Ibu hamil yang wafat di tempat kejadian,sebut saja Rini bersama dengan anaknya yang belum lahir. Rasa cinta yang dalam pada anaknya dan kemarahan pada mereka yang menyebabkan kematiannya membuatnya menjadi arwah penasaran yang tak bisa pergi ke alam lain. Setiap malam, dia muncul di jalan raya tempat kejadian itu terjadi—bayangan dia dengan perut membuncit dan tas yang masih tersangkut di bagian tubuhnya sering dilihat oleh sopir yang lewat, membuat mereka merasa dingin mendadak dan merasakan kesedihan yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Di Balik Perhatian
Dua minggu telah berlalu Sarah pun fokus pada pekerjaan, bahkan sudah mendapatkan proyek baru yang lebih menantang tapi menyenangkan.
Saat sore itu, Sarah baru saja sampai rumah dari kantor ketika melihat Anton sedang menyambar dengan cepat menuju arah rumah mereka dengan mobil baru. Dia langsung berhenti di depan gerbang dan keluar dengan wajah yang ceria.
"Sarah! Dede! Ada kabar baik nih!" teriak Anton sambil melambai-lambai. Di belakang mobilnya, terlihat Dewi yang sedang membawa kotak besar berisi makanan khas dari daerahnya.
Sarah segera keluar dari rumah sambil mengusap tangan yang masih sedikit berdebar karena kejutan tadi. "Anton tumben kamu? Datang aja kesini!" ucapnya dengan senyum.
Anton menghela nafas lega dan menunjuk ke arah Dewi yang sudah keluar dari mobil. "Sarah, kamu tahu kan? Aku dan Dewi sudah resmi berpacaran!" ucapnya dengan suara penuh kegembiraan, lalu meraih tangan Dewi dengan erat.
Dewi tersenyum manis dan mengangguk. "Iya Sarah, Anton benar-benar mencintai aku. Dia selalu ada saat aku butuh, bahkan lebih sabar dariku sendiri waktu sakit dulu," katanya dengan mata yang bersinar.
Sarah dengan cepat menarik tangan Anton, membuatnya sedikit terkejut. "Dewi, bentar ya? Aku pinjam Anton sebentar," katanya dengan nada yang sedikit serius.
"Iya ," jawab Dewi dengan senyum manis, tidak menyadari ada yang tidak biasa.
Sarah membawa Anton menjauh ke arah taman kecil di belakang rumah, jauh dari pendengaran Dewi. Dia melihat sekeliling terlebih dahulu sebelum mulai berbisik dengan suara rendah.
"Kamu tahu kan Dewi siapa?" tanya Sarah dengan tatapan mendalam.
"Iya aku tahu, dia sahabat Rini dari dulu kan?" jawab Anton dengan nada biasa, seolah tidak melihat ada masalah apa-apa.
"Terus kenapa kamu pacaran sama dia? Kaya gak ada cewek lain aja?" ucap Sarah dengan sedikit kesal, matanya mulai mengerut khawatir.
Anton menghela nafas perlahan dan menatap Sarah dengan wajah yang serius. "Kamu tahu kan Dewi yang satu-satunya yang selamat dari kejadian dulu, maka dari itu aku lagi jalanin rencana baru."
"Maksud kamu... kamu gak beneran suka sama dia?" tanya Sarah dengan suara semakin pelan, rasa khawatirnya semakin besar.
"Enggak," jawab Anton langsung tanpa ragu.
"Anton! Rini tuh jadi arwah penasaran lho! Aku gak mau kamu celaka karena campur urusan sama yang kayak gitu!" ucap Sarah dengan sedikit menaikkan suara, tangannya menggenggam lengan Anton dengan kuat.
Anton hanya tertawa riang. "Hahaha, kamu masih percaya sama hantu ya Sarah? Udah tenang aja, aku tahu apa yang aku lakukan kok."
Tanpa menunggu balasan lagi, Anton langsung berbalik dan berjalan menjauh dari Sarah menuju arah Dewi yang sudah mulai menunggu di depan pintu rumah.
"Sayang... masuk yuk," panggil Dewi dengan senyum hangat saat Anton mendekat.
"Oh... iya," jawab Anton dengan nada biasa, lalu masuk ke dalam rumah bersama Dewi, menyisakan Sarah yang berdiri sendirian di taman dengan wajah penuh kekhawatiran.
Dede yang baru saja selesai menyiram tanaman di halaman melihat Anton yang masuk bersama seorang wanita asing. Dia langsung berlari ke arah Sarah yang masih berdiri di taman dengan wajah cemas.
"Kak, siapa itu cewek?" tanya Dede dengan mata penuh rasa ingin tahu, sambil menunjuk ke arah Dewi yang sedang disambut bibi di depan pintu.
"Pacar om Anton," jawab Sarah dengan suara pelan, masih belum bisa melepaskan pandangannya dari arah Anton dan Dewi.
"Ohhh...." ucap Dede dengan nada mengerti, lalu menarik lengan Sarah dengan ceria. "Ya udah yuk masuk kita makan sama-sama, bibi sudah siapkan makanan di meja!"
Sarah mengangguk perlahan dan mengikuti langkah Dede ke dalam rumah. Ketika mereka sampai di ruang makan, semua sudah duduk di sekitar meja Anton dan Dewi sedang bercanda dengan bibi, yang terlihat sangat senang melihat kedatangan tamu.
"Sarah, nak, cepat duduk ," ucap bibi dengan senyum hangat saat melihat mereka masuk. "Kamu juga ya Dede kan kamu bilang lapar kan?"
Dede langsung melompat ke kursinya dan mengambil sendok dengan cepat. "Iya Bibi! Aku udah nungguin makanan ini dari tadi.
Sarah duduk di kursi di sebelah Dede ,masih sering melihat ke arah Anton dan Dewi. Anton tampak sangat akrab dengan Dewi, bahkan sering mengisi piringnya dengan makanan kesukaan Dewi. Seolah-olah mereka benar-benar pasangan yang mencintai satu sama lain.
Dewi melihat Sarah dan tersenyum ramah. "Dewi, kamu jangan sungkan ya makan aja. Bibi memasaknya sangat enak lho," ucapnya dengan suara lembut.
Di dalam hati, dia semakin khawatir dengan apa yang dikatakan Anton tadi apa benar rencana nya aman? Atau justru akan membawa masalah baru bagi mereka semua.