Elaine seorang mahasiswi kedokteran memiliki perasaan yang mendalam pada seorang pria adi kuasa, Killian. Salah satu pria dari kaum elite global. Yang bekerja sama dengan para mafia untuk menjalankan bisnis kotornya.
Damian. Kakaknya bekerja di interpol untuk menyelidiki masa lalu kematian orang tua mereka. Saat ia mengetahui adiknya memiliki hubungan khusus dengan anggota elite global dan mafia. Elaine harus memutuskan akan berdiri melindungi kekasihnya atau kakaknya, keluarga satu-satunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : Pemandangan itu indah
Sepanjang hari itu Elaine habiskan kebahagiaannya bersama Killian. Mendaki gunung untuk menunjukkan tempat terindah yang telah ia janjikan pada perempuan itu. Segala upaya akan ia lakukan untuk melindungi dan menyenangkan Elaine.
“Tempat ini indah sekali Yan.” Kagum Elaine, “Kemarilah…” El menarik paksa lengan pria itu.
Elaine merekam kenangan mereka dalam bentuk potret. Elaine bahkan tidak tahu jika selama ini Killian tidak pernah suka difoto, namun saat bersama El semua pasti akan dilakuka olehnya.
Terlihat wajah lelah Killian sepanjang jalan lebih sering menggendong wanita itu. Namun entah kenapa wajah penuh keringat itu terlihat lebih menggoda bagi Elaine.
“Apa kita akan menginap di rumah kayu ini?” Tanya El, mengusap peluh keringat Lian dengan sebuah handuk kecil.
“Kau ingin menginap?” Tanya Lian dengan menenggak air mineral.
“Mungkin lain kali. Besok aku ada jadwal operasi.” Ucap El muram saat baru saja menerima sebuah pesan masuk dari rumah sakit.
“Aku bisa mengatur libur untuk mu, minggu depan bagaimana?”
Elaine tertawa ringan, bagaimana bisa pria itu mewujudkan segala keinginannya begitu saja. “Lian jika aku meminta, bukan berarti kau harus melakukannya dengan segera.” Teringat saat Elaine meminta Killian untuk menceritakan semua tentang kehidupannya, bahkan dalam hitungan hari justru pria itu membawanya kerumah untuk bertemu orang tuanya.
“Baiklah. Kau bisa menentukan waktu mu, aku akan menunggu untuk itu.” Balas Lian yang kini membuka pakaiannya, “Kemarilah berenang bersama ku di danau.” Lian mengulurkan tangannya.
Danau dengan pantulan cahaya senja matahari. Terlihat menyegarkan dengan keringat yang membasahi tubuh mereka. Tapi sekilas tampak keraguan terukir di wajah wanita itu.
“Kau saja, aku akan mandi di bathtub.” Jawab Elaine melangkah masuk kedalam rumah kayu.
SRAAAAAKK
“Apa yang kau cemaskan Laine?!” Tanya Lian yang langsung menggendong El dan membawanya hingga ke pinggir danau.
Bagai anak kucing yang takut kecebur air. El mengalungkan lengannya pada tengkuk leher Lian.
“A-aku tidak bisa berenang Yan.” Gugup El.
“Kalau gitu peluk aku selalu Laine.”
BYUUURR
Tanpa aba-aba Lian membawa Elaine melompat kedalam danau. Tubuh mereka hilang dalam warna senja di air danau itu.
“LIAAAN…” Alih-alih berteriak, Elaine justru tersedak banyak air.
Dengan sigap Lian memeluknya dengan erat. Ia tertawa puas saat mendapati wajah panik wanitanya.
“APA YANG KAU LAKUKAN.” El memukul dada pria itu dengan kencang menumpahkan kekesalannya.
“Hahaha maaf maaf…”
“Bawa aku ke atas.” Perintahnya.
Namun perkataan Elaine tidak di indahkannya. Ia justru semakin jauh berenang ke tengah, menjauh dari dermaga.
“LIAN.”
“Sssttt…” Terlintas ingin mengusili wanitanya lagi, “Dibawah sini banyak binatang buas Laine, jika kau berisik kau akan membuat mereka merasa terancam.”
“A-apa?!” Wajah El seketika menjadi pucat ketakutan, tak ia kendurkan pelukannya itu.
“Lian kumohon kembali.” Pinta El kembali, “Aku masih muda. Belum menikah. Aku belum ingin mati.”
Lian hanya tersenyum mendengarnya.
“Tenangkan dirimu Laine. Aku hanya bercanda.”
