NovelToon NovelToon
Istriku Diambil Papa

Istriku Diambil Papa

Status: tamat
Genre:Pihak Ketiga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Konflik etika / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.

Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan Sang Penebus

​Thorne, yang terjatuh akibat guncangan ledakan, merangkak bangkit. Wajahnya yang semula rapi kini penuh luka gores dan debu. Di tangannya, ia masih menggenggam tablet kontrol yang berisi proses ekstraksi data yang sudah mencapai 90%.

​"Jangan bergerak!" Thorne menodongkan pistol ke arah tangki oksigen cair di sudut ruangan. "Satu gerakan lagi, dan aku akan meledakkan ruangan ini bersama kita semua! Aku tidak akan membiarkan data itu hilang lagi!"

​Duel di Atas Bara

​Tiba-tiba, pintu baja dek medis didobrak dari luar. Gito masuk dengan senapan serbu di tangan, namun ia segera menurunkan senjatanya saat melihat posisi Thorne yang berbahaya.

​"Pak Agil! Ibu! Cepat keluar lewat jalur ventilasi!" teriak Gito.

​"Gito, kau hidup?" Agil bertanya dengan suara parau.

​"Belum waktunya saya mati, Pak. Tapi kapal ini akan tenggelam dalam sepuluh menit!" jawab Gito sambil melemparkan pisau lipat ke arah Agil untuk memotong kabel-kabel elektroda.

​Thorne melepaskan tembakan ke arah Gito.

​DOR!

​Gito menghindar ke balik meja operasi, membalas dengan tembakan yang mengenai bahu Thorne. Tablet kontrol di tangan Thorne terpelanting ke lantai, layarnya retak namun proses ekstraksi masih berjalan.

​"Hentikan kodenya, Thorne!" Agil berhasil melepaskan diri dari kursi. Ia berdiri dengan kaki gemetar, namun tatapannya tajam. "Kau tidak akan pernah bisa mengendalikan data itu. Data itu adalah racun yang membunuh ayahku, ibuku, dan sekarang akan membunuhmu!"

​Pengakuan Terakhir Thorne

​Thorne tertawa sinis sambil memegang bahunya yang berdarah. "Kau pikir ini hanya soal uang? Ayahmu, Baskoro, dia tidak menanamkan kode itu untuk melindungimu, Agil. Dia menanamkannya karena dia tidak percaya pada siapa pun, termasuk kau! Kode itu adalah 'bom waktu'. Jika data itu diekstraksi secara paksa tanpa kunci biometrik yang benar, ia akan menghapus seluruh data perbankan dunia yang terkait dengan Konsorsium. Itu adalah balas dendam terakhir ayahmu pada organisasi ini!"

​Agil tertegun. Jadi selama ini, ayahnya menggunakan dirinya sebagai mekanisme penghancur massal jika Konsorsium mengkhianatinya.

​"Jika aku tidak mendapatkan data itu, maka biarkan dunia ini terbakar bersama kita!" Thorne menerjang ke arah tablet untuk menekan tombol eksekusi akhir.

​"TIDAK!" Laila melompat, mencegat Thorne. Mereka bergulat di lantai yang licin oleh tumpahan cairan kimia. Laila menggunakan teknik bela diri yang diajarkan Chen, mengunci lengan Thorne dan menghantamkan sikunya ke wajah pria itu.

​Pengorbanan Sang Prajurit

​Kapal kembali berguncang. Kali ini lebih hebat. Bagian buritan mulai terangkat ke atas. Air laut mulai masuk ke dalam ruangan.

​"Pak Agil, bawa Ibu sekarang! Biar saya yang urus pria ini!" Gito menerjang Thorne, memiting leher pria itu dengan kekuatan penuh.

​"Gito, ikut kami!" teriak Agil.

​"Tidak bisa, Pak! Pintunya macet karena guncangan, hanya satu orang yang bisa menahan tuas darurat dari dalam agar kalian bisa keluar lewat ventilasi!" Gito menunjuk ke arah tuas manual di pojok ruangan. "Pergilah! Jaga Ibu Laila! Itu tugas terakhir saya!"

​Agil menatap Gito dengan berat hati. Pria itu telah bersamanya sejak ia masih kecil, melindunginya dari bayang-bayang ayahnya.

​"Terima kasih, Gito. Untuk semuanya," bisik Agil.

