yaseer, seorang anak yang hidup di negara konflik. keluarga petani zaitun, namun dia bermimpi untuk mengembangkan usaha orangtuanya dewasa kelak. Namun, karena konflik semakin parah, semua usahanya perlahan runtuh. hingga ketika konflik berhenti, yaseer berusaha sekuat tenaga nya beserta keluarga nya untuk membangun kembali. tapi tiba-tiba hantaman rudal dari penjajah meluluh lantakkan bahan utama usahanya. hingga akhirnya menghancurkan usahanya tak bersisa. akan kah yaseer bangkit kembali atau tamat dengan keadaan fustasi berat? yuk kita simak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummi Adzkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14. Hari Raya Kami part 2
Duaar...
Allahu Akbar!!
Keharuan berubah menjadi kepanikan. Hampir saja mereka bersembunyi berlarian pulang kerumah jika tak ada yang mengonfirmasi bahwa suara ledakan tadi adalah suara petasan yang di mainkan anak-anak.
Rupanya seorang anak pendudukan yang iseng menyalakan petasan di dekat masjid mereka. Rumah nya yang tak jauh dari tempat itu seolah memberi ide untuk mengganggu ibadah mereka.
" Ya Allah di saat seperti ini ada yang iseng nyalain petasan. Yang benar saja....!"
" Itu anak lepas dari pantauan apa gimana, bikin trauma aja!".
" Syukur jantungku masih aman. Syukur suaranya tidak terlalu kencang".
Masih banyak lagi gerutuan dari jamaah yang melaksanakan sholat Ied. Ingin marah tapi itu anak-anak iseng. Tidak marah juga, ya bagaimana situasi mereka cukup mencekam akhir-akhir. Salah info nyawa bisa melayang.
****
" Huft.... Itu anak siapa sih. Iseng nya ampun-ampunan. Ga bapak nya ga anaknya mainannya ledakan.." gerutu Yaseer ketika sampai dirumah.
" Sudahlah yang terpenting kita aman. Mungkin dia mau ikut merayakan hari raya kita. " Kata ummi menenangkan.
" Main petasan kok pagi-pagi. Orang mah malam biar keliatan..!". Masih lanjut gerutuan nya.
" Iya kalo malam ada kembang apinya. Kalo malam jadi reruntuhan apa ngga makin runyam." sela Haniya ikutan jengkel.
" Itu mah bapak nya...!" sambar Yaseer sengak.
" Hush... Sudah lah. Kita berdoa semoga aman hingga kedepan. Semoga hari raya ini kemenangan kita dan membuat mereka pergi dari sini." Titah ummi nya. Berisik sekali jika hari raya ini di isi dengan gerutuan- gerutuan.
" Iya mi... Hee... Damai.. Peace... " Yaseer mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya sambil cengengesan.
" Yuk kita makan dulu.." Ajak ummi nya.
" Eits sebentar... Ummi, kita ga sungkeman dulu.." cegah Yaseer sebelum ummi melangkah lebih jauh ke dalam rumah.
" Walau udah engga ada baba. Tapi kami masih ada ummi. Yuk mi.. Umi duduk sini." Pinta Yaseer sambil menuntun umminya untuk duduk di salah satu sofa di ruang keluarga mereka.
" Akak duluan ya, terus aku lanjut ke Ade." Kata Yaseer mengarahkan.
Haniya mengangguk dan ia berlutut di depan ummi dan menyalami tangan ummi nya.
" Akak minta maaf ya ummi, belum bisa banyak bantu ummi. Tolong doakan akak supaya akak bisa jadi kebanggan ummi. Taqobbalallahu Minna wa mingkum, shiyamana wa shiyamakum.. cup." Ucap Haniya dan mengecup punggung tangan ummi dengan rasa haru.
" Masyaallah.. Akak sudah banyak bantu ummi. Terima kasih ya nak, sudah mau membantu ummi dengan senang hati. Maaf ummi belum bisa kasih yang terbaik buat kalian anak-anak ummi." Jawab ummi dengan mata berkaca-kaca, lalu mengecup pipi Haniya kanan dan kiri.
" Taqobbal ya kariim ..." Lanjut ummi.
" Ummi, aku juga minta maaf ya, masih suka bermain, masih suka gangguin Ade dan kadang bikin ummi kesel. " kata Yaseer sambil menyalami tangan ummi dan mengecupnya takzim.
"Taqobbalallahu Minna wamingkum". Lanjutnya dengan senyum tipis menahan air mata.
" Iya ummi juga minta maaf ya, masih kurang shobar dengan keadaan kita. Semoga kedepannya kakak lebih dewasa dan lebih bisa diandalkan hmm.. " " Taqobbal ya Karim nak.." Jawab ummi, kemudian mengecup kening Yaseer.
Diperlakukan begitu oleh umminya, tak di rasa air mata nya meleleh dari matanya. Ia mengusap cepat khawatir terlihat dan menambah kesedihan ummi nya.
