Dimas, pria berusia 42 tahun yang hidupnya hancur dan berakhir sebagai gelandangan setelah dikhianati. Saat segalanya tampak berakhir, ia terbangun kembali di tubuhnya yang berusia 18 tahun, ketika masih menjadi mahasiswa.
Di titik balik hidup itu, Dimas memperoleh anugerah misterius sebuah sistem yang memberinya kekuatan dan peluang finansial luar biasa. Berbekal ingatan pahit masa depan dan kekuatan baru, ia bertekad mengubah takdir, membalas para pengkhianat, serta membangun kembali kekayaan dan kekuasaannya dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
"Iya, mereka bakal urus semuanya buat kamu," jawab Henry santai.
"Itu bagus. Ayo kita temui mereka setelah makan di sini," kata Dimas sambil berusaha menghabiskan burger raksasa yang hampir tidak muat di tangannya.
"Udah, kasih sini aja burgernya," kata Henry. Setelah burgernya sendiri ludes, dia ngasih kode minta sisa burger Dimas.
Dimas nyodorin sisanya sambil nyengir, tapi dalam hati agak khawatir sama kesehatan coach yang badannya udah melar itu.
"Oke, nanti aku bakal ngobrol sama agen klub. Mereka kirim detail kontrak lewat email. Mungkin butuh beberapa hari buat dicek sama agen kita, jadi santai aja dulu," kata Henry sambil nyedot sisa cola sampai hampir kesedak.
"Mas, minta bill-nya ya?" Dimas manggil pelayan.
"Siap, Kak!" jawab pelayan ramah banget, soalnya dia tahu Dimas termasuk pelanggan yang royal kasih tip.
"Dimas, biar aku yang bayar," kata Henry, merasa nggak enak karena porsi makannya jauh lebih banyak.
"Nggak apa-apa, Coach, aku aja," jawab Dimas sambil tersenyum.
Total bill-nya Rp850.000. Karena lagi happy, Dimas langsung kasih tip Rp100.000 buat pelayan.
"Coach, sejam ini kosong nggak?" tanya Dimas. Dia ada janji sama pengacara di kantor Satria & Partners Law Office cabang Depok.
"Kosong kok, masih ada waktu lebih dari sejam," jawab Henry sambil buka pintu mobilnya.
"Kalau gitu, boleh anter ke Satria & Partners Law Office nggak?"
"Ini mau ngapain?" Henry agak kaget denger nama kantor hukum.
"Nanti aku ceritain di jalan," Dimas cengengesan.
Lima menit kemudian mereka sudah sampai. Selama perjalanan Dimas udah cerita semuanya.
"Jadi kamu mau semua urusan hak cipta bener-bener aman dan legal? Kamu tahu nggak sih kampus kita punya tim hukum khusus buat bantu mahasiswa berbakat kayak kamu?" kata Henry sambil kunci mobil.
"Ada ya?" Dimas pura-pura kaget. Padahal dia tahu, cuma males ditangani tim yang masih hijau.
"Ada, gratis pula," kata Henry.
"Gratis sih gratis, tapi kan nggak selamanya bagus. Lagian aku butuh saran dari pengacara senior. Tenang aja, aku bayar sendiri kok," kata Dimas sambil senyum. Buat hal penting kayak gini, dia nggak pelit.
Pas masuk kantor, suasananya udah sepi banget, hampir tutup, tapi satpam masih bolehin masuk.
Lantai dua masih ada lampu nyala walaupun sepi. Ada spanduk besar “Hanya Untuk Janji Temu”.
Dimas nanya ke resepsionis, "Pak Darwin Siregar ada ya?"
"Ada, Pak. Ruang 10. Silakan langsung ke sana," jawab resepsionis setelah ngecek komputer.
Mereka langsung menuju ruang 10. Setelah Dimas jelasin panjang lebar soal ide websitenya, Pak Darwin mengangguk-angguk sambil ambil beberapa buku hukum dari rak.
"Semua aman kok?" tanya Dimas pas ngeliat Pak Darwin bolak-balik buku.
"Aman banget malah. Ide kamu kuat sekali. Cuma cara ngumpulin data publik dalam jumlah besar itu pasti bikin pemerintah deg-degan. Mereka nggak suka kalau ada yang tahu terlalu banyak. Tapi tenang… aku ambil kasus ini," kata Pak Darwin sambil nyengir lebar.
Dimas langsung lega.
