Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.
Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.
Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 EXSEL
“Mana Ammar?!”
Suara itu lantang, penuh semangat. Seorang pria tinggi dengan kemeja kasual masuk tanpa sungkan. Senyumnya lebar, rambutnya sedikit acak, sorot matanya hidup.
“Ammar!” serunya.
Ammar tertegun sepersekian detik, lalu tersenyum.
“Exsel.”
Tanpa banyak basa-basi, Exsel langsung memeluk Ammar dengan satu tangan dan menepuk punggungnya keras-keras.
“Gila! Akhirnya kamu pulang juga.”
Ammar terkekeh kecil. “Kamu masih sama.”
“Dan kamu kelihatan lebih kurus,” balas Exsel cepat.
“Pasti bebanmu sangat banyak "
Ammar hanya tersenyum tipis.
Mommy berdehem. “Exsel.”
Exsel langsung menoleh. “Oh iya, Mom”
Baru saat itu pandangannya menyapu ruangan dan berhenti. Di sana… Sari berdiri.
Exsel terdiam. Bukan karena sengaja. Bukan karena ingin bersikap kurang ajar. Ia hanya… terpaku.
Wajah Sari sederhana, tanpa rias berlebihan. Namun sorot matanya lembut, gerak-geriknya tenang. Ada aura hangat yang sulit dijelaskan.
Cantik…
Dan beda…
“Exsel,” panggil Mommy, menyadarkan.
“Itu Sari. Pengasuh Queen.”
Sari tersenyum sopan. “Selamat sore.Tuan”
Exsel berdeham kecil, menyadari tatapannya terlalu lama.
“Oh… sore.” Ia mengulurkan tangan. “Aku Exsel.”
Sari ragu sejenak, lalu menjabatnya singkat. “Sari.”
Sentuhan singkat itu entah kenapa membuat Exsel sedikit salah tingkah.
Queen tiba-tiba bersuara, memecah suasana.
“Om Exsel!”
Exsel langsung menoleh ke arah Queen. “Eh, ini pasti Queen.”
“Iya!” Queen mengangguk bangga.
“Aku cantik kan?”
Exsel tertawa lepas. “Cantik sekali. Pantesan Oma langsung jatuh cinta.”
Queen terkekeh, lalu turun dari pangkuan Mommy dan kembali berdiri di sisi Sari, refleks memegang tangan gadis itu.
Exsel memperhatikan hal itu.
Anak ini sangat bergantung padanya…
Ammar menyadari tatapan sepupunya. “Queen memang dekat sekali dengan Sari.”
Exsel mengangguk pelan. “Kelihatan.”
Mommy berdiri. “Ayo, kita makan dulu. Kalian pasti lapar.”
Mereka berjalan ke ruang makan. Exsel sengaja memperlambat langkah, berjalan sejajar dengan Sari.
“Kamu sudah lama kerja sama Ammar?” tanyanya ringan.
“Baru beberapa bulan,” jawab Sari jujur.
“Queen kelihatan sangat nyaman denganmu.”
Sari tersenyum kecil. “Queen anak yang baik.”
Exsel tersenyum, namun kali ini lebih pelan.
Dan kamu juga…
Namun ia memilih diam. Ia tahu posisinya. Ia tahu batas.
Di meja makan, Queen duduk di antara Mommy dan Ammar. Sari duduk agak menyamping, sementara Exsel tepat di seberangnya.
Beberapa kali Exsel melirik Sari singkat, hati-hati seolah takut ketahuan.
Mommy memperhatikan semuanya. Tidak luput dari matanya. Dan entah kenapa… hatinya berbisik pelan.
Mungkin… Tuhan sedang merangkai sesuatu.
Hari itu belum berakhir.
Dan tanpa disadari siapa pun,
kehadiran Exsel akan menjadi benang baru
dalam hubungan yang belum selesai antara Ammar dan Sari.
Suasana ruang makan terasa hangat, namun di balik kehangatan itu, ada sesuatu yang berdesir pelan nyaris tak terlihat, tapi terasa.
Ammar duduk tegak di kursinya. Tatapannya beberapa kali berpindah, bukan pada makanan di hadapannya, melainkan pada satu titik yang sama sejak tadi.
Exsel.
Lebih tepatnya… tatapan Exsel. Ammar bukan pria bodoh. Ia tahu betul bagaimana sorot mata seorang laki-laki ketika tertarik pada seorang perempuan.
Tatapan itu tidak terang-terangan, tidak vulgar, namun cukup sering untuk disadari oleh mata yang peka.
Dan Exsel terlalu sering melirik ke arah Sari.
Ada rasa yang tiba-tiba mengganjal di dada Ammar. Bukan marah. Bukan cemburu setidaknya itu yang ingin ia yakini.
Namun perasaan tak nyaman itu nyata. Kenapa aku tidak suka… Apa hakku merasa seperti ini?
Sari sendiri sama sekali tak menyadari. Ia duduk dengan sikap tenang, menyendok makanan perlahan, mengunyah dengan sopan. Sesekali ia tersenyum kecil saat Queen bercerita, sesekali mengangguk ketika Mommy berbicara.
Senyum yang sederhana. Tidak dibuat-buat.
Tidak memikat dengan sengaja.
Namun justru itu yang membuatnya berbeda.
“Papah!” seru Queen tiba-tiba, membuat Ammar tersentak dari lamunannya.
