NovelToon NovelToon
ADOPSI YANG MENJADI OBSESI

ADOPSI YANG MENJADI OBSESI

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

Ia ditemukan di tengah hujan, hampir mati, dan seharusnya hanya menjadi satu keputusan singkat dalam hidup seorang pria berkuasa.

Namun Wang Hao Yu tidak pernah benar-benar melepaskan Yun Qi.

Diadopsi secara diam-diam, dibesarkan dalam kemewahan yang dingin, Yun Qi tumbuh dengan satu keyakinan: pria itu hanyalah pelindungnya. Kakaknya. Penyelamatnya.
Sampai ia dewasa… dan tatapan itu berubah.

Kebebasan yang Yun Qi rasakan di dunia luar ternyata selalu berada dalam jangkauan pengawasan. Setiap langkahnya tercatat. Setiap pilihannya diamati. Dan ketika ia mulai jatuh cinta pada orang lain, sesuatu dalam diri Hao Yu perlahan retak.

Ini bukan kisah cinta yang bersih.
Ini tentang perlindungan yang terlalu dalam, perhatian yang berubah menjadi obsesi, dan perasaan terlarang yang tumbuh tanpa izin.

Karena bagi Hao Yu, Yun Qi bukan hanya masa lalu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33

Yun Qi tidak tahu bahwa dua dunia yang ia jaga agar tetap terpisah akan bertabrakan hari itu.

Pagi itu, ia berangkat ke kampus lebih awal dari biasanya. Udara masih dingin, matahari belum sepenuhnya naik. Ia berjalan cepat menyusuri trotoar, ransel tersampir di satu bahu, earphone terpasang tapi tanpa musik. Pikirannya terlalu penuh untuk diisi suara lain.

Sejak beberapa hari terakhir, ia sering merasa gelisah tanpa sebab yang jelas. Chen Rui terasa… berbeda. Atau mungkin ia yang berubah. Dan Hao Yu—kehadirannya di apartemen semakin terasa meski pria itu tidak melakukan apa-apa secara terang-terangan. Tidak bertanya berlebihan, tidak melarang. Tapi justru itu yang membuat Yun Qi tidak tenang.

Seolah ada mata yang selalu mengawasi, tanpa menghakimi.

Chen Rui mengajaknya makan siang hari itu. Katanya, ada “orang penting” yang ingin ia temui, sekalian mengenalkan Yun Qi. Yun Qi sempat ragu, tapi akhirnya mengiyakan. Ia pikir, mungkin ini baik. Mungkin ia hanya terlalu curiga akhir-akhir ini.

Mereka bertemu di sebuah restoran hotel bintang lima di pusat kota—tempat yang jelas bukan langganan mahasiswa. Yun Qi berdiri sejenak di depan pintu masuk, menatap interior yang mewah dan sunyi. Langkah Chen Rui mantap, seolah ia sudah terbiasa berada di tempat seperti ini.

“Kok di sini?” Yun Qi bertanya pelan.

Chen Rui tersenyum. “Santai aja. Kenalan bisnis. Sekalian makan enak.”

Nada suaranya ringan, terlalu ringan.

Begitu mereka masuk, seorang pelayan langsung menyambut dan mempersilakan mereka ke meja di sudut. Di sana, sudah ada seorang pria duduk rapi, punggung tegak, jas hitamnya sempurna tanpa satu lipatan pun. Tangannya bertumpu santai di atas meja, jam tangan mahal berkilau samar di bawah cahaya lampu.

Yun Qi berhenti melangkah.

Jantungnya seperti ditarik tiba-tiba.

“Hao… Ge?”

Wang Hao Yu mengangkat pandangan perlahan. Tatapannya jatuh tepat ke wajah Yun Qi, tanpa terkejut, tanpa senyum. Tenang. Terlalu tenang.

“Kamu datang,” katanya.

Nada suaranya datar, formal. Bukan nada yang biasa ia gunakan di apartemen.