"Buat fase awal pertumbuhan perusahaan kamu, aku tangani semua mulai dari hak cipta sampai potensi sengketa IT, biayanya Rp500 juta per tahun, sudah all-in," kata Pak Darwin, pengacara senior yang namanya udah terkenal.
"Deal. Aku nggak nawar. Nanti aku kirim beberapa konsep logo yang harus segera didaftarin," kata Dimas, terus perkenalin Henry sebagai manajernya.
"Senang bisa kerjasama sama kamu, Mas Dimas," kata Pak Darwin sambil jabat tangan.
"Panggil Dimas aja, Pak. Tuan itu bapak saya," Dimas balas sambil ketawa kecil.
Habis itu Dimas bayar DP Rp100 juta di resepsionis, lalu mereka keluar kantor.
"Kamu ini boros banget ya," kata Henry sambil nyalain mesin mobil.
"Hehe, Coach nggak akan ngerti," jawab Dimas pendek sambil pasang sabuk pengaman. Habis itu dia dianter balik ke area asrama.
"Soal bayaran aku, kamu nggak usah mikirin selama setahun ini," kata Henry. Walaupun dia emang butuh duit, tapi sebagai dosen sekaligus pelatih di kampus yang sama, dia ngerasa nggak enak tekan mahasiswanya.
"Oke, terus Coach mau berapa?" tanya Dimas santai.
Henry tarik napas panjang dulu baru jawab, "Nanti setelah kamu tanda tangan kontrak resmi, bayar aja setahun lagi. Aku nggak mau kamu pusing soal fee aku sekarang. Tapi jujur, aku harap Rp600 juta per tahun."
"Apaan?!" Dimas hampir teriak kaget.
Henry buru-buru ngejelasin, "Kebanyakan ya? Kamu bisa putusin nanti setelah tanda tangan kontrak. Kita lihat dulu setahun ke depan—"
"Justru itu kekecilan, Coach," potong Dimas tegas. "Aku nggak butuh kontrak buat tahu nilai orang. Aku bayar Rp2,4 miliar per tahun, atau kalau Coach lebih nyaman, Rp200 juta per bulan," katanya mantap.
Henry diem beberapa detik.
"Aku nggak mau nerima yang berlebihan gitu," katanya sambil ketawa kecil, tapi keliatan banget dia terharu.
"Coach, turunin aku di sini aja ya. Aku mau jalan kaki ke asrama sambil mikir… sekalian ngurangin makan," kata Dimas sambil ambil ransel. Mobil pelan-pelan berhenti di pinggir jalan.
Asrama cuma lima menit jalan kaki, tapi Dimas lagi pengen nikmatin itu. Siapa tahu ini langkah awal jadi orang besar.
"Oke, hati-hati ya. Sampai rumah aku langsung minta draft kontraknya. Kamu nggak keberatan kan kalau aku ngomong sendiri dulu sama agen?" tanya Henry.
"Nggak masalah, Coach. Urus aja semua sebagai manajer aku. Kalau butuh dana, langsung bilang," jawab Dimas.
Mereka pamit di trotoar, terus Dimas jalan menuju asrama.
Tulalit-tulalit!
HP Dimas berdering. Dia lihat layar, langsung senyum kecil pas liat nama Anin. Langsung diangkat.
"Halo, Dimas… kamu lagi di mana?" suara Anin kedengeran capek tapi tetap lembut.
"Aku lagi di kampus, mau ke asrama. Ada apa?" tanya Dimas.
"Aku lagi dalam perjalanan ke kampus kamu. Kita ketemu ya," kata Anin tegas tapi lembut, kayak udah yakin mau datang tanpa nunggu konfirmasi.
"Boleh banget. Langsung ke area asrama aja. Kita bisa duduk-duduk di taman kampus," jawab Dimas. Dia mikir, setidaknya masih ada beberapa menit buat siap-siap.
"Oke," jawab Anin singkat, terus telepon ditutup.
Dimas ngeluh panjang. Sebenernya malam ini dia mau nelpon orang tua, tapi bisa ditunda. Badannya bau keringat abis seharian, harus mandi dulu sebelum ketemu cewek secantik Anin.
Sampai di kamar asrama, Dimas buru-buru buka pintu dan taro semua uang tunai yang dia bawa di atas meja.
Dia hitung pelan-pelan: Rp107.100.000.
btw kenapa kolom komentarnya sepi yah