NovelToon NovelToon
Malam Terlarang Dengan Om Asing

Malam Terlarang Dengan Om Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cinta Beda Dunia / Hamil di luar nikah
Popularitas:25k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.

"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"

"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."

Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.

Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.

Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33

Lampu rumah sakit menyala putih, terasa terlalu terang untuk orang-orang yang datang tanpa kesiapan apa pun. Winarti duduk di kursi plastik dengan tas di pangkuan. Tangannya tak berhenti meremas jari. Bukan karena khawatir, lebih karena jengkel. Dua menit mereka di sana, tapi belum juga ditangani petugas medis.

Padahal baru dua menit.

Di ranjang ruang periksa, suara Riyan terdengar mengeluh keras. “Bu… sakit. Kok lama sih? Aku haus. Aku mau minum yang dingin.”

Winarti mendecak. “Iya, iya. Bentar. Ini juga lagi nunggu.”

“Dari tadi bentar!” Suara Riyan meninggi. “Kalau Senja ada juga pasti udah beres!” Kalimatnya meluncur begitu saja. Refleks. Tanpa dipikirkan.

Winarti terdiam sepersekian detik, lalu wajahnya mengeras. “Jangan nyebut-nyebut nama itu,” katanya ketus. “Ini semua gara-gara dia,” lanjutnya lagi, seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri. “Kalau dia nggak bikin malu keluarga, kamu nggak bakal keluyuran sama anak-anak nggak jelas. Nggak bakal begini jadinya.”

Dia terus menyalahkan Senja atas segala keburukan yang menimpa. Kadang dunia memang terasa tidak adil bagi anak senurut Senja yang tumbuh di dalam keluarga tidak tahu diri seperti mereka.

Di sudut ruang, Pandi berdiri menyandar ke tembok. Tangannya menyelip di saku celana, mulutnya mengunyah permen karet yang entah dari mana. Ia tidak terlihat panik. Tidak juga tampak peduli. Hanya sesekali melirik jam dinding dengan wajah bosan.

“Namanya juga bocah,” kata Pandi akhirnya. “Suka cari ribut."

“Ribut apanya?” Winarti membalas cepat. “Kalau dia nggak ikut-ikutan tongkrongan nggak jelas itu, juga nggak bakal kejadian!”

Pandi mengangkat bahu. “Namanya juga laki.”

Winarti melirik tajam. “Terus sekarang gimana? Kamu punya uang?”

Pandi diam.

Bertepatan dengan itu seorang dokter dan perawat datang. Winarti dan Pandi diminta menunggu di luar.

Beberapa menit kemudian, seorang perawat keluar membawa map. “Keluarga Riyan?”

Winarti langsung berdiri. “Saya.”

“Pasien mengalami luka sobek dan memar di lengan. Tidak parah, tapi perlu dijahit dan observasi. Untuk administrasi---”

“Berapa?” potong Winarti cepat.

Perawat menyebutkan angka yang seketika membuat Winarti membeku. Angka itu bukan sesuatu yang bisa ia keluarkan begitu saja. Bahkan tidak setengahnya.

“Bisa… bisa dicicil?” tanyanya, suara menipis.

Perawat tersenyum tipis, profesional tapi tegas. “Untuk IGD, pembayaran awal tetap diperlukan, Bu,” terangnya sebelum kembali ke dalam.

Winarti menoleh ke Pandi. Tatapannya mendesak.

Pandi menghela napas. “Aku nggak pegang.”

“Kamu kan kerja!” Suara Winarti meninggi.

“Serabutan,” jawab Pandi datar. “Kalau ada.”

"Berguna sedikit dong, Pak."

“Pakai BPJS aja,” sela Pandi santai.

“BPJS-nya nunggak!” Suara Winarti meninggi. “Kamu pikir gampang?”

Pandi terdiam, tidak berniat lagi menyumbang ide jalan keluar lain. Dia sudah terlampau lelah, lelah bertanggung jawab.

Winarti menggertakkan gigi. Matanya beralih ke arah pintu ruang periksa, ke arah suara Riyan yang kini merengek minta pulang.

“Senja itu,” gumam Winarti kesal, lebih ke dirinya sendiri. “Kalau dia nggak bikin aib, sekarang nggak begini.”

Tidak ada yang membantah. Beberapa saat kemudian, Riyan keluar dengan perban di lengan. Wajahnya pucat, tapi matanya masih tajam. Begitu melihat ibunya, ia langsung mengeluh.

“Sakit banget, Bu. Aku lapar. Mau makan.”

“Kamu pikir ini rumah makan?” Winarti membentak refleks.

Riyan manyun. “Biasanya juga Senja yang---”

“DIAM!” potong Winarti. “Dibilangin jangan sebut-sebut dia! Risih ibumu dengarnya!”

Riyan terkejut. Bibirnya bergetar, tapi ia tetap mendengus. “Kalau Senja ada, pasti dia bayarin.”

Kalimat itu lagi. Winarti kian mendengus jengkel.

Dan kali ini, Pandi melirik anaknya dengan kesal. “Kamu ini nyusahin.”

