NovelToon NovelToon
Beautifully Painful

Beautifully Painful

Status: tamat
Genre:Tamat / Sudah Terbit
Popularitas:24.6M
Nilai: 5
Nama Author: Sephinasera

SUDAH TERBIT CETAK

Cinta bertepuk sebelah tangan Anja mempertemukannya dengan Cakra, siswa paling berandal di sekolah.

Hati yang terluka bertemu dengan apatis masa depan akhirnya berujung pada satu kesalahan besar.

Namun masalah sesungguhnya bukanlah hamil di usia 18 tahun. Tetapi kenyataan bahwa Cakra adalah anak panglima gerakan separatis bersenjata yang hampir membuat papa Anja terbunuh dalam operasi penumpasan gabungan ABRI/Polri belasan tahun silam.

Beautifully Painful.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sephinasera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Kasih Ibu Sepanjang Masa

Cakra

Ia memandangi selembar foto yang bentuknya mirip seperti hasil cetak foto polaroid saat ia piknik ke Candi Borobudur waktu kecil dulu. Namun kali ini tidak berisi foto piknik, tapi foto hitam putih hasil USG Anja beberapa hari lalu. Ia sengaja meminta dua lembar print outnya, satu untuk Anja, satu untuk dirinya.

Diatas lembaran kertas foto berukuran 11 x 11 cm itu terdapat nama klinik tempat Anja memeriksakan kandungan. Lalu di sudut kiri atas tertulis Nn. Anjani Prameswari (17y11m). Sementara di sudut kanan bawah terdapat dua kotak yang masing-masing bertuliskan LMP, GA, EDD dan CRL, GA, EDD. Entahlah apa artinya ia pun tak paham meski sempat mencari tahu dengan membrowsingnya di internet namun justru membuatnya semakin tak mengerti.

Tapi itu bukan masalah besar, yang penting kemarin dokter bilang kondisi kandungan Anja secara keseluruhan bagus dan normal. Ini tentu sangat melegakan karena di usia awal kehamilan -yang waktu itu belum diketahui- Anja sempat dirawat inap di rumah sakit karena typus. Khawatir obat yang dikonsumsi berpengaruh terhadap janin, namun ternyata tidak. Syukurlah.

Ia kembali memandangi foto USG tersebut dengan perasaan masygul. Foto hitam putih yang menampilkan gambar menyerupai sebuah kantong kecil dengan bulatan sebesar buah rambutan di dalamnya. Yang adalah seorang bayi, anak kandungnya sendiri. Darah dagingnya. My God.

Sejak kunjungannya bersama Anja ke klinik dokter kandungan, sebenarnya ia telah menyusun strategi dan rencana untuk mengakui kesalahannya pada Mamak, namun masih maju mundur. Takut akan reaksi Mamak setelah mendengar pengakuannya nanti. Takut menatap mata Mamak ketika mengetahui jika satu-satunya anak lelaki yang masih hidup ternyata tak lebih dari seorang ba ji ngan brengsek. Very sad.

Namun ia tentu tak boleh berlama-lama menunda pengakuan. Karena semakin ditunda justru akan semakin menghancurkan semuanya. Khawatir Anja bertindak nekat dengan merealisasikan niat untuk menggugurkan kandungan yang akan mencederai janjinya kepada Mamak karena tak tertunaikan.

Dan sore ini menjadi hari terbaik pilihannya untuk membuat pengakuan. Tahu pasti jika jadwal Mamak hari ini di keude (warung kecil) sampai Isya karena bergantian dengan Kak Pocut dan Cing Ella, tetangga mereka yang ikut berjualan di keude.

Ia baru selesai membantu Umay dan Sasa mengerjakan PR ketika Kak Pocut masuk ke dalam rumah sambil membawa loyang-loyang kotor bekas jualan di keude yang akan dicuci di rumah. Dengan tanpa mengatakan apapun, ia mengambil loyang-loyang kotor itu untuk dicuci sementara Kak Pocut menunaikan sholat Ashar.

Ketika ia baru selesai mencuci loyang yang terakhir, Kak Pocut datang menghampiri sambil tersenyum lebar, "Pasti ada maunya nih."

