Hidup bergelimang harta, tetapi tanpa kasih sayang seorang ibu, membuat Abiyan tumbuh menjadi sosok pemuda yang keras kepala dan pembangkang. Suatu hari dia melakukan kesalahan fatal dengan terlibat balapan liar yang mengakibatkan dirinya tertangkap polisi.
Akibat perbuatannya, Bastian sang ayah murka dan Abiyan harus menerima hukuman terberat: dia terbuang dari rumah yang selama ini menjadi istananya. Tanpa kemewahan, tanpa perlindungan, Abiyan terpaksa harus menghadapi dunia yang keras dan penuh tantangan seorang diri.
Mampukah Abiyan sang tuan muda yang terbuang, bertahan hidup dan belajar menjadi pribadi yang bertanggungjawab? Atau justru dia akan semakin terpuruk dalam kesengsaraan?
Ikuti kisahnya hanya di sini:
"Abiyan, Tuan Muda Terbuang" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Tinggal di kontrakan
"Gue harus ke mana sekarang?" Abiyan mendesah pelan.
"Apa gue ke rumah Bunda? Tapi gue malas kalau harus ketemu sama lelaki pengkhianat itu." Dia menggeleng, mengingat hubungan keluarganya yang sangat rumit.
"Atau gue ke rumah Kak Zeya saja? Tapi, Kak Daniel sangat menyebalkan," gumamnya.
"Kalau ke rumah Ibu Safira, jelas nggak mungkin. Gue kurang suka sama Maura yang selalu memonopoli ibu." Abiyan membuang napas kasar. Frustasi
"Aaahhh...!" Abiyan membuang napas kasar. Frustasi.
"Lebih baik gue ke markas saja?"
.
.
.
Di tempat lain, Martin memasuki mansion mewah milik keluarganya. Para maid menyambutnya dengan membungkuk hormat. "Selamat datang, Tuan Muda," sapa mereka serempak.
Martin mengangguk sekilas, dia menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas. Kamar yang luas dan mewah itu terasa nyaman dan hangat. Dia segera masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dari segala kekesalan dan frustrasi yang menghantuinya selama beberapa hari mendekam di sel tahanan.
Tok
Tok
Tok
Martin selesai mandi. Pintu kamarnya diketuk dari luar. Dia membuka pintu, seorang wanita paruh baya tersenyum anggun di depan pintu kamarnya.
Wanita itu menciumi Martin dan memeluknya penuh kasih sayang.
"Kamu kenapa, Sayang? Beberapa hari tidak pulang, kamu ke mana saja tidak mengabari mama?"
Martin tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja, Ma," jawabnya singkat.
"Aku tinggal di apartemen. Mama jangan khawatir."
Martin tidak mungkin jujur bahwa dia menginap di sel tahanan.
"Syukurlah, kalau kamu tidak apa-apa, Sayang." Wanita itu tersenyum lega.
"Ayo, turun. Kita makan bersama. Mama sudah memasak makanan kesukaanmu."
Martin mengangguk sekilas. Dia merasa sedikit lebih baik setelah melihat senyum hangat ibunya. Meskipun bukan ibu kandungnya, wanita itu selalu memperlakukannya penuh perhatian dan kasih sayang.
.
.
.
Abiyan segera turun, ketika bus yang ditumpanginya tiba di Terminal Poris Tangerang. Lalu naik angkot jurusan Karawaci menuju markas mereka.
Namun, apa yang dilihatnya setiba di sana membuatnya tertegun. Abiyan terpaku menatap tempat tersebut. Bangunan kosong yang tadinya merupakan markas mereka, kini telah rata dengan tanah.
"Apa... apa yang terjadi di sini?" gumamnya tak percaya. "Siapa yang melakukan semua ini?"
Pandangannya Abiyan kosong. "Ini sudah keterlaluan. Apa Ayahnya benar-benar ingin menghancurkan hidup gue?"
"Gue harus bagaimana sekarang? Di mana gue akan tinggal?" Abiyan sedikit frustasi.
Dia menarik napas dalam-dalam. "Lebih baik gue cari kontrakan. Gue nggak mau hanya meratapi nasib."
Abiyan membuka dompetnya dan menghitung sisa uangnya. "Alhamdulillah, semoga cukup untuk menyewa kontrakan."
"Tapi, sebaiknya aku cari Aldo dan Benny."
Baru saja Abiyan akan melangkah, Aldo dan Benny datang.
"Alhamdulillah, akhirnya loe datang, Bi." Aldo dan Benny tersenyum sumringah.
"Kalian tahu siapa yang melakukannya?" Namun pandangan Abiyan tetap pada obyek di depannya.
Aldo dan Benny menggeleng. "Entahlah... Bi. Gue sama Benny sampai di sini sudah kayak gini," jawab Aldo.
