Aera, seorang anak perempuan yang kehilangan ibunya karena meninggal. Setelah ibu tirinya datang, hidup Aera berubah total. Ayahnya yang dulunya sangat mencintainya, kini tidak peduli lagi. Aera merasa sendirian dan terkucil, seperti bawang yang terlupakan. Aera hanya ingin satu hal: mengembalikan kasih sayang ayahnya. Tapi, dia menemukan kebenaran yang mengerikan: ibu tirinya lah yang membunuh ibu kandungnya. Aera merasa marah dan sedih, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suatu hari, datanglah Leonar, seorang laki-laki muda. Dia ramah dan baik, serta peduli pada Aera. Aera merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Leonar membantu Aera untuk membongkar kasus meninggalnya ibu kandungnya, tapi mereka tidak tahu bahwa ibu tirinya akan melakukan apa saja untuk menyembunyikan kebenaran. Bagaimana Aera dan Leonar akan menghadapi bahaya yang mengancam mereka? Apakah mereka akan berhasil membongkar kebenaran dan mengembalikan kasih sayang ayah Aera? Ataukah mereka akan gagal, dan Aera akan tetap menjadi bawang yang terlupakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alaxtar
Waktu berjalan begitu cepat, pagi ini Leo harus bangun dalam mimpinya.
TOK...TOK...TOK...
"Tuan muda bangun, tolong buka pintunya. " ketuk Bi Siti.
Mbayu yang menunggu anak sulungnya itu untuk melakukan rutinitas setiap pagi yaitu sarapan bersama. tetapi yang datang hanya dirinya saja, ke mana anak sulungnya itu? Dan ia pun meminta Bi Siti—pelayan nya untuk membangunkan sang anak.
"Tuan muda Leo, ditunggu sama tuan di bawah untuk sarapan pagi." Ketuk Bi siti, tetapi tidak ada jawaban sedikitpun dari dalam kamar sana.
"Apa mungkin tuan muda sedang mandi?" Pikir Bi Siti.
Bi Siti kemudian kembali berbalik badan berjalan ke bawah menuruni tangga menuju tuannya yaitu—Mbayu.
"Maaf tuan. Tuan muda sepertinya sedang mandi, pintu kamarnya masih terkunci tuan. " Lapor Bi Siti.
Mbayu yang sedari tadi menunggu anaknya itu di buat kesal, sudah jam enam lewat tapi anaknya itu masih belum turun ke bawah.
Mbayu mulai berdiri dari tempat meja makannya, langsung berjalan menuju kamar Leo—putra sulungnya.
"Anak ini benar-benar susah sekali bangunnya."
"RAGANAR... SINI!” perintah Mbayu kepada Raganar—bawahan Leo sekaligus orang kepercayaan mbayu.
"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu? " tanya Raganar.
"Tolong dobrak pintu kamar Leo." perintah Mbayu.
Raganar yang mendengar ucapan tuannya itu langsung membulatkan matanya "H-emmm, tapi tuan kalau tuan Leo marah bagaimana?" tanya Raganar.
"Leo tidak akan marah, cepat dobrak pintunya sekarang!”
Raganar hanya bisa bernafas panjang, Mau tidak mau Raganar pun melakukan apa yang tuan Mbayu suruh dia memang takut dengan Leo tapi kalau di bandingkan dengan Mbayu, Raganar lebih takut pada Mbayu.
BRAKKK......
Pintu terbuka dengan lebar, tapi sang mpunya masih terlelap dalam tidurnya.
SSSEEERRRTTT......
Gorden Jendela terbuka dengan lebar menampakkan cahaya matahari yang masuk ke dalam kamar Leo. Sampai akhirnya Leo merasa tidurnya itu terganggu.
"HUAAA.... EUMGHH"
Mbayu yang melihatnya pun cuman bisa tarik nafas panjang. "Ayok bangun Leo ini udah siang." perintah Mbayu.
Sedangkan yang Mbayu bangun kan justru malah makin terlelap. Leo enggan untuk membuka mata nya. Rasanya berat sekali untuk membuka mata, mau tidak mau Mbayu sebagai ayah kandungnya harus membangunkan Leo dengan cara yang tidak wajar.
"RAGANAR, AMBILKAN SAYA AIR!"
"B-baik tuan..."
Raganar langsung berlari ke kamar mandi mengambil sebuah gayung yang berisi air dan memberikan nya kepada Mbayu.
BYUUURRR........
