NovelToon NovelToon
THE ARCHIVIST

THE ARCHIVIST

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Spiritual / Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eksorsisme di Lantai 45

Lokasi: Koridor Darurat Lantai 45, Menara Nusantara, SCBD.

Waktu: 10.45 WIB.

Pintu besi seberat 50 kilogram itu terlempar dan menghantam dinding beton koridor dengan suara dentuman yang memekakkan telinga. Engsel bajanya bengkok seperti kawat mainan.

Dari balik debu semen yang berterbangan, sang Manajer HRD melangkah maju.

Penampilannya sangat mengerikan. Jas mahalnya robek. Kemeja putihnya basah oleh keringat dan air hujan. Pembuluh darah di leher dan pelipisnya menonjol hitam pekat, seolah memompa tinta, bukan darah. Matanya sepenuhnya kelam tanpa bagian putih (sclera), memancarkan kebencian murni peninggalan zaman prasejarah.

Tubuh manusia itu bergerak patah-patah. Suara retakan tulang terdengar setiap kali ia mengambil langkah; Sang Pemakan memaksakan otot dan sendi Inangnya bekerja jauh melampaui batas anatomi manusia.

“Daging yang rapuh…” suara berlapis itu keluar dari mulut sang Manajer, diiringi kepulan asap hitam yang berbau seperti daging busuk dan bunga kantil. “Tapi cukup untuk meremukkan tulang kalian.”

“Sar, lumpuhkan kakinya! Jangan sampai kena organ vital!” Teriak Dimas, mundur selangkah untuk memasang kuda-kuda Pencak Silat. Tangan kanannya yang terluka ia sembunyikan di belakang, sementara tangan kirinya menggenggam erat gagang Keris Patrem.

Sarah sudah dalam posisi berlutut satu kaki. Ia menggenggam senapan pistol SIG Sauer-nya dengan kedua tangan, memastikan bidikannya stabil di lorong yang minim cahaya.

“Maaf ya, Pak HRD. Ini bakal sakit banget,” gertak Sarah.

DOR! DOR!

Dua peluru tajam 9mm melesat. Sarah menembak dengan presisi klinis; satu mengenai tempurung lutut kanan, satu lagi di betis kiri sang Manajer. Darah merah menyembur mengotori celana kain pria itu.

Secara biologis, kaki pria itu seharusnya hancur dan pasi ia rubuh.

Namun, Manajer HRD itu hanya tersentak kebelakang sesaat. Asap hitam pekat langsung berkumpul di luka tembak tersebut, bertindak seperti gips instan sekaligus menang bedah gaib. Asap itu mengikat paksa tulang dan otot yang hancur, memaksa kaki yang sudah lumpuh itu untuk kembali berdiri tegak.

Sang Manajer bahkan tidak berteriak kesakitan. Saraf nyerinya telah diblokir total oleh entitas tersebut.

“Mainan kecil yang menggelitik,” seringai pria itu, memperlihatkan gigi-giginya yang kini mulai retak karena tekanan rahang yang terlalu kuat.

Dalam kedipan mata, Sang Inang menerjang maju dengan kecepatan tak wajah. Sepatu pantofelnya menginjak lantai beton hingga retak.

“Dia nge-bypass sistem sarafnya!” Teriak Sarah, terpaksa berguling ke samping menghindari terjangan itu.

Tinju Sang Manajer menghantam dinding beton tepat di tempat kepala Sarah berada sedetik yang lalu. Beton itu berlubang. Debu semen menyebar. Jika tinju itu mengenai kepala Sarah, tengkoraknya pasti hancur.

Dimas tidak membuang waktu. Ia melompat dari sisi kiri, memanfaatkan momentum serangan musuh yang meleset.

“Hiat!” Dimas menendang lipatan lutut sang Manajer dari belakang, mencoba merusak keseimbangannya.

Tubuh pria itu goyah, tapi asap hitam dari punggungnya tiba-tiba melesat keluar seperti tentakel, menghantam dada Dimas keras-keras.

BUGH!

Dimas terpelanting mundur, punggungnya menabrak pipa hydrant. Napasnya tercekat. Rasa dingin yang luar biasa menjalar dari titik hantaman asap itu, seolah energi kehidupannya baru saja disedot sedikit.

“Dimas!” Sarah merogoh tas pinggangnya, mengeluarkan sebuah granat kejut silau (Flashbang) modifikasi. Ia mencabut pinnya dan melemparkannya ke lantai di antara Dimas dan sang Manajer. “Tutup mata!”

BLAAAR!

Cahaya putih menyilaukan meledak di koridor sempit itu.

Sang Manajer menjerit kesakitan. Meskipun tubuh fisiknya kebal rasa sakit, entitas bayangan di dalamnya sangat membenci cahaya murni. Asap hitam yang menyelimuti pria itu menyusut ke dalam, mencoba berlindung.

“Sekarang, Dim! Dia buta!”

Dimas bangkit. Ia tidak menggunakan senjata tajamnya untuk menusuk tubuh sang Inang. Ia tahu, Keris Patrem miliknya menyimpan energi positif murni. Jika ia menusuk pria itu, benturan energi positif dan negatif di dalam tubuh si Inang akan membuat jantung pria itu meledak.