"Tadinya gue berpikir akan tinggal di sini," Abiyan mendesah pelan.
"Maksud loe...?" tanya Benny bingung.
"Ayo, aku mau cari kontrakan. Kalau kalian mau, kita bisa tinggal bersama." Abiyan langsung pergi dari tempat itu.
Aldo dan Benny saling pandang sebentar, lalu mengikuti Abiyan sambil menuntun motor butut miliknya.
.
Beberapa meter berjalan kaki, mereka menemukan tulisan kontrakan kosong di pemukiman padat penduduk.
"Permisi, Mbak. Apa benar di sini ada kontrakan kosong?" tanya Abiyan pada seorang wanita yang sedang duduk di teras.
"Ada satu paling ujung, orangnya baru pindah dua hari lalu," jawab wanita tersebut.
"Kira-kira biaya perbulannya berapa ya, Mbak?" tanya Aldo ganti.
"Tujuh ratus lima puluh ribu, Mas. Di sini mah, masih murah," jawab wanita itu lagi.
Abiyan, Aldo dan Benny saling pandang. "Bagaimana? Apa kalian setuju?" tanya Benny.
"Ya sudah lah, daripada kita tidur di jalanan," sahut Abiyan.
"Kira-kira yang punya kontrakan mana ya, Mbak?" tanya Abiyan lagi.
Wanita itupun menunjukkan rumah pemilik kontrakan yang ternyata tak jauh dari kontrakan tersebut.
Abiyan, Aldo, dan Benny, mendatangi pemilik kontrakan tersebut. "Permisi, Bu," sapa Abiyan.
"Eh iya, Mas. Ada apa, ya?" tanya wanita paruh baya dengan ramah.
"Begini, Bu. Kami bertiga berencana ingin mengontrak di kontrakan yang kosong itu," kata Benny.
"Oh, boleh-boleh. Boleh banget malah," kata ibu pemilik kontrakan itu dengan mata berbinar. "Sebentar, ya, saya ambil kunci pintunya."
Wanita paruh baya itu masuk ke dalam rumah, sekejap kemudian ia keluar lagi. "Ayo, Mas. Kalau mau lihat kontrakannya," ajak ibu itu dengan sumringah.
Mereka bertiga kemudian mengikuti pemilik kontrakan untuk melihat kontrakan yang akan mereka tempati. Kontrakan tersebut terdiri dari dua ruangan, satu ruang utama dan satu lagi untuk dapur dan kamar mandi.
"Bagaimana, Mas? Apa kalian cocok?" tanya ibu pemilik kontrakan.
Abiyan mengangguk. "Iya Bu, kami ambil," jawabnya. "Tujuh ratus lima puluh kan, sewa perbulannya?" tanyanya kemudian.
"Benar, Mas," jawab ibu pemilik kontrakan.
Abiyan mengeluarkan dompet dari saku celananya, mengambil uang seratus ribu tujuh lembar dan satu pecahan lima puluh ribu lalu menyerahkannya pada ibu pemilik kontrakan.
"Terima kasih ya, Mas. Semoga betah tinggal di mari," ucap ibu pemilik kontrakan. "Lingkungan sini aman kok, jadi tidak perlu khawatir," lanjutnya kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.
Abiyan, Aldo dan Benny duduk di lantai tanpa alas. Abiyan merebahkan tubuhnya, menggunakan kedua tangannya sebagai bantal, dan memejamkan mata meski tidak tidur. Pikirannya berkelana memikirkan tentang banyak hal.
Uang yang tersisa hanya cukup untuk makan beberapa hari saja. Semua kartu sakti, yang selama ini menghuni dompetnya tidak ada lagi, dirinya tidak akan menyerah begitu saja.
"Gue nggak bisa terus begini," gumamnya pelan, bangkit dari rebahnya. "Oke, gue akan buktikan ke Ayah, bahwa gue bisa bertahan tanpa fasilitas darinya. Gue pasti bisa!" tangan Abiyan terkepal ke atas dengan penuh semangat.
Aldo dan Benny yang sejak tadi diam memperhatikan, saling pandang dengan ekspresi heran dan seolah bertanya 'ada apa dengan Abiyan?'
"Selama ini kalian kerja di mana?" tanya Abiyan tiba-tiba.
Aldo dan Benny semakin heran menatap Abiyan.
"Kan, loe tahu, Bi. Gue cuma tukang parkir di depan mini market," jawab Aldo.
"Kalau loe, Ben?" Abiyan mengalihkan pandangannya pada Benny.
"Kalau gue kadang ngamen, tapi kadang ikut teman kerja proyek juga," jawab Benny.
"Baiklah, mulai besok, gue akan ikut kamu kerja proyek," kata Abiyan.
"Apa...?"
"Jangan...!"
Terus pemuda itu anak tirinya. Nggak punya sopan santun banget ....