NovelToon NovelToon
Pengantin Tawanan

Pengantin Tawanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Duniahiburan / Identitas Tersembunyi / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: lee Yana

Menceritakan tentang seorang gadis yang tiba-tiba dijadikan tawanan tepat di hari pernikahannya.

Dia dipaksa dan dibawa oleh sekelompok mafia kejam yang entah darimana asalnya.

Dalam sekejap hari bahagianya berubah menjadi bencana tak terduga yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hal itu membuatnya sangat marah dan mengutuk para penjahat yang sudah membawanya.

Mereka menyeretnya masuk ke dalam dunia kegelapan, dimana semua hal yang berbau negatif menjadi normal dan wajar.

Sampai suatu hari satu persatu kebenaran mulai terungkap, hingga kejadian itu perlahan mengubah keadaan serta sudut pandangnya terhadap dunia.

Akankah gadis itu berhasil pulang dengan selamat dan kembali melanjutkan pernikahannya…???

Atau justru perasaannya berubah seiring berjalannya waktu…???

Nantikan kisah kelanjutannya ya………………….

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee Yana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kencan

Pagi itu Vivian ditugaskan oleh mami Oca untuk mengantarkan makanan ke markas Veron.

Tanpa banyak bertanya wanita cantik itu pun pergi ke sana, meski sebenarya dia ingin menolak.

Bukan tanpa alasan, semenjak Jenia melihatnya di Fantasia malam itu, Entah kenapa Vivian merasa malu pada gadis tersebut.

Bahkan saat pertemuan keduanya di Casino ia sempat menghindar untuk berinteraksi dengan Jenia.

Tapi kali ini dia tidak punya alasan untuk menolak perintah mami Oca. Jadi dengan terpaksa Via harus pergi dengan harapan semoga ia tidak bertemu dengan Nia.

Namun siapa sangka sesampainya disana Vivian justru mendapati Nia keluar dari kamar

bersama dengan sang mafia.

Jenia yang melihat kedatangannya pun nampak kaget dan ingin berbalik karena malu, namun

Veron mencegahnya.

Akhirnya mau tidak mau Nia tetap berialan mengekor di belakang Veron.

la sempat menelan saliva ketika melihat semua makanan yang tersaji di atas meja.

"Waahhh, ini semua makanan kesukaanku..." gumamnya sambil mencium aroma lezat yang

menggugah selera.

"Benarkah...?? Kalau begitu ayo sekarang kita makan..." ucap Veron menyiapkan kursi untuk

Jenia.

"Apa kau yang memasak semua ini Via...??"

"Bukan aku, tapi mami Oca...." sahutnya jujur.

"Mami Oca...?? siapa dia...??"

"Aaaa, beliau adalah.…...."

"Dia adalah salah satu orang kepercayaanku....!!" Sahut Veron menyela, membuat Vivian seketika terdiam dan tidak berani bicara lagi.

"Kalau begitu sekarang aku permisi dulu..." ucap wanita itu berpamitan.

"Ehhh mau kemana Via, makanan ini terlalu banyak, ayo duduk dan makan bersama...." ajak gadis itu dengan ramah.

Namun Vivian hanya diam sambil menatap ke arah Veron, sampai akhirnya sang mafia mengangguk memberinya isyarat untuk bergabung.

Itu adalah momen pertama kalinya ia makan bersama dengan Veron. meskipun sudah lama mengenalnya, namun Vivian sama sekali tidak pernah melakukan hal yang diluar dari tugasnya.

Kalau bukan karena Jenia, mungkin dia tidak akan berani duduk satu meja dengan sang mafia.

Selama berada di sana mata Vivian terus tertuju pada beberapa tanda merah yang nampak jelas di area leher Jenia.

Semakin di sembunyikan iustru tanda itu semakin kelihatan. Menurutnya tingkah Jenia pagi itu benar-benar aneh, selain itu cara jalannya juga tidak biasa.

Hal itu membuat Vivian semakin yakin kalau sudah teriadi sesuatu di antara mereka.

Selama ada Veron disana, dia hanya bisa mengamati tanpa berani bicara macam-macam.

Dilihat dari cara sang mafia memperlakukan Jenia saat ini sungguh berbeda. Menurutnya, Veron begitu perhatian pada Nia.

Bahkan sejak tadi lelaki itu terus menatap Nia tanpa berkedip, dan tiba-tiba hal yang tak terduga pun muncul.

"Hah..??!! Apa yang terjadi dengan lehermu Nia....?? Kenapa merah-merah begini...??"

Ucapnya pura-pura kaget menyibak rambut Jenia.