“Ka-kau…” El semakin kesal, ia tak dapat berkata-kata lagi. Tenaganya juga sudah habis.
“Ada yang ingin kutunjukkan pada mu. Tapi aku butuh kerjasama mu.”
Elaine tak menjawab.
“Aku akan membawamu menyelam didalam sana. Bisa kau tahan napas mu sebentar?”
“Menyelam?” El melihat air danau di bawahnya terlihat indah dan bening bahkan ia bisa melihat beberapa ikan melintas.
“Anggap saja seperti kau mencium ku. Jika aku menepuk wajah mu, kau bisa membuka mata mu perlahan. Bagaimana?”
El terdiam tampak ragu. Tapi wanita itu selalu memiliki sifat penasaran yang tinggi.
“Kalau kau ragu, aku tidak akan memaksamu sayang. Kita akan kembali.”
“Aku mau.” Ucap Elaine membawa senyuman terukir dari wajah Lian.
“Baiklah… sekarang tarik nafasmu dalam-dalam. Hitungan ke tiga aku akan membawa menyelam, keluarkan nafas mu secara perlahan didalam sana. Bisa?”
El mengangguk. Ia percaya pada pria itu akan selalu berada disisinya dengan segala kejutan yang akan diberikan olehnya.
“Satu… Dua… Tiga…”
SLAAASSSHH
Lian membawa tubuh Elaine menyelam sedikit lebih dalam. Tak butuh waktu lama hingga ia menepuk lembut pipi Elaine.
Perlahan Elaine membuka matanya. Terlihat binar dan kagumnya ia pada danau tersebut.
Gambaran dalam air yang tidak akan ia lupakan seumur hidupnya. Beberapa ikan kecil berwarna warni melintas ditubuh Elaine. Bahkan ada kura-kura yang sangat langka untuk dilihatnya.
Saat menikmati pemandangan itu, Elaine mulai tersedak ia lupa sesaat dirinya masih didalam air. Kembali pria itu dengan sigap menggendongnya untuk kembali kepermukaan.
“Bagaimana di dalam sana?” Tanya Lian menatap hangat wanita itu.
“Indah.” Jawab El. Kedua bola matanya menatap wajah pria itu secara utuh, sangat tampan. Lian tampak tersenyum saat mendengar ucapan Elaine. Entah jawaban Elaine itu ditujukan untuk pemandangan di dalam danau atau pemandangan dihadapannya saat ini.
“Apa kau tidak lelah?” Tanya Elaine mengembalikan kesadaran setelah terpukau pada wajah rupawan Lian.
“Tidak. Apa kau lelah?”
Nyatanya jalan menuju danau itu perlu mendaki gunung. Dan hampir separuh jalannya Lian menggendong Elaine di punggungnya. Perempuan itu lebih sering mengeluh sepanjang perjalanan.
“Apa kita harus berjalan lagi untuk kembali ke shelter utama?”
“Tidak. Aku akan meminta Hansen untuk membawa helikopter menjemput kita.”
“Tunggu…” El mengerutkan dahinya, “Berarti seharusnya tadi kita bisa pakai helikopter untuk kedanau ini bukan?”
Lian mengangguk.
“Lalu kenapa kau memaksa ku berjalan Liaaaan…….”
“Apa kau berjalan? Seingatku tadi aku yang menggendongmu. Kau tahu, punggungku kram sepanjang jalan. Dibanding saat pertama aku menggendong mu dari lantai tiga, kau terasa sedikit berat.”
“LIAAAAN…” El kesal mendengar ucapan pria itu. Karena Lian lah berat badannya semakin naik, bagaimana tidak karena selama ini Lian selalu menyuguhi banyak makanan untuk Elaine.
“Li… blubub… blubub…” Tanpa sadar Elaine melepas dekapannya dan membuatnya tenggelam.
Lian kembali masuk kedalam air. Alih-alih membawa wanitanya kepermukaan, Lian justru menciumnya didalam air. Memberinya nafas dari mulut ke mulut.
“Berpeganganlah El.” Pinta Lian saat mereka muncul kembali kepermukaan.
Entah kenapa ia merasa beruntung saat Damian menyuruhnya untuk latihan berenang namun Elaine enggan melakukannya. Kalau tidak, kesempatan seperti ini tidak mungkin terjadi.
“Pakaian mu didalam. Mandilah dengan air hangat. Aku akan menghubungi Hansen sebentar. Setelah itu kita makan malam bersama.” Ucap Lian dengan mencium pelipis Elaine.