NovelToon NovelToon
CINTA PEWARIS DAN GADIS YATIM PIATU

CINTA PEWARIS DAN GADIS YATIM PIATU

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumahhantu / Sistem / Cintapertama / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aulia risti

Elara Wynther, seorang gadis yatim dari pinggiran kota Firenze, tak pernah membayangkan hidupnya akan bersinggungan dengan dunia gemerlap kaum bangsawan. Hidupnya sederhana, penuh luka kehilangan, tapi hatinya tetap bersih.
Di sisi lain, Lucien Kaelmont, pewaris tunggal keluarga Kaelmont yang kaya raya, tumbuh dengan beban besar. Kehidupan mewahnya hanya terlihat indah dari luar, sementara di dalam dia merasa hampa dengan kehidupan yang sudah ditentukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Garis hitam

"Dan satu lagi."

Nyonya Marianne menoleh kepada penjaga pribadinya.

Pria bersetelan jas hitam itu melangkah maju dengan sikap formal, lalu menyerahkan sebuah amplop bersegel kepada Elara.

“Apa ini, Nyonya?” tanya Elara pelan.

“Itu adalah hasil keputusan wilayah Valenbourg,” jawab Nyonya Marianne dingin, tanpa sedikit pun emosi.

Elara mengernyit. Tangannya yang gemetar membuka segel surat tersebut.

Deg.

Matanya membelalak saat membaca baris pertama.

“Dikeluarkan dari sekolah… dan dimasukkan ke dalam daftar hitam seluruh institusi pendidikan di Valenbourg?” suaranya pecah.

Lady Seraphina tetap diam, hanya memperhatikan.

“Itu adalah konsekuensi,” ujar Nyonya Marianne, “atas tindakanmu yang dinilai tidak pantas. Kau telah berani mendekati Marquis yang telah bertunangan.”

“Itu tidak benar!” Elara mengangkat wajahnya, matanya memerah.

“Aku tidak pernah melakukan hal seperti itu. Tolong… jangan keluarkan aku dari sekolah.”

“Keputusan tetaplah keputusan, dan juga dewan sekolah telah menyetujuinya.”” potong Nyonya Marianne tegas.

Marianne melangkah lebih dekat, menatap Elara dengan dingin.

“Seorang anak yatim tidak berhak bermimpi terlalu tinggi. Gelar sarjana bukan untuk mereka yang tidak memiliki nama. Apalagi… gelar bangsawan.”

Kalimat itu jatuh seperti palu.

Elara terdiam.

Dadanya terasa kosong—bukan hanya karena diusir dari Kaelmont, tetapi karena masa depannya baru saja dicabut dengan satu lembar surat.

“Kemasi barangmu,” lanjut Nyonya Marianne tanpa belas kasihan.

“Dan tinggalkan wilayah Kaelmont sebelum matahari terbit.”

Lady Seraphina tersenyum tipis, nyaris tak terlihat.

“Elara,” katanya lembut, “anggap ini sebagai cara paling terhormat untuk menutup semuanya.”

Elara menunduk.

“Baik, Nyonya,” jawabnya pelan. “Aku akan pergi.”

Elara tidak melawan.

Bukan karena mengakui kesalahan—

tetapi karena ia tahu, melawan hanya akan membuatnya lebih hancur.

**

Malam semakin larut.

Koper kecil telah tertutup rapi. Tidak banyak yang Elara miliki, namun cukup untuk mengingatkan bahwa Elara pernah tinggal di tempat ini.

Elara duduk di ruang tamu pondoknya. Pandangannya menyapu setiap sudut ruangan.

Perapian.

Meja kayu kecil.

Foto dirinya dan Alden yang tersenyum sederhana.

Pondok kecil itu menjadi saksi awal segalanya.

Dari Alden yang dulu dingin dan seolah tak peduli—hingga menjadi satu-satunya orang yang benar-benar berdiri di sisinya.

Bahkan sampai akhir.

Elara mengambil satu amplop tua yang terselip di antara buku-buku. Surat yang belum sempat ia baca.

Tangannya perlahan membuka lipatannya.

Tulisan tangan Alden memenuhi halaman itu.