" Ade juga mohon maaf ya ummi, Ade cuma bisa bantu sedikit. ummi jangan nangis lagi. Kita kan lagi merayakan lebaran.. " Kata Abia mengusap air mata di pipi umminya. kemudian menyalami dan mengecup punggung tangan ummi.
Ummi pun membalas mengecup telapak tangan Abia.
" Iya ummi udah ga nangis kok. Ade tambah Sholehah ya nak. Doakan ummi semoga bisa membersamai Abia, akak dan kakak Yaseer juga hingga dewasa nanti." ummi mengecup pipi Abia kanan kiri.
" Baiklah kita sudahi acara sedih-sedihnya. Sekarang waktunya kita.... Makan.....". Seru Yaseer bertepuk tangan mengalihkan suasana haru nya.
Ummi, Haniya dan Abia kompak mengangguk. Dan beranjak ke dapur menuju meja makan.
Makanan "mewah" telah terhidang di meja. Ummi sudah menyiapkannya dari habis shubuh tadi sebelum berangkat ke masjid untuk sholat Ied.
" Wah.... Alhamdulillah kita bisa makan nasi kebuli lagi. Ada kunafa juga. Wah.. Masyaallah Alhamdulillah...." seru Yaseer di depan meja makan. Sungguh makanan "mewah" bagi mereka.
" Iya kita harus banyak bersyukur atas nikmat Allah. Kita bisa berlebaran dalam keadaan sehat, rumah yang tenang, dan punya makanan untuk dimakan". Nasehat umminya.
Alhamdulillah, dikiranya lebaran tahun ini tak akan menemui hidangan seperti ini lagi. Tapi ternyata rezeki yang Allah kirimkan dari orang baik lain yang bahkan tidak mereka kenal.
Flashback sore kemarin
Setelah pemberitahuan jam malam berakhir, ummi akan bersiap untuk mencari tambahan menu untuk makan malam ini. Syukur-syukur sampai besok setelah sholat Ied.
Sudah pukul 14.30. Sudah hampir sore. Tapi semoga masih ada yang bisa di cari atau di beli. Baru juga ummi dan Haniya akan beranjak keluar rumah. Terdengar ketukan pintu dan ucapan salam dari luar pintu depan.
Tok...tok..tok...
" Assalamualaikum warahmatullah...!."
Ummi yang baru sampai di ruang tamu , tercenung seketika. Siapa yang bertamu menjelang sore begini. Lalu menghampiri pintu dan membukanya.
" Waalaikumussalam warahmatullah.." Jawabnya, " Maaf tuan siapa ya? Dan ada perlu apa kemari?" tanya ummi sedikit khawatir akan hal buruk.
" Ah.. Begini nyonya, apa betul ini rumah dari tuan Ali? " Tanya nya memastikan.
" Iya betul, saya istrinya. Ada yang bisa kami bantu tuan?" Tanya ummi lagi.
" Ah Alhamdulillah.. saya Zidni.. saya ingin memberikan bingkisan ini sebagai rasa terimakasih kami. Atas bantuan yang tuan Ali berikan beberapa bulan yang lalu." Terangnya sambil mengenalkan diri.
" Oh.. Iya. Tapi suami saya sudah 3 bulan lalu wafat. Apakah tuan sudah tau?" Tanya ummi lagi.
Haniya yang berada di belakang umminya hanya memperhatikan apa yang dilakukan ummi nya pada tamu nya.
" Oh maaf... Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. Maaf saya belum tau.... eeh kalau begitu, tolong terima ini dari kami. Semoga bisa bermanfaat" Sambil menyerahkan bingkisan yang Ntah isinya apa.
"Kami pamit nyonya, selamat hari Raya. Taqobbalallahu Minna wa mingkum, shiyamana wa shiyamakum, assalamualaikum warahmatullah.." Pamitnya lalu berlalu pergi.
Ummi dan Haniya sampai terbengong-bengong dengan tingkah tamu satu itu. Kiranya dimana Ali bertemu dengannya. Hal baik apa juga yang telah Ali berikan.
" Waalaikumussalam warahmatullah.... jazaakumullah khoiran katsiiran.." Lirih ummi karena tuan tadi sudah berlalu menjauh.
Ummi memandangi bingkisan yang berada di tangannya. Tidak begitu berat, tapi juga tidak ringan. Kemudian menengok ke arah Haniya.
" Akak lihat tadi, kenapa Tuan itu sangat buru-buru begitu tau baba sudah tidak ada?" Tanya ummi pada Haniya. Seolah masih kaget akan bingkisan di tangannya.
" Mungkin di kiranya baba masih ada. Jadi mau bertamu. Karena baba sudah tidak ada, dan khawatir menjadi fitnah, makanya tuan itu langsung pamitan." Simpul Haniya.
" Oh iya benar juga. Ummi masih sedikit kaget ." Kata ummi menyetujui kesimpulan Haniya.
" Yasudah kita lihat apa isinya dan kita manfaatkan nanti." putus umminya.
Dibukanya bingkisan itu, dan di dalamnya terdapat masakan seperti ayam madu.
