

Ia bersiul pelan — nada ringan tanpa sadar.

Ketegangan hari itu luruh sedikit demi sedikit.

Sementara itu…

Suara pintu depan terbuka.

“yuhuu, aku pulang!”

Nada riang pria dewasa memenuhi rumah.

Keiko istrinya yang sedang memasak, hanya tersenyum tanpa menoleh.

Ayah Douma masuk, melepas sepatu, menaruh jas dan tas kerja dengan rapi. Ia berjalan ke dapur dan langsung melingkarkan tangan ke pinggang istrinya.

“Apakah kau tidak mendengarku?”

Ciuman cepat mendarat di pipi sang istri.

“Aku dengar,” jawabnya santai. “Hanya malas menyambut.”

“Apa?!”

Wajah sang ayah berubah dramatis — ekspresi marah yang dipaksakan justru terlihat konyol.

“Suami tampan seperti aku diabaikan?! Dunia tidak adil!”

Ibunya menahan tawa.

“Kamu ini… drama sekali.”

“Drama adalah seni!”

Ia mengambil sendok, berpura-pura memberi hormat.

“Aku terluka!” adegan seolah menancapkan sendok di dadanya.

Tawa mereka pecah.

Di kamar atas, Douma melirik ke arah pintu.

Ayah sudah dirumah…

Douma duduk di kursi belajarnya dengan gerakan malas namun terkontrol. Rambut putih peraknya masih sedikit lembap setelah mandi, beberapa helai jatuh lembut di dahi, memantulkan cahaya senja yang masuk melalui jendela kamar.

Kulitnya yang putih bersih tampak segar, dan ekspresi wajahnya kembali tenang seperti biasa—seolah kelelahan hari itu hanyalah gangguan kecil.

Di atas meja, panel komputer transparan menyala perlahan begitu mendeteksi keberadaannya.

Perangkat itu merespons langsung sinkronisasi biologis Douma.

Sekilas, komputer tersebut tampak seperti perangkat rumah tangga modern tahun 2080—minimalis, tipis, elegan. Siapa pun yang melihat hanya akan menganggapnya teknologi premium biasa.

Namun kenyataannya… jauh dari itu.

Komputer itu adalah hasil modifikasi pribadi Douma—sebuah perangkat yang menggabungkan sistem digital manusia dengan resonansi energi dari dimensi lain.

Tidak ada ilmuwan di dunia ini yang mampu memahami strukturnya. Bahkan jika dibongkar sekalipun, rangkaian di dalamnya akan terlihat seperti arsitektur teknologi yang belum pernah tercatat dalam sejarah manusia.

Panel cahaya membentuk antarmuka halus.

Tulisan tipis muncul:

Antarmuka Sinkronisasi Dimensi — Aktif

Simbol-simbol bercahaya yang tidak dikenal manusia muncul sepersekian detik, lalu segera berubah menjadi tampilan digital biasa. Sistem Kamuflase Realitas bekerja otomatis, memastikan tidak ada hal aneh yang terlihat jika orang lain kebetulan melihat layar.

Hanya Douma yang bisa melihat bentuk aslinya.

Ia mengangkat tangan dengan malas, jari-jarinya bergerak ringan di udara. Panel merespons setiap gerakan tanpa sentuhan.

“Tambahkan ke keranjang… buy,” gumamnya pelan.

Permintaan itu langsung diteruskan ke jaringan yang tidak seharusnya ada di dunia manusia—

Bursa Dimensi Surgawi.

Sebuah tempat pertukaran energi dan barang yang hanya dapat diakses oleh entitas tertentu. Di sana, para Kurir roh Cahaya menerima notifikasi pesanan.

"Pesanan dari Tuan Douma!!"

Roh -Roh kecil yang menjaga marketplace alam roh. Berputar menari menyambut notifikasi dari dimensi Dunia manusia.

Roh-Roh ini sangat bahagia jika Douma melakukan Transaksi. Seperti Fans Berjumpa Idolanya.

Responnya instan dan cepat!

Di sisi meja, ruang kecil berpendar lembut. Cahaya berbentuk kotak muncul seperti lipatan realitas yang dibuka paksa namun stabil.

Transfer Cahaya Instan — Berjalan

Tiga detik.

Cahaya menghilang.

Sebuah botol ramping kini terletak rapi di meja. Cairan di dalamnya memancarkan kilau lembut seperti partikel cahaya yang hidup.

Douma mengambilnya tanpa ekspresi berlebihan.

“Cepat seperti biasa…”

Ia membuka tutup botol dan meneguknya dalam satu tarikan panjang.

Sensasinya langsung terasa.

Bukan sekadar rasa—melainkan aliran energi yang menyebar ke seluruh tubuhnya. Otot-ototnya yang sempat terasa berat kembali ringan. Napasnya stabil. Kepalanya terasa jernih.

Seolah kelelahan hari itu tidak pernah ada.

Douma menghembuskan napas pelan.

“Lumayan…”

Panel komputer meredup otomatis, kembali tampak seperti layar biasa. Tidak ada jejak transaksi, tidak ada bukti sistem dimensi pernah aktif.

Semua tersembunyi sempurna.

Douma bersandar di kursinya, mata setengah terpejam.

Bagi dunia, ia hanyalah siswa SMA biasa dengan teknologi modern.

Namun di balik layar transparan itu…

Ia memegang akses ke sesuatu yang bahkan tidak bisa dibayangkan manusia.

Dan bagi Douma—

itu hanyalah alat praktis untuk menjalani hidup dengan sedikit lebih nyaman.

----

Ketukan pintu terdengar.

“Douma! Makan malam!”

“Iya, Bu!”

Makan malam berlangsung hangat. Meja penuh aroma makanan rumahan.

Ayahnya bercerita tentang kantor. Ibunya menyela dengan komentar jenaka. Douma makan dengan tenang — lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Setelah selesai, Douma mengangkat piring.

“Aku yang bereskan.”

Ayahnya berdiri di wastafel.

“Aku yang cuci.”

Pembagian tugas yang sudah menjadi kebiasaan.

Malam semakin larut.

Lampu rumah redup.

Douma sudah di tempat tidur, selimut setengah menutup tubuhnya. Napasnya mulai teratur ketika suara samar terdengar dari lorong.

Pintu kamar orang tuanya terbuka sedikit.

Suara ayahnya terdengar — pelan, tegang.

“…proyek itu bisa gagal…”

“…produksi teknologi… terlalu berisiko…”

“…senjata itu belum stabil…”

Hening panjang.

Tarikan napas berat.

Pintu tertutup.

Malam kembali sunyi.

Douma tertidur.

Beberapa menit kemudian…

Jam digital di pergelangan tangannya bergetar halus.

Pesan masuk.

Matanya terbuka setengah.

“Siapa yang kirim pesan selarut ini…”

Ia membaca.

Minamoto Rei:

“Besok kita bertemu lagi kan? Ada perekrutan anggota basket! Tim unggulan sekolah — Vanguard Prime — Dalam rangka persiapan turnamen nasional bulan depan! Jangan lupa siapkan mentalmu, kawan!!”

Douma menghela napas.

“Apa dia Anemia…”

Namun sudut bibirnya naik sedikit.

Lalu matanya tertutup kembali.

Hari pertama telah berakhir.

Dan besok… dunia sekolah akan dimulai lagi

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!