“Iya, Sayang?” Ammar langsung menoleh.
“Kalau nanti queen rindu oma, opa. Queen boleh sering-sering main ke rumah Oma kan?” tanya Queen dengan mata berbinar.
Mommy tertawa kecil. “Boleh dong. Oma malah senang kalau Queen di sini.”
“Iya,” sambung Daddy dengan suara berat namun hangat.
“Rumah ini memang seharusnya ramai oleh cucu.”
Queen tersenyum lebar.
“Kalau gitu Queen mau bawa kak Sari juga!”
Sari yang sedang menyuap nasi langsung terhenti. “Eh, Nona…” katanya pelan.
Mommy melirik Sari sambil tersenyum. “Tentu saja. Kamu bagian dari keseharian Queen.”
Ammar menelan ludah. Dadanya kembali terasa sesak, entah kenapa.
Exsel tertawa kecil. “Queen ini pintar sekali ya.”
“Pinter dong!” jawab Queen bangga. “Kak Sari yang ngajarin Queen baca.”
“Oh ya?” Exsel menoleh ke Sari.
“Kamu sabar sekali berarti.”
Sari tersenyum tipis. “Queen mudah diajak belajar.”
Ammar memperhatikan senyum itu. Dan tanpa sadar, rahangnya sedikit mengeras ketika melihat Exsel ikut tersenyum lebih lama dari seharusnya.
Berhenti melihatnya seperti itu, batinnya kesal. Dia bukan…
Kalimat itu menggantung di pikirannya sendiri.
Bukan apa?
Bukan siapa?
Ammar mendengus pelan, lalu mengambil gelas air, berusaha mengalihkan pikirannya.
Di seberang meja, Exsel kembali mencuri pandang.
Bukan karena sengaja.
Bukan karena ingin tidak sopan. Namun senyum Sari…
membuatnya terpaku.
“Senyumannya…” gumam Exsel dalam hati.
Tenang. Hangat. Dan entah kenapa… menenangkan.
Ia belum pernah melihat perempuan yang tersenyum seperti itu tanpa pamrih, tanpa ingin diperhatikan.
Berbeda dari Sabrina.
Exsel meneguk airnya, menyadari pikirannya mulai melantur.
Tidak pantas, tegurnya pada diri sendiri.
Dia dekat dengan Ammar… Namun justru karena itu, hatinya terasa makin gelisah.
Daddy tiba-tiba meletakkan sendoknya. “Ammar.”
Ammar langsung menoleh. “Iya, Dad.”
“Kamu terlihat lebih kurus.”
Ammar tersenyum tipis. “Mungkin karena kerja.”
Daddy menghela napas. “Kerja tidak boleh mengalahkan keluarga.”
Kalimat itu sederhana, tapi menampar. Ammar mengangguk pelan. “Iya, Dad.”
Queen menyela dengan polos. “Papah sekarang sering sama Queen kok, Opa.”
Ammar menoleh dan tersenyum lembut. “Iya, Papah janji.”
Sari memandangi mereka dengan mata yang sedikit berkaca. Pemandangan itu terasa hangat… namun juga menyisakan rasa asing di dadanya.
Ia merasa seperti orang luar.
Namun di saat yang sama, ia juga terlalu dekat.
Mommy memperhatikan Sari dengan saksama.
“Kamu tidak usah sungkan di sini,” ucapnya lembut.
“Anggap saja rumah sendiri.”
Sari terkejut. “Terima kasih, Oma.”
Exsel tersenyum tipis melihat itu. Dia selalu terlihat tulus…
Ammar kembali menangkap tatapan Exsel.
Kali ini, tatapan mereka bertemu. Sesaat.
Ada sesuatu yang mengalir di antara keduanya bukan permusuhan, tapi kesadaran yang sama.
Kesadaran bahwa mereka sedang memperhatikan orang yang sama.
Ammar mengalihkan pandangan lebih dulu. Tangannya mengepal pelan di bawah meja.
Kenapa aku merasa terancam? Padahal aku sendiri yang… Pikirannya kembali pada malam-malam yang tak seharusnya terjadi. Pada jarak yang semakin kabur antara dirinya dan Sari.
Queen kembali berceloteh, menceritakan taman bermain, cerita dongeng, dan mimpi-mimpi kecilnya.
Mommy dan Daddy tertawa, menimpali dengan sabar.
Sari ikut tersenyum, matanya berbinar setiap kali Queen memanggil namanya.
Dan Exsel… terus memperhatikan. Tanpa sadar. Tanpa niat buruk.
Namun cukup untuk membuat Ammar tidak nyaman.
Makan malam itu berakhir dengan tawa kecil dan percakapan ringan.
Namun bagi Ammar, satu hal menjadi jelas Ia tidak suka ketika ada pria lain yang memandang Sari seperti itu.
Dan kesadaran itu… membuat hatinya semakin kacau.
gak adil ya Mar...
semangat Mar...
jika sudah memiliki suami sebisa mungkin diam di rumah. ngurus suami, anak dan juga rumah. jangan banyak gaya ingin kerja di luar dan mengabaikan kewajiban seorang istri.
kalo semuanya harmonis maka semuanya akan berakhir bahagia terutama restu orang tua. 😍😍
Mudah-mudahan happy ending ya cerita nya thour.. semangat berkaya💪💪💪😍😍😍