NovelToon NovelToon
Anti Myth

Anti Myth

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Perperangan / Robot AI / Spiritual / Fantasi Wanita
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: Sizzz

Mereka bilang, dulu kami sama

Dewa dan Dewi kedudukannya setara, menciptakan dunia dengan napas yang sama. Laki-laki dan perempuan berjalan berdampingan, bahu boleh sama tinggi

Lalu datanglah Hari Keretakan

Tak ada yang tahu pasti apa yang memicunya

Yang jelas, perang saudara para penguasa alam itu berlangsung lama tanpa henti

Yang tersisa hanya tiga Dewi. Dan sebagai tanda kemenangan abadi, mereka melakukan sesuatu pada realita

Sejak saat itu, setiap anak laki-laki yang lahir akan tumbuh lebih pendek dari saudara perempuannya. Bahu mereka tak akan selebar leluhur mereka

Suara mereka tak akan menggema seperti para Dewa dulu. Mereka hidup dalam dunia yang didominasi perempuan, bukan hanya dalam kekuasaan, tapi juga dalam postur, dalam kekuatan fisik, dalam segala hal yang kasatmata

Aku Sany, tidak terlalu peduli dengan legenda itu. Yang penting adalah bagaimana caranya menghilangkan Bisikan ini, setelah itu pergi mencari kerja

Bagaimana kisah Sany selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tugas pertama Rey

Daimos menatap Sany tanpa ekspresi.

"Namaku Venuduzo. Aku adalah salah satu dari lima Ratu Daimos," ucap Venuduzo yang suaranya datar namun terdengar seperti fakta yang tak terbantahkan.

"Venuduzo?" Vizz mengernyit, mengingat-ingat.

"Aku sering mendengar nama itu... tapi di berbagai ras yang berbeda,"

Sany memandang Vizz. "Apa maksudmu?"

"Nama itu... terlalu umum," jawab Vizz, skeptis. Matanya menatap Venuduzo dengan curiga.

"Dan apa buktinya kau benar-benar salah satu ratu mereka?"

Mendengar tantangan Vizz, Venuduzo perlahan berdiri. Posturnya yang ramping tiba-tiba terasa lebih tinggi, lebih berwibawa.

"Kau meragukan kata-kataku?" suaranya masih datar, namun volumenya meningkat, memenuhi ruang sempit itu.

Sany melangkah maju, posisinya tepat di antara Vizz dan Venuduzo. "Tenang," ucapnya, suaranya rendah namun tegas, memotong ketegangan.

"Pembuktian bisa dilakukan lain waktu. Untuk sekarang," dia menoleh ke Aurora dan Venuduzo bergantian, "Yang kutanyakan tetap sama: maukah kalian tinggal bersamaku?"

Venuduzo dan Aurora saling bertukar pandang, sebuah percakapan bisu yang hanya berlangsung sepersekian detik. Kemudian, Aurora yang menjadi juru bicara, menatap Sany. "Kami memutuskan untuk tetap di sini, Master,"

"Kenapa?" tanya Sany, meski di dalam hatinya dia sudah bisa menebak.

"Karena Bibimu sudah memberikan kami lebih dari sekadar tempat tinggal," jelas Aurora, suaranya penuh rasa terima kasih.

"Dia memberi kami... ketenangan. Dan dia bekerja lebih keras dari siapa pun untuk itu. Kami merasa berhutang untuk tinggal dan membantu di sini,"

Sany mengangguk pelan. Dia memahami logikanya, dan mungkin juga kebanggaan mereka. "Baiklah. Kalau begitu, Vizz akan ikut denganku." Dia memberi senyum kecil.

"Sampai jumpa lagi,"

"Iya," balas Aurora dengan sopan.

Dengan anggukan terakhir, Sany berbalik dan keluar dari ruangan, Vizz di belakangnya. Aurora dan Venuduzo kembali terdiam, kembali ke rutinitas mereka di restoran yang sepi.

Sany meninggalkan ruang istirahat dan berjalan menuju kantor belakang, berharap bisa berpamitan pada bibinya. Namun, saat dia sampai, ruangan itu sudah gelap dan sepi, Bibi ternyata sudah pulang.

Dia bisa saja menggunakan kekuatannya. Tapi hari ini, dia memilih untuk datang dengan sopan, dan pergi dengan menghormati pilihan mereka.

 

Keesokan harinya di istana, di lapangan latihan belakang yang luas, para prajurit tengah berlatih dengan giat. Dari balkon observasi, Nova dan Bianca menyaksikan mereka dengan sorot mata kritis.

"Gerak-gerik mereka mudah ditebak," ucap Nova, suaranya datar namun menusuk.

"Seperti monster yang polanya telah dipelajari oleh pemburu ulung,"

"Dan Rey..." lanjut Nova, menghela napas ringan.

"Tanpa perangkat teknologinya, dia hampir tidak berguna. Kita tidak bisa mengandalkan alat yang bisa rusak di tengah pertempuran,"

"Iya, Yang Mulia," sahut Bianca, mengangguk pelan.

"Tapi, kesetiaan dan keberanian mereka tak perlu diragukan,"

"Aku tahu," jawab Nova, matanya tak lepas dari formasi di bawah.

"Tapi perang sebentar lagi tiba. Aku tidak ingin prajuritku hanya jadi sasaran empuk di medan pertempuran. Kita butuh pelatih baru. Seseorang yang bisa membawa perubahan,"

"Apakah Yang Mulia sudah memiliki calon?" tanya Bianca yang penasaran.