“Aku dipukulin orang, terus aku balas!” Riyan membela diri. “Salah aku apa?”

Winarti duduk kembali, ia melihat notifikasi di ponselnya. Grup ibu-ibu kampung.

“Win, Riyan kenapa kok di RS?”

“Katanya ikut tawuran ya?"

“Hati-hati anak sekarang.”

Winarti menutup layar dengan kesal. “Ini semua gara-gara Senja,” ulangnya, lebih keras tanpa sadar. Seolah kalimat itu bisa mengembalikan kendali yang hilang.

Riyan meringis, tapi tetap berkata, “Aku laper.”

Winarti menghela napas panjang. “Nanti.”

Sunyi jatuh lagi. Sunyi yang tidak nyaman. Sunyi yang membuat Winarti akhirnya duduk kembali, mengusap wajahnya sendiri.

Tangannya merogoh tas. Dompet dibuka. Ia menghitung lembaran uang dengan gerakan cepat, lalu berhenti. Isinya tidak bertambah sejak terakhir kali ia hitung di rumah.

Biasanya, di situ ada tambahan. Selalu ada. Entah dari kasbon Senja, entah dari uang lembur, entah dari sisa belanja yang Senja tekan mati-matian. Sekarang, kosong.

“Harusnya dia masih di sini,” gumam Winarti, lebih ke dirinya sendiri daripada ke orang lain. “Kalau dia nggak keras kepala, semua ini nggak ribet.”

Pandi melirik. “Dia yang bikin malu. Masa kamu mau nyuruh dia balik?”

“Bukan balik,” Winarti cepat membela diri. “Tapi setidaknya tanggung jawab. Masa keluarga susah begini, dia enak-enakan di luar.”

“Dia kan sekarang sama laki-laki itu,” sahut Pandi dingin. “Suruh aja laki-lakinya tanggung jawab sekalian.”

Winarti terdiam. Matanya bergerak pelan, seolah memikirkan sesuatu.

Riyan menoleh. “Aku nggak mau kelamaan di sini, Bu. Bosan. Ayo cari makan.”

“Diam,” kata Winarti.

Wanita itu kembali menatap tagihan. Angka itu tidak berubah. Tapi kepalanya mulai penuh dengan kemungkinan-kemungkinan yang membuat dadanya sedikit lebih lapang… dan sedikit lebih licik, meski ia belum mau mengakuinya.

Bersambung~~

1
Mia Camelia
kasian senja, udh mulai di bully😂😂😂
Ayuwidia
Astaghfirullah, kejam banget omongannya
Ayuwidia
Sunyi itu malah lebih mengerikan dari pada ucapan kasar
Nofi Kahza
ada banyaakkk
partini
tuan saga apa ga bisa kasih bodyguard bayangan buat istrimu dia hamil loh sesuatu bisa terjadi apa lagi banyak yg ga suka be smart dong pak dosen jangan lemot
partini: ah suka yg kehujanan dulu baru beli payung ok ok
total 2 replies
Ayuwidia
Sagara suami siaga, meski tidak banyak kata, atau aksi yg bisa dilihat oleh mata
Ayuwidia
Betul
Ayuwidia
Aku pingin kuliah di sana, tapi cuma bisa bermimpi tanpa berkeinginan untuk mewujudkan
Ayuwidia: udahhh 🤭
total 2 replies
Ayuwidia
Nggak kebayang gimana sulitnya Sagara menahan gejolak rasa pingin itu
Nofi Kahza: ngilu mbook...😆
total 1 replies
Najwa Aini
ngopi ☕..yak tapi diminum nanti. siang masih puasa
Nofi Kahza: makasih kaka sayangku../Kiss/
total 1 replies
Najwa Aini
Aku kawal. bener..jangan sampai Senja ku kenapa².
Najwa Aini
Top Markotop deh Sagara..👍
Najwa Aini
setuju.
kayak aku bermimpi, karyaku banyak dibaca, banyak disukai, bukan karena aku merasa pantas, tapi aku mau kayak itu. ya walau faktanya sepi. seperti mengulang sepinya LL..yang sepi, rapi, presisi. tak pernah bertambah hingga ke ujung cerita..
Nofi Kahza: Sepi itu tenang tapi kalau sepi yang ini bikin ngelus dada.
Kita lanjut aja ya kak, pelan-pelan. Kalau bukan kita yang percaya sama cerita sendiri, mau siapa lagi 😌
total 1 replies
Najwa Aini
Saat² penyiksaan bagi Sagara dimulai..
yuk lanjut. aku pantau 😎😎😎..
Najwa Aini
Gak suka sama jelita. tapi gak setuju juga dia diperlakukan kayak gitu
Najwa Aini
Slam ini nama grup band luar negeri yg sempat aku suka dulu
Najwa Aini
definisi antara ada dan tiada, mungkin si pandi ini ya
Najwa Aini
eaa..eaa..dermawan kok ke amarah
Ayuwidia
Aku berharap, kandungan Senja aman. Nggak kebayang apa yang akan dilakukan fans Sagara padanya
Ayuwidia
Ni anak minta dibuang ke Sungai Amazon. Cari masalah aja dia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!