" Wah.. Ini sih rezeki buat kita buka puasa mi." serunya girang. "Alhamdulillah ... "
" Iya Alhamdulillah. Yuk kita simpan dulu."
Ummi akan beranjak ke arah dapur. Untuk menyimpan bingkisan tadi. Tapi ada lagi yang mengetuk pintu.
tok..tok..tok..
"Assalamualaikum.."
Ummi dan Haniya berhenti melangkah.
" Haniya tolong bukakan pintu, ummi akan taro ini dulu" titah ummi.
Haniya mengangguk dan menghampiri pintu serta membukanya.
" waalaikumussalam warahmatullah. Iya kak?" Tanya Haniya.
" Mmm... Ini dari keluarga Kaka untuk Abbas... " Katanya sambil menyerahkan bingkisan lainnya.
" Ini apa kak?" Tanya Haniya lagi
" Ini rasa terima kasih kami atas bantuan yang selalu Abbas berikan saat baba saya berjualan di pasar".
" Tolong di terima yah. Saya pamit. Assalamualaikum ".
" Ah iya. Jazaakumullah khoiran katsiiran kak. Waalaikumussalam warahmatullah ". Sekarang Haniya yang mengalami hal seperti ummi tadi. Terkejut..
" Haniya apa itu?" tanya ummi menyentak kebingungan Haniya.
"Ah ini ummi. Ada yang memberikan ini, karena Abang suka membantu tuan yang ada di pasar". Terang Haniya agak ragu.
" Masyaallah... Alhamdulillahi rabbil 'aalaminn.. Rezeki yang tidak terduga ya nak."
Haniya mengangguk dan membuka isi bingkisan nya.
" Wah beras mi. Dan ada buah juga. Alhamdulillah.." Pekik Haniya tertahan. Ummi mengatupkan mulutnya terkejut penuh syukur.
" Ya Allah.. Ini yang kita butuhkan Haniya... " seru Ummi lalu melakukan sujud syukur.
Adzan asar berkumandang. ummi dan Haniya sholat asar berjamaah, tidak lupa membangunkan Abia yang sedang tidur siang.
Kejutan demi kejutan berdatangan silih berganti. Selain dua orang baik tadi. Datang juga 3 orang baik lainnya. ummi dan Haniya sampai tidak jadi pergi ke pasar.
Flashback off
****
" Setelah makan, kita jadi berkunjung ke rumah-rumah tetangga kan mi?". Tanya Abia di sela makan nya
" Iya, tapi kalian saja ya. Ummi masih masa Iddah. " jawab ummi nya.
" Oh iya. Yuk kak kita berangkat sekarang." ajak Abia pada Haniya dan Yaseer.
" Makan mu itu di habiskan dulu. Berkah ya itu..!" Titah Yaseer pada Abia
" O iya.. Hehe.." segera di habiskan nya.
" Ingat... Nanti jangan minta-minta kue atau THR yah. Kita hanya bersalaman dan bermaafan. Trus pulang..!" peringat Haniya.
Dan merekapun pamit kepada ummi.
" Tolong sampaikan juga salam maaf ummi untuk orang yang kalian kunjungi ya." Pintanya.
" Baik ummi. Assalamualaikum..."
" Waalaikumussalam warahmatullah... "
*****
Sepulang nya dari berkunjung. Mereka pulang dan masuk kerumah dengan ekspresi wajah yang berbeda.
Haniya dengan wajah sendu nya. Karena banyak yang menanyakan perihal Abang nya. Yaseer dengan wajah penuh tekanan karena banyaknya nasehat -nasehat untuk nya. Dan Abia dengan wajah cerianya karena banyak aneka kue yang ia dapatkan.
" Kok mukanya di tekuk begitu kenapa?". Tanya ummi heran.
Abia yang tak memperhatikan wajah kakanya, menengok ke arah wajah kakanya.
" Oh itu akak banyak ditanya tentang Abang mi. kalo kakak Ade ga tau.." jawabnya sambil mengendikkan bahu.
" Aku merasa harus lebih dewasa lagi mi. Supaya bisa melanjutkan peran baba dan Abang di rumah ini." Kata Yaseer dengan kerutan di dahinya.
" Contohlah amal baik baba dan Abang yang bisa kalian ikuti. Seiring berjalannya waktu. Masa dewasa nanti kalian akan paham apa itu peran baba dan Abang. Hmm?" nasehat ummi.
" Kita perbanyak doa semoga kita terus bisa berada di masa tenang seperti saat ini. ". Lanjut ummi.
" Yaudah Ade mau wadahin kue dulu mi. Mau cobain semuanya... !" celetuk Abia sambil menenteng bungkusan kue nya.
Tradisi yang sudah turun temurun. Berkunjung menyambung silaturahmi selain menambah rezeki juga memanjangkan usia.
*****
Author juga mau ngucapin
" Selamat hari raya Idul Fitri 1447H. Taqobbalallahu Minna wa mingkum, shiyamana wa shiyamakum. Mohon maaf lahir dan batin..." 😊☺️😉
happy reading 💪
happy Ied Mubarak
komen baik nya ditunggu ya.