Satu gayung air menghantam wajahnya, sampai Leo menggigil kedinginan.
"AH BRENGSEK, SIAPA YANG BERANI NYIRAM GUE!" Teriak Leo tidak terima.
"BANGUN ATAU SAYA SIRAM LAGI!" bentak Mbayu kesal.
Deggg...
Leo terkejut ternyata yang menyiram nya adalah ayah kandungnya sendiri. Akhirnya Leo pun bangun dan langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi.
...----------------...
Setelah beberapa menit, akhirnya Leo sudah menyelesaikan rutinitas pagi hari. Dia memakai baju seragam sekolah nya.
Dengan langkah yang semangat Leo turun dari kamarnya.
TAP... TAP... TAP...
Suara langkah kaki, berjalan menghampiri meja makan.
"Baru bangun?" ucap seorang pemuda yang bernama Alex.
Alex Lingga Mahesa**—Anggota geng motor ALAXTAR. Yang di juluki sebagai: “Si paling tenang” kalau semua panik, Lingga malah: “Santai aja bro… masih hidup kan?” **
Leo yang melihat kedatangan Anggota geng nya itu berhenti melangkah. Ia mengerutkan dahinya bingung, mengapa pagi buta gini mereka datang ke rumah nya?
Tumben sekali.
Biasanya mereka akan menunggu kedatangan nya di Markas—ALAXTAR.
"Ngapain kalian dirumah gue?" Tanya Leo sambil mengangkat sebelah alisnya.
Leonar Andromendra Sky**—Pemimpin geng motor ALAXTAR yang sok dingin padahal paling baper. Sahabatnya pun menjuluki nya sebagai: “Bos Es Teh**” kenapa? Karena kelihatan dingin, tapi gampang meleleh. Leonar selalu pakai jaket hitam, muka datar, suara berat.
"Lah emang kenapa? Nggak boleh kalau kita main ke rumah lo?"
ia, dia adalah Davin Praja Sadian**—Anggota geng ALAXTAR. (Spesialis Lawak Garing) dengan julukan: “Komika Jalanan**” tugasnya bukan ngatur strategi, tapi: Mecahin suasana, Bikin Semua ketawa, Dan sering ngeluarin jokes bapak-bapak di saat genting.
"Leo… Sini jangan berdiri di situ." ucap seseorang yang sedang meminum susu milk rasa pisang.
ia, dia adalah **Zayyan Hyomin**—Anggota geng ALAXTAR yang memiliki sifat berbeda dengan yang lain, Polos, kalau di ajak ngobrol nyambung nya paling lama, tetapi dia paling pinter kalau soal akademik sekolah, makannya itu, zayyan paling di butuhkan oleh teman- temannya karena kepintarannya, zayyan paling senang dengan buah pisang apapun yang berhubungan dengan pisang ialah paling senang.
"Sorry ya bos, kita ke rumah lo tanpa kasih kabar dulu, soalnya ada yang mau gue bahas soal kejadian semalem."
ia dia adalah **Wain Alvarez,**— Anggota geng ALAXTAR, Wain Alvarez dikenal sebagai sosok cerdas di bidang teknologi. Hampir tak ada kasus yang tak bisa ia pecahkan—apa pun masalahnya, selalu ada jalan keluar di tangan Wain.
"Apa?" Tanya Leo penasaran sambil berjalan menuju meja makan.
"Nanti aja bahasnya, makan dulu gue udah laper. soalnya belum sarapan Hehehe." Saut Davin sambil mengambil daging yang ada di depannya.
"Biasanya juga makan di kantin lu!" Celetuk Wain.
"Kalau bisa gratis, kenapa harus bayar." timpal Davin.
...----------------...
Setelah selesai sarapan bersama akhirnya mereka pun berpamitan kepada Mbayu. Karena jam sudah menunjukkan jam 07:00 pagi mereka pun akhirnya segera berangkat pergi ke sekolah.
"Om kami pamit berangkat dulu ya." Ucap zayyan sambil bersalaman diikuti dengan yang lainnya.
"Sekolah yang benar, kalian itu anak pemuda pewaris keluarga. Jangan sampai mengecewakan orang tua kalian yang sudah bersusah paya membangun perusahaan besarnya untuk kalian teruskan di masa depan yang akan datang." Ucap Mbayu.
"SIAP… LAKSANAKAN!" Hormat zayyan, Davin, Wain, dan Alex.
Leo yang melihat kelakuan sang sahabatnya pun hanya bisa menggelengkan kepalanya sendiri.