Sementara Nia yang masib makan langsung tersedak sambil menatap Veron dengan tajam,

sedangkan yang di tatap hanya tersenyum mengedipkan sebelah matanya.

Dia sudah berusaha menutupinya dari Vivian, tapi sang mafia justru dengan sengaja memperjelas semuanya.

Nampaknya lelaki itu memang berniat ingin menunjukkannya sekaligus memancing kekesalan Jenia.

"Ii...ini karena alergi seafood..." jawabnya gugup.

Nia yang tidak pandai berbohong itu pun membuat Veron menahan senyum mendengarnya, begitu juga dengan Vivian.

Dia pikir Vivian bodoh sehingga tidak bisa membedakan antara bekas alergi dan bekas cupang.

Sementara Nia mash menatap tajam sang mafia, sambil menancapkan garpunya dengan kasar.

"Kalau begitu cepat habiskan makananmu, setelah ini kita pergi ke suatu tempat..." bisik Veron yang beranjak lebih dulu meninggalkan meja makan.

Kini hanya tersisa Jenia dan Vivian yang masih berada di sana. Keduanya hanya diam saling menatap dengan pikirannya masing-masing.

"Sekali lagi terimakasih atas makanannya Via, semuanya sangat enak..." ucapnya bicara lebih dulu.

"Hmm, sama-sama Nia, syukurlah kalau kau menyukainya...." Sahut wanita itu tersenyum ramah meski nampak canggung.

"Ngomong-ngomong apa kau menyukai Tuan Veron....?"

“Uhuuukkkkk….!!” Seketika pertanyaan itu membuat Nia menyemburkan air yang baru saja dia minum.

Sementara Vivian hanya manggut-manggut sambil tersenyum melihat reaksi Jenia.

Nampakuya tanpa harus dijelaskan pun ia sudah bisa menyimpulkan jawabannya.

"Bukan aku yang menyukainya....!! Tapi dia yang menyukaiku....!!" Sahutnya membantah seolah tidak terima.

“Kalau begitu selamat Nia, kau adalah orang pertama yang berhasil menarik perhatiannya, dia bahkan rela tertembak demi melindungimu..."

Mengingat kejadian itu lagi-lagi Nia merasa bersalah terhadap Veron. Kalau bukan karena menyelamatkannya, mungkin dia tidak akan terluka separah itu.

Seketika dia kembali teringat pada Alex. Lelaki yang sangat mencintai uang hingga rela menumbalkan nyawa mempelai wanitanya demi mendapatkan apa yang dia inginkan.

Kalau bukan karena Alex, mungkin dia tidak akan pernah ada di tempat seperti ini. Tapi kalau bukan karena Alex juga, mungkin dia tidak akan bertemu dengan laki-laki seperti Veron.

Perlahan Nia mulai paham bahwa sesuatu yang sangat ia sukai, belum tentu bisa jadi yang terbaik untuknya, dan begitu juga sebaliknya.

"Berterimakasihlah padanya Nia, mungkin dia memang penjahat di matamu, tapi bagi orang sepertiku dia adalah malaikat penolong yang akan ku hormati seumur hidupku...." Ucap Vivian tersenyum sambil beranjak pergi.

Entah hubungan seperti apa yang terjalin di antara mereka, namun nampaknya semua orang yang adi di sisi Veron begitu setia dan patuh terhadapnya.

Menilai seseorang dari luarnya saja memang bukan hal yang tidak seharusnya dilakukan, apalagi kalau sampai membencinya secara berlebihan.

Hari itu untuk yang kedua kalinya Veron kembali membawa Nia pergi ke pulau seberang bersamanya.

Pagi itu pemandangan dari atas kapal benar-benar indah, angin laut yang menerpa terasa begitu menyejukkan dengan latar tebing bebatuan menjulang tinggi di belakangnya.

"Anginnya sejuk sekali...." Gumam waita itu sambil memejamkan matanya menghirup udara segar yang berhembus mengenai wajahnya.

Tiba-tiba tanpa sengaja Nia menghirup aroma yang tidak asing menusuk hidungnya. Ia pun segera bangkit mencari sumber aroma tersebut.

"Kau merokok...??!!" Tanyanya yang mendapati Veron tengah menghisap sebatang rokok sendirian.

"Kadang-kadang.….." Sahutnya singkat.

Veron memang jarang sekali merokok, dia hanya menghisapnya ketika sedang ada masalah atau sesuatu yang terus mengganggu pikirannya.

"Apa yang sedang kau pikirkan Veron....??" Tanya Nia seolah bisa membaca situasi.

"Aku sedang berencana mengantarkanmu pulang sayang...." Gumamuya membelai wajah cantik di hadapannya.

Tatapannya begitu dalam seakan tidak rela dengan keputusannya sendiri.

