Novel ini mengisahkan hubungan antara seorang pria kristen bernama David Emmanuel Erlangga seorang pria yang terlahir dari keluarga yang begitu kental dalam menjalankan agama,anak dari seorang pendeta yang terkenal di negeri ini yang bertemu dan menjalin cinta dengan seorang muslimah yang taat serta merupakan anak salah seorang kyai terkemuka .
bagaimana kisah rumit mereka? dan akankah mereka mempertahankan hubungan yang penuh dengan penentangan dari kedua keluarga dan lingkungan?atau justru memilih berpisah demi bertahan dengan keyakinan masingmasing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Aisyah dan David bertemu di sebuah taman kecil yang dulu mereka sering kunjungi saat masih bersama. Udara pagi masih sejuk, namun kedinginan yang merasuki tubuh Aisyah bukan karena cuaca.
"Syah..." panggil David dengan suara lembut saat melihatnya datang. Wajahnya tampak penuh perhatian. "Kamu baik-baik saja? Kamu bilang ada sesuatu yang penting."
Aisyah duduk di bangku yang sama tempat mereka dulu sering duduk berdua, tangan nya menggenggam tas dengan erat. "Aku ingin tahu alasanmu pergi dulu, David. Tanpa kabar, tanpa penjelasan apapun. Selama hampir dua tahun aku terus bertanya-tanya apa yang salah denganku."
David terdiam sejenak, menatap kolam kecil di tengah taman. Matanya tampak penuh kesedihan. "Aku tidak bisa memberitahumu saat itu, Syah. Karena jika aku katakan, kamu pasti akan menghalangiku."
"Kenapa harus seperti itu?" Aisyah menahan tangisan. "Kita bisa melalui nya kan? Bisa mencari jalan keluar bersama,jika karena kita berbeda keyakinan aku rasa ..... Jika karena kita berbeda keyakinan aku rasa kita bisa menemukan cara untuk menghormati satu sama lain bukan?" ujar Aisyah dengan suara yang mulai bergetar, air mata sudah menggenang di sudut matanya.
David menghela napas dalam-dalam, wajahnya menunjukkan betapa beratnya dia membawa beban ini selama bertahun-tahun. "Bukan hanya itu, Syah... Keluarga mu dan keluarga ku tidak pernah menyetujui hubungan kita. Hubungan kita tidak mempunyai masa depan yang baik ."
Aisyah menarik napas tersengal-sengal, tangisannya akhirnya pecah. " Benarkah hanya karena itu? Sedari awal kita memutuskan untuk menjalin hubungan,bukankah kita sudah tahu tapi kamu tidak pernah meninggalkan ku begitu saja kan? Lalu mengapa kamu tiba-tiba pergi dan menghilang dari ku ?"
"Karena aku tidak punya pilihan lain,Syah. Firdaus datang pada ku ."teriak David dengan menangis juga.
" Apa maksud mu? Apa yang kak Firdaus katakan pada mu?"Aisyah menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis terisak-isak.
"Aku tidak punya pilihan lain, Syah!" ujar David dengan suara lembut. " Hanya papaku dan Maria keluarga yang masih ku miliki di dunia ini.Saat itu aku mendapatkan kabar bahwa ayahku sakit parah dan dokter bilang dia hanya punya waktu beberapa bulan lagi. Pada saat yang sama , Firdaus menawarkan bantuan perawatan di Roma untuk kesembuhan papa ,kamu tahu saat itu bisnis keluarga kami mengalami kemunduran yang drastis,hingga membuat papa jatuh sakit.Firdaus datang dengan sebuah bantuan tapi harus aku bayar dengan berpisah dengan mu dan tak boleh kembali ke Indonesia sebelum kamu menikah dengan pria lain." Jelas David sembari membayangkan kembali masa dimana ia dan Firdaus sepakat untuk hal itu.
Aisyah melihat David dengan mata yang penuh kesedihan dan kebingungan. "Kamu tahu aku menikah dengan Rain? "
David mengangguk perlahan. "Aku tahu. Dan aku melihat betapa baik nya dia padamu, betapa dia mendukung impianmu tentang Dasyah Cafe. Rain adalah orang yang pantas untukmu, Syah. Dia bisa memberikan apa yang tidak bisa ku berikan padamu dulu , kedekatan, kepercayaan, dan dukungan tanpa syarat."
David meraih tangannya dengan lembut. "Aku juga tidak pernah berhenti mencintaimu , Syah. Tapi cinta itu tidak selalu harus dimiliki. Kadang kita harus melepaskannya agar orang yang kita cintai bisa bahagia. Dan aku melihat kamu bahagia dengan Rain."
" Apa aku boneka yang kebahagiaan ku bisa kalian atur? Apa aku barang yang bisa di tukar dengan sebuah kesepakatan?"
Aisyah beranjak pergi meninggalkan David begitu saja dengan rasa bersalah . Seharusnya dulu ia tak menerima tawaran Firdaus tapi jika ia tak menerima nya nyawa ayahnya adalah taruhan.
David terduduk lemas di bangku taman dengan wajah masih menatap ke arah Aisyah yang sudah menghilang dari pandangannya.
Aisyah berlari keluar dari taman, air mata menyembur deras menutupi pandangannya. Kakinya terengah-engah saat melangkah cepat di atas jalan aspal, tidak peduli jika orang-orang yang lewat melihatnya dengan tatapan heran. Semua yang dia pikirkan selama ini hancur berkeping-keping , hubungan mereka bukan hanya dihalangi oleh perbedaan atau keluarga, tapi dijual dengan harga bantuan untuk menyelamatkan nyawa ayah David.