Untuk Elara.

Paman tahu kau pasti kuat. Masalah apa pun yang akan datang, paman yakin kau akan melewatinya.

Entah mengapa paman ingin menulis ini. Mungkin karena paman merasa waktu paman tidak akan panjang.

Elara, kejarlah mimpimu. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri.

Jika suatu hari kau gagal, itu bukan berarti tak ada kesempatan lain.

Kau tidak sendiri, Nak.

Paman akan selalu ada di sampingmu.

Air mata Elara jatuh membasahi kertas itu.

“Tidak sendiri…” gumamnya lirih.

Namun malam ini, untuk pertama kalinya sejak Alden tiada, ia benar-benar merasa sendirian.

**

Fajar belum sepenuhnya terbit ketika kabut tipis menyelimuti perbatasan utara Valenbourg.

Di antara barisan tenda militer dan bendera keluarga yang berkibar diterpa angin dingin, Marquis berdiri tegak menatap garis horizon. Wajahnya tenang seperti biasa—dingin, tak terbaca.

Namun ketenangan itu pecah saat seorang pengawal berkuda mendekat dengan tergesa.

“Tuan Marquis,” ucapnya menunduk, napasnya masih berat, “ada surat mendesak dari Kaelmont.”

Marquis mengernyit tipis.

“Serahkan.”

Marquis membuka segel keluarga.

Matanya bergerak cepat membaca isi laporan itu.

Baris demi baris.

Hingga berhenti.

Tangannya mengepal perlahan.

“Apa maksudnya ini?” suaranya rendah, berbahaya.

Pengawal itu tidak berani mengangkat wajah.

“Keputusan wilayah, Tuan. Pengusiran dari Kaelmont dan… pencabutan hak pendidikan atas nama Nona Elara.”

“Siapa yang menandatangani keputusan ini?” tanyanya.

“Dewan wilayah, atas rekomendasi Nyonya Marianne dan Lady Seraphina. Yang turut menyetujui, Tuan.”

Rahang Marquis mengeras.

Untuk pertama kalinya sejak Marquis memimpin pasukan di perbatasan, kemarahan benar-benar terlihat di wajahnya.

“Black list dari seluruh institusi Valenbourg?” ulangnya pelan, hampir tidak percaya.

“Ya, Tuan.”

Marquis menutup mata sejenak.

Iya tahu Kaelmont bisa kejam.

Namun menghancurkan masa depan seorang gadis hanya demi menjaga reputasi keluarga?

Itu bukan kehormatan.

Itu ketakutan.

“Kapan keputusan itu dijalankan?”

“Subuh ini, Tuan. Nona Elara diminta meninggalkan wilayah sebelum matahari terbit.”

Langkah Marquis terhenti.

Subuh.

Berarti— Elara akan pergi sebentar lagi.

Tangannya mengepal lebih keras hingga buku-buku jarinya memutih.

“Sial,” gumamnya lirih—kata yang jarang sekali keluar dari bibir seorang bangsawan sepertinya.

Ia berbalik, melangkah cepat menuju kudanya.

“Kita kembali ke Kaelmont.”

Ajudan itu terdiam sesaat sebelum berkata hati-hati,

“Maaf, Tuan. Dewan perang dijadwalkan satu jam lagi. Perbatasan timur belum stabil. Anda tidak dapat meninggalkan pos tanpa persetujuan.”

Marquis berhenti.

Realitas menghantamnya lebih keras daripada kabar tadi.

Ia bukan hanya seorang pria.

Ia adalah pewaris.

Setiap langkahnya terikat kewajiban.

Setiap keputusan dipantau.

Jika ia pergi sekarang—

ia mempertaruhkan stabilitas wilayah.

Marquis menatap kembali ke arah selatan, ke arah Kaelmont yang tak terlihat dari sana.

“Elara…” bisiknya nyaris tak terdengar.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Marquis merasa kekuasaan yang dimiliki terasa tidak berarti.

Dirinya bisa memimpin pasukan, bisa menandatangani perjanjian, bisa memerintahkan ratusan prajurit.

Namun, mengapa tidak mampu menghentikan satu keputusan yang menghancurkan satu orang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!