Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.
"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"
"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."
Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.
Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.
Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Ada pernikahan yang dirayakan dengan pesta besar. Ada pula yang dipersiapkan dengan diam, tanpa dekorasi mewah, tanpa undangan luas, tapi berdiri di atas keputusan yang matang.
Pagi itu, Sagara berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Kemeja putihnya sudah disetrika rapi, digantung di lemari yang terbuka. Berkas-berkas tersusun di meja, seperti fotokopi KTP, KK, surat keterangan dari kelurahan, dan satu map cokelat bertuliskan Permohonan Wali Hakim.
Ia membaca ulang setiap lembar. Bukan karena ragu, tapi karena ia terbiasa memastikan segala sesuatu berdiri di pijakan yang benar.
Di luar, rumah besar itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Senja masih di kamarnya.
Ia duduk di tepi ranjang, jemarinya meremas ujung selimut. Gaun sederhana berwarna salem tergantung di lemari, bukan kebaya dipenuhi payet mutiara, bukan gaun megah, hanya sesuatu yang pantas, bersih, tidak berlebihan.
Pernikahan ini tidak dirancang untuk membungkam gosip. Tidak pula untuk membalas dendam pada keluarga. Pernikahan ini dibuat untuk satu hal, yaitu keabsahan dan martabat.
Senja menutup mata sebentar.
Wali hakim.
Dua kata itu sempat terasa asing di kepalanya, bahkan menakutkan. Bukan karena tidak sah, ia tahu ini sah, tapi karena kenyataan bahwa ayahnya memilih menolak, dan ia harus menerima itu sebagai fakta, bukan luka.
Ketukan pelan terdengar di pintu. “Senja,” suara Sagara terdengar.
“Iya,” jawab Senja. Suaranya stabil, meski dadanya tidak sepenuhnya tenang.
Ia membuka pintu hingga sosok gagag Sagara memenuh ruang pandang.
Sagara tidak masuk. Ia selalu menjaga batas. “Kita berangkat setengah jam lagi.”
Bahkan hari ini. Di KUA, suasana tidak ramai. Tidak ada rombongan besar. Tidak ada iring-iringan. Hanya Widuri dan Adam yang duduk di kursi tunggu, berpakaian rapi, membawa wajah tenang.
Widuri membawa tas kecil berisi sapu tangan dan doa-doa pendek yang ia hafal sejak muda. Ketika Senja masuk, Widuri berdiri lebih dulu.
“Kamu cantik,” katanya sederhana.
Bukan pujian berlebihan. Tapi cukup membuat mata Senja hangat. “Terima kasih, Nek.”
Adam berdeham kecil. “Tenang. Ini bukan sidang skripsi.”
Senja tersenyum tipis.
Sagara berdiri tak jauh. Tatapannya jatuh pada Senja sekilas, hanya sekilas, tidak lama, tidak intens. Tapi cukup untuk memastikan, 'kamu siap?'
Senja mengangguk kecil, paham.
Petugas KUA memanggil nama mereka. Prosesi dimulai dengan tenang tanpa gemetar dan drama.
Ketika wali hakim masuk--seorang pria paruh baya dengan sorot mata teduh--Senja menunduk hormat. Ada satu detik kecil di dadanya yang terasa meremang, tapi ia tidak membiarkan rasa itu membesar. Ia sudah berdamai dengan kenyataan.
“Wali nasab tidak hadir?” tanya petugas, formal.
“Menolak tanpa alasan syar’i,” jawab wali hakim tenang. Kalimatnya tercatat resmi dan jelas.
Sagara duduk tegak. Tangannya di atas paha. Pembawaannya tenang. Ketika ijab diucapkan, suaranya mantap, tidak terburu-buru, bahkan sama sekali tidak bergetar.
Satu tarikan napas. Satu keputusan hidup.
Sah.
Tidak ada tepuk tangan. Yang ada hanya keheningan berat, lalu perlahan berubah menjadi lega.
Widuri mengusap matanya pelan. Adam tersenyum kecil, bangga tanpa perlu mengatakannya.
Senja menunduk. Satu kedipan pelan menjatuhkan bulir air matanya. Itu bukan karena sedih, tapi karena akhirnya, ia berdiri di tempat yang sah. Tidak lagi menggantung.
Selesai prosesi, Widuri dan Adam langsung pulang. Sementara Sagara dan senja duduk sebentar di taman kecil samping KUA. Bangku kayu sederhana. Di bawah naungan pohon flamboyan. Bunganya berguguran di tengah suasana sepi, tidak ada orang lain selain mereka.
“Kalau kamu menyesal,” kata Sagara tiba-tiba, “kita masih bisa berhenti di sini.”
Senja menoleh cepat. “Sekarang?”
“Sekarang,” jawab Sagara. “Pernikahan sah. Tapi hidup tidak pernah boleh dipaksakan.”
Senja terdiam beberapa detik. “Aku tidak menyesal, Om,” katanya akhirnya. “Aku hanya… sedang belajar menerima.”
“Menerima apa?”
“Bahwa aku tidak selalu bisa mendapatkan restu dari semua orang.”
Sagara mengangguk. “Itu pelajaran yang berat.”
“Tapi aku tidak sendirian,” lanjut Senja. Ia menatap Sagara, kali ini lebih berani. “Ada Om di sampingku. Itu membuat keadaan tidak terlalu menakutkan.”