" Kak Firdaus..." bisiknya dengan suara serak, matanya tertuju pada jalan raya yang ramai. Kak Firdaus dan keluarga nya memang tak menerima hubungannya dengan David sejak dulu. Tapi tidak pernah terpikir olehnya bahwa Firdaus akan menggunakan kesusahan keluarga David untuk memisahkan mereka berdua.
Saat ia hampir mencapai trotoar, sebuah mobil berhenti di depannya. Pintu mobil terbuka dan Naina, tunangan dan sekaligus rekan kerja David, keluar dengan wajah yang penuh kesedihan.
"Syah, tunggu!" panggil Naina dengan terengah-engah, mengejar Aisyah yang masih ingin melarikan diri. "Aku tahu segalanya, Syah. David sudah memberitahuku tentang kesepakatan nya dengan Firdaus .
Aisyah berhenti dan menoleh dengan wajah yang penuh kemarahan dan kesedihan. "Kalau kamu datang untuk membela dia atau meminta aku untuk memaafkannya, jangan harap!"
" Bukan itu, Syah!" Ucap Naina dengan menangis juga. "Aku datang untuk memberitahumu bahwa Firdaus bukan hanya ingin memisahkan kalian berdua. Dia juga punya rencana untuk mengambil alih bisnis keluarga David setelah ayahnya sembuh!"
Aisyah terpaku dengan mata membelalak. "Apa maksudmu?"
"Dalam kesepakatan itu, jika David tidak bisa memastikan kamu menikah dengan orang lain dalam waktu satu tahun, Firdaus akan mendapatkan hak kontrol sebagian besar saham perusahaan mereka," lanjut Naina dengan suara yang semakin tinggi. "Dan setelah ayah David sembuh dan mengetahui tentang kesepakatan itu, dia marah besar tapi sudah terlambat. David terpaksa tinggal di Roma dan bekerja keras untuk membangun bisnis sendiri agar bisa membeli kembali saham yang hilang."
"Aku tidak tahu..." bisik Aisyah dengan tubuh yang menggigil. "Aku tidak pernah tahu bahwa ada hal seperti ini."
"David mencintaimu sampai hari ini, Syah," ujar Naina dengan air mata yang mengalir deras. "Meski kami memutuskan untuk bertunangan tapi aku tahu di hatinya dan cintanya hanya padamu. Dia memilih untuk menjalani kesepakatan itu karena dia tidak punya pilihan lain. Dan saat dia tahu kamu sudah menikah dengan Rain, dia merasa lega tapi juga sakit hati , karena dia tahu dia telah menyakitimu dengan cara yang sangat keji."
" Dan aku sudah menikah,bukankah perusahaan nya kembali padanya? "
Aisyah pergi meninggalkan Naina yang terpaku mendengar ucapan Aisyah yang ia pikir dengan Aisyah menikah maka semua saham perusahaan keluarga David di kembalikan lagi.
Rain sedang duduk di meja kerjanya, melihat dokumen proyek yang tidak bisa dia fokuskan. Tiba-tiba pintu ruang kerjanya terbuka, dan Nisa masuk dengan wajah yang cemas.
"Rain, aku harus memperlihatkan sesuatu padamu," ujar Nisa dengan suara yang gemetar. Nisa mengeluarkan beberapa lembar foto dari map cokelat dan menaruhnya di atas meja kerja Rain.
Rain melihat foto itu satu persatu,sebuah foto yang memperlihatkan kedekatan istrinya dengan pria lain yang tak lain adalah David.
Rain menutup laptopnya dengan keras, tangannya menggigil. "Darimana kamu mendapatkan foto-foto ini? Kamu mengikuti nya?"
"Karena aku khawatir padamu!" seru Nisa dengan menangis. "Aku tidak bisa melihatmu terus-terusan terluka seperti ini! Aisyah masih sangat mencintai David dan dia tidak akan pernah bisa mencintaimu."
Rain berdiri dengan marah, namun matanya juga sudah berkaca-kaca. "Itu bukan urusanmu, Nisa! Aku memilih Aisyah dan aku akan menunggu dia dengan sabar!"
"Berapa lama kamu akan menunggu, Rain?" Ujar Nisa dengan suara tinggi. "Sudah tiga bulan kalian menikah, tapi dia masih menyimpan perasaan cinta dengan mantannya! tidak kah kamu merasa lelah dengan semua ini?"
Rain mengambil jasnya dan berjalan menuju pintu. "Aku tidak ingin membicarakan ini lagi. Tolong pergi, Nisa."
"Nanti kamu akan menyalahkan dirimu kalau kamu terus seperti ini!" teriak Nisa sambil menangis deras. "Aku mencintaimu selama bertahun-tahun, Rain! Aku selalu ada untukmu tapi kamu hanya melihat dia!"
Rain berhenti sebentar tanpa berbalik. "Aku tahu kamu mencintaiku, Nisa. Dan itu membuatku merasa bersalah karena tidak bisa membalas perasaanmu. Tapi cintaku hanya untuk Aisyah tidak bisa aku paksa hilang begitu saja."
Setelah itu Rain keluar dari ruangannya, meninggalkan Nisa sendirian menangis terisak-isak di dalam ruangan. Dia berkendara ke tepi pantai Surabaya, duduk di pasir sambil melihat ombak yang menghantam bibir pantai. Air mata yang sudah lama menahan akhirnya keluar deras ,dia merasa hancur antara cinta pada Aisyah dan rasa sakit yang dia alami setiap hari.