NovelToon NovelToon
V.I.P (KILL YOU)

V.I.P (KILL YOU)

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Mata-mata/Agen / TKP / Psikopat itu cintaku / Agen Wanita
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dae_Hwa

“Siapa pun yang masuk ke pulau ini ... tak akan pernah keluar dengan selamat.”

Pulau Darasila diduga menjadi markas penelitian bioteknologi terlarang. Bella, agen BIN yang menyamar sebagai dosen KKN, ditugaskan menyelidikinya. Namun sejak kedatangannya, Bella menemukan tanda-tanda ganjil bermunculan. Beberapa kali ia mendapati penduduk pulau memiliki tatto misterius yang sama persis dengan milik Edwin, suaminya. la pun mulai menduga-duga, mungkinkah sosok sang suami yang dulunya memiliki masa lalu kelam, kembali melakukan kesalahan dan turut terlibat dengan hal yang akan diselidikinya?

Misi Bella yang awalnya hanya soal penyelidikan, kini berubah menjadi perjuangan bertahan hidup. Karena siapa pun yang masuk ke Pulau Darasila tak akan pernah bisa keluar dengan selamat kecuali dengan satu syarat. Akankah Bella mampu menuntaskan misinya dan keluar hidup-hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

VIP24

Andika baru saja tiba di dermaga bersama Galih. Tatapannya menyisir papan jetty yang masih lembap, seolah tempat itu baru saja dibersihkan. Angin laut berembus pelan, ada sesuatu yang mengganggu indera penciumannya.

Kening Andika mengernyit. ‘Ini bukan aroma laut. Ini aroma darah.’

Sorot matanya langsung menajam. Ia menoleh perlahan ke arah salah satu penjaga yang bertugas di area tersebut. Tatapan itu cukup untuk membuat pria itu refleks menelan ludah sebelum bergegas mendekat.

“Apa yang terjadi?” tanya Andika tenang.

Nada suaranya datar, tetapi wajahnya sama sekali tidak.

Penjaga itu menunduk sedikit. “Ada ... sedikit kekacauan, Pak. Supri dan Ginting ditemukan tewas di atas jetty.”

“Sedikit kekacauan katamu?” alis Andika terangkat sinis.

Penjaga itu makin menunduk, keringat dingin mulai merembes di pelipisnya.

“Saat kami tiba di dermaga, mereka sudah tidak bernyawa. Ada troli kosong di sisi mereka. Tali pengikatnya terlepas ... kemungkinan tawanan yang mereka bawa berhasil melarikan diri. Kami masih menyelidiki apa yang terja—”

BUGH!

Andika menghantam kuat wajahnya tanpa aba-aba. Tubuh sang penjaga terpelanting ke samping, jatuh tersungkur di atas papan jetty yang lembap. Darah langsung merembes dari sudut bibirnya.

Andika menurunkan tangannya perlahan, ekspresinya tetap tenang—namun justru itu yang membuatnya tampak lebih mengerikan.

“Di wilayahku,” ucapnya pelan, namun menekan. “Tidak ada yang namanya ‘sedikit kekacauan’.”

Tatapannya kembali lurus ke depan, menyapu deretan Elit yang menunggu di ujung dermaga dengan wajah bosan. Lalu ia menoleh ke samping, kepada Galih yang sedari tadi menenteng tablet tipis berlapis pelindung hitam.

“Cek kondisi Seruni Laut,” titahnya singkat.

“Baik, Pak.”

Galih segera mengusap layar, jemarinya bergerak cekatan membuka sistem pengawas. Beberapa jendela kamera muncul bergantian—lobi penginapan, lorong-lorong lantai dua, ruang makan, hingga halaman belakang. Andika memperhatikan layar itu tanpa berkedip.

“Cek kembali bagian lobi, perbesar,” ujarnya.

Galih menurut. Gambar diperbesar, menampilkan area resepsionis dengan sudut yang lebih jelas. Tak ada yang tampak mencurigakan. Ibnu—pria homo yang kerap menggoda para antek organisasi, terlihat berdiri santai di balik meja resepsionis. Pria kemayu itu sesekali mengetuk papan ketik dan melirik layar komputer dengan ekspresi bosan.

Semuanya terlihat normal. Terlalu normal.

Tentu saja semua itu sudah dimanipulasi sepenuhnya oleh tim Bella yang memantau dari dasar laut. Hacker genius itu meretas akses CCTV. Dan kini, yang terpampang di layar tablet bukanlah siaran langsung, melainkan rekaman aktivitas sehari sebelumnya—disusun rapi, disinkronkan penuh presisi.

Namun Andika bukan pria yang mudah diyakinkan oleh tampilan layar. Instingnya jarang meleset, dan siapa dalang dari aroma darah yang ia cium tadi belum terjawab.

“Kirim orang ke Seruni Laut. Sekarang,” perintahnya tanpa menoleh.

Galih menegakkan tubuh. “Baik, Pak.”