Chen Rui menoleh ke Yun Qi, alisnya terangkat. “Kamu kenal?”

Yun Qi menelan ludah. “Dia… kakakku.”

Jawaban itu keluar otomatis. Aman. Netral.

Chen Rui tertawa kecil. “Oh, dunia sempit ya.” Ia mengulurkan tangan ke arah Hao Yu. “Chen Rui.”

Hao Yu berdiri, menjabat tangan itu dengan singkat. Genggamannya tidak keras, tapi stabil. Tatapannya lurus, tidak menghindar, tidak menantang secara terbuka. Justru itu yang membuat Chen Rui sedikit mengerutkan kening.

“Wang Hao Yu,” jawabnya. “Silakan duduk.”

Nada itu bukan undangan. Lebih seperti pernyataan.

Mereka duduk. Yun Qi berada di tengah, posisi yang membuatnya tidak nyaman. Ia bisa merasakan perbedaan atmosfer dengan jelas. Chen Rui bersandar santai, satu tangan di sandaran kursi. Hao Yu duduk tegak, bahu lurus, tubuhnya memancarkan kontrol tanpa usaha.

Pelayan datang mengambil pesanan. Hao Yu memesan dengan singkat, tanpa melihat menu terlalu lama. Chen Rui mengikuti, lalu menoleh ke Yun Qi.

“Kamu pesan apa aja, Qi.”

Yun Qi membuka menu, tapi pandangannya kabur. Ia akhirnya menunjuk salah satu menu secara acak.

Begitu pelayan pergi, keheningan turun sebentar. Bukan hening canggung—lebih seperti ruang kosong yang sengaja diciptakan.

“Kamu kuliah di fakultas ekonomi, ya?” Hao Yu membuka percakapan, menatap Chen Rui.

“Iya,” jawab Chen Rui. “Semester lima.”

“Prestasi akademikmu biasa saja,” kata Hao Yu tenang, seolah sedang membahas cuaca.

Yun Qi menoleh cepat. “Ge—”

“Tenang,” potong Hao Yu lembut, tapi matanya tetap pada Chen Rui.

Chen Rui tersenyum tipis. “Nilai bukan segalanya, kan?”

“Untuk sebagian orang,” jawab Hao Yu. “Tapi untuk orang lain, itu cerminan tanggung jawab.”

Nada suaranya tidak menghakimi, tapi setiap kata terasa berat. Chen Rui mengubah posisi duduknya, sedikit lebih tegak.

“Kamu kerja sambilan?” lanjut Hao Yu.

“Iya. Kadang bantu event,” jawab Chen Rui cepat. “Networking.”

“Networking dengan banyak perempuan,” kata Hao Yu, datar.

Udara di meja itu mengeras.

Yun Qi menggenggam ujung bajunya di bawah meja. “Ge, maksudnya—”

“Aku cuma bertanya,” Hao Yu menoleh padanya sejenak. Tatapannya melembut sedikit, hanya untuknya. “Kamu aman di sini.”

Kata itu—aman—membuat dada Yun Qi menghangat sekaligus sesak.

Chen Rui tertawa kecil, tapi tawanya terdengar dipaksakan. “Kakakmu protektif ya.”

“Dia bukan kakak kandungku,” jawab Hao Yu tanpa ragu.

Kalimat itu jatuh pelan, tapi dampaknya besar. Yun Qi membeku.

Chen Rui menoleh cepat ke Yun Qi. “Oh?”

Yun Qi menarik napas. “Kami… keluarga.”

Jawaban yang samar. Hao Yu tidak membantah, tapi juga tidak mengoreksi.

“Aku dengar kamu tinggal di apartemen Wang,” lanjut Chen Rui, nada suaranya berubah sedikit defensif. “Enak ya, hidup nyaman.”

Hao Yu menyandarkan punggung. “Kenyamanan ada harganya.”

“Maksudnya?”

“Disiplin,” jawab Hao Yu. “Kejujuran. Dan tahu batas.”

Tatapannya tajam sekarang, tapi tetap terkendali.