Ia pun tertawa, apakah terlalu kentara?

"Kenapa?" tanya Kak Pocut yang sekarang sedang memilih-milih bumbu dapur dan rempah-rempah untuk persiapan memasak nanti malam seperti yang sering dilakukan tiap kali mereka mendapat pesanan makanan untuk diambil esok Subuh.

Ia masih tertawa, lebih memilih untuk mencuci tangan kemudian mengeringkannya dengan handuk daripada harus meladeni ledekan Kak Pocut.

"Udah makan Kak?" tanyanya jelas basa-basi.

"Apa pula kau ini?" Kak Pocut kian lebar tertawanya. Baiklah Kak, tertawalah dulu sebelum nanti kau akan terkaget-kaget, batinnya nanar.

"Serius aku tanya udah makan belum?" ia ikut -pura-pura- tertawa.

"Udah tadi siang. Kenapa? Ada masalah kah?" wajah Kak Pocut berubah serius. "Seminggu lalu Mamak cerita kau lagi kena masalah serius."

Ia harus menghela napas sebentar hingga akhirnya memilih untuk ikut duduk di lantai dapur. Membantu Kak Pocut memilah-milah bumbu dapur yang akan dipakai.

"Masalah apa pula, Gam?" Kak Pocut menggelengkan kepala. "Kau ini sudah mau lulus. Tinggal kuliah baik-baik. Terus hidup lebih sukses dari kita. Jangan main-main yang nggak penting."

Ia mengangguk mengerti. Lalu dengan tangan gemetaran mengeluarkan print out hasil USG dari saku bajunya kemudian disimpan di atas bumbu dapur dan deretan rempah yang telah dipilih oleh Kak Pocut.

"Apa ini?" Kak Pocut mengernyit melihat apa yang diletakkannya di atas bumbu dapur.

"USG?" Kak Pocut makin mengernyit. "USG siapa?"

Ia memilih untuk menundukkan kepala dan tak menjawab pertanyaan Kak Pocut. Namun itu justru membuat Kak Pocut semakin mengejarnya, "Agam! Apa pula kau ini. Foto USG siapa ini?!"

"Foto anakku Kak.....," jawabnya lirih hampir tak terdengar.

"Anakku? Anak siapa?!" Kak Pocut mulai panik, tangannya terulur untuk mengambil foto USG milik Anja itu. "Jangan main-main kau Gam! Anak siapa ini? Foto siapa ini?!"

Ia kembali menundukkan kepala dan tak menjawab satupun pertanyaan Kak Pocut. Lebih memilih untuk tetap diam sambil bersiap kira-kira apa yang akan Kak Pocut lakukan setelah mengeta.....

"Astaghfirullahal'adzim.....," bisik Kak Pocut lirih sambil memandangi foto USG dengan mata terbelalak. "Siapa Anjani Prameswari ini?!"

Ia semakin menundukkan kepala tak mampu untuk menjawab.

"Astaghfirullahal'adzim....Agam?! Kau?!?" Kak Pocut memandanginya tak percaya.

"Astaghfirullahal'adzim....," berkali-kali Kak Pocut mengucapkan istighfar sambil memegangi dada yang mungkin terasa sesak setelah mengetahui perbuatan bejatnya.

Sesaat suasana sunyi, tak ada yang bicara, hanya terdengar suara Umay dan Sasa yang bertengkar karena berebut mainan di ruang depan. Ia pun tak bisa berkata apa-apa, hanya menekuri deretan bawang merah, bawang putih, daun pandan, daun salam koja, adas, kapulaga, dan teman-temannya yang telah berderet rapi dipisahkan oleh Kak Pocut untuk segera dibuat bumbu.

"Anjani itu salah satu cewek yang sering datang kemari bawa makanan?" suara Kak Pocut terdengar bergetar memecah kesunyian. Ada rasa marah di dalamnya, namun juga ingin tahu.

Ia menggeleng.

"Anak kampung sebelah yang beberapa kali kemari kemarin?"