Dimas harus melakukan Eksorsisme Kontak Langsung.

Dimas berlari, melompat, dan mengunci leher sang Manajer dari belakang menggunakan teknik Rear Naked Choke (Teknik Kuncian leher mematikan dari belakang punggung lawan). Lengan kiri Dimas melingkar erat di leher pria itu, sementara tangan kanannya (yang cedera) menahan tubuh pria yang meronta-ronta itu agar tidak memberontak.

“LEPAASS!” Raung makhluk itu. Tubuh sang Manajer memanas seperti setrika. Asap hitam keluar dari pori-porinya, mencoba meracuni udara yang dihirup Dimas.

“Sar! Bekukan dia!” Teriak Dimas sambil menahan rasa panas yang membakar lengannya.

Sarah sudah berdiri. Ia tidak menembak. Ia meraih Tabung Pemadam Api (APAR) bermuatan gas CO2 (Karbon Dioksida) yang tertempel di dinding koridor.

Sarah mencabut segel APAR, mengarahkan moncong selangnya tepat ke dada dan wajah sang Manajer, lalu menekan tuasnya penuh-penuh.

PSSSHHHHHH!

Gas CO2 bersuhu minus 78 derajat celcius menyembur deras. Kabut es putih seketika memenuhi koridor.

Suhu ektrem itu menyebabkan Thermal Shock (kejutan suhu) pada tubuh fisik sang Manajer. Otot-ototnya yang tadi dipaksa bekerja melampaui batas kini membeku dan kram secara instan. Tubuh pria itu menjadi sangat kaku. Di saat yang sama, gas CO2 menekan suplai oksigen yang dibutuhkan oleh asap hitam itu untuk beroksidasi di udara.

Pemberontakan sang Manajer melemah.

Dimas memanfaatkan detik-detik emas ini. Ia memaksa pria itu jatuh berlutut di lantai yang kini tertutup lapisan es tipis.

Dimas menekan lututnya ke punggung sang Inang, lalu dengan tangan kirinya yang bebas, ia mengambil sebuah Cincin Batu Giok Hijau kuno dari kantongnya—batu yang telah direndam dari air zam-zam dan doa para wali.

Dimas menempelkan batu giok itu tepat di dahi (Cakra Ajna/Mata Ketiga) sang Manajer.

Begitu batu itu menyentuh dahi yang menghitam, terdengar suara mendesis keras seperti daging yang dipanggang.

“AAARRRGGGGGHHHHHH!!!” Jeritan berlapis itu menggema memecahkan kaca-kaca lampu neon di langit-langit koridor.

Dimas memejamkan mata, memusatkan seluruh sisa tenaga dalam di tubuhnya. Ia menekan batu giok itu semakin kuat, mengunci jalur keluar-masuk energi sang entitas.

“Siro kang asale seko peteng… bali menyang peteng! (Kau yang berasal dari kegelapan… kembalilah ke kegelapan!)” raung Dimas, suaranya menggelegar mengalahkan suara semburan APAR Sarah. “Rogo iki dudu omahmu! Metu! (Tubuh ini bukan rumahmu! Keluar!)”

Asap hitam pekat mulai tertarik keluar secara paksa dari hidung, mulut, dan telinga sang Manajer. Asap itu tidak lagi berwujud tentakel, melainkan seperti benang-benang tar melengket yang ditarik paksa dari dalam jiwa pria itu.

Entitas itu memberontak keras. Pikiran Dimas kembali di serang kilatan-kilatan memori kelam, tapi kali ini kalung Akar Bahar Hitam milik Sarah (yang beresonansi dengan Dimas) membantu meredam gelombang telepati tersebut.

Sarah membuang tabung APAR yang sudah kosong. Ia mencabut stun-gun beraliran listrik tinggi. Ia tidak menyetrum tubuh pria itu, melainkan menyetrum lantai beton yang basah oleh air APAR dan hujan di sekitar lutut sang Manajer.

Arus listrik menyebar, menciptakan “sangkar Faraday” gaib dadakan yang membuat entitas asap itu tidak bisa merambat melalui lantai ke arah Dimas atau Sarah.

Terjebak diantara mantra penarik Dimas dari atas dan sangkar listrik Sarah dari bawah, entitas itu tidak punya pilihan lain.

Dengan satu jeritan melengking terakhir yang memekakkan telinga…

WUUUSSSSHHH!!

Seluruh asap hitam itu memuntahkan dirinya keluar dari tubuh sang Manajer.

Tubuh pria itu seketika lemas total, jatuh terjerembap ke lantai beton seperti boneka yang talinya diputus. Matanya tertutup. Pembuluh darahnya kembali normal, meski ia kini berdarah hebat dari luka tembak di kakinya.

Namun, pertarungan belum usai.

Gumpalan asap hitam pekat seukuran mobil kecil itu kini melayang di langit-langit koridor. Asap itu berputar cepat, membentuk sebuah wajah raksasa bersudut-sudut tajam dengan dua titik cahaya merah sebagai matanya.