​Agil menarik Laila menuju lubang ventilasi di langit-langit. Dengan sisa tenaganya, ia mendorong Laila masuk ke dalam, lalu ia sendiri memanjat naik tepat saat air laut mulai menenggelamkan lantai dek medis.

​Dari atas, Agil sempat melihat Gito tersenyum tipis sebelum ruangan itu tertutup sepenuhnya oleh air. Thorne masih berteriak dalam keputusasaan saat ombak besar menghantam kaca jendela dek medis hingga pecah.

​Melawan Maut di Tengah Samudra

​Agil dan Laila merangkak melalui saluran ventilasi yang sempit dan panas hingga akhirnya mereka sampai di dek atas. Kapal 'The Aegis' kini sudah miring 45 derajat. Mereka berlari menuju sekoci terakhir yang tersisa.

​BOOM!

​Ledakan terakhir dari tangki bahan bakar menghancurkan bagian tengah kapal. Agil dan Laila terlempar ke laut lepas tepat saat kapal raksasa itu mulai tenggelam ke dasar samudra, menciptakan pusaran air yang kuat.

​Mereka berenang menjauh sekuat tenaga. Di tengah kegelapan laut, sebuah helikopter penyelamat milik Chen muncul, menyorotkan lampu ke arah mereka.

​Akhir dari Sebuah Kutukan

​Beberapa jam kemudian, di atas kapal penyelamat milik Chen yang menuju Singapura, Agil duduk terdiam sambil memandang cakrawala. Laila duduk di sampingnya, membalut luka di kepala suaminya.

​"Apakah kodenya sudah hilang, Mas?" tanya Laila pelan.

​Agil memejamkan mata. Ia tidak lagi mendengar bisikan angka-angka Jerman itu. Kehancuran server di kapal dan guncangan pada sarafnya saat ekstraksi gagal sepertinya telah 'membersihkan' sisa-sisa program di otaknya.

​"Sudah hilang, Laila. Ayahku, ibuku... mereka sudah tidak punya kuasa lagi atas diriku. Aku hanya Agil sekarang. Suamimu."

​Laila memeluk Agil erat. Di kejauhan, matahari mulai terbit, memberikan warna emas pada permukaan laut yang tenang. Mereka telah kehilangan harta, keluarga, dan identitas lama mereka. Mereka kehilangan Gito, sosok yang sudah dianggap sebagai saudara. Namun, di atas puing-puing kehancuran itu, mereka akhirnya mendapatkan satu hal yang paling mahal: Kebebasan.

​Epilog: Di Suatu Tempat di Dunia

​Enam bulan kemudian.

​Di sebuah toko buku kecil di pinggiran kota Zurich, Swiss, seorang pria dengan parut luka di tangan dan seorang wanita hamil yang cantik tampak sedang melayani pelanggan. Mereka dikenal oleh tetangga sebagai Mr. dan Mrs. Smith, pasangan pendiam yang sangat mencintai satu sama lain.

​Agil menutup toko bukunya saat malam tiba. Di saku jaketnya, ia masih menyimpan liontin tua milik Laila—satu-satunya benda yang tersisa dari masa lalu mereka.

​Tiba-tiba, telepon di meja toko berdering. Agil mengangkatnya.

​"Halo?"

​Tidak ada suara di ujung sana. Hanya suara desisan statis, lalu tiga nada pendek dan satu nada panjang—siulan khas Gito.

​Agil tertegun. Jantungnya berdegup kencang. Ia menatap ke arah jalanan yang sepi di luar toko. Di bawah lampu jalan yang remang-remang, ia melihat sesosok pria dengan topi baseball yang menunduk, berjalan menjauh dan menghilang di balik tikungan.

​Agil tersenyum kecil. Ia menutup telepon itu, mematikan lampu toko, dan merangkul pinggang Laila yang baru saja keluar dari ruang dalam.

​"Siapa yang telepon, Mas?" tanya Laila.

​"Hanya seorang teman lama," jawab Agil. "Hanya seorang teman yang ingin memastikan bahwa kita baik-baik saja."

​Mereka berjalan pulang ke apartemen kecil mereka, meninggalkan bayang-bayang masa lalu yang akhirnya terkubur dalam-dalam. Perang keluarga Baskoro benar-benar telah berakhir, dan kehidupan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
ayu cantik
suka
Rhiy: Terima kasih Kak
total 1 replies
Yeni Nofiyanti
novel yang sangat bagus. cocok di filmkan💪😍
Rhiy: Makasih my reader, aamiin
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!