Lagi-lagi ia menggeleng. Membuat Kak Pocut memberinya tatapan menuduh. Dan ia harus mengambil jeda beberapa detik sebelum akhirnya berkata, "Teman sekolahku."

"Astaghfirullahal'adzim....," Kak Pocut kembali beristighfar. Lalu sedetik kemudian memberinya tatapan penuh amarah.

"Kau sudah gila?!"

Iya, ia memang sudah gila.

"Kupikir setelah kejadian waktu itu kau sudah berjanji tak akan berulah lagi di sekolah. Tapi sekarang malah begini?!"

Ia hanya diam menunggu muntahan kemarahan Kak Pocut selanjutnya. Karena memang ia pantas mendapatkannya.

"Dia sekolah disana sama seperti kau?! Mengandalkan uang beasiswa dan susbsidi?!"

Ia menggeleng.

"Astaghfirullahal'adzim...Agam?! Kau tahu orang-orang seperti apa yang bisa menyekolahkan anaknya di sana?!"

Ia mengangguk lemah, "Kami...tak pernah kenal sebelumnya. Ini....kecelakaan...."

Namun ucapannya justru membuat Kak Pocut kian meradang, "Kecelakaan kau bilang?! Kecelakaan bagaimana?! Nanti sebentar lagi kau bilang tak sengaja pula?!?"

Ia menunduk sambil menghembuskan napas panjang, karena telah salah memberi alasan.

"Orangtuanya sudah tahu?"

Ia menggeleng sambil berucap pelan, "Aku nggak tahu sudah tahu atau belum."

Jika dilihat dari reaksi dan ekspresi orangtua Anja yang biasa saja ketika mereka bertemu kemarin, bisa dipastikan mereka belum tahu masalah ini.

"Setelah ini kau mau bagaimana?!"

Ia menunduk, "Aku...mau bertanggung jawab."

"Itu memang harus!" suara Kak Pocut meninggi sambil menatapnya marah. "Tak perlu kau bicarakan lagi!"

"Maksudku apa orangtuanya setuju? Sekolah kau? Sekolah dia? Bagaimana? Hidup seperti apa yang akan kalian jalani?!"

Ia menggeleng lemah.

"Bo doh!"

Ya, ia memang bodoh. Bodoh sekali. Amat sangat.

Suasana kembali sunyi, kali ini hanya terdengar suara penjual cendol dan siomay yang lewat di depan rumah menawarkan dagangannya. Sore hari memang prime time nya para penjaja asongan.

"Maa, aku mau beli cendol," teriak Sasa yang berlari ke dapur dengan wajah berkeringat setelah berlari-larian di halaman kosong depan rumah dengan teman-teman sepermainannya.

Tanpa banyak bicara Kak Pocut langsung menyerahkan selembar lima ribuan kepada Sasa yang terbengong-bengong karena tak menyangka ibunya akan semurah hati ini. Tak mengira iseng-isengnya akan berbuah hadiah. Karena biasanya mereka tak boleh sering-sering jajan. Apalagi di sore hari seperti ini, tak pernah ada kata jajan. Cukup makan yang ada di rumah.

"Bertiga sama Abang," begitu kata Kak Pocut sambil terus mengawasinya dengan sudut mata.

"Kurang Ma kalau bertiga?" Sasa mengernyit.

"Sudah jangan rewel. Atur-atur sendiri," gerutu Kak Pocut membuatnya mengeluarkan selembar uang lima ribuan yang kebetulan ada di saku, "Ini buat tambahan."

"Horeeeee! Makasih Yah bit!" Sasa melonjak kegirangan sambil mencium pipinya sekilas. Membuatnya tertawa senang namun langsung menghentikannya demi melihat tatapan penuh amarah Kak Pocut.

"Aku bisa cari kerja," ujarnya mencoba memaparkan solusi yang ada di kepalanya. Berharap Kak Pocut berkurang marahnya.

Kak Pocut hanya mendecih jengkel, "Ayah dan Abang kau mungkin sudah siap-siap bangkit dari kubur begitu mendengar kabar kau menghamili anak gadis orang!"