Wajah asap itu menatap Dimas dan Sarah dengan kebencian absolut.

“Kalian mungkin memenangkan tubuh ini, Pengarsip,” bisik suara itu di udara dingin koridor. “Tapi kota ini… kota ini adalah prasmanan terbuka bagiku. Setiap hati yang patah, setiap kantong yang kosong, setiap mimpi yang hancur di kota ini… adalah prajuritku.”

Gumpalan asap itu tidak menyerang. Ia tahu Dimas dan Sarah adalah konduktor energi yang bisa melukainya.

Sebaliknya, asap itu melesat melewati mereka, menabrak kaca jendela koridor lantai 45 hingga hancur berkeping-keping. Pecahan kaca berhamburan keluar.

Entitas itu terbang keluar gedung, melebur dengan awan mendung dan hujan badai yang mengguyur SCBD Jakarta. Ia menyebar ke penjuru kota, mencari inang-inang baru yang lemah hatinya.

Angin kencang bercampur hujan langsung menyapu masuk ke dalam koridor, membawa hawa dingin kota metropolis.

Dimas terduduk di lantai, bersandar di dinding dengan napas tersengal-sengal. Tangan kanannya gemetar hebat, sisa tenaga dalamnya terkuras habis.

Sarah langsung berlutut di samping sang Manajer HRD. Ia merobek kain kemejanya sendiri untuk membuat tourniquet (ikatan pembendung darah) darurat di betis dan paha pria itu, menghentikan pendarahan dari luka tembak yang ia buat sendiri.

“Baginya lemah, tapi dia hidup,” lapor Sarah, menempelkan jarinya ke leher pria itu. Ia melihat kaki pria itu yang berantakan. “Tuhan, aku menghancurkan kakinya. Dia mungkin nggak bisa jalan normal lagi.”

Dimas memegang bahu Sarah pelan. “Lebih baik cacat dan hidup, daripada mati konyol lompat dari atap sambil ngebawa sepuluh nyawa bawahannya, Sar. Kamu lakuin hal yang benar.”

Sarah menghela napas panjang, menatap pecahan kaca jendela tempat entitas itu kabur.

“Kita gagal nangkep dia, Dim.”

“Iya,” jawab Dimas, matanya menatap tajam ke langit Jakarta yang mendung pekat. “Dia sekarang nyebar kayak virus. Dan kita nggak bisa nembak virus pakai peluru, atau ngeruqyah satu kota sekaligus.”

Suara derap langkah sepatu bot yang berat terdengar dari tangga darurat. Tim Taktis BPCBAN dan Paramedis akhirnya berhasil menembus barikade sistem gedung dan mencapai lantai 45.

Sarah berdiri, menyambut tim evakuasi. “Bawa pria ini ke rumah sakit! Amankan area! Pastikan semua karyawan yang diatap sudah turun!”

Dimas dibantu berdiri oleh dua petugas medis. Ia menolak tandu, memilih berjalan tertatih disamping Sarah.

“Sar,” bisik Dimas saat mereka berjalan menuju lift darurat. “Makhluk itu tantang kita main petak umpet di skala kota metropolitan. Kita butuh bantuan. Kita butuh seseorang yang bisa melacak anomali spiritual skala besar tanpa harus keliling jalan kaki.”

Sarah menatap suaminya, langsung mengerti arah pembicaraannya.

“Kamu mau hubungin mas Arya dan Mbak Kirana? Kan mereka udah pensiun?”

“Bukan mereka,” Dimas menggeleng pelan. Ia mengeluarkan ponselnya yang layarnya retak. “Kita butuh ‘Satelit Mistik’. Kita butuh Sekar.”

1
NP
Agak berat petualangan Dimas dan Sarah nih, kak. Maklum sama sama ilmuwan..
Felycia R. Fernandez
Petualangan baru dimulai...
NP
Iya betul yg dulu di rempah sang waktu,
Felycia R. Fernandez
Arya ini yang jadi raja dulu kan?
Felycia R. Fernandez
😅😅😅😅😅
Felycia R. Fernandez
lah,Sarah malah kenak
Felycia R. Fernandez
🤣
NP
Suami istri yang suka berpetualang menghadapi hal hal mistis
Felycia R. Fernandez
😆😆😆😆😆
Felycia R. Fernandez
ya ampun,luar biasa suami istri ini
Felycia R. Fernandez
kok ngeri ya 😳
Felycia R. Fernandez
wow 😳
Akbar Aulia
kurang.....kurang......kurang.....kurang banyak thor upnya
Felycia R. Fernandez
pernah denger,tapi blom tau gimana kota nya kk...😆😆😆
NP
Makasih ya Kak, Nusantara Üniverse menanti selanjutnya 🤣
Akbar Aulia
,iya kak ,ceritanya seru
Akbar Aulia
nanti kalo sampai kabari aku ya, semoga tidak ada halangan
Akbar Aulia
terimakasih thor sudah membuat cerita yg bagus sekali, semangat terus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!