Pria bertubuh besar yang tadi menerima pukulan Andika, masih memegang rahangnya yang nyeri. Dadanya membusung bangga ketika diberi instruksi oleh Galih. Ia dan satu rekannya pun bergegas meninggalkan dermaga menuju penginapan.

Tanpa memperhatikan lagi, Andika melangkah mendekati para Elit yang telah berjejer tak sabar di ujung jetty. Tatapan mereka sangat lapar, tak sabar untuk mulai ‘berburu’ dan menyeret mangsa ke ruang privat masing-masing.

Andika berjabat tangan dengan sosok Elit asal Amerika yang seluruh rambutnya hampir memutih.

“Selamat pagi, Tuan Bill. Mohon maaf atas keterlambatan saya menyambut kedatangan Anda.”

Bill mengangguk singkat. “Kami hampir bosan menunggu. Jika kami menunggu sedikit lebih lama lagi, mungkin ... semua anggotamu akan menjadi mangsa kami.”

Andika tergelak singkat. “Anda sangat lucu, Tuan Bill. Selera humor Anda memang unik sejak dulu, ya.”

Bill menatapnya lekat. “Dan kau sangat genius, Andika. Jika Dirham masih hidup, dia pasti bangga melihat bagaimana bisnis ini berhasil kau kembangkan.”

Senyum Andika merekah, tangannya lekas memberi arah. “Mari. Saya akan mengantar Anda ke hutan terlarang. ‘Babi’ dan ‘rusa’ akan segera dilepas dari kandang.”

Ia berbalik lebih dulu, langkahnya mantap menyusuri papan dermaga. Para Elit mengikuti di belakangnya—beberapa tertawa pelan, beberapa lainnya menatap ke arah hutan di kejauhan dengan sorot lapar yang tak sabar.

Namun sebelum rombongan itu benar-benar menjauh dari jetty, Galih bergegas mendekat. Wajahnya yang biasanya tenang tampak sedikit tegang. Ia berjalan sejajar dengan Andika, menunduk sopan agar tak menarik perhatian para tamu.

“Pak,” bisiknya pelan. “Anak buah yang Bapak kirim ke Seruni Laut baru saja menghubungi.”

Langkah Andika tak melambat. “Dan?”

Galih menelan ludah. “Penginapan dalam kondisi kacau. Lobi berantakan. Beberapa kamera pengawas sudah tidak berfungsi.” Ia menarik napas singkat sebelum melanjutkan, suaranya makin pelan. “Ibnu ditemukan tewas di lantai tiga ... dalam kondisi mengenaskan.”

Rahang Andika mengeras. “Siapa dalangnya?”

“Orang kita masih mencari taunya, Pak,” jawab Galih dengan lidah kelu. Dia cemas kalau tiba-tiba Andika meninjunya.

“Tunjukkan data para tamu yang menginap di sana,” titah Andika dingin.

Galih segera menggeser layar tabletnya, lalu menyerahkannya. Mereka tetap berjalan menyusuri setiap papan dermaga, sementara para Elit berceloteh di belakang, tak menyadari percakapan tegang itu.

“Belum ada kedatangan tamu baru,” jelas Galih hati-hati. “Masih tiga detektif dan satu dosen.”

Langkah Andika sedikit melambat. Matanya menyapu daftar nama di layar—lama, teliti. Ibu jarinya mengetuk pelan sisi tablet.

“Tiga detektif,” ulangnya lirih. “Dan satu dosen.”

“Salah satu detektif bernama Abirama,” papar Galih hati-hati. “Ia pernah berurusan dengan Mr.Kee di masa lalu. Dialah yang berperan dalam membuat Mr.Kee mendekam di penjara. Jadi ... tidak aneh kalau Mr.Kee membeli nyawanya dan kembali ke pulau ini untuk berburu. Bisa saja karena dendam pribadi.”

Andika tak langsung menanggapi. Sorot matanya tetap lurus ke depan, tapi pikirannya bercabang-cabang.

“Lalu dosen itu?” tanyanya dingin sambil menyerahkan kembali tablet ke tangan Galih. “Sudah ada laporan lengkap dari orang kita?”

Belum sempat Galih menjawab, tablet di tangannya bergetar. Notifikasi pesan masuk dari tim informasi.

Galih berhenti berjalan sejenak, membuka berkas yang dikirim. Tubuhnya mendadak tegang. Dengan tangan gemetar, Galih kembali menyerahkan tablet ke tangan sang ketua.

Andika menatap layar sangat lama, rahangnya perlahan mengeras.

Di layar, tertera universitas tempat Niken mengajar, lengkap dengan riwayat akademik, hingga foto formal berlatar biru. Dan yang membuat rahang Andika tiba-tiba mengetat adalah — wajah Niken yang mengajar di universitas, jelas berbeda dengan wajah Niken yang menginjakkan kaki di Pulau Darasila.

“Bangsat!” umpat Andika pelan, lalu menatap ke arah Galih. “Kerahkan anggota, cari perempuan itu! Ini semua pasti ulahnya!”