Mendengar itu Nia pun ikut terdiam, bagaimanapun juga ia harus kembali dan melanjutkan kehidupannya.

Namun bukan itu yang jadi masalahnya. Sepanjang malam Veron terus khawatir tentang keselamatan Nia.

Dia sedang memikirkan cara agar wanita itu tetap aman meski berada dalam jarak yang cukup jauh darinya.

Sebab jika Nia kembali beraktivitas seperti biasanya, kemungkinan dia akan bertemu dengan Alex.

Belum Lagi jika para musuhnya mengetahui hubungan mereka, maka sudah pasti nyawa Nia juga dalam bahaya.

Hal-hal seperti itu yang terus membuat Veron merasa tidak tenang.

"Kau tidak perlu khawatir, aku pasti akan baik-baik saja..." ucap Nia memeluk sang mafia, seolah ia paham dengan kekhawatiran Veron.

"Aku pasti akan sangat merindukanmu Nia, tapi aku tidak ingin egois menahanmu untuk tetap tinggal disisiku…”

"Kau bisa menemuiku kapanpun kau mau....”

"Benarkah...??"

"Hmm, tapi ada syaratnya....”

"Apa syaratnya...?? Cepat katakan padaku..."

"Mulai sekarang dan seterusnya bisakah kau berhenti menghisap benda ini, karena tidak baik untuk kesehatanmu..." ucapnya menarik batang rokok yang masih menyala di tangan Veron.

"Baiklah, tapi sebagai gantinya aku akan terus melakukan ini setiap ingin merokok..." ucapnya mendaratkan satu kecupan di bibir Nia.

"Cihhh, baiklah kalau beg...." Belum selesai bicara lelaki itu kembali menyerangnya dengan ciuman bertubi-tubi membuat Nia gelagapan.

Sesampainya di pulau Veron membawa Nia ke lokasi yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya, yaitu tempat penangkaran Mutiara air laut.

Tempatnya sangat luas dan banyak para pekeria yang juga tengah berada di sana.

Masing-masing dari mereka memberi salam ketika melihat siapa yang datang.

Nia sangat takjub saat melihat betapa cantiknya kilau mutiara yang ada.

Setiap butirnya dipisahkan berdasarkan diameter dan beratnya. Dan masing-masing memiliki nilai jual yang sangat tinggi tergantung variasi ukuran dan bentuknya.

“Kemarikan tanganmu Nia…” ucap sang mafia sambil mengambil sesuatu dari sakunya.

“Sekarang kau pakai ini….” Sambungnya sembari memasangkan gelang mutiara di pergelangan tangan Jenia.

“Cantik sekali…” gumamnya melihat gelang pemberian Veron.

“Kau suka…???”

“Hmm, aku sangat menyukainya, apa ini untukku…??”

“Tentu saja, selama tiga hari berturut-turut aku membuatnya sendiri di dalam Villa…”

”Benarkah…?? Aku jadi sangat penasaran, sebenarnya sejak kapan kau menyukaiku…??”

“Rahasia….!!!”

“Cihh, memangnya apa yang paling kau suka dariku…??”

“Kebodohanmu Nia…!!! Aku paling suka dengan kebodohanmu yang sangat keterlaluan itu…!!!

“Apa katamu…..??!!”

“Sampai hari ini aku masih terus bertanya-tanya kenapa kau bisa jatuh cinta dengan sampah busuk seperti Alex…!!!”

“Cihh bilang saja kau cemburu…!!!”

“Iyaaa…!! Aku memang cemburu…!! Kenapa memangnya…???!!!”

“Kalau begitu aku harus bertemu Alex dan bicara dengannya…!!!”

“Apaaa…?? Mau apa lagi kau bertemu laki-laki itu Nia…?? Mau membuatku makin cemburu…??”

“Tidak…!! Aku hanya ingin berterimakasih padanya, karena berkat dia aku bisa bertemu denganmu….” Bisiknya dengan satu kecupan lembut mendarat di bibir sang mafia.

Seketika kalimat dan ciuman dadakan itu membuat Veron mematung menatap Nia yang berlari kecil meninggalkannya.

“Kau sudah mulai pintar bicara ya Nia…!!” Gumamnya tersenyum gemas sambil meraba bibirnya.

Hari itu menjadi hari terakhir mereka menikmati waktu bersama sebelum Veron mengantarkan Nia untuk kembali ke tempat asalnya.

Di malam yang dingin dengan nuansa hutan rimbun mengelilingi Villa kecil, keduanya saling berbagi kehangatan satu sama lain.

…………………………………………………………………………………

Ilustrasi budidaya tiram mutiara air laut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!