"Tidak," jawab Nova singkat. Lalu dia menoleh.

"Kau punya rekomendasi?"

Bianca menggeleng. "Tidak, Yang Mulia,"

Namun setelah jeda sejenak, dia menambahkan, "Tapi, hamba punya sebuah usul,"

"Apa itu?"

"Kita bisa meminta pendapat Sany, Yang Mulia. Dia tahu banyak hal dan orang,"

Nova terdiam sejenak, mempertimbangkan. Senyum tipis akhirnya muncul di bibirnya. "Hmm... itu ide yang bagus,"

Saat mereka masih membahas rencana, langkah kaki cepat terdengar mendekat. Faye muncul dari ujung koridor, wajahnya serius.

"Yang Mulia! Laporan darurat dari tim pengintai," serunya, sedikit terengah.

"Bajak laut sedang menyerang perairan utara Estik!"

"Apa?!"

Nova dan Bianca serentak terkesiap. Percakapan mereka tentang pelatih dan teknologi tiba-tiba terasa sangat jauh.

 

Beberapa menit kemudian, di kediaman Sany yang sunyi. Tidurnya terpotong oleh sensasi aneh, selembar kertas bermeterai kerajaan tiba-tiba  di atas dadanya, seolah-olah jatuh dari langit-langit.

Sany membuka matanya, mengambil dan membaca pesan itu. Isinya singkat, padat, dan darurat. Tanpa pikir panjang, dia melompat dari tempat tidur.

Hanya dalam beberapa tarikan napas, dia sudah mengenakan pakaian terbaiknya. Lalu, dengan sihir, dia menghilang dari kamarnya, berpindah langsung ke istana.

Vizz, yang tertidur lelap di kaki tempat tidur, bahkan tidak menyadari bahwa tuannya telah pergi. Kamar itu kembali sunyi, hanya tersisa lipatan sprei yang masih hangat.

 

Di istana, tepat di depan pintu ruang kerja Nova, udara berdesis halus saat Sany menyelesaikan teleportasinya. Tanpa membuang waktu, dia mengetuk pintu dengan tiga ketukan cepat dan tegas.

"Masuk!"

Sesuai perintah, Sany membuka pintu dan melangkah masuk.

Di dalam, Nova sudah berdiri di belakang mejanya, wajahnya terlihat lebih tegang dari biasanya. Di sampingnya, Rey berdiri dengan sikap siap, matanya langsung tertuju pada Sany yang baru masuk.

Menyadari urgensi di udara, Sany mempercepat langkahnya dan berhenti di hadapan Nova, memberi penghormatan singkat. Rey, yang tetap berada di posisinya, hanya mengamati dengan diam.

"Kau sudah datang," sambut Nova, tatapannya langsung tertuju pada Sany.

"Rey, kau bisa pergi menemui Bianca sekarang. Dia punya misi khusus untukmu,"

Rey terdiam sejenak, seolah ragu, tapi akhirnya dia menundukkan kepala.

"Baik, Yang Mulia,"

Dengan langkah cepat, dia meninggalkan ruangan, menyisakan Sany dan Nova berdua.

Begitu pintu tertutup, Nova menarik napas. "Baik, Sany. Sekarang, ada hal penting yang perlu kita bahas,"

"Apa itu, Yang Mulia?" tanya Sany, siap mendengarkan.

 

Di bandara militer yang bersebelahan dengan lapangan latihan, udara dipenuhi suara mesin dan teriakan.

Di sana, Bianca sudah menunggu, ditemani oleh dua prajurit perempuan kembar yang merupakan ras manusia.

Mereka memiliki rambut panjang yang diikat ke samping, satu ke kiri, satu ke ke kanan, dengan warna yang kontras: yang satu pirang pucat seperti gandum, dan satunya merah muda cerah seperti bunga sakura.

"Akhirnya kau datang," sambut Bianca begitu melihat Rey mendekat.

Kedua prajurit kembar itu memalingkan wajah mereka secara serempak, memandang Rey dengan tatapan penilaian yang sama persis. Rey mengambil posisi di sebelah mereka, membentuk barisan.

"Baiklah, kalian bertiga," mulai Bianca, suaranya memotong kebisingan.

"Misi kalian adalah menghabisi ancaman bajak laut yang meneror para nelayan di perairan utara Estik. Ada pertanyaan?"

Rey langsung mengangkat tangan.

"Komandan Bianca,"

"Iya, Rey. Tanyakan?"

"Mengapa hanya kami bertiga? Bukankah pasukan bajak laut biasanya banyak dan besar?" tanya Rey, suaranya tegas namun penuh rasa ingin tahu logis.

"Karena," jawab Bianca, menatap ketiganya bergantian,

"Mereka berdua memiliki pengalaman yang sama sepertimu, bertarung di luar batas normal, dengan kemampuan yang tidak dimiliki prajurit biasa,"

Rey mengangguk pelan. Penjelasan itu masuk akal baginya, meski masih menyisakan pertanyaan.

"Ada pertanyaan lagi?" tanya Bianca sekali lagi.

Hening. Ketiganya berdiri tegak, wajah mereka menunjukkan pemahaman dan kesiapan.

"Kalau tidak, kalian bisa naik ke kapal tempur yang sudah disiapkan," perintah Bianca, tangannya menunjuk ke arah sebuah kendaraan lapis baja ramping yang terparkir di bawah sayap pesawat jet transportasi besar.

"Pilot akan menerbangkan kalian langsung ke zona konflik di perairan utara Estik,"

Bersambung...

1
Dania
semangat tor
Dania: sama"kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!