Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.
Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.
Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.
Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. ALEA MERAWAT TANAMAN
Setiap pagi, sebelum matahari mulai menyinari lahan pertanian dengan cahaya terik, Alea sudah bangun dengan penuh semangat. Dia mengenakan baju kerja yang sedikit terlalu besar padanya dan membawa ember plastik kecil yang sudah disiapkan khusus untuknya, siap menjalankan tugas hariannya – menyiram tanaman padi dan sayuran yang mereka tanam bersama.
“Papa, ayo kita pergi menyiram teman-teman baru kita ya!” teriak Alea dengan suara ceria, menarik lengan ayahnya yang sedang mempersiapkan ember yang lebih besar untuk menyiram bagian lahan yang lebih luas. Hadian juga sudah siap, membawa buku catatannya untuk memeriksa kondisi tanaman sesuai dengan petunjuk Pak Soleh.
Ketika mereka sampai di lahan, Alea langsung berlari ke bagian lahan yang ditanami benih sayuran – tempat dia merasa paling bertanggung jawab. Dia dengan hati-hati menuangkan air dari embernya ke setiap tanaman, berbicara padanya dengan suara lembut seperti sedang berbicara dengan teman baiknya.
“Hai teman bayam,” ujarnya dengan senyum hangat, menyiram tanaman bayam yang mulai tumbuh dengan hijau cerah. “Semoga kamu tumbuh besar dan sehat ya, agar kita bisa memakannya nanti dan menjadi kuat seperti kamu.”
Dia juga berbicara dengan tanaman cabai, tomat, dan jagung yang mereka tanam di sekitar lahan padi. Setiap tanaman memiliki nama khusus yang dia berikan – ada “Pak Cabai” yang tumbuh paling tinggi, “Bu Tomat” yang sudah mulai menghasilkan buah kecil, dan “Kakak Jagung” yang selalu berdiri tegak di tengah kebun.
Rian dan Hadian melihatnya dengan senyum hangat, merasa hati mereka menjadi hangat melihat keceriaan dan kasih sayang yang diberikan oleh Alea pada setiap tanaman. Hadian mulai memeriksa kondisi tanaman padi sesuai dengan catatan yang dia buat, sementara Rian menyiram bagian lahan yang lebih luas dengan menggunakan selang kecil yang mereka dapatkan dari Pak Joni.
“Papa, lihat dong!” teriak Alea dengan suara yang penuh kegembiraan, menunjukkan ke arah tanaman bayam yang sudah tumbuh cukup besar. “Teman bayam sudah bisa dipetik kan? Kita bisa memasaknya untuk makan malam ya?”
Rian mendekat dan melihat tanaman bayam dengan cermat. “Belum juga, sayang,” jawabnya dengan lembut. “Kita harus biarkan mereka tumbuh lebih besar lagi agar bisa menghasilkan banyak daun. Tapi kamu sudah merawat mereka dengan sangat baik – mereka tumbuh sehat dan cantik seperti kamu.”
Alea tersenyum lebar mendengar pujian ayahnya. Dia kembali menyiram setiap tanaman dengan sangat hati-hati, memastikan bahwa setiap bagian tanah mendapatkan air yang cukup tanpa membuatnya tergenang. Kadang-kadang dia berhenti untuk menghapus gulma kecil yang tumbuh di sekitar tanaman, atau untuk berbicara lagi dengan “teman-teman baru” nya tentang bagaimana harinya akan berjalan.
Pada suatu pagi, ketika mereka sedang menyiram tanaman, Pak Soleh datang membawa beberapa bibit bunga kamboja untuk ditanam di pinggir lahan. Alea langsung tertarik dengan bunga cantik itu dan meminta untuk membantu menanamnya.
“Bolehkah aku menanam teman bunga ini di dekat teman tomat ya, Pak Soleh?” tanya dia dengan suara yang lembut, melihat bibit bunga kamboja dengan mata yang penuh kagum.
“Tentu saja, nak,” jawab Pak Soleh dengan senyum. “Bunga kamboja akan membuat lahan kita lebih cantik, dan juga bisa mengusir beberapa jenis hama yang tidak suka dengan baunya.”
Alea dengan sangat hati-hati membantu menanam bibit bunga kamboja di sekitar tepi kebun sayuran. Setelah selesai menanam, dia menyiramnya dengan penuh cinta dan memberi nama masing-masing bunga – “Ratu Kembang” untuk yang berwarna merah muda, “Bintang Putih” untuk yang berwarna putih, dan “Matahari Kuning” untuk yang berwarna kuning cerah.
Setelah beberapa minggu, usaha Alea mulai menunjukkan hasil yang luar biasa. Tanaman sayuran yang dia rawat dengan penuh kasih tumbuh dengan sangat sehat dan subur. Bayamnya hijau cerah dan lebat, cabainya mulai menghasilkan buah yang banyak, dan tomatnya sudah mulai berubah warna menjadi merah cerah. Tanaman padi juga tumbuh dengan baik, dengan tunas yang kuat dan hijau segar yang bergoyang-goyang di angin pagi.
Pada hari Minggu pagi, Alea mengajak Nenek Siti untuk melihat hasil kerja kerasnya. Nenek Siti melihat kebun sayuran dengan mata yang penuh kagum, menyentuh setiap tanaman dengan penuh penghormatan.
“Kamu sudah merawat mereka dengan sangat baik, sayang,” ujar Nenek Siti dengan suara yang penuh cinta. “Kakek dan Nenekmu pasti akan sangat bangga padamu. Mereka juga suka merawat tanaman dengan penuh kasih seperti kamu.”
Alea merasa sangat bangga mendengar kata-kata neneknya. Dia mengambil beberapa daun bayam yang sudah siap dipetik dan beberapa cabai yang sudah matang, kemudian mengajak neneknya untuk memasaknya bersama di rumah panggung. Mereka memasak tumis bayam yang sangat segar dan sambal cabai yang pedas namun lezat, yang kemudian mereka santap bersama dengan nasi putih hangat.
Selama makan siang, Alea bercerita tentang setiap tanaman di kebunnya – bagaimana “Pak Cabai” hampir sakit beberapa hari yang lalu sehingga dia harus memberi obat alami dari daun sirih yang dia kumpulkan sendiri, atau bagaimana “Bu Tomat” menghasilkan buah pertama sehingga dia merasa seperti mendapatkan hadiah spesial. Semua orang mendengarkan dengan penuh perhatian, merasa terhibur dengan cerita-cerita kecilnya yang penuh dengan cinta dan imajinasi.
Di malam hari itu, Alea membuat dekorasi kecil dari daun dan bunga yang dia kumpulkan dari sekitar lahan pertanian. Dia membuat karangan bunga kecil untuk setiap anggota keluarga, dengan catatan kecil yang mengatakan “Dari teman-teman tanaman kita” yang ditulis dengan huruf kecil yang masih goyah namun penuh dengan cinta.
Rian menerima karangan bunga dari putrinya dengan mata yang berkaca-kaca. Dia menyadari bahwa meskipun Alea masih sangat muda, dia sudah memahami arti pentingnya merawat sesuatu dengan penuh kasih dan perhatian. Tanaman-tanaman yang dia sebut sebagai “teman baru” bukan hanya sumber makanan bagi keluarga mereka, tapi juga bagian dari kehidupan mereka yang membawa kebahagiaan dan keindahan setiap hari.
Ketika Alea tertidur lelap di kasurnya, mimpinya dipenuhi dengan gambar kebun yang penuh dengan tanaman besar dan bunga cantik yang saling berbicara satu sama lain.