"Aku akan cari kerja yang lebih bagus," ujarnya tak menghiraukan kejengkelan Kak Pocut yang membahas tentang almarhum Ayah dan Abangnya. Masih berusaha melembutkan hati Kak Pocut dengan sederet solusi yang sesungguhnya masih berupa fatamorgana.

"Kau ini harapan Mamak satu-satunya. Harapan kita semua," desis Kak Pocut yang kini mulai mengulek bumbu di atas ceprek besar.

"Kalau sekarang begini, aku tak tahu lagi harus bilang apa," lanjut Kak Pocut sambil menghela napas.

"Kalau gitu....bisa Kakak bantu aku bilang ke Mamak?" pintanya penuh harap. "Aku tak berani bilang sendiri."

Lumayan lama Kak Pocut tak menjawab. Selang beberapa saat yang terdengar hanyalah suara batu yang saling beradu diatas ceprek. Ketika ia mulai putus asa Kak Pocut akhirnya bersuara, "Aku nggak bisa janji," jawab Kak Pocut dengan wajah murung.

Malam hari Mamak benar-benar pulang setelah Isya. Ia sendiri yang menjemput ke keude menggunakan motor. Setelah menunaikan sholat Isya dan mengaji sebentar, Mamak mulai terjun ke dapur lagi bersama Kak Pocut. Kali ini karena ada pesanan kuah sie itek dan ayam tangkap yang akan diambil besok Subuh oleh si pemesan.

Ia beberapa kali menengok kearah Kak Pocut meminta bantuan, namun Kak Pocut selalu pura-pura tak melihatnya. Ketika waktu kian larut dan ia mulai mengantuk sementara Mamak dan Kak Pocut belum juga selesai memasak, tiba-tiba Kak Pocut menghampiri lalu menepuk bahunya, "Kau pasti bisa bilang sendiri ke Mamak. Aku tak sanggup."

Ia pun lunglai. Benar-benar merasa sendirian dan tak berdaya. Membuat otaknya buntu dan tak mampu berpikir jernih. Hingga akhirnya memilih untuk tidur saja.

Dalam tidur ia bermimpi, Mamak dengan sukarela mengirimnya ke tengah kobaran api yang menjilat-jilat seperti saat Ibrahim dibakar oleh Namrud.

"Kuserahkan anakku dengan sukarela. Hukumlah sesuai dengan kesalahan yang diperbuatnya."

Begitu kata Mamak lugas yang berhasil membuatnya berteriak ketakutan karena dua algojo berwajah seram telah siap sedia untuk melemparnya ke tengah kobaran api yang menjilat-jilat.

"Agam!"

Namun suara sentakan Kak Pocut serta merta membuat kedua algojo yang tengah menarik paksa tubuhnya tiba-tiba menghilang, disusul kobaran api yang lambat laun semakin memudar.

"Agam!"

Seketika ia tergeragap karena tepukan di atas bahu dan demi melihat wajah masam Kak Pocut di depan matanya.

"Kau mimpi apa sampai teriak-teriak?!" Kak Pocut menatapnya curiga.

Ia hanya bisa menghembuskan napas pelan dan menggelengkan kepala.

"Cepat bilang ke Mamak," kali ini Kak Pocut berbisik lirih. "Sebelum semua terlambat."

Ia harus mengucek mata yang pedih terlebih dahulu sebelum bangkit dan beranjak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.

Ia bahkan sengaja melama-lamakan waktu di dalam kamar mandi karena merasa takut. Dengan ditemani sayup-sayup suara Mamak yang sedang mengaji. Maafkan anakmu ini, Mak.

Sambil terus berusaha meneguh-neguhkan diri dan hati, ia pun berjalan menuju bilik tempat Mamak mengaji. Lalu mendudukkan diri di samping Mamaknya yang entah mengapa malam ini terlihat sangat lelah dengan wajah yang semakin menua.

Menyadari keberadaannya di samping, serta merta Mamak menghentikan bacaan Qur'an nya lalu menoleh padanya, "Kena masalah lagi?"

Ia menggeleng lemah.

"Masalah yang kemarin sudah selesai?"