Galih mengangguk patuh. “Baik, Pak.”

Ia mempercepat langkah, menjauh dari rombongan Andika untuk memberi instruksi. Beberapa anggota segera bergerak, menyebar ke sisi dermaga, bersiap melacak keberadaan Bella.

“Ada masalah?” tanya Mr.Bill, yang sejak tadi memperhatikan gelagat Andika dan Galih dengan tatapan curiga.

Andika segera berbalik dengan senyum tipis yang dipaksakan.

“Tidak ada yang serius, Tuan Bill.”

Ia kembali memimpin jalan, matanya menyapu barisan anggota yang hampir mencapai daratan. Namun tiba-tiba...

BUM!

Ledakan keras mengguncang dermaga. Tubuh-tubuh para anggota yang baru saja bergerak itu terpental ke udara. Potongan tangan dan kaki terlempar ke segala arah, darah menyembur membasahi papan jetty yang masih lembap. Beberapa tubuh jatuh dalam keadaan tak lagi utuh, usus terburai, tumpukan daging berceceran di antara serpihan kayu yang hancur.

Asap hitam membumbung tebal, api menjilat sisa struktur yang hancur. Getarannya merambat hingga ke pertengahan jetty tempat Andika dan para Elit berdiri. Papan di bawah kaki mereka berderak keras, sebagian retak dan ambles sedikit, memaksa beberapa orang mundur menjaga keseimbangan.

“Lindungi para Elit!” teriak Andika lantang.

Dengan langkah ekstra hati-hati, anggota yang tersisa segera bergerak, membentuk barikade di sekitar tamu-tamu penting itu.

BUM!

BUM!

BUM!

Ledakan susulan kembali terjadi di beberapa tempat berbeda. Dari dermaga, api besar menjulang tinggi dari arah hutan terlarang. Sudah jelas, semua itu merupakan perbuatan Bella.

Di setiap langkahnya menyusuri Darasila, agen mata-mata itu tak pernah benar-benar lewat begitu saja. Ia menanam bom waktu di sudut-sudut tak terduga—di bawah papan dermaga, di balik akar pohon besar, di sela dinding pos jaga. Semua tersembunyi rapi, nyaris mustahil terdeteksi tanpa pemeriksaan menyeluruh.

Dan kini, seluruhnya meledak dalam hitungan detik yang nyaris bersamaan.

Pulau itu tidak lagi berada dalam kendali Andika.

“Bangsat!” Andika mengumpat, urat di lehernya menegang.

Tanpa membuang waktu, ia merogoh saku celana dan mengeluarkan dua set kunci remote. Ia melempar salah satunya ke arah Galih.

“Bawa Elit ke kapal cadangan! Jangan lewat jalur utama!” perintahnya cepat, sementara papan dermaga semakin miring.

Andika berbalik, melompat turun ke speedboat hitam yang terikat di sisi jetty. Mesin meraung begitu ia memutarnya. Dalam hitungan detik, perahu itu melesat membelah air, meninggalkan dermaga yang dilalap api — menuju markas penyimpanan Virus Necro yang rencananya akan diledakkan di ibukota malam ini.

*

*

*

1
Wahyu ningsing
semangat kakak...up nya yg rajin
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
sewot aja abi 🤭🤣🤣🤣🤣🤣
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
🤣🤣🤣ada apa.johnson
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
tuh kan beneeerrrr
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
mamposlah kau rama, siap2 dibelek si edwin dan dijadikan samsak kau sama si bella
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
hihihihi
Sayuri
mo d tabok palanya baru siap d jait. jd lehernya d sebat🤣
Sayuri
🤣🤣
Patrish
ealllaah...jangan sok tahu mas..bikin jantung meledak...untung Bella..ahlinya dia..kalo orang lain sudah out
Anna
Kompengan ngetes ilmu 🤣
intan naysila
mas pol parah banget 🤣 kan dikatain idiot
youyouen Rahayu
ngintippp lagiii🙈
Dae_Hwa💎: Syudaaaah 🤭
total 1 replies
Sayuri
mlm ni up g thor? q mnanti2
Dae_Hwa💎: InshaAllah hari ini, Akak 🥰
total 1 replies
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
ahhh thor cerita Ngantung😄
Dae_Hwa💎: /Scowl/
total 1 replies
Sayuri
msih bnyk krjaan hlal
Dae_Hwa💎: Betul-betul
total 1 replies
Sayuri
nyut nyuttttt mata ku eh pala ku
Sayuri
bentar lg umurmu yg hbis
Sayuri
duh bneran kena 🥹
Al Fatih
Ada apa yaa d Utara...,, papa Edwin sama mas pol kaaah d sana?
Al Fatih: Itu kan timur k barat,, selatan k Utara tak jua aku temukan...
iya kan Kaka 🤣
total 2 replies
Anna
ngiluuuu nya sampe sinii 😩
Dae_Hwa💎: Jauh banget 🤪🤪🤪🤪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!