Makanan datang, memotong ketegangan sesaat. Mereka makan dalam diam beberapa menit. Yun Qi hampir tidak menyentuh makanannya. Setiap gerakan terasa diawasi, setiap tarikan napas terasa berat.

“Kamu sering pulang malam,” kata Hao Yu tiba-tiba, kali ini pada Yun Qi.

“Iya… kadang,” jawab Yun Qi pelan.

“Dengan dia?” Hao Yu melirik Chen Rui sebentar.

Chen Rui mengangkat bahu. “Namanya juga pacaran.”

Hao Yu tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Pacaran tidak sama dengan mengabaikan keselamatan.”

Nada suaranya dingin sekarang.

“Aku bisa jaga diri,” Chen Rui membalas, sedikit tersinggung.

“Aku tidak ragu,” kata Hao Yu. “Tapi aku ragu pada niatmu.”

Sunyi.

Yun Qi merasa jantungnya berdetak terlalu keras. Ia ingin menghentikan percakapan ini, tapi kata-kata terasa macet di tenggorokan.

Chen Rui mencondongkan tubuh ke depan. “Kalau mau bicara jujur, aku juga bisa tanya. Kenapa kakak terlalu ikut campur soal hubungan kami?”

Hao Yu tidak langsung menjawab. Ia menatap Chen Rui lama, seolah menilai sesuatu yang kasat mata.

“Karena Yun Qi adalah tanggung jawabku,” katanya akhirnya. “Dan aku tidak menyerahkan tanggung jawab itu pada orang yang tidak stabil.”

“Tidak stabil?” Chen Rui tertawa pendek. “Itu tuduhan berat.”

“Fakta,” jawab Hao Yu tenang. “Kamu bebas membuktikan sebaliknya.”

Yun Qi berdiri tiba-tiba. Kursinya berderit pelan.

“Cukup,” katanya, suaranya bergetar tapi tegas. “Aku nggak nyaman.”

Kedua pria itu menoleh padanya.

Hao Yu berdiri lebih dulu. “Kita pergi.”

Bukan pertanyaan.

Chen Rui ikut berdiri. “Qi—”

“Aku pulang sendiri,” kata Yun Qi cepat. Ia tidak menatap siapa pun, hanya mengambil tasnya dan melangkah pergi.

Di luar restoran, udara terasa lebih ringan, tapi kaki Yun Qi gemetar. Beberapa detik kemudian, langkah berat menyusulnya.

“Kamu marah?” Hao Yu bertanya pelan.

Yun Qi berhenti. “Aku bingung.”

Hao Yu berdiri di hadapannya, menjaga jarak. Tidak menyentuh. Tidak memaksa.

“Aku tidak bermaksud mengganggu,” katanya. “Tapi aku tidak akan diam kalau kamu tidak diperlakukan dengan layak.”

“Kamu nggak tahu semuanya,” suara Yun Qi melemah.

“Aku tahu cukup,” jawab Hao Yu.

Mereka saling menatap. Untuk sesaat, Yun Qi melihat sesuatu di mata Hao Yu—bukan hanya perlindungan. Ada intensitas yang membuatnya menahan napas.

“Pulang,” kata Hao Yu akhirnya, lebih lembut.

Yun Qi mengangguk pelan.

Di belakang mereka, Chen Rui berdiri sendiri di depan pintu restoran, wajahnya tegang. Untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang tidak bisa ia lawan dengan senyum atau candaan.

Sementara di dalam mobil, Hao Yu menatap lurus ke depan.

Pertemuan itu bukan peringatan. Itu awal

1
cah gantenggg
semoga ceritanya bagus ,baru mampir author,sepertinya masih butuh up ,jangan panjang episodenya Thor ,biar gak bosan yg baca .
semoga novelnya seruuu
@fjr_nfs
tinggalkan like dan Komen kalian ☺❤️‍🔥
cah gantenggg: ceritanya terlalu kaku dan membosankan .maaf aku hapus dari daftar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!