Lagi-lagi ia menggeleng. Lalu dengan tangan bergetar merogoh saku untuk mengambil print out USG Anja kemudian menyimpannya di pangkuan Mamak.

"Apa ini?" Mamak mengernyit. Kedua mata beliau memang sudah tak awas lagi. Selain karena usia, juga pengaruh penerangan di dalam bilik yang terlalu temaram, yang makin membuat Mamak kesulitan untuk mengidentifikasi selembar foto darinya.

"Foto?" tanya Mamak sambil menatapnya bingung.

Ia mengangguk sambil memberanikan diri untuk berucap lirih, "Calon cucu Mamak...."

Ia memang sengaja memilih kata yang berbelit, dengan harapan kadar kemarahan Mamak bisa sedikit berkurang.

"Cucu?!?" Mamak semakin mengernyit.

"Ini yang kemarin....yang membuatku takut....."

Mamak menatap matanya tajam dan selembar foto USG di tangan secara bergantian. Sedetik kemudian mengucap istighfar dengan suara paling memilukan yang pernah ada. Disusul setetes air mata yang jatuh membasahi kulit keriput Mamak, seketika membuat dadanya meledak hancur berkeping-keping.

***

Keterangan :

LMP. : last menstrual period atau HPHT (hari pertama haid terakhir), biasanya digunakan sebagai acuan usia janin dalam kandungan

GA. : gestational age, perkiraan usia kandungan yang diukur melalui panjang lengan, diameter kepala janin dan panjang kaki, tidak bisa melalui LMP atau HPHT.

EDD. : estimated delivery date atau HPL (hari perkiraan lahir), perkiraan waktu persalinan

CRL. : crown rump length, ukuran jarak dari ujung kepala hingga ujung kaki janin

Agam. : panggilan untuk anak laki-laki (Aceh)

Kuah sie itek : olahan bebek berkuah merah dengan harum rempah khas Aceh

1
snowy
sakitnya tuh....dimana ya, dip? wkwkwk
Zulva
Obat Rindu dengan Cakra dan Anja,Mas Tama dan Kak Pocut. Tak kan pernah bosan,dan tk bisa lupa dengan cerita mereka. Makasih mam Sera atas karyanya yg sangat LUAR BIASA BUATKU😘😍. Sambil lagi USAHA BIAR BISA BACA KARYA TERBARUNYA RAKAI DAN PUPUT..
Intan Reni Agustina
🥲
Mrs.Kristinasena
aku baca lagi kak .awal th 2025..kangen banget Ama Cakra Anja..karya kak sephinasera emang ga ada duanya..ngangenin..bahkan tanpa ampun telah menyatu dlm kalbu seolah ini cerita nyata..pdhl hanya karya fiksi..
AuLia PuTri
2025 baca lagi masih saja terharu 🥲🥲
Reni Novitasary
mewek again/Sob/
rian silviani
apakah ada Cakra di real life?
RR.Novia
Abang cakra, aku balik reread lagi 🥹
marianna
kalo udah dapat cerita sebagus ini bakalan susah dpt cerita yang lebih bagus lagi
Pudji Widy
kak sera..ayo balik ke NT lagi..kangen kak baca cerita mu
Teh Neng
2025 baca ulang .. kangen Cakra🤗
Iren Siwi
Luar biasa
Nartyfauzi ruliyadi
tidak bisa move on dr novel Cakra Anjani dn Pocut mas Tama ❤️❤️❤️
Teh Neng
maa syaa Allah baca untuk ke sekian kalinya ini teteh . gagal move on Cakra tuh yaaahhh . Nemu di mana coba Cakra versi nyata☺️
Darmiati Thamrin
😭😭😭😭😭
Athalla✨
kirain Anja mau dilanjuttt bang ehh
Athalla✨
Love you too 🥰😍
udah aku wakilin tuh Ja 🤭🤭
Athalla✨
runtuh sudah pertahanan diri Abang 😁😁
Athalla✨
kamu yang mancing duluan loh Ja 🤭
Athalla✨
sadar gak sih Ja,, kamu mancing² abang terus 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!