Sagara tidak menjawab. Ia hanya menggeser posisi duduknya sedikit lebih dekat. Tidak menyentuh, tapi hadir.
Di Rumah yang Tidak Lagi Berkuasa,
Winarti berdiri di dapur dengan wajah menegang. Tangannya memegang sendok sayur, tapi isi panci sudah lama mendidih rak juga diaduk. Api kecil terus menyala, seolah menunggu seseorang peduli.
“Katanya… sudah sah. Pakai wali hakim.”
Kalimat itu keluar dari mulut tetangga dengan nada setengah kagum, setengah penasaran. Tapi sekarang rumah itu sudah sepi. Pintu depan tertutup. Yang tersisa hanya gema kalimat itu di kepala Winarti.
Sah.
Bukan sekadar menikah, tapi tidak membutuhkan mereka lagi.
Pandi duduk di kursi kayu dekat jendela. Rokoknya sudah habis sejak tadi, tapi ia belum bergerak membeli. Wajahnya datar, tapi rahangnya mengeras.
“Wali hakim,” gumamnya akhirnya. “Berani juga dia.”
Pandi bukan marah karena Senja menikah. Tapi karena statusnya sebagai ayah tak lagi dianggap, merasa tak dihormati.
Winarti membanting sendok ke meja.
Klang.
“Kurang ajar. Aku cuma bilang jangan datang lagi ke rumah ini. Sekarang malah menikah diam-diam, seolah kita ini siapa?” katanya tajam.
Pandi tidak langsung menjawab. Ia menatap halaman kosong di depan rumah, lalu berkata pelan tapi menyebalkan. “Justru karena kamu bilang begitu, dia bisa pakai wali hakim.”
Kalimat itu membuat Winarti menoleh cepat. “Maksudmu aku salah?”
Pandi mengangkat bahu. “Aku cuma bilang kenyataannya.”
Riyan yang sejak tadi duduk selonjor di lantai, memainkan ponsel dengan wajah masam, mendengus. “Terus sekarang gimana? Katanya orang kaya. Kok nggak ada kabar kirim apa-apa lagi?”
Winarti menoleh ke arah putra kesayangannya itu dengan tatapan tajam.
“Kamu pikir semuanya tentang uang?”
“Iya lah,” jawab Riyan tanpa beban. “Kalau dia nikah sama orang kaya, harusnya keluarga istrinya juga kebagian. Masa enggak?”
Pandi menatap Riyan sebentar. “Kamu pikir kita masih punya posisi buat menuntut?”
Riyan terdiam.
Winarti menyilangkan tangan di dada. Dadanya naik turun cepat. “Dia anakku. Mau nikah pakai wali langit sekalipun, tetap anakku. Harusnya izin.”
“Harusnya,” sahut Pandi pelan. “Tapi kamu yang bilang dia bukan anakmu lagi.”
Kalimat itu seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Winarti membuka mulut, ingin membalas. Tapi tidak ada kata yang keluar. Bukan karena ia menyesal, tapi karena ia sadar, kalimat itu tidak bisa ditarik kembali.
Riyan bangkit berdiri. Wajahnya kesal.
“Jadi sekarang kita kalah gitu aja? Dia nikah enak, kita di sini masih pusing mikirin angsuran motor. Hidup susah.”
Winarti mengepalkan tangan. “Dia pikir hidupnya bakal mulus? Orang-orang kampung pasti ngomong. Nikah tanpa wali bapaknya. Pasti ada yang bilang nggak bener.”
Pandi menghela napas pendek. “Mau bilang apa pun, nikahnya tetap sah.”
Sunyi.
Kata sah itu seperti duri yang memenuhi rumah itu. Duri yang tidak bisa dicabut dan terlalu kuat untu dipatahkan.
Winarti duduk perlahan di kursi. Punggungnya terasa lebih berat dari biasanya. “Berarti… kita nggak punya apa-apa lagi buat dipegang,” katanya. Nadanya rendah. Bukan sedih, lebih ke arah jengkel karena kehilangan kuasa.
Pandi berdiri, meraih jaketnya. “Aku mau beli rokok.”
“Uangnya, tinggal dikit. Buat saku sekolah Riyan besok” ucap Winarti cepat.
Pandi berhenti sebentar, lalu berkata tanpa menoleh, “Habis, bisa cari lagi.”
Pintu ditutup.
Riyan mendengus kesal. “Ayah nyebelin.”
Winarti menatap lantai. “Bukan ayah yang nyebelin. Keadaan.”
Namun, bahkan saat mengucapkannya, Winarti tahu, bukan keadaan yang ia benci, melainkan fakta bahwa Senja tidak lagi bisa diatur. Dan itu membuatnya merasa kalah, meski hatinya belum mau mengaku.
Bersambung~~
Catatan dari penulis:
Bacalah bab demi bab ya, jangan lompat-lompat karena bisa menurunkan retensi.
Bukan karena authornya galak, tapi karena:
👉 Retensi turun \= nggak gajian.
👉 Author nggak gajian \= makan mie instan lagi.
Demi masa depan penulis dan stok beras, baca berurutan ya 📖
Tolong… dompet penulis sudah terlalu sering menatap kosong 🙏
(Malah curhat😆)